NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Angin dari utara berembus membawa bau salju yang jauh, menusuk hingga ke tulang, seolah memperingatkan bahwa perjalanan menuju pusat kekaisaran bukanlah jalan menuju kemenangan, melainkan pintu menuju liang lahat.

Liang Shan, Han Xiang, dan Yue Niang meninggalkan Bukit Rembulan saat fajar masih remang-remang. Perjalanan mereka kini beralih dari daratan menuju jalur air.

Dengan menggunakan perahu kecil yang disediakan oleh Raja Pedang Bulan, mereka menyusuri Sungai Xiang yang berarus deras.

Di atas perahu, Liang Shan lebih banyak terdiam. Keempat pecahan permata yang kini berada di kantong saktinya seolah memiliki detak jantung sendiri.

Energi dari Serpihan Hati Singa terus bergejolak, mencoba menyeimbangkan racun dingin yang mengalir di nadinya.

Setiap kali energi itu beradu, Liang Shan merasakan sakit yang luar biasa, seakan tubuhnya adalah medan pertempuran antara api dan es.

"Kau sedang memikirkan bayangan di dalam ingatanmu tadi?" tanya Han Xiang pelan, sambil memberikan secangkir teh herbal hangat.

Liang Shan mengangguk dan membenarkan hal tersebut.

Yue Niang yang duduk di haluan perahu mendadak berhenti memetik kecapinya. Ia berdiri, matanya menatap tajam ke arah kabut tebal yang menyelimuti permukaan sungai di depan mereka.

Suasana mendadak sunyi. Suara kecipak air sungai seolah tertelan oleh keheningan yang mencekam.

Dari balik kabut, sebuah perahu tanpa pendayung tiba-tiba meluncur perlahan. Di atasnya berdiri seorang pria muda mengenakan jubah putih bersih. Ia tidak membawa pedang, melainkan sebuah kuas tulis raksasa yang terbuat dari baja hitam.

Namanya adalah He Lian, yang dikenal sebagai "Penyair Berdarah", salah satu dari dua belas algojo elit yang langsung diperintah oleh Istana.

"Liang Shan," suara He Lian terdengar halus, seperti desiran angin di musim gugur. "Ibukota adalah tempat yang suci. Seorang pembawa bencana sepertimu tidak seharusnya mengotori gerbangnya."

Liang Shan langsung berdiri, tangannya mencengkeram gagang Golok Sunyi.

"Jika Ibukota begitu suci, mengapa ia menyembunyikan iblis di balik jubah naga?"

He Lian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menggerakkan kuas bajanya ke udara, seolah sedang menulis kaligrafi di atas kabut.

Gerakannya sangat lambat, namun setiap goresan kuasnya menciptakan tekanan udara yang mampu meremukkan dada manusia biasa.

Inilah ilmu Tulisan Langit Pemutus Takdir yang melegenda dalam dunia persilatan!

WUTT!!!

Sebuah gelombang tenaga dalam yang berbentuk karakter mandarin "Mati" melesat cepat ke arah perahu Liang Shan. Pemuda itu melompat ke udara, jubah hitamnya berkibar.

Liang Shan menghantamkan goloknya ke bawah. Tenaga dalam hitam pekat beradu dengan karakter kaligrafi He Lian.

Ledakan yang dihasilkan membuat air sungai membubung tinggi ke langit dan menciptakan hujan buatan di tengah kabut.

He Lian tersenyum tipis. Gerakannya berubah menjadi sangat cepat, sebuah ciri khas pertarungan tingkat tinggi yang mengutamakan ketepatan daripada tenaga kasar. Ia melesat di atas permukaan air seolah-olah sedang berjalan di daratan yang kokoh.

Kuas bajanya mematuk seperti ular naga dan mengincar titik-titik nadi mematikan di tubuh Liang Shan.

Liang Shan menangkis dengan punggung goloknya, namun setiap benturan membuatnya terkejut. Tenaga dalam He Lian bersifat aneh, licin dan sulit ditangkap, namun tajam saat menembus pertahanan.

"Yue Niang, lindungi Xiang-er!" teriak Liang Shan saat merasakan perahu mereka mulai terombang-ambing akibat gelombang tenaga dalam.

Yue Niang memetik dawai kecapinya dengan tempo yang cepat. Suara musiknya membentuk perisai suara yang menahan riak air agar tidak menenggelamkan perahu.

