NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Hari-hari Pemulihan

Hari-haHari-hari pertama setelah malam di gua terasa seperti napas yang baru saja dilepaskan setelah puluhan tahun tertahan di dada. Desa Durian Berduri bangun pagi dengan cahaya matahari yang terasa lebih hangat, lebih lembut, seolah langit sendiri ikut bernapas lega.

Asap tipis dari dapur-dapur naik pelan ke udara pagi, membawa aroma nasi liwet, ikan asin goreng, dan sambal terasi yang selama ini tertutup bau kemenyan. Anak-anak berlarian di jalan setapak tanah, tawa mereka jernih tanpa bayang ketakutan yang dulu selalu mengintai di setiap sudut.

Pohon durian liar di pinggir desa masih berdiri tegak, duri-durinya kini tak lagi tampak seperti taring mengancam—hanya duri biasa yang menjaga buah manis di dalamnya.

Sari Wangi duduk di teras rumah kecilnya setiap pagi, Lilis di pangkuan. Tangan kecilnya meraih-rambah wajah ibunya, mata bulatnya menatap Sari dengan kepercayaan penuh. Sari sering menangis diam-diam saat memeluk Lilis—bukan tangis sedih, tapi tangis yang membersihkan luka lama. Setiap kali Lilis tertawa kecil atau menggumam “ma... ma...”, Sari merasa dunia kembali utuh. Ia mencium kening Lilis berulang kali, jari-jarinya menyisir rambut halus bayi itu, seolah memastikan kehadiran itu nyata. “Ibu di sini, sayang... Ibu tidak akan pergi lagi...” bisiknya setiap pagi, suaranya lembut tapi penuh janji yang tak pernah ia ucapkan sebelumnya.

Daeng Tasi sering duduk di samping istrinya, tangannya memeluk mereka berdua dari belakang. Ia tak banyak bicara, tapi pelukannya lebih erat dari biasanya. Setiap malam, setelah Lilis tertidur, Daeng Tasi akan duduk di teras bersama Sari, tangan mereka saling genggam dalam diam. “Aku hampir kehilangan kalian,” katanya suatu malam, suaranya pecah. Sari hanya menggeleng pelan, kepalanya bersandar di bahu suaminya. “Kita selamat, Daeng. Kita semua selamat.” Dan di pelukan itu, mereka menemukan kedamaian yang selama ini hilang—kedamaian yang lahir dari rasa syukur yang dalam.

Siti Aisyah—Neneng—kini tidur nyenyak setiap malam. Mimpi buruk yang dulu menghantuinya—tangan kurus Mbah Saroh menariknya ke kegelapan, tawa serak yang memanggil “anakku”—lenyap sepenuhnya.

Ia bangun setiap pagi dengan senyum kecil, mendengar tawa Cecep, Ratih, dan Lila dari ruang tengah. Cecep, dengan pipi tembemnya yang masih sering dicubit Sari, kini lebih sering memeluk ibunya dari belakang. “Ibu... Cecep sudah besar, tapi Cecep masih mau dipeluk ibu,” katanya suatu pagi sambil tersenyum malu. Siti Aisyah tertawa, memeluk anak sulungnya erat-erat. “Ibu juga masih mau peluk Cecep selamanya.”

Kang Asep sering duduk di samping istrinya di teras sore hari, tangannya memegang tangan Siti Aisyah dengan lembut. Ia tak lagi menyebut godaan malam itu, tapi rasa bersalahnya masih tersisa—dan ia menebusnya dengan kehadiran penuh. “Nen... terima kasih kau selamatkan kami semua,” bisiknya suatu sore. Siti Aisyah hanya tersenyum, kepalanya bersandar di bahu suaminya. “Kita selamatkan bersama, Mas. Kita semua.”

Desa mulai bergerak lagi. Pak Kades mengumpulkan warga di lapangan kecil depan masjid tiga hari setelah malam di gua. Ia berdiri di bawah pohon kelapa tua, suaranya pelan tapi tegas. “Kita sudah bebas dari kutukan. Tapi kebebasan itu tak lengkap kalau kita tak ingat dari mana asalnya. Kita harus kenang Mbah Saroh—bukan sebagai monster, tapi sebagai korban yang kita khianati. Kita bangun monumen kecil di pinggir hutan, sebagai peringatan dan permintaan maaf.”

