Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketenangan
Ruang pertemuan dosen Academy Magica diselimuti keheningan berat.
Meja bundar dari batu kristal kuno memantulkan cahaya redup dari obor sihir yang melayang. Di sanalah para penyihir senior berkumpul-mereka yang menentukan arah Academy, jauh dari hiruk-pikuk para murid.
Gram Blackfullet berdiri lebih dulu.
“Dua bulan lagi,” katanya tegas, “ujian sihir tingkat lanjut akan dimulai.”
Beberapa dosen mengangguk. Ini bukan ujian biasa-melainkan seleksi yang menentukan apakah seorang murid layak melangkah ke tingkat penyihir resmi.
Gram melanjutkan, suaranya mengeras.
“Aku mengusulkan pelepasan makhluk tersegel dari dimensi kantong.”
Udara langsung berubah.
Bellyria menyipitkan mata. Karza tersenyum tipis.
“Seekor naga,” kata Gram. “Masih muda, namun insting buasnya belum terjinakkan. Terlalu berbahaya untuk disimpan lebih lama.”
“Itu berbahaya,” ulang Bellyria pelan. “Terlalu berharga untuk dilepas?”
Gram menatapnya lurus. “Aku tidak ingin Academy berubah menjadi kandang eksperimen.”
Karza terkekeh kecil. “Justru di situlah nilainya.”
Ia berdiri, jubah hitamnya berdesir pelan. “Pertarungan melawan naga akan memaksa murid memperlihatkan inti terdalam mereka. Sihir sejati selalu muncul saat hidup terancam.”
Gram menggeleng. “Ini ujian, bukan arena pembantaian.”
Karza mencondongkan tubuh ke meja. “Kau takut melihat sesuatu yang seharusnya tidak muncul?”
Nama itu tidak disebut.
Namun semua orang di ruangan tahu.
Lein.
Bellyria menghela napas, memecah ketegangan.
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan keduanya,” ujarnya tenang. “Naga itu memang terlalu berbahaya untuk dilepas begitu saja. Namun… ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan.”
Ia mengetukkan jarinya ke meja. “Mana Primordial. Aku masih merasakannya di Academy ini.”
Gram menatapnya tajam. “Dan kau masih belum menemukannya.”
“Karena ia bersembunyi,” jawab Bellyria tanpa ragu. “Atau lebih tepatnya menyamarkan diri.”
Karza tersenyum makin lebar. “Itulah mengapa aku ingin pertarungan.”
Bellyria menggeleng pelan. “Pertarungan kasar hanya akan menghancurkan wadahnya. Jika benar ada sihir kuno maka kita perlu mengamati, bukan memaksa.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Aku mengusulkan seorang perantara.”
Gram mengernyit. “Siapa?”
“Jizz Zarty,” jawab Bellyria. “Murid senior. Stabil. Tidak emosional. Dan cukup dekat dengan pusat kejadian.”
Karza mengangkat alis. “Kau ingin menjadikannya mata dan telingamu?”
“Lebih tepatnya mainanku,” koreksi Bellyria. “Dia bukan algojo.”
Gram terdiam cukup lama.
“Aku tidak menyukai ini,” katanya akhirnya. “Terlalu banyak murid yang dijadikan alat.”
Karza menepuk meja pelan. “Tapi kau tidak menolak sepenuhnya.”
Gram tidak menjawab.
Keheningan kembali turun.
***
Jizz berdiri di balkon menara Academy, memandangi halaman luas di bawah sana.
Angin pagi menyibakkan jubahnya, tapi pikirannya terasa berat.
Ia sudah menyadarinya sejak awal-sejak sihir Bellyria menyentuh kesadarannya dengan cara yang terlalu halus untuk disebut perintah.
Perantara.
Bukan murid.
Bukan pengamat netral.
Alat.
“Menolak bukan pilihan,” gumam Jizz pelan. Status murid seniornya hampir menyentuh jajaran elite, bisa dicabut dengan satu keputusan dosen itu.
Bellyria tidak mengancam. Ia tidak perlu.
Ia hanya memberi isyarat.
Jizz mengerti.
“Aku akan mengamati,” katanya pada dirinya sendiri. “Tapi aku tidak akan berburu lagi.”
Keputusan itu kecil… namun penting.
***
Pengumuman resmi menggema di seluruh Academy sore harinya.
Semua murid dikumpulkan di aula utama.
Gram berdiri di podium, wajahnya serius seperti biasanya.
“Ujian sihir tingkat lanjut akan tetap dilaksanakan,” ujarnya lantang. “Namun rencana pelepasan naga dibatalkan.”
Riuh kecil terdengar.
Gram melanjutkan, “Makhluk itu terlalu berbahaya untuk murid Academy. Sebagai gantinya... ”
Ia berhenti sejenak.
“ujian akan berbentuk pertarungan satu lawan satu. Tanpa batasan teknik.”
Keheningan jatuh seperti palu.
Tanpa aturan.
Tanpa pembatas elemen.
Tanpa larangan khusus.
Bukan duel kehormatan.
Melainkan uji ketahanan dan kemauan.
Beberapa murid menelan ludah.
Beberapa lainnya tersenyum penuh gairah.
Di antara kerumunan, Karza mengamati satu sosok dengan mata berkilat.
Sementara Bellyria menutup mata, merasakan-dan lagi-lagi tidak menemukan apa pun.
Di sisi lain Academy, jauh dari aura tegang itu, Lein tertawa kecil.
Ia duduk di taman bersama Reyd, Lysa, dan Grack. Udara sore hangat, bunga-bunga bermekaran alami-bukan karena sihir, melainkan karena musim.
“Jadi ujiannya tanpa naga,” kata Grack sambil menyeringai. “Agak mengecewakan, tapi bolehlah bye one satu lawan satu.”
“Bagus,” jawab Lysa cepat. “Aku tidak siap melawan makhluk legenda.”
Reyd menoleh ke Lein. “Kamu tidak terlihat khawatir?”
Lein tersenyum tipis. “Entah kenapa… aku merasa baik-baik saja.”
Dan itu benar.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak mendengar bisikan Raksha.
Tidak ada dorongan kekuasaan.
Tidak ada kerinduan pada tubuh lamanya.
Hanya kehidupan sederhana.
Belajar.
Berbincang.
Berjalan di lorong Academy tanpa rasa takut.
Penyembunyian mana Raksha di dalam dirinya begitu rapi: bahkan terlalu rapi, hingga tidak memantulkan apa pun.
Tidak primordial.
Tidak kuno.
Kosong.
Lein tidak sadar bahwa justru kerapian itulah yang membuatnya berbeda.
Di kejauhan, Jizz berdiri di balik pilar batu, mengamati tanpa menatap terlalu lama.
“Tidak ada mana berlebih,” gumamnya. “Mungkin disembunyikan dengan sempurna.”
Ia menghela napas.
Kalau kamu benar-benar monster, pikirnya, kamu adalah yang paling tenang yang pernah kulihat.
Lein tertawa lagi, kali ini lebih lepas.
Di dalam hatinya, ia merasa Raksha... jiwa penyihir kuno yang pernah menjadi lambang kehancuran: perlahan memudar, seolah tidak lagi ingin kembali ke tubuh lamanya yang telah mati.