Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Ujian Tujuh Pedang
“Siapa sebenarnya kau?”
Su Yun menatap perkamen bercahaya di tangannya.
“Dan apa benda ini?”
Suara serak itu tertawa keras.
“Hahaha! Sudah lama sekali tidak ada yang menanyakan namaku.”
Cahaya keemasan pada perkamen bergetar.
“Dengarkan baik-baik, bocah. Orang tua ini adalah Master Pedang Tanpa Batas.”
Su Yun mengerutkan kening.
Master Pedang Tanpa Batas?
Nama itu tidak pernah muncul dalam ingatannya.
“Kalau begitu, bagaimana kau bisa berada di dalam perkamen ini?”
“Jangan buru-buru.”
Suara itu terdengar santai.
“Aku justru ingin tahu bagaimana kau mendapatkannya.”
“Dari sarang Harimau Abadi.”
Hening beberapa saat.
“Apa?”
Nada suara lelaki tua itu berubah.
“Harimau Abadi?”
“Benar.”
“Jangan bercanda denganku!”
Master Pedang Tanpa Batas terdengar tidak percaya.
“Gulungan ini adalah warisan yang membuat banyak ahli rela mempertaruhkan nyawa. Bagaimana mungkin berakhir di sarang seekor Harimau Abadi?”
Su Yun mengingat kerangka yang ditemukannya.
“Ada mayat di dalam sarang.”
“Mayat?”
“Kerangkanya masih utuh. Hampir tidak ada bekas gigitan.”
Su Yun berpikir sejenak.
“Mungkin orang itu meninggal lebih dulu, kemudian tubuhnya diseret Harimau Abadi. Namun tubuhnya terlalu kuat untuk dimakan.”
Suara dari perkamen terdiam.
Beberapa saat kemudian, tawa kembali terdengar.
“Jadi begitu.”
Nada lelaki tua itu terdengar geli.
“Nasib memang aneh.”
Su Yun mengangkat alis.
“Nasib?”
“Begitu banyak orang mencari warisan ini sampai mati, tetapi kau justru menemukannya di antara tumpukan tulang.”
Master Pedang Tanpa Batas tertawa.
“Kalau bukan takdir, lalu apa?”
Su Yun tidak terlalu percaya pada takdir.
Ia lebih percaya pada kesempatan yang dimanfaatkan dengan benar.
“Lalu tujuh pedang ini?”
Tatapannya kembali jatuh pada pola di perkamen.
“Setiap pedang mewakili satu tingkat pemahaman dalam Seni Pedang Tanpa Batas.”
Nada suara lelaki tua itu perlahan menjadi serius.
“Teknik ini bukan seni pedang biasa.”
“Seberapa kuat?”
“Seberapa kuat?”
Master Pedang Tanpa Batas tertawa.
“Jika kau benar-benar menguasainya, satu pedang dapat membelah langit.”
Su Yun tidak bereaksi.
Ia telah mendengar terlalu banyak ahli membanggakan teknik mereka sepanjang kehidupan sebelumnya.
“Tidak percaya?”
“Belum.”
“Hahaha! Bagus.”
Anehnya, lelaki tua itu tidak marah.
“Orang bodoh akan mempercayai semua perkataan orang lain. Kau setidaknya masih memiliki otak.”
Su Yun tersenyum tipis.
“Lanjutkan.”
“Tujuh pedang pada gulungan itu terbagi menjadi tiga tingkatan.”
Cahaya pada empat pedang pertama semakin terang.
“Empat pedang pertama adalah dasar.”
“Jika berhasil menguasai pedang pertama, kau dapat mengendalikan banyak pedang sekaligus.”
Su Yun menatapnya lebih serius.
“Berapa banyak?”
“Tergantung kekuatan dan pemahamanmu.”
Master Pedang Tanpa Batas menjawab.
“Puluhan. Ratusan. Bahkan lebih.”
“Pedang terbang?”
“Benar.”
Su Yun terdiam.
Mengendalikan satu pedang dari kejauhan sudah bukan teknik sederhana.
Apalagi ratusan.
“Pedang kedua membuat kendalimu meningkat berkali-kali lipat.”
“Pedang ketiga memungkinkanmu membentuk susunan pedang dalam skala besar.”
“Dan pedang keempat...”
Suara lelaki tua itu melambat.
“...akan membuatmu benar-benar memahami makna dasar kata ‘Tanpa Batas’.”
Dua pedang di bagian tengah perkamen kemudian bersinar.
