NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: uutami

"Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?"
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

“Mas, tadi Ning ditanyain Bu Siti…” suara Ning terdengar pelan begitu Yuda baru saja menutup pintu kontrakan.

Yuda yang sedang melepas jam tangannya refleks menoleh. “Ditanyain apa?”

Ning berjalan pelan mendekat, kruknya berbunyi pelan di lantai. “Katanya rumah kita sering ada tamu. Kadang subuh, kadang malam. Ning sampai bingung, soalnya Ning enggak pernah lihat siapa-siapa.”

Jantung Yuda berdegup lebih cepat. Sekejap wajahnya berubah, alisnya terangkat, tangannya berhenti bergerak. Dalam kepalanya, bayangan pelayan khusus yang datang silih berganti untuk membersihkan rumah dan memastikan Ning aman berkelebat cepat.

“Oh… itu,” katanya sedikit terlalu cepat, lalu terkekeh kecil, pura-pura santai. “Itu... Teman-teman komunitas Mas di ojek. Mereka memang suka kemari kok.”

Ning menatapnya beberapa detik, seolah menimbang-nimbang. “Subuh-subuh? Ning kok enggak tau ya.”

Yuda mengusap tengkuknya, berpura-pura berpikir. “Iya, itu... Kayaknya pas ini deh. pinjem duit. Kamu lagi tidur. Mas enggak enak mau bangunin kamu.”

Pipi Ning bersemu merah, "Itu kan karena mas minta abis subuhan..."

Yuda terkekeh kecil. "Dingin dek. Jadi ya..." yuda melirik sambil menggaruk rambut belakang. "Udahlah enggak usah dipikir yang itu.."

Ning tersenyum tipis. “Ning kepikiran karena bu Siti tanya. Ning aja enggak tau, tapi tetangga malah tau.”

"Tetangga rese tuh, kepo banget."

Ning tertawa seraya memukul lengan suaminya pelan. Begitu saja, tak ada lagi yang di bahas. Dan Yuda menghembuskan napas lega dalam diam. Ia mendekat, meraih tangan Ning. “Kalau nanti tetangga tanyain lagi, bilang aja teman ojek mas gitu. Teman mas kan banyak dimana.”

Ning mengangguk pelan. “Iya, Mas. Ning percaya sama Mas.”

Kalimat itu seperti menampar dan menenangkan Yuda sekaligus. Ia tersenyum, tapi dalam hati bertekad, aku harus lebih hati-hati. "Sialan Bu Siti. Harus diapain dia? Lama-lama malah bocor juga dia..."

****

Malam itu, saat mereka duduk berdampingan di sofa, Yuda tiba-tiba berkata, “Ning, besok Mas mau ajak kamu ke dokter.”

Ning langsung menoleh. “Dokter? Buat apa?”

“Periksa kaki kamu.”

Ning menghela napas pelan, bahunya sedikit turun. “Mas… buat apa? Dari dulu juga hasilnya sama. susah disembuhin. Mending duitnya buat yang lain.”

Yuda menatapnya serius. “Itu dulu. Sekarang teknologinya beda. Dokter juga beda dari yang kemarin. Lagian, enggak ada mending-mendingan. Yang bener, kakimu dibawa ke dokter.”

Ning terdiam. Ada lelah di matanya. “Ke dokter butuh biaya enggak sedikit, Mas.”

Yuda menggenggam tangannya lebih erat. “Enggak. Sekarang ada layanan dari pemerintah yang lebih murah, gratis malah. Di pangkalan, Mas ada kenalan dokter, waktu mas cerita kaki kamu, dia tertarik banget. Kebetulan, dia lagi butuh pasien buat praktek.”

Keheningan menggantung beberapa detik.

"Gratis kata nya."

Diam lagi, lalu Ning mengangguk pelan. “Ya sudah. Kalau Mas mau, Ning ikut.”

Senyum Yuda merekah. “Terima kasih.”

***

Esok paginya.

Rumah sakit itu besar dan terang. Ning harus menjalani berbagai pemeriksaan: rontgen, MRI, hingga konsultasi dengan dokter ortopedi senior. Yuda setia duduk di sampingnya, tak sekalipun meninggalkannya.

Setelah hampir seharian, dokter menutup map di tangannya. “Kondisi kaki Ibu Ning memang mengalami kerusakan saraf dan tulang akibat kecelakaan dulu. Tapi… masih ada harapan.”

Ning menegang. “Harapan?”

“Dengan operasi bertahap dan terapi intensif, peluang untuk membaik cukup besar. Tidak instan, tapi bukan mustahil.”

Mata Ning berkaca-kaca. Ia menoleh ke Yuda yang tersenyum lebar, matanya penuh keyakinan.

“Kita jalani,” kata Yuda tegas.

Ning mengangguk, air matanya jatuh tanpa suara. Setelah dua tahun, harapan itu terasa nyata.

*****

Di tempat lain, Dewi menangis histeris di hadapan Bu Sumi.

“Mas Ridho jahat, Bu! Dia enggak percaya sama aku. Harusnya ini kabar bahagia!” ratap Dewi sambil memeluk bantal.

Bu Sumi mengusap dada, kesal bercampur khawatir. “Ya Allah… kok bisa begitu. Kamu itu istrinya. Kehamilan pertama ini, dia harusnya bahagia.”

"Enggak tau, buk. Mas Ridho udah berubah."

Bu Sumi mengepalkan tangan, "Kenapa dia bisa berubah?"

“Itu semua karena Ning!” Dewi mendongak. “Sejak ketemu dia, Mas Ridho berubah!”

