Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Udara malam yang semula terasa romantis kini berubah menjadi mencekam. Di parkiran kafe, cahaya lampu jalan yang kuning pucat memantul di layar ponsel Jenny yang masih menampilkan foto mengerikan itu: Jonathan, dengan seragam yang berantakan, berdiri di sisi luar pagar pembatas jembatan penyeberangan (JPO) depan sekolah.
Tangan Jenny bergetar hebat. "Ngga... dia nggak mungkin seberani itu, kan? Dia cuma mau cari perhatian, kan?"
Angga melihat foto itu dengan rahang yang mengeras. Ia sangat membenci Jonathan atas apa yang telah pria itu lakukan pada Jenny, tapi melihat seseorang berada di titik serendah itu membuatnya tidak bisa tinggal diam. "Gue nggak tahu, Jen. Tapi si Robot itu emang lagi kehilangan akal sehatnya. Ayo, kita ke sana sekarang!"
Tanpa membuang waktu, Angga memacu motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota yang mulai sepi. Jenny memeluk pinggang Angga sangat erat, air mata tertahan di sudut matanya. Bukan karena ia masih cinta, tapi karena ia tidak ingin ada nyawa yang melayang karena kesalahan bodoh yang mereka buat bersama.
Begitu sampai di depan SMA Garuda, suasana sunyi senyap. Di atas JPO yang gelap, sosok Jonathan terlihat jelas seperti bayangan hitam yang rapuh. Ia berdiri memunggungi jalanan, menatap kosong ke arah aspal di bawah sana yang dilewati mobil satu-dua.
Jenny berlari menaiki anak tangga JPO dengan napas tersengal, diikuti Angga di belakangnya. Begitu sampai di atas, Jenny berhenti beberapa meter dari Jonathan.
"JONATHAN! BERHENTI!" teriak Jenny. Suaranya pecah tertiup angin malam.
Jonathan menoleh perlahan. Wajahnya hancur. Matanya sangat merah dan pipinya basah oleh air mata yang sudah mengering. "Jen... kamu dateng?"
"Turun dari sana, Jo! Lo gila ya?! Lo mau bikin semua orang susah?!" bentak Angga sambil mencoba mendekat perlahan.
"Jangan deket-deket, Angga!" teriak Jonathan histeris. "Lo udah dapet semuanya! Lo dapet posisi gue di voli, lo dapet hati Jenny, lo dapet simpati semua orang! Sedangkan gue? Gue cuma punya kehampaan!"
Jenny melangkah maju, tangannya terjulur. "Jo, dengerin gue. Apa yang lo lakuin sekarang ini bukan cara buat nyelesain masalah. Ini cara pengecut! Lo itu Jonathan yang selalu pake logika, mana logika lo?!"
"Logika gue mati pas gue liat lo bahagia sama dia, Jen!" Jonathan tertawa hambar, suara tawanya terdengar menyayat hati. "Gue khianatin lo karena gue bego, gue pikir Claudia bisa kasih gue apa yang nggak lo kasih. Tapi ternyata, gue cuma kehilangan satu-satunya rumah yang gue punya. Gue nggak punya siapa-siapa lagi sekarang. Orang tua gue malu, temen-temen gue ngejauh..."
Jenny menarik napas dalam, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Jo, lo punya masa depan. Lo pinter, lo punya segalanya kalau lo mau usaha buat berubah. Tapi kalau lo mati di sini, lo cuma bakal diinget sebagai pengkhianat yang pengecut. Mau lo kayak gitu?"
"Gue udah nggak peduli gimana orang inget gue," bisik Jonathan, kakinya bergeser sedikit ke ujung beton.
Angga melihat kesempatan. Saat perhatian Jonathan teralihkan oleh ucapan Jenny, Angga bergerak sangat cepat. Dengan kekuatan atletisnya, ia menerjang maju dan menarik jaket Jonathan, menyeret tubuh pria itu masuk kembali ke area aman JPO.
BRAKK!
Mereka berdua terjatuh di atas lantai besi JPO. Jonathan memberontak, mencoba melepaskan diri sambil menangis histeris. "LEPASIN GUE! BIARIN GUE MATI!"
