NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: SETELAH KEBENARAN ITU

Air mata Halimah jatuh—

bukan karena ditolak,

tapi karena akhirnya ia dimengerti.

 

Pagi itu, Halimah duduk di tepi ranjang dengan surat di tangannya.

Matanya sembab. Kantung hitam di bawah mata seperti sudah menjadi bagian dari wajahnya. Dua minggu. Dua minggu ia menunggu. Dua minggu ia membolak-balikkan badan setiap malam. Dua minggu ia kehilangan nafsu makan.

Dan sekarang, surat itu ada di tangannya.

Mak Ijah baru saja pergi. Perempuan tua itu menangis bahagia saat menyerahkan surat ini. "Neng, ini dari Datuk. Akhirnya."

Halimah menerimanya dengan tangan gemetar. Ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Hanya mengangguk, lalu menutup pintu kamarnya.

Sekarang, ia sendiri.

Surat itu ia buka perlahan. Tangannya gemetar. Jantungnya berdebar kencang, hampir keluar dari dada. Ia takut membaca, tapi juga takut tidak membaca.

Ya Allah, apa isinya?

Ia mulai membaca.

 

Baris pertama. Maringgih minta maaf.

Dada Halimah bergetar. Air mata sudah menggenang.

Baris kedua. Ia bilang takut. Bukan takut pada Halimah, tapi takut pada dirinya sendiri.

Halimah menggigit bibir. Tangannya gemetar memegang kertas.

Baris tentang Aminah.

Halimah berhenti. Menarik napas. Jadi itu lukanya. Ia melanjutkan membaca, matanya basah.

Tentang sembilan tahun. Tentang kapal karam. Tentang hati yang mati rasa.

Air mata Halimah jatuh. Tidak karena sedih. Tapi karena lega. Akhirnya ia tahu. Akhirnya ia mengerti.

Baris tentang surat pertamanya. "Kenapa Datuk tidak halalin saya saja?"

Halimah menutup mulut. Wajahnya memanas. Malu. Tapi di baris berikutnya, Maringgih bilang: Kau tidak lancang. Kau tidak mengganggu. Kau hanya jujur.

Ia tersenyum di tengah tangis. Senyum paling bahagia dalam dua minggu terakhir.

 

Baris tentang surat keduanya. Maringgih bilang ia membacanya berkali-kali.

Halimah memeluk surat itu. Dadanya hangat.

Baris tentang calon. Maringgih bilang tidak punya.

Ia tersenyum lebar. Lalu malu sendiri. Wajahnya merah.

Baris tentang ketakutan. Maringgih takut tidak bisa menjaga, takut menyakiti, takut Halimah menyesal.

Halimah membaca ulang tiga kali. Ia takut menyakitiku. Berarti... berarti ia peduli.

Baris tentang pilihan. Maringgih memberi dua pilihan: berhenti atau lanjut perlahan.

Halimah tidak perlu berpikir. Ia sudah tahu jawabannya.

Baris terakhir: Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa hati masih bisa merasa.

Air mata Halimah jatuh membasahi kertas. Ia tidak peduli. Surat itu ia tempelkan di dada. Ia menangis. Bukan tangis sedih. Tangis lega. Tangis bahagia.

 

Ia membaca ulang. Sekali lagi. Dua kali. Tiga kali. Empat kali.

Setiap kali membaca, wajahnya berganti-ganti. Menangis. Tersenyum. Tersipu. Menangis lagi. Tertawa kecil. Lalu menangis lagi.

Kertas itu basah di beberapa tempat. Tapi ia tidak peduli.

Dia mengerti. Dia menerima. Dia hanya takut.

Tapi dia bilang akan berusaha.

Halimah menjerit kecil. Menutup mulut dengan bantal. Kakinya digeber-geber seperti anak kecil. Lalu tertawa sendiri.

Ia berdiri. Berjalan mondar-mandir di kamar. Membaca surat itu sambil jalan. Lalu duduk lagi. Lalu berdiri lagi.

Ya Allah, ya Allah, ya Allah...

Ia tidak bisa tenang.

 

Ia membaca lagi. Sampai di kalimat "Jika kau masih mau menerima lelaki tua seperti aku".

Halimah tersenyum. Lelaki tua? Tidak tua. Tiga puluh empat tidak tua.

Lalu kalimat "kita jalani perlahan".

Ia mengangguk-angguk sendiri. Perlahan. Boleh. Aku bisa sabar.

Lalu kalimat "jika kau memilih berhenti, aku akan mengerti".

Halimah menggeleng keras. Tidak. Tidak akan. Aku tidak akan berhenti.

Ia tertawa kecil. Merasa lucu membayangkan dirinya menggeleng pada surat.

 

Satu jam berlalu. Halimah masih di kamar. Surat itu sudah dibaca entah berapa kali. Ia hafal hampir semua kalimatnya. Tapi ia tetap membaca.

Setiap kali membaca, perasaannya sama: campur aduk antara bahagia, malu, haru, dan tidak percaya.