“Dua pedang berikutnya adalah tingkat menengah.”
“Jika mencapainya, jumlah pedang bukan lagi sekadar hitungan.”
“Sepuluh ribu?”
Su Yun bertanya.
“Bisa.”
Master Pedang Tanpa Batas terkekeh.
“Selama energi spiritualmu mencukupi.”
Su Yun membayangkan pemandangan ribuan pedang menggantung di langit.
Hanya dengan satu pikiran...
semuanya turun seperti hujan.
Bahkan dirinya yang telah berkelana bertahun-tahun dalam kehidupan sebelumnya jarang mendengar teknik semacam itu.
“Lalu pedang ketujuh?”
Perkamen mendadak bergetar.
Pedang terakhir bersinar paling terang.
Suara lelaki tua menjadi berat.
“Pedang terakhir adalah puncak.”
“Setelah benar-benar menguasainya, tidak ada lagi batas jumlah pedang.”
“Tidak terbatas?”
“Tanpa batas.”
Master Pedang Tanpa Batas menjawab perlahan.
“Pada tingkat itu, pedang bukan lagi sekadar senjata di tanganmu.”
“Segala sesuatu dapat menjadi pedang.”
Su Yun menyipitkan mata.
“Kalau memang sehebat itu, kenapa aku belum pernah mendengar Seni Pedang Tanpa Batas?”
Pertanyaan itu membuat lelaki tua terdiam.
“Karena hampir tidak ada yang mampu mempelajarinya.”
“Sulit?”
“Lebih buruk daripada sulit.”
Nada lelaki tua itu terdengar sedikit pahit.
“Banyak jenius pernah mencoba.”
“Bagaimana hasilnya?”
“Gagal.”
Su Yun menunggu.
“Beberapa kehilangan kesempatan mereka selamanya.”
Master Pedang Tanpa Batas melanjutkan.
“Sebagian bahkan merusak bakat mereka sendiri.”
Tatapan Su Yun berubah.
“Jadi ada risiko.”
“Tentu saja.”
“Seberapa besar?”
“Cukup besar untuk membuat orang waras mundur.”
Su Yun tertawa kecil.
“Jawaban yang sangat meyakinkan.”
Master Pedang Tanpa Batas ikut tertawa.
“Namun kalau berhasil...”
Nada suaranya berubah tajam.
“...dunia yang kau kenal sekarang akan terlihat sangat kecil.”
Su Yun terdiam.
Qing Er muncul dalam pikirannya.
Sembilan Mei Tahun 1005.
Pernikahan politik.
Pelarian.
Kematian.
Kemudian Sekte Langit Mendalam.
Dalam kehidupan sebelumnya, Su Yun membutuhkan bertahun-tahun hanya untuk memperoleh kekuatan yang cukup untuk mencoba membalas dendam.
Dan tetap gagal.
Sekarang ia memang memiliki pengalaman masa lalu.
Tubuhnya telah disembuhkan.
Bakatnya bahkan meningkat.
Namun waktu tidak terlalu banyak.
Empat tahun.
Kurang dari itu jika peristiwa mulai berubah.
Dengan metode biasa, apakah ia benar-benar bisa menjadi cukup kuat?
Su Yun mengepalkan tangannya.
“Apa ujiannya?”
Master Pedang Tanpa Batas tertawa pelan.
“Jadi kau tertarik.”
“Aku bertanya apa ujiannya.”
“Belum tentu kau berani menerimanya.”
Su Yun menatap perkamen.
“Aku sudah pernah mempertaruhkan nyawaku untuk teknik jalur iblis.”
Nada suaranya datar.
“Menurutmu aku takut pada sebuah ujian?”
Untuk pertama kalinya, Master Pedang Tanpa Batas terdiam cukup lama.
“Hahaha...”
Kemudian tawanya meledak.
“Bagus!”
“Bagus sekali!”
Perkamen bergetar hebat.
“Kau memang berbeda dari orang-orang sebelumnya.”
Su Yun tidak terpengaruh pujian itu.
“Apa berarti aku diterima?”
“Belum.”
Master Pedang Tanpa Batas langsung menjawab.
“Kau bahkan belum memulai.”
“Lalu?”
“Kalau gagal, kau mungkin kehilangan bakat yang baru saja kau dapatkan.”
Su Yun tersenyum tipis.
“Masih sama.”
“Apa?”
“Kalau tidak cukup kuat, aku tetap akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting.”
Bayangan Qing Er kembali terlintas.
