NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: JEJAK LILIAN

Tiga hari berlalu sejak serangan iblis di Ibu Kota.

Kota perlahan pulih. Para pedagang membersihkan puing-puing di kios mereka. Pendekar berpatroli lebih ketat di setiap sudut. Di gerbang utama, penjaga dilipatgandakan, dan setiap pendatang diperiksa lebih teliti.

Tapi di Lorong Kegelapan, kehidupan kembali normal lebih cepat. Orang miskin tidak punya waktu untuk trauma—mereka harus bekerja, harus makan, harus bertahan.

Yun-seo dan Yehwa menjalani rutinitas baru.

Setiap subuh, mereka pergi ke toko Hwang Cheol-soo untuk latihan. Yun-seo belajar jurus Pedang Iblis Langit—sudah bisa dua jurus dengan lumayan. Yehwa melatihnya dengan sabar, meski kadang masih suka memukul kalau gerakannya salah.

Setelah latihan, mereka membantu Hwang Cheol-soo di toko—membersihkan kuas, merapikan kertas, melayani pembeli. Sore harinya, mereka kembali ke barak, kadang membantu Mal-soon memasak atau sekadar ngobrol dengan tetangga.

Malam adalah waktu mereka berdua. Duduk di depan barak, memandangi bintang, berbicara tentang apa saja—atau tidak bicara sama sekali.

Hidup sederhana. Tapi anehnya, Yun-seo merasa lebih bahagia daripada di dunianya dulu.

---

Hari keempat, Hwang Cheol-soo memanggil mereka ke ruang rahasia dengan wajah serius.

"Aku dapat informasi," katanya tanpa basa-basi. "Lilian dan pasukannya berkemah di barat, di Hutan Terlarang. Mereka mencari sesuatu."

Yehwa menegang. "Apa?"

"Tidak tahu pasti. Tapi beberapa tetua yang masih hidup—aku sudah hubungi mereka—bilang Lilian mungkin mencari Pusaka Iblis yang tersembunyi."

"Pusaka Iblis?" Yun-seo mengernyit.

Yehwa menjelaskan, "Tujuh pusaka peninggalan Kaisar Iblis pertama. Konon, siapa yang menguasai semuanya akan mendapatkan kekuatan tak terbatas. Tapi selama ribuan tahun, tidak ada yang berhasil mengumpulkan."

"Dan Lilian percaya dia bisa?"

"Dia pasti punya petunjuk." Hwang Cheol-soo mengeluarkan peta tua, membentangkannya di meja. "Hutan Terlarang di sini. Dulu, di tengah hutan itu ada Kuil Kegelapan—tempat menyimpan salah satu pusaka, yaitu Mahkota Iblis."

Yehwa mengerutkan kening. "Mahkota Iblis? Itu legenda. Bahkan aku tidak tahu di mana letaknya."

"Karena hanya tetua tingkat atas yang tahu. Dan Lilian... dia sempat menjadi tangan kananmu. Mungkin dia mencuri informasi itu sebelum mengkhianatimu."

Yehwa mengepalkan tangan. "Dasar pengkhianat."

"Apa rencanamu, Yang Mulia?" tanya Hwang Cheol-soo.

Yehwa diam, berpikir. Lalu menatap Yun-seo.

"Kita harus pergi ke Hutan Terlarang."

Yun-seo hampir tersedak. "Apa? Ke tempat yang penuh iblis? Kita? Dua manusia tanpa kekuatan?"

"Bukan untuk bertarung. Untuk melihat. Untuk mencari informasi." Yehwa menatapnya tajam. "Lilian tidak akan curiga ada manusia di Hutan Terlarang. Kita bisa menyusup, melihat apa yang ia cari, lalu kabur."

"Kedengarannya terlalu berisiko."

"Memang berisiko. Tapi ini satu-satunya cara." Yehwa menghela napas. "Aku tidak bisa diam saja di sini, Yun-seo. Sementara Lilian bebas berkeliaran, mengumpulkan kekuatan, rakyatku menderita. Aku harus bertindak."

