NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Gelar sering kali dianggap sebagai sebuah pencapaian, sebuah label yang disematkan agar orang lain tahu di mana posisi kita harus diletakkan dalam tatanan dunia. Namun, bagi mereka yang memahaminya lebih dalam, gelar sebenarnya hanyalah sebuah beban yang disamarkan dengan kata-kata indah. Ia seperti pakaian yang terlalu ketat; terlihat gagah dari kejauhan, namun membuat pemakainya sesak napas di setiap detik yang berlalu. Kehilangan gelar sering dianggap sebagai sebuah keruntuhan, padahal bagi Arlo Valerius, kehilangan itu adalah satu-satunya cara untuk menyadari bahwa kulitnya masih bisa merasakan dinginnya angin tanpa perlu izin dari protokol kerajaan.

Arlo duduk bersandar pada dinding batu Menara Barat yang kasar. Ia tidak lagi mengenakan jubah beludru biru tuanya yang tadi siang ia seret di lantai katedral. Jubah itu kini tergeletak di sudut ruangan seperti bangkai binatang yang tidak lagi berharga. Arlo hanya mengenakan kemeja putih yang kancingnya sudah lepas hampir separuh, memperlihatkan dadanya yang naik turun dengan teratur. Tangannya yang lecet karena menggosok lantai tempo hari kini kembali memerah karena cengkeraman kasar para pengawal saat menyeretnya ke sini.

Ia menatap langit-langit menara yang dipenuhi sarang laba-laba. Sunyi. Menara ini selalu menawarkan kesunyian yang sama, namun kali ini, kesunyian itu tidak lagi terasa seperti ancaman. Arlo meraba saku celananya, mencari koin perunggu pemberian Kalea. Koin itu dingin, namun saat Arlo menggenggamnya, ada kehangatan yang merambat ke seluruh lengannya. Koin ini adalah bukti bahwa di luar sana, ada dunia yang tidak membutuhkan dekrit, tidak membutuhkan aliansi, dan tidak membutuhkan mahkota untuk menghargai sebuah nyawa.

Suara langkah kaki yang berat dan berirama kembali terdengar dari balik pintu besi. Arlo tidak perlu menebak siapa yang datang. Getaran langkah itu terlalu akrab; langkah kaki seorang pria yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk membangun dinding, dan kini harus menyaksikan salah satu dinding terkuatnya mulai retak karena ulah anaknya sendiri.

Klek. Srak. Braak.

Pintu besi itu terbuka dengan kasar, menghantam dinding batu di belakangnya hingga menciptakan debu halus yang berterbangan. Raja Valerius masuk. Wajahnya tidak merah karena marah; wajahnya pucat pasi, jenis kemarahan yang sudah melewati titik didih dan berubah menjadi kebencian yang dingin. Ia mengenakan pakaian kebesarannya, namun mahkotanya tidak ada di kepalanya—sebuah pemandangan langka yang menunjukkan betapa kacaunya situasi di istana saat ini.

Arlo tetap duduk di lantai. Ia tidak berdiri, tidak juga membungkuk. Ia hanya menatap ayahnya dengan pandangan hampa.

Raja Valerius melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Arlo. Ia menatap kemeja Arlo yang kotor, lalu menatap jubah beludru di sudut ruangan. "Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan, Arlo? Kau tidak hanya menghancurkan pernikahanmu. Kau menghancurkan fondasi ekonomi Aethelgard yang telah kubangun selama tiga puluh tahun."

Arlo menarik napas panjang, aroma debu dan lembap menara masuk ke paru-parunya. "Saya tidak menghancurkannya, Ayah. Saya hanya mengembalikan apa yang seharusnya bukan milik kita sejak awal. Maklumat tahun 402 itu sah secara hukum. Ayah hanya memilih untuk menguburnya."

Raja Valerius tiba-tiba membungkuk, menyambar kerah kemeja Arlo dan menariknya hingga Arlo terpaksa berdiri dan bersandar keras pada dinding. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Arlo bisa mencium aroma anggur merah dan tembakau dari napas ayahnya.

"Hukum adalah apa yang kukatakan sebagai hukum!" suara Raja rendah, bergetar karena emosi yang tertahan. "Vandellia sudah menarik seluruh pasukannya dari perbatasan utara sore ini. Helena sedang dalam perjalanan pulang dengan kemarahan yang bisa memicu perang dalam hitungan hari. Dan kau... kau memberikan pelabuhan selatan kepada para tukang cat dan pemahat batu itu? Kau gila, Arlo!"