Ini nyata? Ini benar-benar nyata?

Ia cubit lengannya. Sakit. Berarti nyata.

Ia tersenyum lebar. Lalu mencium surat itu. Lalu malu sendiri. Wajahnya merah padam.

Astaghfirullah, Halimah, apa yang kau lakukan?

Tapi ia tidak bisa berhenti tersenyum.

 

Siang harinya, Halimah keluar kamar. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, ia terlihat berbeda.

Siti yang melihatnya langsung terkejut. "Nak, kamu... kamu terlihat lebih segar."

Halimah tersenyum. "Iya, Bu. Tidur nyenyak tadi malam."

Bohong. Ia tidak tidur nyenyak. Tapi hatinya tenang.

Zubaidah juga melihat perubahan itu. "Halimah, kamu makan dong. Lihat, kamu kurus."

Halimah mengambil nasi dan lauk. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, ia makan dengan lahap.

Usman dan Hasan bingung. "Kak, kenapa kakak senang?"

Halimah mengusap kepala adiknya. "Tidak apa-apa. Kakak hanya... bahagia."

"Bahagia kenapa?"

"Rahasia."

Ia tersenyum misterius. Lalu kembali makan.

 

Sore harinya, Halimah duduk di beranda belakang. Angin sore berdesir, membawa kesejukan.

Ia tidak menulis surat lagi. Tidak perlu. Maringgih sudah bilang akan menunggu. Kini gilirannya menunggu dengan tenang.

Hatinya tidak lagi gelisah. Perasaannya tetap ada, tapi tidak lagi menyiksa. Seperti sungai yang mengalir tenang setelah banjir reda.

Ia takut. Tapi ia jujur. Dan aku bisa menerima itu.

Ia tersenyum sendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan cinta yang dewasa. Bukan cinta ABG yang penuh drama, tapi cinta yang mengerti, yang sabar, yang rela menunggu.

Ia mengeluarkan surat itu dari balik bajunya. Membacanya lagi. Sekilas saja. Tersenyum. Lalu menyimpannya kembali.

Besok, pikirnya. Besok aku akan menulis balasan. Tidak perlu panjang. Cukup bilang aku menerima.

Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati perasaan ini. Perasaan dimengerti. Perasaan diterima. Perasaan dicintai meski belum diucapkan.

 

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Saat magrib, Datuk Sulaiman pulang dengan wajah lebih merah dari biasanya. Ia langsung duduk di ruang tamu, memanggil semua orang.

Siti, Zubaidah, Usman, Hasan, dan Halimah berkumpul.

"Ada apa, Abang?" tanya Siti.

Sulaiman tidak menjawab. Matanya menyapu wajah satu per satu. Lalu berhenti di Halimah.

"Kau," katanya. "Kau berbeda."

Halimah terkejut. Dadanya berdebar. Apa Ayah tahu?

"Apa maksud Ayah?"

"Aku lihat kau. Hari ini kau tersenyum. Kemarin-kemarin kau murung. Ada apa?"

Halimah berusaha tenang. "Tidak ada, Ayah. Hanya... hanya lega karena bisa tidur nyenyak."

Sulaiman menatapnya tajam. "Kau yakin?"

"Ya, Ayah."

Sulaiman tidak puas. Tapi ia tidak bisa memaksa.

 

Malam turun. Halimah kembali ke kamarnya. Ia mengambil surat Maringgih, membacanya lagi. Tersenyum.

Tapi di luar, langkah kaki berat terdengar. Ayahnya mondar-mandir di ruang tamu.

Siti mencoba menenangkan. "Abang, ada apa sebenarnya?"

Sulaiman berhenti. Matanya merah.

"Aku curiga," katanya. "Aku curiga ada yang tidak beres dengan Halimah."

"Maksud Abang?"

Sulaiman mendekat. Suaranya direndahkan, tapi tetap terdengar dingin.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kalau itu ada hubungannya dengan Maringgih..."

Siti terkejut. "Abang, jangan curiga berlebihan. Halimah hanya—"

"Aku tahu apa yang aku lihat!" potong Sulaiman. "Dia berubah. Dan aku tidak suka perubahan yang tidak bisa kujelaskan."

Ia berjalan ke jendela. Memandang ke arah kampung yang gelap.

"Kalau perlu, aku sendiri yang akan memutus semua ini."

Siti membeku. "Abang, jangan—"

"Kau diam!" bentaknya pelan. "Ini urusanku."

 

Halimah di kamarnya tidak mendengar percakapan itu. Ia hanya merasakan hawa dingin yang tiba-tiba masuk dari celah jendela.

Ia merapatkan selimut. Tapi hawa dingin itu bukan dari luar. Dari dalam.

Ada apa ini? pikirnya. Kenapa rasanya... tidak enak?

Ia memegang surat Maringgih di dadanya. Seolah mencari perlindungan.

Semoga tidak ada apa-apa. Semoga Ayah tidak tahu.

Tapi di dalam hatinya, firasat buruk mulai tumbuh.

 

[Bersambung...]

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!