Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Asisten Arkan yang Konyol
Arkan duduk di mobilnya, menatap Yura yang sedang sibuk melayani pelanggan dengan senyum ramahnya yang menurut Arkan terlalu ramah.
Ia mencondongkan tubuh ke depan, memberi instruksi tegas pada asistennya yang sudah berkeringat dingin:
"Keluar. Pura-pura jadi pembeli. Setelah itu, bilang padanya… 'Ada seseorang yang ingin bertemu'."
Asistennya seorang pria bernama Bagas yang biasanya sangat profesional dan kaku kali ini terlihat panik.
"Pak… maksudnya… pura-pura beli kue? Tapi saya juga harus benar-benar beli? Atau cuma lihat-lihat? Atau "
Arkan menatapnya dengan tatapan tajam yang artinya: Jangan banyak tanya. "Beli juga tidak masalah. Yang penting, kau sampaikan pesanku. Dan JANGAN sampai dia tahu aku ada di sini."
Bagas mengangguk mantap, lalu turun dari mobil dengan langkah penuh percaya diri yang sayangnya langsung hilang begitu ia sampai di depan pintu toko.
Di Dalam Toko
Begitu masuk, Bagas langsung disambut aroma kue yang harum. Yura sedang melayani seorang ibu-ibu yang cerewet memilih kue.
Bagas berdiri canggung di dekat etalase, menatap deretan kue dengan ekspresi serius seperti sedang memecahkan kode nuklir.
Setelah beberapa detik, ia berdehem pelan terlalu pelan lalu mencoba menarik perhatian Yura dengan suara formal khasnya.
"Permisi... saya ingin melakukan observasi terhadap produk roti Prancis berbentuk bulan sabit yang tersedia di etalase bagian kiri atas."
Yura menoleh, langsung mengernyit bingung.
"Hah? Eh... maksudnya croissant?"
Bagas mengangguk kaku seperti robot.
"Affirmatif. Saya merujuk pada produk pastry berlapis mentega yang Anda sebut sebagai 'croissant' tersebut."
Yura menahan tawa. Kok ngomongnya kayak lagi presentasi bisnis sih? pikirnya dalam hati “Oh, iya... ini croissant klasik Prancis. Rasanya lembut di dalam, renyah di luar. Favorit pelanggan."
Bagas mengangguk sangat serius, bahkan mengeluarkan notes kecil dari sakunya dan pura-pura mencatat.
"Lembut di dalam, renyah di luar... hmm... karakteristik tekstur yang sangat optimal untuk konsumsi pagi hari."
Yura berusaha keras tidak tertawa di depan pelanggan ini. Ini orang kenapa sih? Ngomong kayak lagi ujian skripsi!
Bagas kemudian menatap kue lain dengan ekspresi analitis berlebihan.
"Apakah terdapat kemungkinan untuk saya memperoleh tiga unit croissant dengan benefit tambahan berupa satu unit produk eksklusif yang hanya dapat diakses oleh manajemen internal toko ini?"
Yura melongo. Butuh tiga detik untuk otaknya menerjemahkan kalimat itu.
"...Maksudnya mau beli tiga croissant terus minta bonus kue spesial gitu?"
"Correct."
Yura tertawa kecil, benar-benar geli sekarang.
"Wah... kita nggak ada sistem begitu, Kak. Tapi kalau mau, aku bisa kasih rekomendasi kue spesial hari ini."
Bagas langsung berdiri tegap, tangannya di dada seperti menghormat bendera."Informasi yang sangat berharga! Saya harus segera melaporkan hal ini kepada atasan saya yang memiliki kepentingan tinggi terhadap Anda!"
Yura berhenti sejenak, ekspresinya berubah bingung.
"...Atasan? Kepentingan tinggi? Maksudnya... siapa?"
Bagas terdiam sejenak, baru sadar ia sudah ngomong kebanyakan. Ia panik mencari kata-kata formal untuk menutupi. "Ehm... maksud saya adalah... individu dengan posisi strategis di bidang kuliner yang sangat mengapresiasi excellence dalam product quality."
Yura mengerjapkan mata beberapa kali.
"...Jadi... bos kamu suka kue gitu?"
