NovelToon NovelToon
Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:6.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: Bareta

Bianca menyukai Devano sejak kelas 8 dan akhirnya menyatakan perasaannya saat mereka di kelas 11 lewat surat cinta.
Meski menerima surat cinta Bianca, Devano tidak pernah memberikan jawaban yang pasti tentang perasaannya.

Bianca di-bully habis-habisan oleh Nindi, fans berat Devano di SMA Dharma Bangsa. Apalagi saat Nindi menemukan surat cinta Bianca untuk Devano.

Devano tidak memberikan tanggapan apapun saat Bianca mengalami pembullyan sebelum kelulusan mereka. Ketidakperdulian Devano menciptakan rasa benci di hati Bianca yang membuatnya belajar melupakan Devano.

Tapi seolah alam menolak keinginan Bianca untuk melupakan Devano. Mereka dipertemukan kembali setelah 4 tahun dan Bianca harus menjadi anak magang di perusahaan milik keluarga Devano. Sikap Devano tidak berubah bahkan menjadi-jadi di mata Bianca. Dan setelah 3 bulan berlalu, Bianca memutuskan untuk melepaskan Devano dan menghapus semua tentang Devano dalam hidupnya.

Apakah Bianca dan Devano benar-benar tidak berjodoh ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Kecurigaan Della

Sabtu tanpa kegiatan ekskul. Bianca tetap bangun pagi seperti biasanya membantu mamanya mengerjakan pekerjaan rumahtangga. Keluarganya yang hidup sederhana dengan hanya mengandalkan gaji papanya seorang. Untuk berhemat, mama Lisa dibantu papa Indra dan kedua anak mereka Bianca dan Bernard, bahu membahu mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan asisten rumahtangga.

Bianca dan Bernard hanya terpaut 2 tahun, jadi saat ini Bernard yang baru saja lulus SMP memilih masuk SMA negeri favorit di kotanya. Cita-citanya ingin kuliah kedokteran di PTN membuatnya memilih meneruskan ke sekolah negeri hingga tidak satu sekolah dengan Bianca yang saat ini bersekolah di SMA Swasta yang cukup terkenal di kota mereka lewat jalur prestasi. Bianca memang tidak terlalu pandai dalam hal akademik, meski bukan peringkat paling bawah. Posisinya hanya cukup puas di kisaran 15 besar. Tapi prestasinya di bidang tarik suara dan menulis tidak diragukan lagi sehingga dia bisa masuk di SMA favorit lewat jalur prestasi.

Ting Ting

Suara ponsel Bianca yang diletakkan di meja dapur berbunyi, tanda ada pesan masuk. Bianca yang sudah selesai membersihkan dapur dan membantu mama menyiapkan makan siang menghentikan aktivitasnya dan melirik handphonenya. Grup Calami (Bianca, Della dan Mia)

MIA

Girls, jalan yuukkksss… Traktiran fullboard, makan, nonton, jalan-jalan😍😍

DELLA

Uluhuluh yang tambah tua hari ini 😎😎

Selamat ultah bestie paling centil, bawel dan kepo 🎂🎂🎂

Bianca menepuk jidatnya begitu membaca isi pesan di grupnya.

“Duh bisa lupa hari ini si bawel ulangtahun,” gumamnya.

MIA

Bibi Bian kok kagak nongol-nongol 🥺🥺

@Della : terima kasih sahabat perkasaku 😅😅😝🙏

BIANCA

Maap 🙏Maap 🙏 Putri Bawel tersayang, selamat ulangtahun bestie 🎂🎂😘😘

DELLA

Habis semedi Jeng Bianca ? 😜😜

MIA

Lanjut nanti debatnya… Pokoknya kagak ada penolakan yaakkk

Bibi Bian nanti gue jemput jam 1 kurang yaaa

DELLA

Kurang dikit apa banyak ? 🧐🧐

Bianca doang yang dijemput, gue kagak ? 😢😢

MIA

Duuhh preman komplek… Kayak kagak tahu rute biasa laahhh. Jemput elo dulu lah baru si Bibi 😊

DELLA

Diihhh rese yaaa… Jadi g ini preman pasar yang perkasa di mata elo 😤😤

MIA

Peace ✌️✌️Gue jemput jam 12 lebih banyak yaakkk

Bianca meletakkan handphone nya yang sedang di charge dan kembali ke dapur menemui mama. Papa dan Bernard baru saja masuk setelah merapikan halaman dan garasi.

