NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Abdul Rizqi

Janu Manggala adalah seorang pemuda polos yang tak menyadari bahwa dirinya memiliki kesaktian Tiada Tanding... Segala jenis pusaka tunduk di hadapannya, ucapannya langsung menjadi kenyataan, dan orang orang yang menunjukan kesaktiannya di mata Janu mereka hanyalah orang gila...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rendi dan Rina

Pagi hari, rutinitas mereka sama seperti sebelumnya hanya mengecat dinding dengan headset terpaut di telinga. Mendengarkan musik sambil bekerja, sesekali berteriak nada lirik penuh emotional nyanyian jiwa.

Tak terasa seminggu sudah berlalu, pekerjaan Anton dan Janu selesai dengan hasil yang memuaskan. Pemborong menyukai hasil kerja mereka dan menyuruh mereka untuk melanjutkan mengecat pagar.

"Waktu ada acara kalian ngecat pagar di belakang ya, jangan ada kaleng cat apa tangga di area depan ini oke?" Ucap pemborong.

"Siap pak!"

"Ini bayaran borongan kemarin, pager ini harian aja gimana?"

"Iya pak, ngga papa.."

Mereka pun memberesi alat-alat di ruang auditorium tersebut menyapu dan mengepel lantai di lanjutkan dengan mengecat pagar depan. Sore hari sebuah mobil truck box masuk membongkar barang-barang bawaan.

"Bang! Bang! Mau uang rokok nggak? Bantuin angkatin ini kedalam." Teriak sopir truck kepada Anton dan Janu yang sedang beristirahat duduk bersandar di dinding pagar sambil menonton streaming video pemersatu bangsa.

Mereka pun membantu membongkar dan mengangkut semua barang di dalam box tersebut. Mata Janu terbelalak tak kala melihat banyak sekali poster sosok yang sangat familiar di kepalanya. Ya sosok di poster itu tak lain adalah Andrean Wirata, seorang penulis novel yang sangat terkenal.

"Bang ini Andrean Wirata kan? Jadi acara Meet and Great besok itu punya dia?" Tanya Janu tak percaya.

"Iya, ada seminarnya juga kalau ngga salah." Jawab sopir box.

"Berarti saya boleh minta tanda tangan dia ya bang?"

"Berbayar bang, udah sold out tiketnya. Tertutup bang acaranya, bukan open jumpa fans. Soalnya ada seminar tentang dunia kepenulisan, sesi foto bersama apa lagi ya? Lupa... orang EO yang tau."

Janu tampak sedikit kecewa namun tak apa, dia masih bisa melihat wajah penulis novel terkenal itu secara langsung. Pikirnya saat itu. Semenjak itu ia selalu gelisah tak sabar ingin mendengarkan isi seminar itu.

"Besok pasti banyak penulis dateng, tunggu dulu! Inikan meet and greet? Pasti penggemar yang dateng.. huff.." batin Janu lesu.

Hari yang di nanti pun tiba, acara itu di langsungkan pukul 10 pagi, saat itu Janu sedang mengecat pagar belakang bersama dengan Anton..

"Ton, aku istirahat dulu di sana ya?"

"Iya nu, di tembok belakang itu aja. Jangan kedepan kena marah nanti."

Janu pun duduk bersender di tembok belakang, merokok dan mendengarkan acara demi acara yang terdengar samar tak begitu jelas itu. Sekitar pukul 3 sore acara selesai ia melihat sosok penulis yang ia kagumi masuk ke dalam mobil, Janu tersenyum puas.

Acara sudah selesai namun di dalam auditorium masih banyak orang-orang yang berkumpul. Anton dan Janu pun duduk di pelantaran parkir bersandar di ban mobil menunggu auditorium itu kosong. Karena mereka tak bisa naik ke lantai dua apabila masih banyak orang.

"Wuk... wuk... wuk..." bunyi open lock key alarm mobil terdengar membuat Anton dan Janu tekejut sampai-sampai mereka berdiri karena sang pemilik mobil hendak masuk ke dalam mobilnya yang tak lain adalah sepasang kekasih berusia sekitar 20 tahunan.

"Ehh... kalian siapa? Pencuri ya?!!" Ucap pemuda itu.

"Bukan Mas, kami cuma ngiyup di sini tadi." Jawab Anton.

"Apa itu ngiyup?"

"Berteduh Mas, kami kerja kok di sini."

"Hah?!! Kerja? Kerja apaan kaya gembel gitu pakaian kalian."

"Ngecat tembok kami Mas."

"Jangan deket deket mobil saya, hus... hus... pergi sana jauh-jauh!!! Dasar gembel!" Cibir pemuda itu dengan tatapan sinis ekpresi jijik terlihat dari cara pandangnya menatap Anton dan Janu.

Anton dan Janu pun bergeser menjauh.

"Ngga boleh kaya begitu lah, Ren. Maaf ya mas.." ucap seorang wanita yang terlihat lebih kalem dan sopan.

"Iya mbak ngga papa, kalau boleh tahu mbak dapet berapa tanda tangan tadi?" Tanya Janu.

Wanita itu tersenyum sembari memicingkan mata menatap Janu.