Yun-seo menatapnya lama. Di mata Yehwa, ia melihat api—api yang sama seperti saat pertama kali bertemu, meski saat itu hampir padam. Api seorang ratu yang tidak akan menyerah.

"Aku ikut," katanya akhirnya.

Yehwa terkejut. "Kau... mau ikut?"

"Aku bilang akan lindungi kau, kan? Masa aku diem aja di sini." Yun-seo tersenyum masam. "Tapi kalau mati di sana, kau harus tanggung jawab."

Yehwa tersenyum—senyum tulus yang jarang muncul. "Aku jamin, kau tidak akan mati. Setidaknya... tidak sebelum aku kembali ke tahta."

Hwang Cheol-soo menghela napas. "Kalau kalian sudah memutuskan, aku tidak bisa melarang. Tapi setidaknya, persiapan dulu. Jangan pergi dengan tangan kosong."

Ia bangkit, mengambil sesuatu dari lemari tua. Sebuah kotak kayu kecil, diukir dengan simbol-simbol aneh.

"Ini untukmu, Yun-seo."

Yun-seo membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah jimat—lingkaran perak dengan batu merah di tengah.

"Apa ini?"

"Jimat Pelindung. Aku buat selama 500 tahun, mengumpulkan energi sedikit demi sedikit." Hwang Cheol-soo tersenyum. "Fungsinya sama seperti cincinmu, tapi lebih kuat. Kalau kau dalam bahaya, jimat ini akan melindungimu—setidaknya sekali."

Yun-seo menerimanya dengan hati-hati. "Terima kasih, Kakek."

"Jangan berterima kasih dulu. Gunakan dengan bijak." Hwang Cheol-soo beralih pada Yehwa. "Yang Mulia, kau tidak punya kekuatan, tapi kau punya pengetahuan. Gunakan itu. Jangan gegabah."

Yehwa mengangguk. "Aku tahu."

---

Dua hari kemudian, mereka berangkat.

Pagi buta, saat Lorong Kegelapan masih tertidur, Yun-seo dan Yehwa meluncur keluar kota melalui celah di tembok belakang—yang diketahui Hwang Cheol-soo dari tahun-tahun persembunyiannya.

Mereka membawa bekal secukupnya: roti kering, air, dan senjata seadanya—Yun-seo dengan tongkat kayu, Yehwa dengan belati kecil pemberian Hwang Cheol-soo.

Perjalanan ke barat melewati padang rumput dan perbukitan. Udara sejuk, matahari baru terbit di belakang mereka. Yun-seo berjalan di samping Yehwa, sesekali membantu saat medan terjal.

"Kau tidak banyak bertanya," kata Yehwa di tengah perjalanan.

"Bertanya apa?"

"Kenapa aku harus lakukan ini. Kenapa tidak menunggu saja, kumpulkan kekuatan dulu."

Yun-seo mengangkat bahu. "Kau pasti punya alasan."

"Alasanku sederhana: aku tidak bisa diam." Yehwa menatap lurus ke depan. "Selama 200 tahun, aku selalu bergerak. Memimpin, memerintah, bertarung. Diam itu... seperti mati bagiku."

Yun-seo mengangguk paham. "Di duniaku, ada orang yang gak bisa diem juga. Biasanya mereka yang punya tujuan hidup jelas."

"Kau? Apa tujuan hidupmu?"

Pertanyaan itu mengagetkan Yun-seo. Tujuan hidup? Selama 19 tahun, ia tidak pernah memikirkan itu. Hidup mengalir begitu saja—sekolah, main game, makan, tidur. Tidak ada tujuan besar.

Tapi sekarang...

"Sekarang? Mungkin... nolongin kau." Jawabannya terdengar konyol di telinganya sendiri.

