Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Keesokan harinya.
Kamis pagi yang cerah selepas hujan semalam, 4 September 2025, belum ada seminggu Xiao Han menjadi asisten pelatih Chen Hao, dirinya kini tengah berdiri di koridor kelas 7.
Dinding koridor masih sama seperti enam tahun lalu, masa di mana Xiao Han masih menjadi murid ajaran baru Hangzhou Xuejun kala itu. Cat dindingnya hijau pudar, papan pengumuman yang penuh dengan stiker lomba debat dan pengumuman ujian, deretan sepatu yang ditinggalkan di luar kelas karena tanah basah perjalanan berangkat sekolah. Hanya rupa wajah siswanya saja yang berganti.
Hahh ... tempat ini seakan membawaku pulang ke remaja SMP lagi
Xiao Han membawa clipboard berisi daftar hadir yang dipinjam dari tata usaha, pura-pura menjadi petugas pendataan pihak sekolah. Alasan yang cukup masuk akal untuk berdiri di sudut ruangan dan mengamati tanpa harus mengganggu kegiatan belajar-mengajar.
Jangan tunjukkan kelemahanmu, kata Chen Hao kemarin hari. Berjalanlah seperti kau punya tujuan.
Hari ini, Xiao Han bertujuan menemukan setidaknya satu calon anggota baru dari kelas 7. Sistem sudah memberinya target 16 pemain, dan saat ini baru enam yang mereka miliki di dalam ekskul. Wei Ying sudah bergabung, tapi lima sisanya adalah senior yang jumlahnya tidak akan bertambah. Butuh anak baru, agar sepak bola di sekolah ini dapat hidup kembali.
Di depan kelas 7A, dari luar ruangan yang sedang berlangsung pembelajaran.
Guru kelas 7—bukan Pak Zhang—Xiao Han memang tidak terlalu akrab dengan para pengajar. Sosoknya sedang menjelaskan pecahan matematika di papan tulis.
Telinga Xiao Han tidak mengarah pada suaranya. Tapi kelopaknya yang sipit bekerja lebih keras dari yang biasanya, bergerak perlahan dari barisan depan ke belakang, membaca postur tubuh, gerakan kecil, hal-hal yang dulu dirinya gunakan sebagai gelandang, untuk membaca pergerakan lawan.
Tepat di barisan ketiga, seorang anak sedang menguap, tubuhnya sembari menggeliat kecil. Bahunya lebar untuk anak seusianya. Tangannya menggenggam pensil dengan kuat, seperti terbiasa menggenggam sesuatu yang lebih besar.
Xiao Han mencatat. Baris 3, nomor 5.
Kemudian, dengan sadar dirinya menahan senyum ketika seorang anak di barisan terakhir menggambar sesuatu di pinggir buku. Bukan coretan biasa, sebuah sketsa lapangan sepak bola. Lengkap dengan garis kotak penalti dan lingkaran tengahnya.
Dua calon ditemukan. Tapi, bukan mereka yang benar-benar menarik perhatiannya.
Di pojok paling belakang, dekat jendela, seorang anak laki-laki terduduk dengan posisi yang tidak biasa. Bukan merosot karena bosan, bukan tegang karena takut dengan guru di depan kelas. Siswa itu duduk dengan satu kaki disilangkan di bawah kursi, tubuhnya sedikit miring ke kanan, seperti orang yang sedang bersiap melompat kapan saja.
Irisnya tidak melihat ke papan tulis. Namun melihat ke luar jendela, ke arah lapangan kosong di belakang sekolah.
Dasar, dia tidak di sini, pikir Xiao Han. Pikirannya malah menyambangi tempat lain.
Belum sempat Xiao Han mencatat, anak itu menoleh secepat kilat di langit, seperti mendengar guntur dari kejauhan yang tidak dapat terdengar orang lain.
Pandangan mereka saling menyapa.
Mata anak itu seperti logam tajam yang sudah terasah. Bukan terasah seperti murid yang ingin menyontek jawaban, tapi seperti ... gigi taring predator yang siap mengoyak daging, mengukur apakah lawannya sepadan? Terdengar nyaris demikian.
Xiao Han tidak mengalihkan pandangan. Dirinya hanya mengangguk kecil. Anak itu pun turut membalas anggukan yang sama sebelum kembali melihat ke luar jendela.
Kringggg ...
