Bagaimana hidup Naura yang harus di jodoh kan dengan orang yang sudah mati. selang sehari saat dia meraya kan ulang tahun ke 18.
Naura Isabella adalah seorang murid di SMA Nusa bangsa dengan jalur prestasi.
Di pagi yang mendung itu. Orang tua Naura Tiba tiba menyuruh putri semata wayang mereka untuk tidak ke sekolah.
Dan membawa Naura ke rumah mewah.
Naura yang sudah berdandan cantik layak nya pengantin sangat lah heran. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Banyak orang menangis. Dia bingung kenapa dia malah di dandani seperti seorang pengantin.
Dengan di gandeng oleh kedua orang tua nya. Naura berusaha bersabar dan tidak banyak bertanya.
Orang tua nya menjelas kan jika dia harus ikut karnaval agar bisa mendapat kan uang untuk makan besok. Itu ucapan singkat ke dua orang tua Naura.
Naura tiba di sebuah altar dan sudah ada pendeta di sana. Naura melihat ke sekeliling dan mata Naura terpaku pada mayat pria yang seumuran dengannya dengan wajah yang sangat pucat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
"Bapak ... Ibu, Naura sekarang ini harus gimana?" Gadis itu terlihat berbicara pada dirinya sendiri. Ia terlihat benar benar frustasi.
Gadis itu adalah Naura Isabella, yang pagi tadi habis melangsungkan pernikahan dengan seorang pewaris tunggal yang kaya raya.
Harus hidupnya senang, karena tinggal di rumah mewah dan menempati kamar yang tak kalah mewah juga, tapi apa yang sebenarnya terjadi? Sehingga membuat Gadis ceria nan pemberani seperti Naura ketakutan.
Jawabannya karena dia itu di kunci didalam kamar seorang mayat yang terbujur kaku di dalam sebuah peti mati.
"Tolong buka ... Saya haus," teriak Naura lagi, tapi kali ini ada yang berbeda dengan suara Naura. Suaranya terdengar tidak bertenaga dan seperti orang lemas. Sungguh keadaan Naura sekarang ini tidak baik baik saja.
Tiba tiba ada suara orang membuka kunci pintu kamar yang sekarang dia tempati dari arah luar.
Tak berselang lama pintu pun akhirnya terbuka lebar, menampilkan Liliana ibu mertua Naura yang sekarang ini datang bersama para pelayan dengan membawa makanan dan juga minuman di tangannya.
Naura menatap ibu mertuanya itu dengan tatapan penuh harap.
"Ini minuman sama makanan mu, makanlah! Aku yang akan menemanimu disini," ucap Liliana dengan suara dingin dan juga wajah yang datar. Sedingin kulitnya yang berwana putih seperti salju. Liliana masuk dengan seorang asisten rumah tangganya.
Dengan lahap dan seperti orang kelaparan Naura memakan semua hidangan yang Liana siapkan.
Liliana melihat Naura yang duduk di sofa yang di depannya, dengan sebuah senyuman miring.
Naura sendiri terlihat memakan makanan yang ada di depannya itu dengan rakus. Karena Naura sedari pagi belum makan apapun, hanya meneguk air saat dirinya itu ijin pergi ke kamar mandi.
Naura hanya meminum air keran yang ada di kamar mandi. Apakah tadi mamah mertua nya memang sengaja membuat dia kelaparan. Ntah lah .Liliana duduk dengan anggun seperti seorang bangsawan, Apa sebenarnya direncanakan oleh Liliana.
Bahkan pelayan yang berdiri di belakang Liliana merasa sangat kasihan melihat nona barunya yang keadaannya sangat mengenaskan. Karena harus menikah dengan pewaris tunggal keluarga Bouven dengan keadaan yang sudah menjadi sesosok mayat.
"Sekarang kamu mandi dan pakai baju ini! Saya akan menunggu mu di sini. Dan membantu membersih kan wajah mu yang sudah terlihat seperti badut itu," ucap Lilian sembari melempar kan baju kurang bahan kepada Naura. Naura dengan sigap pun menerima lemparan baju itu.
Naura malah diam mematung, sembari menatap baju yang sekarang ini berada di tangannya.
"Cepat pakai! Kita itu tidak ada waktu lagi sebelum jam 12 malam. Kalau kamu tidak nurut kepada ku.
