Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Dingin itu Mencari
Ria menatap layar ponselnya selama beberapa detik, lalu dengan gerakan tenang, ia mematikan layarnya. Gertakan Soraya tentang masa lalu dan fitnah keji itu tidak membuat tangannya gemetar. Jika dulu ancaman seperti ini akan membuatnya mengunci diri di kamar dan menangis, Ria yang sekarang hanya merasa muak.
Ia telah merasakan dinginnya meja operasi. Ia telah melewati batas antara hidup dan mati. Setelah proses kematian yang menyakitkan itu, ketakutan akan penilaian orang lain terasa begitu sepele.
"Kau salah sasaran, Nyonya Soraya," gumam Ria pelan. "Ria yang lemah sudah mati di ruang ICU itu."
Ria kembali fokus pada layar monitornya. Ia tidak membuang waktu untuk merasa cemas. Ia tahu, di dunia kerja—terutama di agensi kreatif—hasil karya adalah satu-satunya bahasa yang diakui.
Saat jam pulang kantor tiba, Siska sengaja lewat di depan meja Ria dengan gaya angkuh, berharap melihat wajah Ria yang gelisah. "Jangan terlalu bangga dengan pujian Pak Hendra tadi, Ria. Ingat, orang-orang sepertimu biasanya punya rahasia gelap yang cepat atau lambat akan tercium."
Ria tidak menoleh. Ia tetap mengetik sambil menjawab dengan nada datar namun dingin. "Siska, jika kau menghabiskan waktu yang sama untuk riset pasar seperti kau menghabiskan waktu untuk mengurusi hidupku, mungkin kau tidak akan diturunkan pangkatnya hari ini. Fokuslah pada pekerjaanmu, atau kau akan tertinggal jauh di belakangku."
Siska ternganga, tak percaya Ria berani bicara setajam itu. Ia menghentakkan kakinya dan pergi dengan perasaan dongkol.
Di depan gedung kantor, busway datang tepat waktu. Ria naik ke dalam bus yang penuh sesak dengan perasaan puas. Ia merasa otot-ototnya pegal, namun itu adalah rasa lelah yang paling membahagiakan yang pernah ia rasakan.
Sesampainya di rumah, Arya sudah menunggunya di teras. Pria itu tampak gelisah, mondar-mandir sambil memegang ponselnya. Begitu melihat Ria turun dari ojek online di depan gerbang, Arya langsung menghampiri.
"Sayang, kau baik-baik saja? Aku dengar tadi ada sedikit keributan di ruang rapat?" tanya Arya, mencoba menahan diri agar tidak terlihat seperti sedang memata-matai.
Ria tersenyum, kali ini senyum yang penuh dengan kepercayaan diri. Ia melepas blazer dan turban sutranya, membiarkan udara malam menyentuh kulit kepalanya yang kini mulai ditumbuhi rambut-rambut halus yang kuat.
"Aku sangat baik, Mas. Dan ya, ada keributan kecil. Tapi aku sudah mengatasinya. Aku tidak butuh bantuan siapa pun untuk membungkam orang-orang seperti Siska. Tapi darimana Mas tahu tentang kejadian di kantorku?" Tanya Ria penuh selidik.
"Aku... aku... aku..." Arya kebingungan tidak bisa memberikan alasan pasti.
"Mas tidak mengutus mata-mata di tempatku bekerja, kan?"
"Tentu saja tidak, aku tadi hanya menebak saja. Karena biasanya di awal kerja selalu banyak hal yang tidak mengenakkan." Alasan Arya cukup masuk akal.
...****************...
Malam itu, saat makan malam, Ria menceritakan tentang pesan singkat dari Soraya. Arya seketika menghentikan makannya, matanya berkilat penuh amarah.
"Dia berani mengirimkan itu padamu? Aku akan menghancurkannya besok juga, Ria. Aku akan—"
"Tidak, Mas," potong Ria sambil menggenggam tangan Arya. "Biarkan saja. Dia ingin melihatku goyah. Dia ingin aku lari padamu dan memohon perlindungan agar dia bisa menyebutku wanita lemah yang hanya mengandalkan suami. Aku ingin dia melihat sendiri bagaimana aku tetap berdiri tegak meski dia menghujaniku dengan fitnah."
Ria menatap mata Arya dengan lekat. "Aku sudah melewati proses kematian, Mas. Orang yang sudah pernah 'mati' tidak akan takut pada hantu masa lalu. Aku akan melawan siapa pun yang menghalangi jalanku dengan kemampuanku sendiri. Kau cukup berdiri di sampingku sebagai suamiku, bukan sebagai tamengku."
Arya terpaku. Ia melihat sosok wanita di depannya bukan lagi sebagai "pajangan" yang harus ia kurung di rumah mewah ini. Ria telah menjelma menjadi Phoenix yang bangkit dari abunya sendiri.