"PRECISELY!"Bagas tiba-tiba menunjuk-nunjuk kue dengan gerakan formal tapi panik."Saya memutuskan untuk melakukan pembelian dalam jumlah signifikan. Tiga unit croissant, satu unit eclair dengan topping cokelat premium, dua unit macaron, ini adalah macaron, bukan? Konfirmasi visual saya menunjukkan..."
"Iya itu macaron..."potong yura.
"Excellent! Saya juga ingin menambahkan item-item lain dalam portfolio pembelian saya!"
Yura benar-benar menahan tawa sekarang. Ini orang ngomong apa sih sebenernya?
Bagas mulai menunjuk sana-sini dengan panik, tapi tetap menggunakan bahasa formal yang aneh."Unit berbentuk spherical berwarna pink! Unit dengan geometri persegi panjang! Dan unit dengan karakteristik... eh, tunggu, saya lupa item mana yang telah saya indikasikan sebelumnya."
Yura mencoba membantu dengan sabar sambil menggigit bibir menahan tawa. "Kakak... mungkin lebih baik pilih pelan-pelan...?"
Tapi Bagas sudah terlanjur panik dan semakin panik, bahasanya semakin formal dan aneh. "TIDAK! SAYA TELAH MENGINISIASI MISI INI DAN HARUS MENGEKSEKUSINYA HINGGA COMPLETION!"
Yura tidak tahan lagi, dia tertawa kecil.
Akhirnya, setelah drama lima menit dengan bahasa-bahasa aneh yang bikin Yura pusing campur geli, Bagas berhasil membeli setengah isi etalase dengan kantong plastik di kedua tangannya yang penuh sesak.
Sebelum keluar, ia berbalik ke Yura dengan ekspresi sangat serius tapi keringatnya sudah bercucuran.
"Harap diperhatikan... atasan saya yang memiliki concern terhadap establishment ini kemungkinan besar akan melakukan direct visit dalam waktu dekat. Mohon persiapkan mental dan fisik Anda."
Yura mengernyit bingung campur geli.
"...Maksudnya... bosnya mau datang ke sini? Emang kenapa?"
Bagas hanya tersenyum kaku senyum orang yang sudah nggak tahu harus ngomong apa lagi dengan bahasa formal lalu langsung kabur keluar toko dengan langkah cepat tapi tetap kaku seperti tentara.
Di Luar Toko
Arkan duduk di mobilnya, menatap layar CCTV yang menampilkan rekaman dari kamera tersembunyi yang dipasang asistennya tadi.
Ia menggelengkan kepala pelan, tapi senyum tipisnya tak bisa disembunyikan.
"Bodoh sekali... kenapa dia bicara seperti sedang rapat direksi?"
Di samping Arkan, Bagas masuk ke mobil dengan napas terengah-engah, kantong plastik penuh kue di pangkuannya.
"Pak... saya sudah menyampaikan pesan sesuai protokol... meskipun eksekusinya agak... di luar standar operasional..."
Arkan meliriknya dingin.
"Kenapa kau bicara seperti itu? Ini toko kue, bukan kantor."
Bagas tertunduk malu.
"Maaf, Pak... saya... tidak terbiasa berbicara casual... jadinya malah aneh..."
Arkan menatapnya datar.
"Dan kau beli terlalu banyak."
"Tapi Pak Arkan mengatakan pembelian juga diperbolehkan dalam scope misi!"
Arkan tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap keluar, di mana Yura masih terlihat tertawa kecil sendiri sambil menggelengkan kepala.
Dia tertawa karena kebodohan asistenku... bahkan saat bingung, dia tetap terlihat manis.
Di Dalam Toko
Yura menatap pintu toko yang baru saja ditutup oleh pelanggan konyol tadi.
Ia menggelengkan kepala sambil tertawa kecil.
"Astaga... itu orang ngomong apaan sih? 'Unit spherical'? 'Direct visit'? Emang lagi sidang skripsi apa gimana...?"
Tapi yang tidak ia tahu… Pria konyol dengan bahasa formal aneh itu hanyalah asisten Arkan.
Dan malam ini, Arkan sudah tahu persis di mana Yura berada.
Bahkan lebih dari itu…
Arkan sudah merencanakan langkah selanjutnya.
Dan kali ini… ia tidak akan mengirim asisten lagi.
Ia akan datang sendiri. Dengan caranya sendiri.