Semoga terhibur. Jangan lupa jejak ya.
Season 1
Memimpikan pasangan yang lebih dewasa, namun selalu terjebak cinta dengan pria berusia muda.
Dia adalah Rina Malinda. Menjalin kasih dengan pria yang lebih muda bukanlah impiannya, namun rasa nyaman yang didapatkan membuatnya susah berpaling dari pesona pria muda yang berhasil masuk ke hatinya.
Restu Andika. Pintar, tampan, humoris dengan segala kesempurnaannya membuat siapa pun termasuk Rina susah menolak pesonanya.
Sempat putus dan harus menghadapi berbagai cobaan, akhirnya hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan.
Season 2
Lima tahun melalui mahligai pernikahan, Dika dan Rina belum juga dianugerahi momongan, bagaimana mereka menghadapi situasi ini?
Andre, pemuda yang selalu berdiri di belakang Dika setelah Dedi menempuh study kini berubah menjadi sosok yang tak kalah keras dengan bosnya.
Bagaimana ia melunakkan hatinya yang keras saat ia justru jatuh hati dengan Hana, wanita berbahaya dan harus dihancurkan olehnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Mingguan
^^^Tarreekk Ses....^^^
^^^Semongko.....^^^
Melewati malam Minggu dengan nonton film menjadi pilihan Dika, Rina, Dedi dan Rista akhirnya. Marathon menonton web series tentang percintaan dosen dan mahasiswa yang lagi ngehits menjadi rencana mereka malam ini. Kamar Dika yang luas menjadi tempat mereka berada sekarang.
"Kak, nggak beli keripik kentang ya!?" tanya Rista yang kini tengah mengobrak-abrik cemilan yang tadi mereka beli.
"Lupa, cari aja!" teriak Dika dari kamar mandi.
"Lu sebenernya gimana sih Rin?"
Hampir saja Rina menjatuhkan coklat panas yang baru saja dibuatnya. "Astaga. Bikin jantungan aja."
Rina terus saja berjalan menuju sebuah meja di kamar Dika dan meletakkan nampan berisi minuman itu di sana.
"Gimana Ded?" tanya Rina setelahnya.
"Gimana elu sama Dika?" ulang Dedi.
Melihat raut wajah Dedi yang serius, Rina tiba-tiba merasa begitu cemas.
"Aku..." Rina bingung harus menjawab apa.
Tiba-tiba sepasang tangan muncul dan melingkar di perut Dedi, "Kepo yyaaaa." Rista memunculkan kepalanya di samping tubuh Dedi.
Dedi berusaha melepaskan tangan Rista, namun Rista justru mengeratkannya. "Bocah apaan sih!?" bentak Dedi.
"Nggak apaan-apaan Kak."
"Lepasin nggak?!"
"Nggak mau."
"Lepasin!"
"Nggak mau." Rista masih kekeh memeluk pinggang Dedi dari belakang.
"Dika! Adik lu nih!" teriak Dedi pada Dika yang masih di kamar mandi berharap akan mendapatkan bantuan darinya.
"Kalau lu nggak keluar, adik lu habis nih!" Dedi kembali berteriak dengan berusaha melepaskan diri.
"Habisin aja!" balas Dika dari kamar mandi.
Rina yang menyaksikan secara langsung hanya bisa tertawa dengan kehebohan dua orang dihadapannya.
Tiba-tiba Dedi memutar tubuhnya hingga membuatnya berhadapan dengan jarak yang sangat dekat dengan Rista. Dedi mengeluarkan smirk melihat Rista yang kehilangan tawa dengan mata mengerjap-ngerjap di hadapannya.
Si*l. Kenapa kamu begitu cantik dilihat dari jarak sedekat ini. Sekian waktu Dedi terkesima dengan paras cantik adik sahabatnya ini. Setelahnya, Dedi berusaha keras menyadarkan diri.
Di saat yang bersamaan, Rista kini melepaskan tangannya dari tubuh Dedi dan hendak memundurkan langkah.