"Baiklah," bisik Arya dengan rasa hormat yang mendalam. "Aku akan berdiri di sampingmu. Tapi ingat, jika mereka mulai berani menyentuh fisikmu, aku tidak akan tinggal diam."
Ria mengangguk. Pertarungan baru saja dimulai, dan kali ini, Ria tidak akan bersembunyi.
Lampu kamar temaram, hanya menyisakan cahaya hangat dari lampu tidur di sisi ranjang. Ria sudah membaringkan tubuhnya di bawah selimut sutra yang sejuk. Rasa lelah setelah hari pertama kerja yang penuh drama membuat otot-ototnya rileks, namun pikirannya masih segar. Ia menatap langit-langit, merenungi betapa jauhnya ia melangkah hanya dalam waktu dua puluh empat jam.
Pintu kamar terbuka pelan. Arya masuk dengan kemeja yang sudah dilepas dua kancing atasnya, tampak sedikit lelah setelah berkutat dengan sengketa yayasan peninggalan ibunya. Ia berhenti di tepi ranjang, menatap Ria yang tampak begitu tenang dan cantik dalam balutan piyama satin hitam.
Ada keheningan yang canggung. Arya, pria yang biasanya mendikte setiap inci kehidupan di rumah ini, mendadak tampak seperti remaja yang tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana. Sejak Ria sadar dari koma, hubungan fisik mereka terbatas pada pelukan protektif atau kecupan di kening yang penuh rasa bersalah.
"Kau... kau belum tidur?" tanya Arya. Suaranya terdengar kaku, hampir pecah.
Ria menopang kepalanya dengan satu tangan, menatap suaminya dengan tatapan jenaka. "Bagaimana aku bisa tidur jika suamiku berdiri di sana seperti sedang melihat hantu?"
Arya berdehem, melihat sebuah belahan yang menggodanya, ia mencoba mengatur detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. "Aku hanya ingin memastikan kau sudah meminum obatmu sebelum tidur? Besok kau harus bangun pagi lagi untuk busmu itu."
Ria tersenyum tipis. Ia bisa merasakan getaran aneh dari diri Arya—campuran antara hasrat yang tertahan lama dan ketakutan bahwa ia akan menolak pria itu. Sifat tegar Ria yang baru ternyata memberikan daya tarik yang jauh lebih kuat di mata Arya daripada sosok penurutnya dulu.
"Kemari lah, Mas," panggil Ria lembut.
Arya mendekat, duduk di tepi ranjang. "Ya?"
Ria menarik kerah kemeja Arya, memaksa pria itu untuk sedikit membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Kau bilang ingin menagih 'sisa waktu' dariku, kan? Tapi kenapa kau malah terlihat ketakutan?"
"Ria, aku hanya... aku tidak ingin memaksamu. Aku ingin kau merasa nyaman sepenuhnya sebelum kita—"
Belum sempat Arya menyelesaikan kalimatnya, Ria melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh Arya selama dua tahun pernikahan mereka yang dingin. Ria menarik tengkuk Arya dan mendaratkan sebuah kecupan berani tepat di bibir suaminya.
Itu bukan sekadar sentuhan singkat. Itu adalah ciuman pertama yang benar-benar mereka lakukan sebagai pasangan yang saling menginginkan. Sebuah ciuman yang menghapus memori tentang kontrak, hutang budi, dan kebencian masa lalu.
Arya membeku. Matanya membelalak kaget. Ia bisa merasakan kehangatan bibir Ria dan aroma lavender dari rambut tipisnya. Detik berikutnya, wajah Arya yang biasanya angkuh dan dingin berubah menjadi merah padam hingga ke telinga. Ia, sang CEO yang bisa menjatuhkan lawan bisnis dengan satu kata, kini benar-benar kehilangan kata-kata.
Ria melepaskan ciumannya, lalu tertawa kecil melihat ekspresi kalah di wajah Arya. "Wajahmu merah sekali, Mas. Ternyata kau bisa tersipu juga."
Arya menyentuh bibirnya dengan ujung jari, menatap Ria dengan tatapan yang kini lebih dalam, lebih gelap, dan penuh kerinduan. "Kau benar-benar berani sekarang, Ria Rinjani."
"Aku harus berani," bisik Ria, jarinya menelusuri rahang tegas Arya. "Karena suamiku terlalu kaku untuk memulai duluan."
Arya tidak lagi menahan diri. Ia merangkak naik ke atas ranjang, menyelimuti tubuh Ria dengan kehadirannya, namun tetap dengan kelembutan yang sangat hati-hati. Malam itu, bukan lagi tentang siapa yang berkuasa atas siapa, melainkan tentang dua orang yang akhirnya saling menemukan di tengah reruntuhan pernikahan mereka.