Akan ku pastikan besok kamu akan melihat kepala orang tuamu berada disini, DI KAMAR INI camkan itu!" ancam Liliana dengan tatapan mata tajam, lalu dia melihat ke arah jam tangan mewah miliknya yang terpasang di pergelangan tangannya.
Naura yang merasa takut. Langsung berlari ngacir menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Naura mandi selama 15 menit. Dia bingung dan malu keluar dalam keadaan 20 persen tanpa busana.
Tok tok tok
"Naura buruan keluar kalau kamu tidak mau orang tua kamu ...."
Ucapan Liliana terhenti kala menantunya itu membuka pintu kamar mandi. Liliana melihat menantunya dari atas ke bawah. Setalah itu pias wajah ya langsung berubah sumringah, dia pun bertutur kata lembut pada menantunya, "Cantik sekali kamu sehabis mandi. Ayo duduk di kursi rias. Mamah akan mendandani mu senatural mungkin, karena kurang 20 menit lagi sudah pukul 12 malam!"
Naura menatap heran ke arah ibu mertuanya, karena ekspresi ibu mertuanya itu cepat sekali berubahnya.
Setelah cantik dan terlihat sexy. Naura heran Kenapa mertua nya dan asisten rumah tangga nya malah ber jalan ke arah pintu keluar.
"Mah ... Mah mau kemana?" tanya Naura sembari berlari kecil menuju ke arah mertuanya itu.
"Kami tidak mau mengganggu mu, silahkan nikmati malam pertama kalian!" ujar Liliana dengan wajah bahagia.
"Mah .. sebenarnya apa yang
Mamah maksud? Kan Liam sudah meninggal, bagaimana Naura bisa malam pertama dengannya?"
Naura benar benar heran dengan posisinya sekarang ini, tapi pias wajahnya tiba-tiba berubah ketakutan, kala membayangkan dia harus melakukan hubungan suami istri dengan mayat itu.
Naura bukan lah gadis yang bodoh tentu saja dia tahu apa arti kata melayani suami. Apa lagi di sekolah dia mengambil jurusan IPA.
Liliana pun tiba tiba memasang wajah marah dan langsung mencengkram ke dua pipi Maura dengan satu tangan nya.
"Kamu .... Dia itu masih hidup, anakku belum meninggal. Sekarang tidak ada bantahan lagi! Kalau kamu memang ingin nyawa kedua orang tuamu itu selamat. Sekarang lebih baik lakukan tugasmu. Layani dia di dalam peti," pekik Liliana dengan tatapan mata tajam, bahkan wajahnya sudah tidak bisa untuk di bantah.
Jeder
Suara pintu kamarnya yang tiba tiba di tutup dengan kasar. Lalu ada suara seperti orang memutar kunci dari arah luar.
"Hiks hiks hiks kenapa hidup ku begini?" gumam Naura pada dirinya sendiri, sembari menangis sesenggukan.
Tiba tiba Naura merasa tubuhnya terasa panas. Padahal dia hanya menggunakan lingeri tanpa kaca mata dada mau pun celana dalam.
Bahkan keringat Naura nampak bercucuran dan keluar dari seluruh tubuhnya. Dia melihat ke arah AC.
Naura bingung, kala AC yang ada di dalam kamarnya masih hidup. Tapi Naura masih tidak bisa tahan dengan hawa panas yang menjalar di tubuhnya sekarang ini.
Naura pun merebahkan dirinya di atas lantai yang dingin, lalu mengeliat liatkan tubuhnya. Berharap lantai yang dingin dapat mendinginkan tubuhnya. Seperti saat pulang sekolah Naura selalu rebahan di atas lantai tanpa alas.
Tapi kali ini benar benar berbeda. Walaupun malam hari dan AC di kamarnya masih menyala.
Naura merasa tubuhnya itu masih sangat kepanasan. Dia pun akhirnya teringat akan ucapan mertuanya. Dia takut kalau sampai ada apa apa dengan kedua orang tuanya.
Walaupun sebenarnya Naura sendiri masih jengkel kepada kedua orang tuanya, yang malah menjualnya. Tapi Naura tidak setega itu untuk membiarkan kedua orang tua yang sedari kecil membesarkannya, harus meregang nyawa.
Naura berjalan ke arah peti yang ada di dalam kamar, dia mendekat ke arah anak laki laki yang berumur sama dengannya. Tiba tiba Dia merasa bergairah saat melihat tubuh laki laki yang bertelanjang dada di dalam peti itu.