NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHKOTA DAN KOTORAN.

Genggaman tangan Kyai Abdullah pada kain biru itu seolah sedang meremas jantungku. Aku berdiri mematung, hanya bisa menatap ujung alat pel yang basah, tak berani sedikit pun mengangkat wajah.

Aura di sekitar Kyai terasa sangat dingin, berbeda jauh dengan udara fajar yang biasanya menenangkan. Aku tahu, satu kata yang salah keluar dari mulutku, maka habislah kesempatanku untuk tetap berada di sini.

"Saya mengerti, Kyai," jawabku akhirnya, nyaris berbisik.

Suara langkah kaki Kyai yang berat menjauh, masuk kembali ke dalam rumahnya yang sunyi. Namun, tekanan di dadaku tak lantas hilang; rasa bersalah karena menyeret Zahra ke dalam kesulitan ini membuatku merasa seperti pecundang.

Aku melanjutkan mengepel selasar dengan tangan yang masih gemetar. Setiap gesekan kain pel di lantai seolah mengejek kegagalanku melindungi rahasia gadis yang telah mempertaruhkan segalanya demi membantuku.

Seminggu berlalu dengan pengawasan yang mencekik leher. Kyai Abdullah tak banyak bicara, tapi sorot matanya selalu mengikuti setiap gerak-gerikku, terutama saat aku berada di dekat gudang ulat.

Zahra pun tak terlihat. Ia seolah dikurung di dalam rumah, atau mungkin ia sendiri yang memilih menghindar agar tidak menambah masalah bagiku.

Aku bekerja seperti kesurupan, menghabiskan waktu hampir dua puluh jam sehari di dalam gudang yang lembap. Jemariku yang tadinya halus sebagai CEO kini penuh kapalan, kuku-kukuku hitam, dan aroma tubuhku sudah menyatu dengan media ulat yang berbau tajam.

Hari itu, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam metalik membelah kesunyian masjid. Debu beterbangan saat mobil itu berhenti tepat di depan gudang yang kini mulai tampak rapi.

Seorang pria paruh baya berkacamata tebal turun dari mobil. Ia mengenakan kemeja polo bermerek, sangat kontras dengan lingkungan desa yang sederhana ini.

"Mas Hafiz!" teriaknya dengan nada suara yang penuh semangat.

Aku meletakkan ember pakan, mencoba melihat siapa tamu ini. Oh, aku ingat. Dia adalah Pak Bima, kolektor burung kicau kelas kakap yang minggu lalu membeli sampel ulat dariku lewat perantara Pak Mamat.

"Pak Bima?" tanyaku sambil mengelap keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor.

Pak Bima tidak menjawab, ia justru melangkah lebar menghampiriku dan langsung menjabat tanganku erat-erat, seolah aku adalah pahlawan yang baru pulang dari medan perang.

"Mas, ulat kamu itu ajaib! Ajaib!" serunya dengan mata berbinar di balik kacamatanya.

"Ajaib bagaimana, Pak?" aku mencoba tetap tenang, meski jantungku mulai berdegup kencang karena penasaran.

"Burung Murai Batu koleksi saya yang macet bunyi berbulan-bulan, langsung gacor setelah tiga hari makan ulat dari sini! Dan yang paling gila, kemarin burung itu juara satu di kontes nasional!" Pak Bima bercerita dengan menggebu-gebu.

Ia mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. "Ini, Mas. Saya nggak mau kehilangan stok."

Aku membuka map itu. Mataku terbelalak melihat angka-angka yang tertera di sana. Kontrak pesanan tetap 30 kilogram per minggu.

"Ini baru permulaan, Mas. Kalau kualitasnya stabil begini, komunitas saya di Jakarta bakal antre," ucapnya sambil tertawa lebar.

Pak Bima merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah cek yang sudah ditandatangani. "Ini DP tambahan. Tiga juta yang kemarin itu cuma pembuka. Ini sepuluh juta lagi buat modal ekspansi gudang."

Aku menelan ludah. Sepuluh juta rupiah di tanganku saat ini rasanya lebih berat daripada satu triliun yang dulu pernah kupunya.

"Bagaimana? Sanggup, kan? Saya butuh pengiriman pertama besok senin," tantang Pak Bima.

Aku menoleh ke arah rumah Kyai Abdullah, lalu ke arah gudangku yang masih berkapasitas kecil. Tenagaku sudah di ambang batas, tapi ini adalah satu-satunya jalan untuk membuktikan bahwa aku bukan parasit.

"Saya sanggup, Pak. Minggu depan, ulat kualitas juara ini sudah siap," jawabku mantap.

Malamnya, udara di pesantren terasa sangat gerah, seolah-olah awan sedang menahan hujan yang tak kunjung jatuh. Aku duduk di depan gudang, menatap uang di tanganku dengan perasaan campur aduk.

Aku melihat, siluet seseorang muncul dari balik bayangan pohon mangga. Jantungku berdesir hebat saat menyadari itu adalah Zahra.

Ia mengenakan mukena putih, baru saja selesai salat malam sepertinya. Wajahnya tampak pucat di bawah sinar bulan yang temaram, namun matanya masih memancarkan api yang sama.