Yehwa berhenti, menoleh. "Nolongin aku?"

"Iya. Aneh ya? Padahal baru ketemu beberapa minggu. Tapi rasanya... aku punya alasan buat bangun pagi sekarang. Ada yang butuh aku." Yun-seo tersipu malu. "Maaf kalau kedengeran lebay."

Yehwa menatapnya lama. Lalu berbalik, melanjutkan jalan.

"Tidak lebay," katanya pelan. "Aku juga merasa sama."

Yun-seo tidak yakin apakah ia mendengar dengan benar. Tapi senyumnya merekah lebar.

---

Menjelang sore, mereka tiba di pinggir Hutan Terlarang.

Pepohonan di sini berbeda—tinggi menjulang, dengan daun berwarna ungu gelap. Kabut tipis menyelimuti, membuat pandangan terbatas. Dari dalam, terdengar suara-suara aneh—auman, pekikan, kadang bisikan seperti suara manusia.

"Menyeramkan," gumam Yun-seo.

"Hutan ini memang terkutuk. Konon, siapa pun yang masuk tanpa izin tidak akan keluar." Yehwa menatap hutan itu dengan tatapan rumit. "Tapi aku harus masuk."

"Kita. Kita harus masuk."

Yehwa tersenyum. "Kita."

Mereka melangkah masuk. Kabut langsung menyelimuti, suhu turun drastis. Yun-seo merinding, tapi terus maju.

Setelah beberapa ratus meter, mereka melihat cahaya di kejauhan—api unggun. Banyak api unggun.

Yehwa memberi isyarat untuk merunduk. Mereka mendekat perlahan, bersembunyi di balik semak-semak.

Di sebuah lapangan terbuka, puluhan iblis berkumpul. Mereka mendirikan tenda-tenda hitam, mengelilingi sebuah bangunan kuno—Kuil Kegelapan. Di tengah lapangan, sesosok iblis wanita dengan rambut perak panjang duduk di singgasana darurat, dikelilingi para pengawal.

Lilian.

Yehwa mengepalkan tangan. Matanya menyala—bukan merah, tapi amarah murni.

Yun-seo meraih tangannya, menekannya pelan. "Tenang. Jangan gegabah."

Yehwa menghela napas, mencoba mengendalikan diri. Mereka mengamati dari kejauhan.

Lilian sedang berbicara dengan seseorang—manusia bertubuh tinggi dengan jubah hitam menutupi wajah. Ia tidak bisa dilihat dengan jelas, tapi sesuatu tentangnya membuat Yun-seo merinding.

"Penguasa Kegelapan," bisik Yehwa. "Itu pasti dia."

Yun-seo mengamati manusia itu. Gerakannya anggun tapi mematikan, seperti predator yang sedang bermain dengan mangsa. Ia memberi perintah pada Lilian, dan Lilian mengangguk patuh—ratu iblis yang dulu jadi tangan kanan Yehwa, kini jadi boneka.

"Aku muak," desis Yehwa.

"Sabar. Kita lihat dulu."

Dari percakapan yang terdengar samar, mereka menangkap potongan informasi:

"...Mahkota Iblis ada di dalam... tapi terkunci segel kuno... butuh darah keturunan Kaisar Iblis..."

Lilian menjawab, "Tapi keturunan terakhir adalah Yehwa. Dan dia—"

"Dia masih hidup." Suara Penguasa Kegelapan dingin. "Aku tahu. Dan aku sudah menyebar pasukan untuk mencarinya. Dia tidak akan lolos."

Yehwa membeku. Mereka mencarinya.

Yun-seo menariknya mundur pelan-pelan. Mereka harus pergi dari sini—cepat.

Tapi saat berbalik, ranting patah di bawah kaki Yun-seo.

Praaak!

Semua iblis menoleh ke arah mereka.

"ADA PENYUSUP!"

---

[Bersambung ke Bab 9: Pelarian di Hutan Terlarang]

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!