NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jejak kecil diatas takdir

Waktu berjalan dengan anggun di Desa Aethelgard. Setahun telah berlalu, dan rumah kayu di pinggir ladang jagung itu kini tidak pernah sepi dari suara tawa dan tangis bayi. Silvia telah tumbuh menjadi balita yang sangat cantik. Rambutnya hitam pekat dan keriting, persis seperti milik Ferdi, namun wajahnya adalah cetakan sempurna dari Vani. Penduduk desa dan para Elf yang lewat sering kali berhenti hanya untuk sekadar menyapa

"Vani Kecil", nama kesayangan yang diberikan karena kemiripan luar biasa itu.

Namun, di balik wajah malaikatnya, Silvia adalah seorang "diktator kecil" jika menyangkut ibunya.

Sore itu, Vani harus masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa lembar kain bersih. Baru saja ia melangkah melewati ambang pintu, Silvia yang sedang merangkak di atas rumput taman langsung berhenti. Matanya yang keemasan mulai berkaca-kaca.

"Uwaaaaa! Maaa... Maaaa!"

tangisan Silvia pecah, menggetarkan daun-daun jagung di sekitarnya.

Ferdi yang sedang duduk di dekatnya langsung panik. Ia segera berjongkok dan mencoba mengalihkan perhatian putrinya. "Silvia, Sayang, lihat Ayah! Ayah punya... eh, lihat ini! Ayah bisa membuat api hitam!" Ferdi menjentikkan jarinya,

memunculkan percikan sihir kecil yang redup.

Bukannya diam, tangis Silvia justru semakin kencang. Ia memalingkan wajahnya dari Ferdi, seolah api hitam itu adalah hal paling membosankan di dunia.

"Maaaa... Maaaaa!"

Vani muncul di jendela dengan tangan di pinggang, wajahnya mulai menunjukkan tanda-tanda "omelan" yang sangat akrab bagi Ferdi.

"Ferdi! Apa yang kau lakukan sampai dia menangis begitu kencang?" seru Vani dari jendela.

"Aku tidak melakukan apa-apa, Vani! Aku hanya mencoba menghiburnya agar dia tidak mencarimu terus!" jawab Ferdi pasrah.

Vani keluar dari rumah dengan langkah cepat, menghampiri mereka. "Menghiburnya? Dengan sihir kegelapan? Ferdi, dia itu bayi satu tahun, bukan prajurit bayangan! Pantas saja dia menangis, kau terlihat seperti penjahat yang ingin menculik anak sendiri!"

"Tapi dia tadi diam saat aku menunjukkan bayangan kupu-kupu..."

"Itu tadi pagi! Sekarang dia sedang ingin dipeluk, bukan diberi pertunjukan sihir!" Vani mengomel sambil mengambil Silvia dari lantai. Ajaibnya, begitu Silvia berada di pelukan Vani, tangisnya reda seketika. Silvia justru menyembunyikan wajahnya di leher Vani sambil melirik Ferdi dengan tatapan 'kemenangan'.

Vani mendengus melihat wajah Ferdi yang lesu. "Kau ini Raja Kegelapan yang sanggup menghancurkan benua, tapi membuat bayi tersenyum saja gagal total. Secara statistik, kemampuan mengasuhmu itu berada di level nol, Ferdi!"

"Jangan bawa-bawa statistik di depan anak kita, Vani," gumam Ferdi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Untuk menebus kesalahannya, Ferdi mengajak mereka ke taman bermain yang ia bangun sendiri. Ada sebuah ayunan kayu besar yang diukir dengan sangat detail.

"Naiklah, aku akan mendorong kalian pelan-pelan," kata Ferdi.

Vani duduk di ayunan sambil memangku Silvia. Saat Ferdi mulai mendorong, angin sepoi-sepoi memainkan rambut mereka. Silvia mulai tertawa kegirangan, tangannya yang mungil mencoba menangkap jari Ferdi setiap kali ayunan itu mendekat.

"Lihat, dia tertawa sekarang," ujar Ferdi bangga.

"Tentu saja dia tertawa, ayunannya nyaman. Tapi kalau kau mendorong terlalu kuat dan dia kaget, aku tidak akan segan-segan menguncimu di luar rumah malam ini, mengerti?" ancam Vani, meski ada senyum tipis di bibirnya.

"Siap, Permaisuriku. Aku tidak berani mengambil risiko tidur di ladang jagung," balas Ferdi sambil tertawa kecil.

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Ferdi mengunakan berbagai cara untuk melunakan hati di kecil Silvia

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Kepanikan di Aula Para Dewa

Di saat kebahagiaan itu berlangsung, di dimensi yang jauh lebih tinggi, sebuah kemarahan besar sedang meluap. Di Istana Kristal, para Dewa sedang mengadakan pertemuan darurat.

"Masih tidak ada hasil?" suara Dewa Zephyrus menggelegar, membuat lantai istana bergetar.

"Ampun, Yang Mulia," lapor sang panglima dengan gemetar. "Kami telah mengerahkan seluruh unit pencari. Kami menelusuri Benua Azure, Benua Api, hingga kepulauan terpencil. Namun, Ferdi seolah-olah telah menghapus keberadaannya dari dunia ini."

"Mustahil!" teriak dewi lainnya. "Energi dari anak itu setahun lalu mengguncang seluruh alam semesta. Bagaimana mungkin sumber energi sebesar itu bisa menghilang tanpa jejak?"

"Mereka bersembunyi di tempat yang tidak terduga, Yang Mulia," jawab si panglima. "Kami sudah mencari ke kota-kota besar dan markas militer, tapi tidak ada tanda-tanda mereka di sana."

"Terus cari!" perintah Zephyrus. "Periksa setiap desa kecil, setiap hutan, bahkan setiap gubuk petani! Aku tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Jika anak itu tumbuh besar tanpa pengawasan kita, tatanan dewa akan hancur!"

Para dewa tidak menyadari bahwa orang yang mereka cari sedang sibuk memperbaiki atap rumah kayu dan mendengarkan omelan istrinya tentang cara menanam jagung yang benar.

Malam tiba, Silvia akhirnya tertidur lelap setelah lelah bermain. Ferdi menatap putrinya yang bernapas teratur, lalu menatap Vani yang sedang merapikan selimut.

"Vani, kau tahu para dewa tidak akan berhenti," bisik Ferdi.

Vani menoleh, wajahnya yang tadi penuh omelan kini melunak. "Aku tahu. Tapi biarkan mereka mencari. Selama kita bersama di sini, mereka hanya akan menemukan angin."

Vani mendekati Ferdi dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Tapi ingat satu hal, Ferdi. Jika suatu saat mereka benar-benar datang..."

"Aku akan menghancurkan mereka semua sebelum mereka sempat menyentuh sehelai rambut kalian," potong Ferdi dengan nada dingin yang kembali muncul, namun penuh proteksi.

Vani mencubit pinggang Ferdi pelan. "Tuh kan, bicara menyeramkan lagi! Sudah, cepat bantu aku mencuci piring. Raja atau bukan, piring kotor tidak akan bersih dengan sihir kegelapanmu!"

Ferdi tersenyum lebar. "Siap, Sayang."

Di dalam tidurnya, Silvia kecil menggenggam jari telunjuk ayahnya, sebuah ikatan yang lebih kuat dari mantra dewa mana pun di alam semesta.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!