Entah mengapa, bukannya merasa terbebas, Dedi justru balik meraih pinggang Rista dan merapatkannya kembali dengan tubuhnya.
Rista yang masih terkejut hanya bisa pasrah, terlebih ketika bibir Dedi berada begitu dekat dengan telinganya. Hembusan nafas dengan lembut menyapu terasa menggelitik di sana.
"Sekarang, rasain ini, hahaha...!!!" Dedi menggelitik perut Rista membuat sang empunya berteriak-teriak dan berusaha melepaskan diri.
Setelah lepas Rista segera berlari dan menyembunyikan diri dibalik tubuh Rina yang sejak ia datang masih diam ditempatnya.
"Kak, demitnya nguber-nguber nih Kak...!"
Rina tertawa dengan tingkah mereka. Tubuhnya tertarik kesana-kemari karena digunakan Rista sebagai tameng. Tiba-tiba Rina merasa tubuhnya ditarik kencang membuatnya sedikit terhuyung.
"Udah, Ded habisin aja. Rina ada perlu sama aku, hahaha." Bukannya melerai, Dika justru memberi kesempatan pada Dedi untuk mengerjai adiknya.
Rina yang masih dalam pelukan Dika terus tertawa melihat Rista yang berteriak-teriak dalam kejaran Dedi.
"Aaaaaaa, Mama tolongin Rista....! Aaaaaa....!"
"Nah lo, mau lari kemana lagi kamu." Dedi menyeringai melihat Rista terpojok di sudut balkon kamar Dika.
Rista terengah-engah. "Kak, udah ya, udah. Rista janji deh nggak bakal gangguin Kakak lagi."
Bukannya menghiraukan permintaan Rista, Dedi justru kian mendekat. Saat ini tubuh Rista merosot dan duduk merapat di dinding. Dedi tersenyum melihat Rista yang pasrah dan ia turut selonjoran tak jauh darinya.
"Buka mata kamu."
"Enggak. Aku takut digelitikin," tolak Rista.
"Enggak minat lagi. Udah cepat buka mata."
Akhirnya Rista perlahan membuka mata. Dedi menginterupsi Rista untuk menatap mereka yang ada di dalem.
"Apa yang kamu pikirin tentang mereka?" tanya Dedi yang juga melihat pemandangan Dika dan Rista yang duduk berdempetan di salah satu sudut kamar Dika. "Keberatan nggak kalau kamu kerjasama sama Kakak nyelidikin pacarnya Rina?"
"Kayak detektif gitu?"
Dedi mendesah malas. "Ya, something like that."
"Buat apa?"
"Kamu ngerasa aneh nggak sih sama Rina?"
"Aneh gimana?"
"Ya kamu ngeliatnya Rina itu gimana? Kamu rela gitu kakak kamu deketan sama cewek yang udah punya pacar?"
Rista menengadah dan menatap langit yang bertabur bintang malam ini. Dia menceritakan bagaimana kisah Lusi yang dulu sangat disukainya hingga akhirnya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Lusi sedang melakukan hal tak senonoh dengan Ayah tirinya. Hingga akhirnya Rista memutuskan untuk mendukung apapun hal yang membuat kakaknya bahagia.
Dedi menggeleng tak percaya. "Aku tahu sih Lusi itu yang jelas anaknya, tapi nggak nyangka aja kalau dia sampai kayak gitu sama ayah tiri kamu."
"Tau ah Kak, aku masuk dulu." Rista bangkit namun Dedi segera menahan pergelangan tangannya.
"Kenapa?"
Lagi-lagi Dedi menunjukkan dengan ekor matanya.
Rista yang tak paham segera melayangkan tatapan bertanya pada Dedi.
Dedi mendesah. Susah emang kalau ngomong sama bocah. "Dika sama Rina kayaknya lagi ngobrol serius deh. Mending kita di sini aja ya."
"Iya kah?" Akhirnya Rista kembali duduk di samping Dedi. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. "Kakak tinggal sendiri ya?" tanya Rista kemudian.