Hingga waktu memasuki jam 12 siang. Bel istirahat nyaring berbunyi. Xiao Han bergegas meninggalkan koridor.
Di dekat lapangan belakang, Xiao Han sengaja menunggu di sana. Tempat yang paling jarang dikunjungi siswa saat istirahat karena jauh dari kantin. Hanya ada dua gawang tanpa jaring dan beton yang mulai retak di makan usia.
Waktu pun seakan berpihak kepadanya, dirinya tak perlu menunggu lama. Anak itu datang sendirian dengan bola plastik murahan di antara derap langkahnya. Bola itu sudah kempis di satu sisi, tapi dirinya tetap menggiringnya dengan kaki yang silih berganti kanan dan kiri, seolah dia sedang bermain di final turnamen.
Gerakannya tidak rapi. Bukan seperti anak akademi yang sudah dilatih sejak kecil. Namun ada sesuatu di ritmenya, sebuah keluwesan alami yang tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata.
Xiao Han membuka sistem pelan-pelan.
[ Talent Eye ]
Layar biru keemasan muncul di ujung pandangannya.
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
...Nama: Jiang Tao...
...Kelas: 7...
...Posisi: ? (Belum Terdefinisi)...
...Rating: B+...
...Speed: 90...
...Shooting: 55...
...Dribbling: 70...
...Stamina: 85...
...Teamwork: 20...
...Talent: Kecepatan Eksplosif, Insting Bertahan Buruk...
...Potential: A-...
...Growth Rate: B...
...Catatan Sistem: Bakat mentah dengan tingkat disiplin sangat rendah....
...Risiko tinggi untuk masalah perilaku....
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
Xiao Han menelan ludah. [ Speed 90 ] dan [ Stamina 85 ]. Angka itu sudah setara dengan pemain SMA rata-rata, tapi sistem menunjukan sesuai statistik di atas standar murid SMP seusianya. Tapi [ Teamwork 20 ] nominal paling rendah yang pernah ia lihat. Lebih rendah dari Hu Tao yang baru belajar menjadi kiper.
Dia tidak pernah bermain dalam tim, pikir Xiao Han. Atau pernah, tapi tidak pernah mau bekerja sama?
Anak itu—Jiang Tao—berhenti menggiring bola. Ia menatap Xiao Han dengan tatapan yang sama seperti di kelas tadi. Tajam terasah. Mengukur mangsa.
“Kau dari tadi nontonin aku,” katanya. Tak ada nada hormat, tak ada kecanggungan sama sekali. Hanya pernyataan fakta sekali ucap tanpa ragu-ragu.
Xiao Han tersenyum. “Kau sadar?”
“Aku sadar semuanya.”
“Termasuk guru matematika yang dari tadi mengantuk di depan kelas pas sedang menjelaskan?”
Jiang Tao tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit hampir kepada senyuman.
“Kau bermain bagus,” lanjut Xiao Han. “Tapi kenapa sendirian? Ke mana teman-temanmu?”
“Tidak perlu teman.” Jiang Tao menyentuh bola dengan ujung sepatunya. “Mereka lambat. Aku cepat. Mereka kalau bawa bola, pasti direbut. Lebih baik aku sendiri.”
“Hmm ... sepak bola bukan olahraga sendiri.”
“Kata siapa?” Jiang Tao menendang bola ke gawang. Bola melambung tinggi, melewati mistar, jatuh di belakang lapangan. Ia tidak ambil pusing. “Aku lihat di TV. Pemain bagus selalu bawa bola sendirian, melewati banyak orang, lalu gol. Itu yang keren.”
“Itu yang kelihatan keren.” Xiao Han berjalan perlahan mengambil bola. Kakinya gemetar, tapi dia tidak menunjukkan. “Tapi tanpa umpan, tanpa teman, kau hanya bisa lari sendiri sampai bola direbut.”
Xiao Han mengembalikan bola ke Jiang Tao. “Coba. Lewati aku, dan buatlah gol jika mampu.”
Jiang Tao menatapnya. “Kau pakai alat penopang di kaki. Aku tidak mau menang karena orang cacat.”
Ding!
Anak ini!!!
Walau menggunakan training panjang, tapi dia tahu, alat penopang di betisnya itu.
Apa ada gosip tentangku di sekolah ini?