Bu Sumi langsung berdiri. “Apa? Ning? Anak itu lagi. Padahal dia udah nikah sama tukang ojek. Masih aja mau ganggu kebahagiaan kamu!"

Dewi menangis semakin mendramatisir.

"Ibu enggak akan diam saja. Ibu mau ngomong sama Bu Pur,” katanya. "Setelah ini, kita selesaikan urusan sama perempuan nakal itu!"

Di rumah Bu Pur, suasana jauh lebih tenang. Bu Pur menyuguhkan teh hangat sambil mendengarkan cerita Bu Sumi yang menggebu-gebu.

"Ibu besan udah dengar kalau Dewi hamil?"

"hamil?"

"iya!" ucap Bu Sumi menggebu seraya menunjukan tespack Dewi.

Bu Pur hanya diam, datar saja.

"Dewi hamil anak Ridho! Cucu kita! Tapi, apa reaksi Ridho?" bu Sumi makin menggebu. “Bu Pur harus bicara sama Ridho. Masa istrinya hamil malah dicurigai.”

Bu Pur mengangguk pelan. “Kenapa Ridho sampai curiga? Apa yang bikin Ridho curiga? Apa yang dewi lakukan?”

“Loh, kok malah ke Dewi sih?” suara Bu Sumi meninggi. “Yang bermasalah itu Ridho! Ridho begitu habis ketemu sama Si anak pelakor itu! Ning!”

Bu Pur tersenyum tipis. “Loh bukannya itu anak ibu juga?”

"Bukan!" bu sumi mendelik, "Dia bukan anak ku, cuma anak haram yang terpaksa aku tampung karena suami! Dia cuma bawa sial aja! Buktinya sekarang! Gara-gara dia, Ridho enggak percaya lagi sama istrinya. Ibu besam harus ambil tindakan!"

Bu Pur sebenarnya malas menanggapi, tapi sudalah, dia dengarkan saja.

Suara mobil berhenti terdengar di garasi rumahnya.

"Itu... Suara mobil Mas Ridho," kata Dewi.

Tak lama, Ridho masuk. Wajahnya lelah, tapi sorot matanya dingin.

Begitu masuk, ia langsung dicecar.

“Ridho, kamu kenapa ke Dewi?” tanya Bu Sumi tajam.

“Ibu dengar Dewi hamil anakmu,” sambung Bu Pur. "Benar? Kamu enggak kasih tau ibu."

Ridho meletakkan kunci, lalu menatap mereka satu per satu. “Kata Dewi begitu. Dia hamil.”

Dewi tersentak. “Mas… Aku memang hamil.”

“Kalau begitu,” kata Ridho datar. “Ayo USG sekarang. Ibu berdua sekalian, ikut saja. Biar jelas kondisi bayinya.”

Bu Sumi tampak lega. “Nah, itu baru benar.”

Bu Pur mengangguk setuju.

Hanya Dewi yang pucat. Tangannya mengepal, jantungnya berdegup tak karuan. Ia tahu, itu bukan ajakan tulus. Itu jebakan.

Ridho menatapnya lama, tatapan yang membuat Dewi takut.

1
febby fadila
ini ni orang yg kaya dewi calon RSJ 🤣🤣🤣
febby fadila
maaf ya dewi ijin untuk 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
lagian playing victim banget, untung nggak buat kamu cacat sekalian 🤣🤣🤣
febby fadila
seharusnya bukan cuaman dewi aja yg dikasih pelajaran sekalian aja tu sama emaknya yg sok berkuasa itu
febby fadila
dia yg bodoh malah mau jadikan ning kambing hitam dlm obsesinya masih untung yuda nggak masukin kamu di penjara dewi, cuman mau kamu nyium aspal aja 🤣🤣🤣
febby fadila
aku senang kamu talak dewi tp ingat jangan coba² kamu mengusik rumah tangganya ning sama yuda, ridho, apalagi mak lampir dewi ini
febby fadila
kejujuran membawa retakan dlm rumah tangga, ini bisa jadi pelajaran buat kamu ning biar kamu juga menghargai perasaan yuda, bukalah hatimu untuk yuda suamimu
febby fadila
ayo jujur ning bilang kamu sdah cinta sama yuda, lagian si ridho bukan ngurusin isteinya yg gila itu malah sibuk ngapelin ning istri orang
febby fadila
dewi harusnya dimasukin RSJ bahaya klw berkeliaran dijalan 🤣🤣🤣
febby fadila
klw mau bhong tu yg pintar dewi jangan setenga² 🤣🤣🤣 kicep kan tu muka
febby fadila
mampos kau dewi makanya jadi orang jangan manupulatif dong
Hilmiya Kasinji
ijin baca kak
febby fadila
diihhh mau /Puke/ lihat kelakuannya dewi nggak tau malu banget sii, dewi terkesan nggak laku bgt 🤣🤣🤣
febby fadila
ayo ning buka hatimu untuk suami kamu yudha, kasihan yudha udah baik banget sama kamu tu
febby fadila
makanya jangan sok cantik, berpendidikan tp otak udang, ini lagi si ridho ngapain cari ning urus aja ti rumah tanggamu
febby fadila
ayo ning jujur sama suami biar nggak ada salah paham
febby fadila
kutunggu reaksimu ridho waktu kamu udah ingat kembali
febby fadila
udah ridho nikmati aja pernikahanmu sama maklampir itu 🤣🤣
febby fadila
tu bu sumi punya anak perempuan tu cuman jd pajangan doang 🤣🤣🤣 yg susah kamu sendiri
febby fadila
jelas bu sumi itu egois mana mau dikeluarkan uang
febby fadila
sampai ingatan ridho kembali auto dewi dijandakan ni 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!