Dedi mengangguk. Obrolan pun dimulai, Dedi mulai menceritakan bagaimana hidupnya, begitu pula Rista. Mereka mengobrolkan banyak hal, sembari memberi ruang untuk dua orang di dalam sana. Tanpa mereka sadari, keduanya saling mengungkapkan jatidiri yang membuat keduanya lebih mengenal satu sama lain.
Sementara itu di dalam kamar.
"Siap nggak siap, suka nggak suka kamu nggak bisa terus diem kayak gini Rin."
Rina masih ragu. Haruskah masalah memalukan ini diberitahukannya pada Dika.
"Aku juga butuh kejelasan Rin. Jangan kayak gini."
Suara Dika meninggi, membuat Rina kian diselimuti rasa bersalah.
"Aku..." Rina menatap mata Dika dalam. "Kamu bisa tinggalin aku Dik, aku nggak pantas untuk kamu," ucap Rina akhirnya. Kali ini ia bertekad tak akan meneteskan air mata.
Dika mendesah dan menarik Rina ke dalam pelukannya. "Bukan jawaban itu yang aku pengen Rin?" Dia mengelus rambut panjang Rina dengan lembut.
"Dika, ini nggak mudah buat aku, percayalah, aku juga nggak nyaman dengan semua ini." Pertahanan Rina runtuh dengan mudah. Ia kembali menitikkan air mata.
Dika mengeratkan pelukannya. "Udah, jangan nangis lagi. Maafin aku."
Rina berusaha keras meredam tangisnya. "Dika." Rina mendongak menatap Dika. "Kasih aku waktu untuk membereskan semua."
Dika menatap Rina yang kini dalam pelukannya.
"Sebelum itu, aku boleh tanya sesuatu nggak?"
"Jangan susah-susah," jawab Dika cuek. "Aw!" Dika berteriak kala mendapat serangan tiba-tiba di area perutnya. "Kok dicubit sih."
"Biarin!" ketus Rina dengan bibir mengerucutnya.
Cup
"Hhiiiihhhhh. Ddiikkkkkaaaaaa!"
Mendengar teriakkan Rina, Dedi dan Rista yang berada di luar segera berlari ke dalam.
"Ada apa Kak?" Rista panik dan langsung menyergap mereka.
"Kakak kamu tuh." Rina menunjuk Dika dengan tatapan kesalnya. Sementara yang di tatap malah cengengesan tak jelas.
"Emang Kak Restu ngapain Kakak?" tanya Rista lengkap dengan tatapan innocent nya. Rista memandang keduanya bergantian. "Kak...?" Rista kembali bertanya karena keduanya tak ada yang menjawab.
Dika mendekati Rina dan mendaratkan ciuman di pipinya. "Cuma gini doang."
"Tapi tadi kan...?!" Rina hendak melayangkan protes dengan wajah kesalnya.
Dika bergerak mendekatkan bibirnya pada telinga Rina. "Mau aku cium bibir kamu di depan mereka," bisik Dika kemudian.
Rina hanya bisa mendengus kesal merasa kalah telak dengan Dika.
Cup
Dedi membulatkan matanya kala Rista tiba-tiba mendaratkan ciuman di pipinya.
"Rista bilang juga apa, cium pipi itu kan tanda sayang." Ucap Rista dengan riang.
"Deddiiii, lu apain adek guee!!!"
Dedi mundur perlahan melihat mata sahabatnya berapi-api.
"Gue nggak ngapa-ngapain!!! Dedi berlari dan terus berusaha melindungi diri kala Dika melemparinya dengan apa pun yang dapat diraihnya.
"Setan lu, jangan lari...!!"
"Adik lu yang setan!!!"
Dedi terus berusaha menyelamatkan diri dari amukan Dika, sementara Rina dan Rista tak lagi dapat membendung tawanya.
TBC
Say something dear.
kurang bnyakkkkkkkk extrapart ya❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Tinggal Nunggu Kisah Dedi ama Rista
Ry Benci Pakpol Mampir
Menikah jg