NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Romansa-Percintaan bebas / Fantasi / Tamat
Popularitas:169.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Yani Wi

Untuk pertama kalinya Laras belajar bekerja dengan orang lain dan jatuh cinta di rumah besar itu setelah menuruti kemauan kedua orang tuanya.

Di situ ia hanya akrab dengan Vano saja teman mainnya sedari kecil, sedangkan Vim adalah kakak lelaki Vano yang kelak memberi perubahan pada Laras.

Ujian cinta dan kehidupan membuat Laras menjadi wanita yang tidak mau pasrah dengan keadaan.


Nama, cerita dan tempat tidak berhubungan dengan siapapun.


Ini adalah karya kedua.
Jangan lupa baca novel receh yang pertama Semburat Jingga ya.


Sekali lagi senang bisa menyalurkan hobi di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Memecahkan Persoalan.

Aku harus mengatakan pada Laras, hal tadi tidak seperti yang ia lihat. Laras kau sedang apa. Aku akan pulang Laras.

"Tuan sudah sampai."

Lamunan Vim buyar. Dengan langkah gontai ia memasuki rumah. Namun hatinya ingin segera bertemu dengan laras. Beberapa lampu dinding menyala menerangi ruangan. Sudah hampir setengah sepuluh malam. Mungkin Laras sudah terlelap. Vim tidak menemukan Laras menyambut kepulangannya.

Vim melangkah ke kamar. Membuka pintu tapi tidak menemukan Laras.

"Laras."

Vim mencari di kamar mandi. Laras tidak ada. Mencari di ruangan mengganti pakaian juga tidak ada.

Apakah ia mengerjaiku?

"Laras!"

Vim melongok ke bawah bed dan kosong di sana.

Vim menelpon Bibi tidak mau tahu apakah Bibi sudah tidur atau belum. Ia menanyakan Laras dan Bibi bilang Laras pamit ke rumah Ibunya. Katanya Laras kangen sama ibunya.

Huuuhhh. Ini semua karena Aurora. Seandainya Laras tidak melihatnya tidak akan seperti ini.

Sangat sepi di sini. Apa aku menyusulnya saja ke sana.

Vim menghubungi Laras namun tidak tersambung dengan nomor Laras. Laras mematikan hp nya.

Tubuh dan pikiran Vim terasa lelah. Tidak lama Vim terlelap di atas sofa hingga pagi hari.

Keesokan paginya setelah sarapan, Vim menghubungi Ibu mertua. Sarapan hari ini dan tanpa ditemani Laras menjadikan Vim kurang bersemangat. Cuma ada Bibi Am di ruang makan. Meletakkan teh susu hangat di meja makan lalu kembali lagi ke dapur.

"Maaf bu. Mau tahu saja apa Laras ada di sana?" Vim menelpon ibu mertua.

'......'

"Tidak ada apa-apa. Nanti saya pulang ke sana tapi Laras jangan diberitahu ya bu."

'......'

Vim melanjutkan aktivitas paginya. Berangkat ke kantor diantar oleh Pak Uun. Dia harus memimpin rapat yang sudah disusun hari ini sehingga menunda menyusul Laras. Mencoba menepikan dulu urusan pribadinya.

Rapat dilaksanakan pukul sembilan pagi. Seluruh karyawan bagian pengembangan sudah hadir di ruangan rapat menunggu bos mereka datang.

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Masing-masing membenar

kan posisi duduk dan diam.

Vim membuka rapat. Semua memperhatikan dengan serius. Rapat hari ini membicarakan produk baru mereka yang telah diklaim oleh pihak lain.

"Oleh karena itu saya minta kalian bekerja keras lagi untuk menciptakan produk seperti itu tapi lebih unggul dari yang lama. Dengan tetap memperhatikan komposisi bahan-bahannya. Desain luar dan bentuk botol kita ciptakan yang baru. Jika ini berhasil kalian akan mendapatkan bonus. Mengejar waktu launching sepertinya terlalu dekat tetapi jika kalian bisa itu merupakan sebuah prestasi. Saya menghargainya"

Mereka di dalam ruangan saling berpandangan satu sama lain. Manager pengembangan tampak berpikir keras bagaimana membuat formula yang lebih baik lagi sedangkan yang lama sudah paling unggul.