Sementara itu, Han Xiang dengan tenang menyiapkan beberapa butir peluru jarum yang telah diolesi penawar racun, berjaga jika musuh mengeluarkan senjata rahasia.

Di atas air, pertarungan semakin sengit. He Lian berputar di udara, kuasnya menggambar lingkaran-lingkaran maut.

"Kau punya bakat, Liang Shan. Tapi kau memiliki satu kelemahan besar," ucap He Lian di tengah desingan golok. "Hati yang terikat pada wanita akan membuat pedangmu tumpul."

Liang Shan tidak terpancing. Ia justru memejamkan mata sejenak dan merasakan aliran racun di tubuhnya yang kini ia kendalikan untuk menyatu dengan goloknya.

Liang Shan lalu melancarkan serangan balasan yang sangat cepat. Dia tidak lagi mengandalkan kekuatan fisik, melainkan kecepatan yang murni, gaya bertarung yang mengutamakan satu serangan penentu.

SRETT!!!

Golok Sunyi melesat, membelah kabut dan menyambar ujung kuas baja He Lian.

Dalam satu gerakan yang tidak tertangkap mata, Liang Shan memutar pergelangan tangannya, lalu mengirimkan getaran tenaga dalam yang sangat kuat melalui senjata lawan.

He Lian terkejut. Ia merasakan tangannya mendadak kaku akibat hawa dingin yang merambat dari golok Liang Shan. Dia terpaksa melepaskan kuas bajanya dan melompat mundur ke perahunya kembali.

Darah segar merembes dari sela jari He Lian. Ia menatap Liang Shan dengan pandangan yang sulit diartikan, antara benci dan kagum.

"Satu pecahan lagi, Liang Shan," bisik He Lian sambil mengusap darah di bibirnya. "Istana tidak akan menyambutmu dengan karpet merah, melainkan dengan ribuan busur panah yang sudah dibasahi racun naga. Sampai jumpa di neraka."

He Lian menendang perahunya, melesat hilang ke dalam kabut tebal dan meninggalkan Liang Shan yang terengah-engah.

Perjalanan pun kembali berlanjut. Setelah melewati jalur sungai, mereka kembali menempuh jalur darat melalui hutan cemara yang sunyi.

Semakin dekat mereka dengan Ibukota, semakin banyak pengintai yang mereka rasakan keberadaannya di balik pepohonan.

Liang Shan tidak lagi beristirahat dengan tenang. Setiap malam, ia berlatih menyatukan energi dari empat pecahan permata dan mulai memahami bahwa Serpihan Darah Naga yang berada di makam kaisar adalah kunci dari segalanya.

Tanpa pecahan itu, empat pecahan lainnya hanyalah benda mati yang tidak memiliki jiwa.

"Kita sudah sampai," ucap Liang Shan saat mereka berdiri di puncak sebuah bukit.

Di bawah sana, Kota Menara Langit berdiri dengan megahnya. Tembok-tembok raksasa yang berwarna kelabu seolah menantang langit.

Di tengah kota, menjulang tinggi istana kekaisaran dengan atap emas yang berkilauan tertimpa cahaya matahari senja.

Kota itu terlihat indah, namun bagi Liang Shan, itu adalah sebuah sarang naga yang penuh dengan duri.

"Malam ini kita akan menyusup," ujar Liang Shan pelan. "Lauw Bun dan pasukan Matahari Hitam akan membuat keributan di gerbang timur. Kita akan masuk melalui saluran air bawah tanah yang menuju langsung ke kompleks pemakaman leluhur."

Han Xiang menggenggam tangan Liang Shan. Dia berkata, "Apapun yang terjadi di dalam sana, berjanjilah kau tidak akan membiarkan dirimu dikuasai oleh kegelapan permata itu."

Liang Shan menatap mata Han Xiang yang jernih, lalu mengangguk. "Aku berjanji."

Mereka mulai menuruni bukit dan bergerak menuju bayang-bayang tembok kota yang mulai ditelan malam. Di dalam istana itu, rahasia terbesar tentang kematian orang tua Liang Shan, keberadaan kaisar palsu, dan obat untuk racunnya menunggu untuk diungkap.

Pertempuran terakhir segera dimulai. Darah akan mengalir, rahasia akan terbuka, dan takdir seorang pewaris dendam akan ditentukan di bawah dinginnya makam naga.

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!