Suara lelaki tua menjadi lebih tenang.
“Kau memiliki obsesi.”
“Semua orang memilikinya.”
“Obsesi dapat menghancurkan seorang kultivator.”
“Bisa juga membuatnya terus berjalan.”
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar tawa kecil.
“Benar.”
Master Pedang Tanpa Batas seolah semakin puas.
“Kalau begitu aku bertanya sekali lagi.”
Suara itu menggema di benak Su Yun.
“Su Yun, apakah kau bersedia menerima ujian Seni Pedang Tanpa Batas?”
Su Yun tidak membutuhkan waktu lama.
“Ya.”
“Tidak ingin tahu apa yang akan kau hadapi?”
“Tidak penting.”
“Kau mungkin mati.”
“Aku sudah pernah mati.”
Kalimat itu membuat suasana membeku sesaat.
Master Pedang Tanpa Batas tentu tidak mengetahui makna sebenarnya.
Namun ia dapat merasakan ketegasan dalam suara Su Yun.
“Hahaha!”
Tawanya kembali memenuhi udara.
“Bagus!”
“Tiga kali bagus!”
“Sudah sangat lama sejak aku menemukan orang dengan keberanian seperti ini.”
Cahaya perkamen mendadak berubah merah.
Api muncul.
Wusss!
Su Yun hampir melepaskannya.
Namun api itu tidak membakar tangannya.
Sebaliknya, perkamen melayang dan perlahan turun ke tanah.
“Letakkan gulungannya.”
Su Yun menurut.
Begitu perkamen menyentuh tanah—
Buzz!
Cahaya emas menyebar.
Garis-garis aneh muncul di udara.
Mereka berputar membentuk sebuah lingkaran besar.
Kemudian ruang di tengahnya berubah.
Sebuah pintu emas muncul.
Su Yun menatapnya.
Energi yang keluar dari sana sama sekali berbeda dengan energi spiritual biasa.
Kuno.
Dalam.
Dan terasa seperti tidak berasal dari dunia ini.
“Apa itu?”
“Gerbang ujian.”
Jawab Master Pedang Tanpa Batas.
“Warisan sebenarnya tidak berada di dalam perkamen.”
Su Yun mengerutkan kening.
“Lalu di mana?”
“Di dunia lain.”
Tatapannya berubah.
“Dunia lain?”
“Lebih tepatnya, sebuah alam khusus yang ditinggalkan oleh Sekte Dewa Pedang.”
Su Yun memandang pintu emas.
“Dan apa yang harus kuambil?”
“Gagang pedang.”
“Gagang?”
“Benar.”
Master Pedang Tanpa Batas berkata.
“Tanpa benda itu, kau tidak akan pernah benar-benar membuka kekuatan Seni Pedang Tanpa Batas.”
Su Yun mengingat tujuh pedang pada perkamen.
“Di mana letaknya?”
“Lantai keempat.”
Su Yun terdiam.
“Berapa banyak lantai tempat itu?”
Master Pedang Tanpa Batas tertawa.
“Masuklah dulu.”
Su Yun langsung merasa jawaban itu mencurigakan.
Namun ia sudah membuat keputusan.
Tidak ada gunanya mundur sekarang.
Ia melangkah mendekati gerbang.
Cahaya emas menyelimuti tubuhnya.
Sebelum masuk, suara Master Pedang Tanpa Batas kembali terdengar.
“Nak.”
“Apa?”
“Begitu melewati pintu itu, aku tidak dapat membantumu.”
Langkah Su Yun berhenti sesaat.
“Kalau begitu?”
“Kau hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri.”
Su Yun tersenyum tipis.
“Itu bukan hal baru.”
Ia melangkah masuk.
Wusss!
Cahaya memenuhi pandangannya.
Tanah di bawah kakinya menghilang.
Tubuh Su Yun seperti ditelan pusaran tanpa dasar.
Ketika penglihatannya kembali—
ia sudah tidak berada di Dataran Harimau.
Di hadapannya terbentang sebuah dunia gelap tanpa ujung.
Dan dari kejauhan...
terdengar suara ribuan pedang bergetar bersamaan.
Denting!
Denting!
Denting!
Su Yun mengangkat kepala.
Satu pedang jatuh dari langit.
Kemudian sepuluh.
Seratus.
Ribuan.
Mata Su Yun perlahan menyipit.
“Jadi...”
Tangannya bergerak menuju pedang berkarat di pinggang.
“Ini ujiannya?”
......................
Bersambung...