“Ma,” Bianca langsung mendekati sang mama yang sedang menyendok sayur sop dari panci.

“Mau kemana ?” Tanya mama langsung

“Diihh mama punya indra keenam ya ?” Bianca merangkul lengan mamanya dengan manja “Kok tau kalo Bibi mau ijin pergi ?”

“Di jidatmu ada tulisan tuh… Mau jalan-jalan,” mama menunjuk jidat Bianca dan menyentilnya pelan dengan penuh cinta.

“Mau kemana ?” Papa Indra yang baru keluar dari kamar mandi selesai mencuci tangan dan kakinya bertanya kembali karena Bianca belum memberikan jawaban kepada mamanya.

“Mia ulangtahun Ma, Pa. Rencana mau ditraktir makan sama nonton, tapi dimana Mia belum kasih tahu tempatnya.” ujar Bianca menjelaskan.

“Gimana Pa ? Keluar nggak ijinnya ?” Mama bertanya sama papa sambil mengangkat alisnya dan tersenyum memberi kode.

“Kok nggak sama pacar ?” Papa Indra menggoda. “Apa jangan-jangan pergi sama Mia, janji ketemuan sama cowok-cowok nih di Mal.”

“Siapa yang tertarik sama mereka bertiga Pa,” Bermard yang baru nongol langsung menyelak sambil mendudukan pantatnya di salah satu kursi meja makan. Tangannya mencomot perkedel buatan mama yang baru saja diletakkan di meja. Reflek mama Lisa menepis tangan Bernard pelan.

“Jangan digadoin,” Mama Lisa sedikit melotot ke arah Bermard. Yang diomelin cuma cengengesan aja.

“Kalo ngomong jangan asal,” Bianca menjitak kepala Bernard pelan dari arah belakang.

“Aawww… sakit kali kak,” Bernard mengelus-elus belakangnya yang kujitak.

“Lagian asal ngomongnya…” Bianca mencebik dan melotot kembali ke Bernard yang masih asyik mengunyah perkedel sambil cengengesan.

“Jangan pulang malam,” pesan mama sambil menaruh mangkuk sop di meja.

“Pulang lagi aja,” ceeletuk Bernard.

Papa Indra menjitak kepala Bernard dari belakang. Anak itu meringis sambil mengusap-usap kepalanya yang dijitak papa Indra.

Dan di sinilah sekarang Bianca, Della dan Mia sedang menikmati makan siang. Mia mengajak makan siang di salah satu resto steak yang ada di mal tidak jauh dari rumah mereka. Niatnya habis makan mereka akan menonton film superhero yang baru saja dirilis.

Di antara mereka bertiga, Mia memang yang paling berada secara ekonomi, sementara Bianca dan Della dari keluarga yang kecukupan.

Selesai menikmati makan siang, ternyata Mia sudah meminta tolong karyawan papanya untuk membeli tiket bioskop yang antriannya bikin pegel kaki. Begitu masuk area bioskop, orang suruhan papanya langsung menghampiri dan menyerahkan 3 tiket bioskop dengan tempat duduk sesuai pesanan Mia.

“Terima kasih,” Mia menerima tiket itu dan menyerahkan selembar uang limapuluh ribuan untuk si karyawan tadi.

“Terima kasih nona,” dia menerima pemberian Mia dengan badan sedikit membungkuk dan langsung pamit.

“Duh enaknya pergi sama anak sultan, mau nonton tinggal pesen,” goda Della sambil melirik Mia.

“Kagak lihat tuh antriannya bikin mules,” Mia menyahut sambil mengangkat dagunya mengarah ke barisan antrian tiket yang wuuiihh bikin lemes.

“Bi,” Mia menyenggol bahu Bianca yang ternyata sedang asyik berselancar dengan handphonenya.

“Apaan ?” Bianca mengangkat kepalanya sambil menoleh menatap Mia.

“Babang ganteng Bi, fans elo,” Mia menggerakan dagunya ke satu arah yang diikuti oleh Bianca dan Della.

“Duh kenapa juga ketemu nih anak sih di sini. Alamat rempong deehh,” batin Bianca.

“Samperin yuukkk,” Mia menarik tangan Bianca tetapi gadis itu hanya diam dan terpaku di tempatnya.