Warga setuju tanpa ragu. Mereka bekerja bersama selama seminggu. Pagi-pagi mereka mengumpulkan batu kali dari sungai yang kini jernih, kayu jati dari pohon tua yang tumbang, dan tanah liat merah dari bukit. Kang Asep dan Kang Ujang memimpin pembangunan—monumen sederhana berbentuk batu besar setinggi pinggang, diukir dengan tulisan tangan:

“Untuk Mbah Saroh,

korban pengkhianatan dan penderitaan kami.

Maafkan kami.

Semoga kau damai di sisi-Nya.”

Di atas batu itu mereka letakkan kendi kecil berisi air dari sumur masjid, simbol pengampunan yang mengalir. Di sekitar monumen, mereka tanam bunga melati dan kenanga—bunga yang harumnya lembut, seperti doa yang tak pernah berhenti. Setiap sore, warga datang bergiliran—beberapa membawa bunga segar, beberapa berdoa pelan, beberapa hanya duduk diam menatap monumen itu dengan air mata.

Sari Wangi sering datang bersama Lilis. Ia duduk di rumput di depan monumen, bayinya di pangkuan, tangannya menyentuh batu dingin itu. “Mbah... terima kasih sudah lepaskan Lilis... terima kasih sudah maafkan kami...” bisiknya setiap kali. Lilis kecil sering meraih batu itu dengan tangan mungilnya, tertawa kecil, seolah merasakan kedamaian yang sama.

Siti Aisyah juga datang hampir setiap hari. Ia membawa anak-anaknya, duduk di rumput, menceritakan kisah Mbah Saroh kepada mereka—bukan sebagai hantu menakutkan, tapi sebagai perempuan yang tersakiti. “Mbah Saroh dulu baik, tapi kami yang salah. Kita harus ingat, agar tak ulangi kesalahan yang sama,” katanya pelan. Cecep mendengar dengan serius, pipinya tembem masih sering dicubit Sari saat mereka bertemu di monumen. Ratih dan Lila sering meletakkan bunga kecil di depan batu, lalu berdoa dengan tangan kecil mereka.

Desa mulai pulih sepenuhnya. Sawah-sawah hijau kembali dikerjakan, anak-anak bermain sampai sore tanpa takut gelap, ibu-ibu mencuci kain di sungai dengan tawa kecil. Malam-malam kini penuh suara cerita—cerita tentang pengampunan, tentang hati yang akhirnya terbuka. Tak ada lagi mimpi buruk, tak ada lagi suara tawa serak menyusup ke tidur.

Suatu sore, Sari Wangi dan Siti Aisyah duduk bersama di depan monumen. Lilis tertidur di pangkuan Sari, Cecep dan adik-adiknya bermain di rumput dekat sungai. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma melati dari tanaman di sekitar batu.

“Mbak Nen... kau tahu nggak, aku sekarang tidur nyenyak setiap malam,” kata Sari pelan, jarinya menyentuh batu monumen. “Aku tidak takut lagi. Aku percaya... dia sudah damai.”

Siti Aisyah tersenyum, tangannya memegang tangan Sari. “Aku juga, Neng. Aku tidak lagi dengar suara itu di mimpi. Aku cuma dengar tawa anak-anak... dan suara angin yang tenang.”

Mereka diam sejenak, menikmati keheningan yang dulu menakutkan, tapi kini terasa seperti pelukan hangat. Di kejauhan, suara anak-anak tertawa menggema—suara kehidupan yang akhirnya kembali utuh.

Desa Durian Berduri pulih. Bukan hanya dari kutukan, tapi dari luka lama yang selama ini disembunyikan. Monumen kecil di pinggir hutan berdiri sebagai saksi bisu—saksi pengampunan, saksi penebusan, saksi bahwa hati manusia, meski pernah keras, bisa kembali lembut jika diberi kesempatan.

Dan di suatu tempat di alam gaib, roh yang dulu dikenal sebagai Nenek Gerandong tersenyum tipis—senyuman damai yang tak lagi membawa dendam. Ia akhirnya pulang.

***

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!