"Mas..." panggilnya lirih.

Aku berdiri, ingin menghampiri tapi teringat janji pada Kyai. "Zahra, kamu nggak seharusnya di sini. Ayahmu..."

"Ayah sudah tidur, Mas," potongnya cepat. Ia melangkah mendekat hingga aku bisa mencium aroma sabun melati yang lembut dari tubuhnya.

Aroma itu... terasa begitu memabukkan di tengah bau busuk ulat yang menempel di bajuku. Ada tarikan magnet yang begitu kuat, sebuah kerinduan yang membakar setelah seminggu kami dipisahkan oleh dinding tak kasat mata.

Zahra menatap tanganku yang memegang cek. "Aku dengar soal tamu tadi. Selamat ya, Mas."

"Ini semua berkat kamu, Zahra. Kamu yang kasih ide pakan alternatif itu," ucapku tulus.

Zahra tersenyum tipis, tapi matanya terlihat berkaca-kaca. Ia meraih tanganku yang kasar, jemarinya yang halus terasa begitu kontras saat bersentuhan dengan kulitku.

Sentuhan itu seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh sarafku. Aku merasa dadaku sesak oleh sesuatu yang tak bisa kujelaskan—sebuah keinginan yang meluap untuk melindunginya, untuk memilikinya.

Zahra menarik napas panjang, dadanya naik turun dengan tidak teratur di balik mukena yang tipis. Tatapan matanya yang sayu seolah-olah mengundangku masuk ke dalam dunia yang terlarang.

"Mas... aku takut. Gus Farid makin sering datang ke rumah," bisiknya sambil mendekatkan tubuhnya padaku.

Aku bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya merambat ke tubuhku. Aroma melati itu semakin tajam, bercampur dengan uap dingin malam, menciptakan suasana yang begitu intim sekaligus menyesakkan.

Tanganku yang bebas bergerak ragu, ingin mengusap pipinya, sebuah kontak fisik yang sangat berisiko namun terasa begitu benar.

Darahku berdesir hebat. Di tengah gudang ulat yang bau ini, di bawah pengawasan Kyai yang ketat, ada api yang berkobar di antara kami—api yang menuntut untuk dipadamkan namun harus dijaga agar tidak membakar habis semuanya.

"Aku akan buktikan pada Ayahmu, Zahra. Aku nggak akan biarkan Farid menyentuhmu," ucapku.

Zahra menjauh perlahan, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara harapan dan ketakutan yang terpendam. "Aku percaya kamu, Mas."

Ia berbalik dan berlari kecil kembali ke rumahnya sebelum ada orang yang memergoki kami. Aku berdiri terpaku, menghirup sisa-sisa aroma melati yang tertinggal di udara, merasakan gairah dan tekad yang kini bersatu menjadi kekuatan besar.

Keesokan paginya. Berita tentang kesuksesan ulat kandangku yang menembus pasar Jakarta tersebar luas, berkat Pak Mamat yang bermulut ember.

Warga desa mulai berdatangan ke gudang, bukan untuk mencibir, tapi untuk melihat "keajaiban" yang kubuat. Mereka takjub melihat bagaimana seorang marbot bisa menghasilkan uang jutaan rupiah hanya dari kotak kayu berisi serangga.

Di tengah keriuhan itu, sebuah suara motor sport yang berisik memecah suasana. Gus Farid datang dengan gaya angkuhnya, kacamata hitam bertengger di hidungnya yang bangir.

Ia turun dari motornya, "Jadi ini yang kamu banggakan, Hafiz? Jualan ulat kotor begini?" ejeknya sambil meludah ke samping.

Aku tidak menoleh, terus memberikan pakan ulat-ulat itu dengan telaten. "Kotor atau nggak, yang penting halal , Farid."

Farid tertawa sinis, langkahnya mendekat ke arahku. "Kamu pikir dengan uang receh ini kamu bisa ambil Zahra? Jangan mimpi. Kyai Abdullah nggak akan sudi punya menantu peternak serangga."

Ia melirik ke arah cek yang tergeletak di meja kecil di sudut gudang. Matanya berkilat penuh kebencian, sebuah api cemburu yang membara karena melihat keberhasilanku mulai mengancam posisinya.

Farid kemudian menoleh ke arah jendela kamar Zahra, lalu kembali menatapku dengan seringai licik. "Kita lihat saja, berapa lama gudangmu ini akan tetap berdiri sebelum semuanya menjadi abu."

Aku berhenti bekerja dan menatapnya tajam. "Kamu mengancamku?"

"Bukan ancaman, cuma prediksi cuaca. Hati-hati, Hafiz. Angin di sini bisa sangat panas bagi orang asing sepertimu," ucapnya sambil memakai kembali helmnya dan menggeber motornya dengan keras, sengaja menimbulkan kebisingan di depan masjid.

Aku menatap kepergiannya dengan tangan yang mengepal kuat. Aku tahu, kontrak dari Jakarta ini bukan hanya soal uang, tapi adalah garis peperangan yang baru saja ditarik.

Gus Farid benar-benar panas, dan aku harus siap jika sewaktu-waktu api itu membakar semua yang sudah kubangun dengan susah payah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!