“Ogah,” Bianca menggeleng saat Mia menatapnya. “Elo aja sono, males.”

“Bi, kalo ada Arya pasti ada yang lainnya. Paling Devano doang yang minus. Pengen ngobrol dong sama yang lainnya, kali aja ada yang nyangkut salah satu,” Mia memasang tampang memelasnya. Tapi Bianca menggeleng dan tetap berdiri di tempatnya.

“Udah sono elo aja sendiri,” kali ini Della yang menyahut sambil mendorong tubuh Mia.

“Diihh pada kagak pengertian banget sih. Anggap aja hadiah buat gue kasih waktu ketemu babang ganteng-ganteng.” Mia memberenggut sambil menghentakkan kakinya sekali ke lantai.

Bianca tetap diam dan Della geleng-geleng kepala. Bianca malah tengok kiri kanan mau ambil langkah seribu menghindar. Malas menghadapi Arya yang memang terlihat berusaha mendekatinya, sementara hati Bianca sudah terpatri pada Devano. Repot kondisinya karena mereka satu genk.

Belum sempat memghindar ternyata Arya sudah melihat Bianca dan kedua temannya duluan. Dia melambaikan tangan yang dibalas oleh Mia karena Bianca sedang memandang ke arah lain dan Della sedang ke toilet.

“Halo Bi,” tahu-tahu Arya sudah di hadapan mereka.

“Cuma Bianca doang yang disapa ? Gue kagak ?” Mia pura-pura cemberut. Arya hanya tersenyum tipis.

“Hai Mia, Hai Della,” bukan Arya yang melanjutkan sapaan tapi Ernest yang bicara dari belakang Arya. Della sendiri sudah kembali dan berdiri bersisian dengan Bianca.

“Nonton jam berapa ?” Ernest lanjut bertanya sambil mendekati Mia.

“Jam 15.30,” Mia menunjukkan tiket yang ada di tangannya.

“Wah bareng doongg,” kali ini Leo yang menanggapi. Di belakangnya Joshua ikutan juga.

Sementara Mia bersahutan dengan Ernest dan Leo, Arya berdiri menatap Bianca yang menyibukkan dirinya dengan handphone.

“Wuih paket empat nih,” tutur Della.

“Weiisss paket lengkap doongg, Lima Sekawan,” Joshua yang menanggapi kali ini.

Della menunjuk satu-satu seperti mengabsen.

“Gue belon buta kayaknya Joe, kagak ada Devan mana bisa berlima,” sahut Della ketus.

“Tuuhh anaknya,” Joshua menunjuk dengan dagunya. Della dan Mia langsung menoleh mengikuti arah dagu Joshua. Ternyata sosok yang dicari baru dari toilet dan berjalan dari arah belakang Bianca.

“Bi !” “Bianca!” Arya dan Devano berbarengan memanggil gadis yang masih asyik dengan handphonenya. Reflek Bianca justru menoleh ke arah suara dari belakangnya padahal Arya berdiri di depannya.,

Hatinya sudah terasa deg deg kan. Tangannya yang memegang handphone untuk menghindari percakapan dengan Arya mendadak dingin dan sedikit bergetar.

“Bianca,” Devano berjalan mendekati posisi Bianca yang berdiri dengan sedikit bengong.

“Rok kamu ada cokelat-cokelatnya,” Devano mendekati telinga Bianca dan berbisik. Mendadak wajah Bianca panas dan merona. Della dan Mia juga keempat kawan Devano sedikit menyipitkan mata mereka dengan alis bertaut. Tanpa sadar mereka berusaha mendengar bisikan Devano.

Bianca masih terpaku dengan posisi yang sama. Dia lagi berusaha mencerna perkataan Devano. Roknya ada cokelatnya ? Gugup. Bianca reflek memegang roknya. Rasanya belum waktunya datang bulan, jadi tidak mungkin juga ada noda di roknya. Dalam kepanikannya karena harus dekat dengan Devano dan mendapat bisikan dari cowok yang nyangkut di hatinya membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

“Bi,” Della membuyarkan lamunan Bianca sambil mengibaskan tangan di depan wajah Bianca. Della bergerak ke belakang Bianca dan melihat posisi tangan sahabatnya itu. Dia mendekat dan langsung memandangi tangan Bianca.