Xiao Han merasakan darahnya naik. Bukan marah yang pasti, tapi kepada sesuatu yang menusuk. Orang cacat katanya, yang selama ini dirinya hindari, yang ibunya larang memvonisnya seperti itu, yang Shen Yuexi tolak kelemahannya.
Xiao Han mengambil napas. Berjalanlah seperti kau punya tujuan.
“Coba dulu,” katanya lagi, suaranya lebih tenang dari yang dia rasakan.
Jiang Tao mengangkat bahunya. Dia menggiring bola dengan santai, tidak terburu-buru. Mendekati Xiao Han dengan kecepatan yang hanya setengah—Dash!—dalam sekejap memotong ke kanan.
Xiao Han sudah membaca gerakan itu. Dari cara bahu Jiang Tao turun setengah detik sebelum kakinya bergerak. Dia bergeser ke kanan, memotong jalur dribel.
Tapi Jiang Tao tidak bergerak ke kanan.
Dia berhenti. Bola ditahan di kaki kiri bagian dalamnya, berpindah dari sisi kanan—Whoossh—tubuhnya berputar penuh, dan dalam satu gerakan ia sudah berada di sisi kiri Xiao Han.
Jing Tao melewatinya bersih tanpa menyentuh lawannya. Dirinya menendang bola ke gawang lebih rendah, tapi tetap melebar. Namun, tidak gol. Tapi itu bukan masalah. Yang penting, baginya sudah melewati Xiao Han. “Lihat? Aku cepat. Kau tidak—”
“Kau ... tidak melihat ke mana arah bola setelah melewatiku?” potong Xiao Han, masih berdiri di tempat yang sama, tidak berusaha mengejar. “Bola itu ke mana?”
Jiang Tao menoleh ke belakang. Bola sudah berhenti di dekat tiang gawang. Tak ada yang mengejarnya. Tak ada yang meneruskannya.
“Kalau ada teman,” kata Xiao Han pelan. “Di saat dirimu melewatiku, temanmu akan lari ke sisi kanan. Lalu kau hanya tinggal memberi umpan, temanmu menembak. Kau tak perlu berlari sampai ke gawang. Kau tak perlu menembak sendirian.”
Jiang Tao terdiam. Kelopaknya mengendur sayu. Ada sesuatu yang bergerak di sana, sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Aku tidak punya teman yang bisa mengimbangiku,” katanya akhirnya, suaranya lebih kecil.
“Kau punya sekarang.” Xiao Han mengambil bola, berjalan pincang ke arah Jiang Tao. Dirinya meletakkan bola di kaki bocah itu. “Latihan ekskul sepak bola setiap hari jam 2. Aku di sana. Ada anak-anak lain yang juga ingin belajar.”
“Aku tidak butuh—”
“Kau butuh,” potong Xiao Han. “Bukan karena aku bilang kau lemah. Tapi karena kau tadi gagal menendang bola ke gawang kosong. Kau menendang ke arahku, tapi melebar. Kenapa?”
Jiang Tao membeku.
“Karena kau tidak berusaha mencetak gol,” lanjut Xiao Han. “Kau hanya ingin menunjukkan kau bisa melewati aku. Itu bukan sepak bola. Itu …” Ada jeda yang panjang dari nada bicaranya, dia memilih kata. “Itu lari dari sesuatu.”
Jiang Tao senyap, tidak mampu bicara, dia mengambil bola, memutarnya di ujung jari, sebuah kebiasaan yang menunjukkan ia sudah lama memegang bola.
“Aku lihat nanti,” katanya akhirnya. “Kalau aku datang, aku akan datang. Kalau tidak, ya sudah.”
Jiang Tao berjalan pergi, tidak terburu-buru, tapi juga tidak melambat. Bola berputar di tangannya, tapi kepala menunduk.
Xiao Han mematung di lapangan, merasakan sakit di kakinya yang mulai berdenyut. “Aduhhh ...”
Tapi batinnya berkata.
Dia akan datang.
Orang yang bilang 'aku lihat nanti' dan 'aku tidak butuh', justru mereka yang paling butuh cepat-cepat.
Terkadang, wajah yang tenang dapat menipu dunia dan penghuninya. Seakan, dia berkata 'aku baik-baik saja'. Tapi, senyap yang tidak berteriak itu ... adalah perasaan yang tak pernah diketahui oleh semesta dan seisinya.
Mulut bisa saja berbohong, tapi wajah yang bosan dengan kesendirian lebih jujur dari bahasa manapun.