"Saya tidak gila, Ayah. Saya hanya tidak ingin menjadi pencuri yang memakai mahkota," Arlo membalas tatapan ayahnya dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Rakyat di bawah sana mulai membicarakan dekrit itu. Jika Ayah mencoba membatalkannya sekarang, Ayah akan berhadapan dengan pemberontakan dari dalam, bukan hanya dari Vandellia."

Raja Valerius melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Arlo sedikit terhuyung. Pria tua itu berjalan mondar-mandir di ruangan yang sempit, tangannya gemetar. "Kau pikir kau pahlawan? Kau pikir gadis itu akan mencintaimu karena kau menghancurkan hidupmu sendiri? Dia sudah pergi, Arlo! Dia sedang berada di tengah laut, mungkin menertawakan kebodohanmu!"

Arlo menyentuh kerah kemejanya yang kusut. "Dia tidak perlu mencintai saya untuk membuat tindakan saya menjadi benar. Saya melakukannya untuk diri saya sendiri. Agar saya bisa tidur tanpa perlu merasa berhutang nyawa pada setiap retakan dinding yang saya lihat."

Raja berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah jendela menara, menatap kegelapan di luar. "Aku akan mencabut gelarmu secara resmi besok pagi. Kau tidak akan lagi menjadi Putra Mahkota. Kau akan menjadi warga biasa yang tidak memiliki hak atas satu koin pun dari perbendaharaan kerajaan. Aku akan memastikan kau merasakan bagaimana rasanya menjadi orang-orang yang kau bela itu."

"Itu adalah hadiah terbaik yang pernah Ayah berikan pada saya," ucap Arlo lirih.

Raja Valerius menatap putranya dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa kecewa yang mendalam, namun di sudut matanya, ada kilatan ketakutan. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kendali atas Arlo. Arlo telah menemukan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada rasa takut: tujuan hidup.

"Jangan pernah berharap aku akan melepaskanmu dari menara ini dalam waktu dekat," Raja melangkah menuju pintu. "Kau akan tetap di sini sampai aku menemukan cara untuk memperbaiki kekacauan ini. Dan jika Vandellia menyerang... kau akan menjadi orang pertama yang kuserahkan pada mereka untuk dieksekusi."

Pintu besi itu ditutup kembali dengan dentuman yang lebih keras dari sebelumnya. Arlo kembali terjatuh duduk di lantai batu. Ia menyandarkan kepalanya, memejamkan mata.

Kehilangan gelar. Menjadi rakyat biasa. Ancaman eksekusi.

Bagi siapa pun, ini adalah akhir dari segalanya. Tapi bagi Arlo, setiap kata yang diucapkan ayahnya tadi terdengar seperti suara rantai yang putus satu demi satu. Ia merogoh sakunya lagi, memastikan koin perunggu itu masih ada. Koin itu adalah janji bahwa dunianya yang baru baru saja dimulai.

Malam semakin larut di Menara Barat. Arlo berjalan menuju jendela, menatap bintang-bintang yang tampak begitu jernih. Di bawah sana, istana Aethelgard tampak tegang. Ia bisa melihat obor-obor para pengawal yang bergerak lebih cepat dari biasanya. Keributan di aula utama mungkin masih berlangsung, namun di sini, di atas ketinggian, Arlo merasa sangat tenang.

Ia mengambil batu kecil dari lantai, lalu berjalan menuju dinding yang penuh dengan gambar retakan. Ia mencari bagian yang masih kosong. Dengan tangan yang stabil, ia mulai menggoreskan sesuatu yang baru.

Ia tidak lagi menggambar retakan. Ia menggambar sebuah kapal kecil dengan layar yang terkembang.

Setiap goresan batu itu menciptakan suara srek-srek yang konsisten. Arlo fokus pada detail layarnya, membayangkan angin yang meniup kainnya menuju kebebasan. Ia tidak tahu apakah ia akan pernah melihat Kalea lagi. Ia tidak tahu apakah ia akan bertahan hidup dalam beberapa minggu ke depan. Tapi saat ini, ia merasa jauh lebih hidup daripada saat ia berdiri di depan altar dengan sutra perak.

Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan halus di pintu besi menara. Bukan ketukan pengawal. Ketukan itu memiliki pola tertentu.

Ketuk. Ketuk-ketuk. Ketuk.

Arlo menghentikan kegiatannya. Ia mendekati pintu, menempelkan telinganya pada besi yang dingin. "Siapa?"

"Ini aku, Arlo."

Suara itu halus, namun Arlo segera mengenalinya. Itu bukan Cedric. Itu bukan pula suara ayahnya.

Itu suara Putri Helena.

Arlo mengernyitkan dahi. "Apa yang kau lakukan di sini, Helena? Kupikir kau sedang dalam perjalanan pulang ke Vandellia."