"DIEM LO!" bentak Angga sambil menekan bahu Jonathan ke lantai. "Lo pikir dengan lo mati, Jenny bakal balik ke lo? Enggak! Dia bakal makin benci sama lo karena lo ninggalin trauma seumur hidup buat dia! Sadar, Jo!"
Jenny berlutut di samping mereka, tubuhnya gemetar. Ia menatap Jonathan yang sedang menangis sesenggukan di bawah dekapan Angga. Rasa amarahnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa kasihan yang sangat dalam. Jonathan benar-benar sudah hancur berkeping-keping.
"Jo..." Jenny menyentuh tangan Jonathan pelan. "Gue maafin lo. Gue maafin lo atas semuanya. Atas pengkhianatan lo, atas Claudia, atas semua rasa sakit yang lo kasih. Gue maafin."
Jonathan terhenti dari tangisnya, menatap Jenny dengan pandangan tidak percaya. "Jen... kamu... kamu maafin aku?"
"Iya. Tapi maaf gue bukan berarti gue balik sama lo," ucap Jenny tegas namun lembut. "Gue maafin lo supaya gue bisa tenang, dan supaya lo bisa mulai hidup baru tanpa rasa bersalah yang ngebunuh lo kayak gini. Pergi dari sini, Jo. Pergi sejauh mungkin dari sekolah ini kalau lo perlu, tapi tetep hidup. Buktiin kalau lo bisa jadi manusia yang lebih baik."
Jonathan terdiam. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan sisa air matanya mengalir. Ia merasa sebuah beban besar terangkat dari pundaknya, meski ia tahu cintanya pada Jenny tidak akan pernah kembali.
Tak lama kemudian, sebuah motor menderu kencang dan berhenti di bawah JPO. Romeo naik ke atas dengan wajah panik yang jarang ia perlihatkan. Ia melihat mereka bertiga yang terduduk di lantai JPO.
"Gila lo, Jo! Lo mau bikin berita utama besok pagi?!" Romeo langsung menghampiri dan menarik Jonathan berdiri dengan kasar. "Gue tadi dapet kabar dari anak-anak perpus kalau lo ninggalin surat aneh. Untung Jenny sama Angga gercep!"
Romeo menatap Angga dan Jenny. "Biar gue yang bawa dia pulang ke rumahnya. Gue nggak mau kencan gue keganggu lagi gara-gara drama bunuh diri ini."
Jenny berdiri, dibantu oleh Angga. Ia menatap Romeo. "Makasih, Rom. Tolong jagain dia malem ini."
Romeo mengangguk singkat. Ia merangkul bahu Jonathan yang sudah lemas dan membawanya turun. Sebelum pergi, Jonathan menoleh sekilas ke arah Jenny dan Angga. Ia memberikan anggukan kecil—sebuah tanda perpisahan yang jujur dan tulus untuk pertama kalinya.
Kini hanya tersisa Jenny dan Angga di atas jembatan. Angin malam berhembus makin kencang, tapi suasana terasa jauh lebih lega.
Angga menarik Jenny ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menumpahkan sisa ketegangannya di dadanya. "Semuanya udah selesai, Jen. Dia bakal baik-baik aja sekarang."
"Makasih ya, Ngga. Kalau nggak ada lo, gue nggak tahu apa yang bakal terjadi," bisik Jenny.
Angga mengecup puncak kepala Jenny yang terhias bando merah. "Gue bakal selalu ada di sini, Jen. Gue bukan tameng lo, dan lo bukan pelarian gue. Kita rumah buat satu sama lain sekarang."
Malam itu, di atas jembatan yang menjadi saksi bisu kehancuran dan keselamatan, Jenny menyadari bahwa badai telah benar-benar berlalu. Ia telah memaafkan masa lalunya, dan ia siap menyongsong masa depan yang cerah bersama pria yang memeluknya erat sekarang.
Esok harinya, tersiar kabar bahwa Jonathan mengajukan surat pindah sekolah ke luar kota. Claudia juga menghilang dari peredaran, kabarnya ia sangat depresi karena ditolak oleh semua orang. Sementara itu, Jenny berjalan di koridor sekolah dengan tangan yang tertaut erat dengan Angga, disambut oleh senyum ramah dari semua siswa.
Sang Ratu telah kembali, bukan dengan dendam, tapi dengan kedamaian.