"Bagaimana ini?"

"Bagaimana bisa?"

"Waktunya sangat sedikit."

Suara-suara mereka terbengar mirip bisikan-bisikan.

"Sebelum rapat saya tutup apakah ada pertanyaan atau barangkali ada yang mau jujur mengakui kesalahan?"

Vim hanya menguji semua anak buahnya. Sebenarnya ia sudah tahu siapa yang mencuri data miliknya. Sebuah nama yang berhubungan Nomissi. Anak perusahaan Nomissi yang dipimpin oleh Rony yang melakukan pencurian data.

"Baik jika tidak ada pertanyaan rapat saya tutup. Ingat siapa yang berani berbuat merugikan perusahaan akan menerima akibatnya. Selamat siang." Vim sedikit mengancam. Dia harus tegas agar hal-hal seperti itu tidak terjadi dari orang dalam perusahaan.

Manajer pengembangan berjalan berdampingan dengan Vim.

"Saya tidak menyangka mereka bermain kotor Tuan."

"Kelicikan mereka membuatku ingin muntah. Bikin konferensi pers, aku akan bicara."

Di tempat lain Rony menyeringai puas. Produk baru milik perusahaannya telah meluncur mendahului perusahaan Vim.

Anak buahnya telah bekerja dengan luar biasa. Kali ini ia berhasil mendahului Vim.

Akhirnya konferensi pers berlangsung. Vim mengatakan secara terang-terangan Nomissi telah berlaku curang. Dia bertekad akan membuktikannya dan mengeluarkan produk baru yang lebih unggul khasiatnya yang bertujuan untuk memenuhi keperluan rumah tangga itu.

Perang dingin berlangsung antara kedua perusahaan. Satu milik Vim dan satu lagi milik Rony. Masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya. Rony menganggap jika Vim mengeluarkan produk yang sama berarti Vim telah membuka persaingan dengannya. Hanya dalam waktu kurang satu hari berita perseteruan menyebar ke mana-mana.

Dion dan Edo menyambut Vim yang baru saja selesai melaksanakan konferensi pers.

"Ternyata dia musuh yang nyata hhhh."

"Sabar bro..buktikan siapa yang menguasai pasar nanti." Dion menghibur Vim.

"Seharusnya kau sadari dari dulu." Sambung Edo.

"Aku sadar. Nggak mengira saja dia sejauh ini."

Vim mengajak sahabatnya makan siang. Vim yang mengajak, Vim pula yang akan membayar. Ketiganya memasuki tempat makan eksklusif. Masing2 memesan makan siang yang sudah lewat dari waktunya.

"Kau harus waspada satu hal lagi."

"Apa itu?" Vim bertanya pada Edo.

"Laras. Bukan tidak mungkin dia menjadi celaka. Kau punya musuh."

"Ya benar. Bisa saja terjadi.'

Edo mengingatkan Vim. Sahabatnya ini memang kritis pada Vim tapi sangat berguna.

"Oya Di. Aku butuh bantuanmu. Tolong carikan pekerjaan untuk Aurora ."

"Vim kau mulai perhatian rupanya." Dion tersenyum dan menjeling ke arah Edo. Dibalas senyuman oleh Edo.

"Bukan begitu. Justru aku mau dia segera keluar dari tempatku."

"Begitu. Oke. Tunggu informasi. Semoga saja ada meja kosong untuknya."

Lalu Vim berterus terang tentang Laras yang tidak berada di rumah sejak kemarin. Dion dan Edo menjadi pendengar yang baik. Hal biasa mereka saling bertukar cerita tentang rumah tangga mereka dengan kesepakatan hanya mereka saja yang tahu.

...🍃🍃🍃...

"Mengapa kau ada di sini???"

Vim mengernyitkan kening dan menatap heran pada Aurora. Dia baru saja memasuki ruang kerjanya setelah dari ruang rapat. Aurora sudah lebih dulu berada di sana.

"Tenang Vim. Aku membawakan ini untukmu. Makanlah."