"Aku tidak bisa pergi sebelum melihat wajah pria yang berani mempermalukanku di depan seluruh dunia," suara Helena terdengar dari celah kecil di bawah pintu. Tidak ada lagi nada angkuh atau dibuat-buat. Suaranya terdengar hampa, seperti seseorang yang baru saja kehilangan segala yang ia yakini benar.

Arlo menghela napas, ia duduk di depan pintu, memisahkan dirinya dengan Helena hanya lewat lapisan besi tebal. "Pergilah, Helena. Kau tidak akan menemukan kepuasan apa pun di sini."

"Kenapa kau melakukannya, Arlo? Sungguh, jelaskan padaku," Helena berbisik, suaranya bergetar. "Apakah dia benar-benar sepadan dengan semua ini? Dengan tahta, dengan namamu, dengan nyawamu? Aku memberimu segalanya—kekuatan, kecantikan, masa depan yang agung. Dan kau membuangnya demi seorang gadis yang bahkan tidak bisa membedakan jenis anggur?"

"Kau tidak memberiku segalanya, Helena. Kau memberiku penjara yang lebih bagus," jawab Arlo tenang. "Kalea tidak memberiku apa pun kecuali satu hal: dia melihatku sebagai manusia. Dia tidak peduli pada tahtaku, dia justru membencinya. Dan kebenciannya itu jauh lebih jujur daripada semua senyum yang kau berikan padaku."

Hening sejenak di balik pintu. Arlo bisa mendengar suara isak tangis tertahan dari Helena.

"Kau benar-benar kejam, Arlo," bisik Helena. "Kau membuatku merasa seperti boneka yang tidak punya nyawa. Aku menghabiskan seluruh hidupku untuk menjadi sempurna agar kau mau melihatku. Dan sekarang kau bilang kesempurnaan itu adalah penjara?"

"Kesempurnaan adalah kebohongan yang paling rapi, Helena. Dan aku sudah bosan berbohong," Arlo menyandarkan kepalanya pada pintu besi. "Pulanglah ke Vandellia. Cari seseorang yang benar-benar ingin menjadi manekin di sampingmu. Aku bukan orangnya."

"Ayahmu akan membunuhnya jika dia tertangkap, kau tahu itu kan?" suara Helena kembali mengeras, dipenuhi dengan sisa-sisa kemarahan.

"Dia tidak akan tertangkap," ucap Arlo penuh keyakinan.

"Kita lihat saja nanti," Helena berdiri, langkah kakinya terdengar menjauh dari pintu. "Tapi ingat satu hal, Arlo. Jika Vandellia menyerang Aethelgard karena kejadian hari ini, darah rakyat yang kau bela itu akan ada di tanganmu. Itulah harga dari 'kejujuran' yang kau banggakan."

Suara langkah kaki Helena menghilang di koridor. Arlo tetap duduk di depan pintu, menatap bayangannya sendiri yang memanjang di lantai. Perkataan Helena tentang darah rakyat sempat menyengat hatinya, namun ia segera menepisnya. Ia tahu itu adalah taktik manipulasi terakhir. Aliansi itu tidak dibangun untuk rakyat; aliansi itu dibangun untuk ego dua raja.

Arlo kembali ke dindingnya. Ia menyelesaikan gambar kapalnya. Ia menambahkan detail kecil—seorang gadis yang berdiri di geladak, menatap ke depan.

Ia merasa jemarinya kaku karena dingin, namun ia tidak berhenti. Setelah selesai, ia meletakkan batu kecil itu di atas meja. Ia berjalan menuju tempat tidur, membaringkan tubuhnya tanpa melepas sepatu botnya.

Esok hari, dunianya akan benar-benar runtuh. Ayahnya akan mencabut gelarnya. Rakyat akan mulai bergerak. Vandellia mungkin akan mengirim ultimatum. Tapi di tengah semua badai itu, Arlo Valerius merasa memiliki jangkar yang kuat.

Ia bukan lagi pangeran yang sedang melarikan diri. Ia adalah seorang pria yang sedang menunggu saat yang tepat untuk benar-benar pulang.

Arlo memejamkan mata. Di dalam tidurnya, ia tidak lagi bermimpi tentang katedral yang megah atau altar yang dingin. Ia bermimpi tentang debu kapur yang berterbangan di Sayap Utara, tentang suara kuas yang bergesekan dengan batu, dan tentang tangan yang kasar yang kini sedang memegang kemudi kapal menuju sebuah daratan yang tidak memiliki nama.

Retakan itu kini telah menjadi pintu yang terbuka lebar. Dan Arlo siap untuk melangkah melaluinya, apa pun harganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!