"Cahaya di Tengah Hujan"
Rini, seorang ibu yang ditinggalkan suaminya demi wanita lain, berjuang sendirian menghidupi dua anaknya yang masih kecil. Dengan cinta yang besar dan tekad yang kuat, ia menghadapi kerasnya hidup di tengah pengkhianatan dan kesulitan ekonomi.
Di balik luka dan air mata, Rini menemukan kekuatan yang tak pernah ia duga. Apakah ia mampu bangkit dan memberi kehidupan yang layak bagi anak-anaknya?
Sebuah kisah tentang cinta seorang ibu, perjuangan, dan harapan di tengah badai kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1337Creation's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah yang kejam
Bab 4: Fitnah yang Kejam
Siang itu, suasana di rumah Bu Lestari terasa hangat seperti biasanya. Rini baru saja menyelesaikan tugasnya membersihkan rumah. Ia melipat kain terakhir dari setumpuk cucian dan melirik jam dinding. Sudah hampir waktu untuk pulang, tapi hari itu ada yang berbeda.
“Rini, sini sebentar,” panggil Bu Lestari dari ruang tamu.
Rini buru-buru menghapus keringat di dahinya dan berjalan ke arah majikannya. Bu Lestari, seorang wanita paruh baya yang baik hati, tersenyum sambil menyerahkan amplop cokelat tebal ke tangan Rini.
“Ini untuk kamu, Rini. Bonus atas kerja kerasmu selama ini. Kamu sudah membantu saya lebih dari yang saya harapkan,” ucap Bu Lestari dengan nada tulus.
Rini tertegun. Tangannya gemetar menerima amplop itu. “Bu, ini terlalu banyak… Saya tidak bisa…”
“Jangan ditolak. Saya tahu kamu butuh. Anggap ini sebagai penghargaan dari saya,” ujar Bu Lestari dengan lembut.
Rini tersenyum penuh syukur. “Terima kasih banyak, Bu. Ini sangat berarti bagi saya dan anak-anak.”
Dengan hati ringan, Rini berpamitan dan pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, ia merasakan semangat baru. Amplop berisi uang lima ratus ribu itu akan sangat membantu kebutuhan Aditya dan Nayla.
Namun, kebahagiaan Rini tidak bertahan lama. Sesampainya di rumah, ia disambut oleh suara gaduh dari depan pintu. Bu Tati, tetangga julid yang terkenal suka mengadu domba, berdiri di depan rumahnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu rumah Rini.
“Dasar pencuri! Kamu pikir kami nggak tahu? Uangku yang hilang minggu lalu itu kamu yang ambil, kan?” teriak Bu Tati dengan nada tinggi.
Rini terkejut. “Apa maksud Ibu? Saya tidak pernah mengambil apa pun dari rumah Ibu,” jawabnya dengan suara gemetar.
“Jangan bohong! Semua orang di sini tahu kamu miskin. Siapa lagi yang paling mungkin mencuri kalau bukan kamu?” seru Bu Tati dengan penuh amarah.
Tetangga-tetangga lain mulai berkumpul, wajah mereka penuh tanda tanya. Beberapa tampak percaya dengan tuduhan Bu Tati, sementara yang lain hanya berbisik-bisik tanpa berkata apa-apa.
Bu Tati melangkah maju, mendekati Rini. “Tadi saya lihat kamu bawa amplop tebal itu! Pasti itu uang hasil mencuri dari saya!” katanya sambil merebut amplop dari tangan Rini.
“Jangan, Bu! Itu uang dari majikan saya, Bu Lestari. Itu bonus untuk kerja keras saya!” Rini mencoba merebut kembali amplop itu, tetapi Bu Tati sudah membukanya.
“Lima ratus ribu? Ini belum sebanding dengan uang saya yang hilang. Saya kehilangan satu juta, dan saya yakin kamu pelakunya!” tuduh Bu Tati dengan nada penuh kemenangan.
Rini merasakan darahnya mendidih, tetapi ia mencoba tetap tenang. “Saya tidak pernah mencuri, Bu. Jika Ibu tidak percaya, kita bisa bicara baik-baik. Saya bisa panggil Bu Lestari untuk menjelaskan.”
“Alasan saja! Kamu cuma cari alasan untuk membela diri!” potong Bu Tati.
Beberapa tetangga mulai bergumam. “Ya, masuk akal juga. Dia kan memang miskin. Mungkin saja dia terpaksa mencuri,” kata salah satu dari mereka.
“Tapi kalau benar dari majikannya, kenapa nggak ada bukti?” sahut yang lain.
Air mata mulai menggenang di mata Rini. Ia merasa sendirian, dikelilingi oleh tatapan curiga. Aditya dan Nayla yang baru pulang sekolah menyaksikan semua itu dari kejauhan. Melihat ibunya dipermalukan, Aditya berlari menghampiri.
“Jangan ganggu Ibu saya! Ibu saya nggak pernah mencuri!” teriak Aditya dengan suara lantang.
Namun, Bu Tati hanya mencibir. “Anak kecil jangan ikut campur. Ibu kamu memang pencuri!” katanya dengan nada menghina.
Nayla yang masih kecil menangis keras, memeluk kaki ibunya. “Ibu... jangan nangis... jangan biarkan mereka ambil uang kita...” katanya dengan suara terbata-bata.
Rini memeluk Nayla erat-erat. Ia mencoba menenangkan anak-anaknya, meskipun hatinya terasa remuk. Ia menatap Bu Tati dengan mata penuh air mata. “Saya tidak akan diam. Saya akan buktikan bahwa saya tidak bersalah. Ambil saja uang itu kalau memang Ibu merasa berhak, tapi ingat, kebenaran akan muncul.”
Bu Tati mendengus, lalu berbalik sambil membawa amplop itu. “Ini pelajaran untukmu, Rini. Jangan pernah bermain-main dengan orang seperti aku!” katanya sebelum pergi.
Tetangga-tetangga yang lain perlahan bubar, beberapa masih bergumam tentang kejadian itu. Namun, tak satu pun yang mencoba membela Rini.
---
Malam itu, setelah anak-anaknya tertidur, Rini duduk sendirian di ruang tamu. Air mata yang ia tahan sepanjang hari akhirnya tumpah. Hatinya terasa hancur bukan hanya karena kehilangan uang itu, tetapi juga karena kehilangan kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya.
Namun, ia tahu bahwa ia tidak boleh menyerah. Ia harus membersihkan namanya, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk anak-anaknya.
“Saya miskin, tapi saya bukan pencuri,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kebenaran pasti akan terungkap, cepat atau lambat.”
---