Aurora meletakkan barang yang ia bawa di atas meja sofa. Vim menatap penuh curiga pada makanan tersebut. Makanan di dalam box dan paper bag.

"Aku sudah makan. Terima kasih. Kau boleh keluar."

"Aku akan keluar. Tidak bisakah kau sedikit ramah padaku Vim."

Aurora menatap penuh harap. Amat berharap Vim mau membuka hati kembali buatnya.

"Tidak bisa. Kau tidak perlu mengurusku lagi. Bawa makanan itu denganmu."

Aurora menarik nafas dalam. Vim menjadi angkuh di depan Aurora. Tiga tahun tidak bersama membuat Vim berubah di mata Aurora. Sungguh sulit memujuk hati Vim sekarang.

"Vim kau sungguh marah padaku."

"Tiada tempat untuk seorang pengkhianat di hatiku."

Aurora menunduk. Merasakan hatinya sakit mendengar kalimat Vim barusan.

"Semua bukan kehendakku Vim."

"Karena itu telah terjadi Aurora dan biarkan semua berlalu. Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu."

"Vim..berikan aku kesempatan."

"Tidak mungkin Aurora. Aku memiliki Laras sekarang."

"Kau menyintainya?"

"Sangat. Tidak tergantikan oleh siapapun."

Air mata Aurora mulai menggenang. Tertutup sudah hati Vim untuknya. Vim tidak sedikitpun memandang Aurora. Rasa belas kasihannya sudah habis untuk wanita itu.

"Baiklah. Aku ke bawah Vim. Selamat bekerja."

Akhirnya Aurora pergi dari ruangan itu setelah mengusap air matanya dengan tisu. Terus saja berharap semoga hati Vim mau berpaling padanya.

Vim memanggil Joel sang sekretaris.

"Ambil makanan itu untukmu."

"Baik Tuan."

Joel membawa paper bag berisi makanan itu keluar. Dia memberikan pada staff lainnya agar makanan tidak terbuang percuma. Meskipun para staf saling bertanya dan membuat kesimpulan sendiri, makanan tersebut habis termakan tanpa sisa.

1
ManaManaSandar
mcm jadi bahan taruhan pula
Lies Atikah
semoga aja si pim masih waras dan bukan penyuka barang bekas apa lagi orang yang pernah menyakitinya ih geuleuh kalau sampai gitu awas aja thor
Sri Nurdiantari
romantis... lanjut dong
R.F
2like hadir kk
Reo Ruari Onsiwasi
romantis ya. mawarnya ditabur berbentuk love segala😷😷😷
Rini Haryati
ceritanya bagus
sukses
semangat
mksh
🌻Yani Wi💕: Terimakasih..baca lagi ya Kaka.💐
total 1 replies
🦋⃝𝄞͢𝓕𝓐𝓚𝓡𝓤ཹ
Om
Neyna 🎭🖌️
semangat thor yuk bikin yang baru 💪💕💕
🎧Reo Ruari Onsiwasi
Semoga laras tidak goyah
🎧Reo Ruari Onsiwasi
Nyesekkan. sudah ditolak masih ngeyel
🎧Reo Ruari Onsiwasi
Rony jangan buat masalah. kasihan nanti si laras
🎧Reo Ruari Onsiwasi
Rony laras sudah menikah
Arin
bagus Laras emng mesti bgtu Sam pelkor
🌻Yani Wi💕: terima kasih yaa.💕❣️❤️
total 1 replies
Arin
semoga Laras cpet hamil amiin
Arin
lagian si vim wlpun niatnya Krn menolong tpi jngn kasih celah buat mantan...
Arin
sykurlh vim udh ngga inget mntan lagi
Arin
ya semoga aja nanti pas mau gituan vim ngga inget mntan lagi,klo msih inget tinggl pergi aja dlu ras biar vim bisa introfksi dri
Arin
bguslh vim bisa tegas sama aurora
Arin
dasar si vim klo oleng Laras bwa kabur aja do biar tau rasa si vim
Arin
bgus Laras jngn jdi wnita lemah...vim itu egois cembru kok smaa orng yg udh ngga ada,sndriy gemna yg msih inget mntan dan juga skrng mntnya udh cre...awas aja oleng😡👊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!