“Ya ampun Bi, saos jamur steak tadi kok bisa muncrat sampai ke rok elo ? Bagian belakang lagi,” Della geleng-geleng kepala melihat masalah yang membuat Bianca terlihat panik.

“Sorry,” celetuk Mia “Tadi pas kalian ke toilet, nggak sengaja daging yang kupotong loncat entah kemana. Ternyata kamu dudukin ya Bi … hehehee,” Mia mengerjap dengan tidak enak hati.

Bianca menarik nafas panjang berasa lega. Huufff dia pikir noda tak terduga yang bikin males lanjut nonton malam ini.

Arya yang cepat tanggap membaca permasalahan Bianca langsung melepas jaketnya dan mau memakaikan di pinggang Bianca, tapi reflek Bianca mundur dan memegang tangan Arya mencegah tindakannya.

“Eh nggak usah,” tolak Bianca. “Tinggal nonton doang dan di dalam gelap jadi nggak begitu diperhatiin orang,” lanjut Bianca memberi Arya penjelasan.

Namun tanpa diduga, dari arah belakang, Devano sudah mengikat sweater yang tadi dipakainya melilit di pinggang Bianca. Dan tanpa berkata apa-apa, Devano berlalu ke arah deretan bangku tunggu meninggalkan Bianca, Mia, Della dan keempat temannya yang sedikit terkejut melihat tindakan Devano.

Arya langsung memperlihatkan wajah tidak sukanya. Kenapa dia merasa saat ini Devano justru menjadi rivalnya mendapat perhatian Bianca.

Mia menatap Ernest, Leo dan Joshua yang ditanggapi dengan gelengan kepala atau mengangkat bahu.

Della yang berdiri di belakang Bianca menatap curiga ke arah Bianca yang masih bertingkah serba salah.

“Bi, elo lagi pdkt sama Devano ?” Bisik Della. Bianca langsung geleng-geleng kepala.

“Kok gue mencium bau-bau asmara ya ?” Della mengerutkan alisnya sambil menatap Bianca yang sedikit tertunduk.

Tidak lama panggilan pintu studio film sudah dibuka. Bianca menarik nafas lega karena terbebas dari pertanyaan teman-temannya.

“Elo hutang penjelasan Bi,” bisik Della kembali saat mereka mulai memasuki studio film.

1
Eliana Siswanto
suka,gaya bahasanya enak jd merasa ikut didlm cerita,,👍👍💪
Baretta: Terima kasih kak Eliana Siswanto😊🙏🙏
total 1 replies
tutut wahyuningsih
bagus banget ceritanya 👍❤️
Baretta: Terima kasih kak Tutut Wahyuningsih 😊🙏🙏😍
total 1 replies
Ditha Maherani
Duka banget deh kak 🥰
Baretta: Terima kasih banyak Kak Ditha 😘🙏🙏
total 1 replies
Ranum Laraswati
sumpah paling gak enak tu kalo nagis di malam hati rasa nya tu kayak pengen teriak tapi gak bisa nyesek😭
Ranum Laraswati
plis kok lagu"nya mendukung banget ya
Ranum Laraswati
lagu yang pertama yang judul nya selamat jqlam kekasih gak nyangka bagus banget
Ranum Laraswati
agak kesel juga sih sama bianca kenapa dia masih bisa baper dan suka sama devan minimal jual mahal dikit bianca😭😭kan lo dari malu gara gara si devan
Ranum Laraswati
bi mending sama arya udah ganteng tajir pulak emang sih alur nya sama devan tapi kan devan gak suka bianca mending sama yqng pasti pasti aja
Riki DuaTujuh
semoga desta botuna yg menang 🤣🤣
Riki DuaTujuh
semangat botuna
Puji Astuti
kalo Arya yang nyuruh kenapa waktu di cafe Arya seakan2 gak suka sama tindakan Revan yang kadih bunga
Ira
keren
nana supriyatna
Luar biasa
Endah Setyati
😭😭😭😭😭
Herman Lim
kyk Revan tuh mata2 devano
Nacita
anjrit parah 🤣
Nacita
dua2nya pengen gue ulek jd sambel
Nacita
dah pada tua juga masih kekanakan sih mereka ini, kalah sm bocah dahhh s sella sm s andre 😌
Baretta
Terima kasih sudah mampir di novel saya Kak 😊😊🙏🙏
Nacita
dasar sableng 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!