"Emangnya kenapa mas?"

"Bo... boleh saya beli satu mbak? Saya mau masuk ngga ada tiketnya."

"Oh... aku ngga minta tanda tangan tadi Mas. Cuma nemenin pacarku aja. Dia editor di salah satu kantor penerbit. Kalau aku publisher ghost writer gitu. Kami ngga minta tanda tangan tadi. Tapi aku punya bukunya kalau mas mau."

"Ngga mbak, aku punya semua buku Andrean Wirata."

"Oh ya... wah hebat mas jarang-jarang loh anak muda sekarang suka baca apalagi baca novel."

"Hahaha... modus! Kok kamu percaya aja sama gembel ini sih Rin. Dah yuk cabut, cuma caper aja dia!"

"Apaan sih Ren...."

"Mas editor ya? Aku juga penulis. Gimana cara saya ngirim naskah kepenerbit mas?" Tanya Janu kepada laki laki judes itu, yang langsung membuat laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.

"Hahahhahaha...!!! Kamu penulis? Kamu pikir aku buta?! Model kuli kaya kamu bisa baca aja masih sulit buat di percaya, pake bilang penulis lagi udah gembel, miskin penipu lagi! Udah ah Rin ayo cabut udah sering banget gue ketemuu model penipu kaya dia ini!" Ucapnya sambil memutar bola mata malas, pemuda itu masuk ke dalam mobil.

"Ma.. maaf ya mas..." ucap wanita itu sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam mobil.

***

"Jahat banget sih kamu Ren! Ngga gitu juga kalau ngomong kasian dia kan?"

"Dengerya Rina sayang. Tuh orang pasti penipu, percaya sama saya, cuma kena tipu nanti kita, mau kamu di culik? Zaman sekarang itu kita harus hati-hati. Mungkin mereka tadi mau bobol mobil, ketauan jadi pake plan B yaitu nipu atau pura-pura. Dahlah bikin mood ilang aja kamu. Udah ngga usah di bahas."

"Negatif thinking banget sih kamu Ren! Masak iya sih? Kayaknya mereka orang baik baik."

"Baik apanya? Justru orang jahat itu harus pura-pura baik, agar mereka ngga di curigai."

Kedua pasangan itu bernama Rendi dan Rina. Mereka berdua sama-sama bekerja sampingan yang berhubungan dengan dunia kepenulisan. Status mereka masih mahasiswa mahasiswi di salah satu universitas dan fakultas yang sama.

Rina meniti dan merintis karirnya di dunia kepenulisan sejak dirinya masih menginjak bangku SMA. Dari mulai mengikuti lomba cerpen dan event-event lainnya. Bahkan ia menjadi salah satu star writer's di salah satu platform menulis online.

Keterbatasan waktu untuk ia menghasilkan karya lain semakin sempit tak kala ia harus kuliah. Karena untuk menghasilkan novel yang bagus dan menjual di butuhkan ketenangan, lingkungan kondusif, kewarasan fikiran mental dan imajinasi kreatif guna mendukung semua itu.

Keadaan yang pada saat ini tak bisa untuknya melakukan itu, jadi ia membuat dan mengembangkan sebuah situs website publish ghost writer agar ia tetap memiliki karya dengan orang lain yang menulis.

Bagi yang tak tahu ghost writer itu adalah penulis yang di bayar oleh seseorang yang memiliki ide tentang sebuah karya. Orang itu memiliki kerangka, dan outline di setiap bab. Sang ghost writer itulah yang mengeksekusi membuat cerita orang itu. Dengan status karya tetap berada di orang itu. Sedangkan ghost writer tidak memiliki hak tentang itu ia sudah di bayar sejak awal.

Itulah yang di lakukan Rina selama ini, ia membuat penulis yang tidak memiliki penghasilan untuk membuat karya untuknya dengan semua ide dan alur yang sudah Rina buat, dari konsep sampai ending.

Dengan cara itu Rina masih memiliki karya tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk menulis naskah yang sudah ia rancang. Tetapi tetap membutuhkan modal dan resiko. Ia bisa merugi apabila karya yang sudah ia bayar tak laku di pasaran. Sedangkan sang ghost writer tetap memiliki penghasilan tanpa mempunyai resiko. Hanya saja saat novel itu laris sang ghost writer tidak mendapatkan nama, royalti dan hak apapun.

Sedangkan Rendi pacarnya ia bekerja sebagai editor magang di salah satu kantor penerbit novel di kota itu. Hubungan keduanya terjadi tak kala mereka menjadi teman sekampus di jurusan yang sama dan bekerja freelance di bidang yang sama pula.

1
Aman Wijaya
Rangga kepedean merasa dirinya seperti pangeran 🤴
Tini Nurhenti
mentri bahlul gan
Tini Nurhenti
puspa gmna kabare thor ?? 💪💪💪
Tini Nurhenti
kek kamyu ea thor 🤭🙏
Tini Nurhenti
baru lgi thor ?? hadir n nyimsk dlu thor 😄🙏🤭
bedul: iya nih, jangan lupa baca sampe selesai ya. udah 37 bab terjadwal nih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!