"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
"Halo, Pembaca Setia! Apa kabar hati kalian hari ini? Setelah melihat Bima bersulang di atas luka, kini saatnya kita menyaksikan bagaimana sebuah tangan yang biasa memakai perhiasan mahal mulai menyentuh sapu dan adonan tepung. Di episode ini, Hana akan membuktikan bahwa kemiskinan jauh lebih terhormat daripada kemewahan yang merendahkan harga diri. Mari kita temani perjuangan pertama Hana!"
.
.
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah-celah dinding kayu rumah panggung yang sudah mulai lapuk. Hana terbangun dengan tubuh yang kaku dan rasa nyeri yang menjalar di punggungnya.
Alas tidur berupa tikar pandan tipis dan kain sarung tua milik almarhumah neneknya tak mampu meredam dinginnya lantai papan yang menusuk tulang.
Namun, belum sempat ia mengumpulkan nyawa, sebuah gelombang mual yang hebat menghantam dadanya.
"Uekkk..."
Hana menutup mulutnya rapat-rapat, berlari terhuyung menuju pintu belakang. Ia membungkuk di atas sumur tua, memuntahkan cairan bening karena perutnya memang kosong sejak semalam.
Wajahnya pucat pasi, peluh dingin membasahi pelipisnya. Morning sickness di trimester ketiga ini terasa jauh lebih menyiksa daripada bulan-bulan awal, mungkin karena beban pikiran yang ikut menindihnya.
Setelah rasa mual itu sedikit mereda, Hana membasuh wajahnya dengan air sumur yang sedingin es. Ia menatap pantulan dirinya di permukaan air yang bergoyang. Lingkaran hitam di bawah mata, pipi yang mulai tirus, dan rambut yang kusam.
"Tidak apa-apa, Hana. Kamu masih hidup. Anakmu masih berdetak," bisiknya menguatkan diri.
Hana kembali ke dalam rumah. Ia melihat sekeliling, sarang laba-laba bergelantungan di sudut langit-langit, dan debu tebal menutupi meja kayu tempat neneknya dulu sering merajut.
Rumah ini adalah satu-satunya harta yang tidak bisa disentuh oleh pengacara Bima karena statusnya adalah warisan garis ibu.
Dengan perlahan, Hana mengambil kain perca tua. Ia mulai menyapu, mengepel, dan menggosok setiap sudut ruangan. Setiap gerakan tangannya membuat perutnya terasa kencang, namun ia tidak berhenti. Ia harus membuat tempat ini layak untuk kelahiran bayinya.
Di tengah kegiatannya, ia menemukan sebuah kotak kaleng bekas biskuit di bawah dipan. Saat dibuka, isinya adalah kumpulan resep kue tradisional tulisan tangan neneknya.
Hana membelai kertas-kertas kekuningan itu. Ingatannya kembali ke masa kecil, saat aroma harum kue talam dan bolu kukus memenuhi rumah ini.
"Mungkin ini jalannya, Nak," gumam Hana.
Ia memeriksa sisa uang di dompetnya. Setelah membayar rumah sakit dan ongkos kereta, uangnya hanya tersisa tak lebih dari lima ratus ribu rupiah. Ia harus memutar otak. Jika uang ini habis untuk makan saja, dalam dua minggu ia akan menjadi gelandangan.
Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, Hana sudah berada di pasar tradisional kota kecil tersebut. Ia mengenakan kerudung lebar untuk menutupi wajahnya yang masih kuyu.
Di tangannya, ia menjinjing nampan plastik berisi dua puluh potong kue talam pandan dan sepuluh bungkus nasi jagung sederhana yang ia buat sejak pukul tiga pagi.
Suasana pasar sangat riuh. Bau amis ikan, aroma rempah, dan teriakan para pedagang saling bersahutan. Hana merasa sangat asing. Dulu, ia ke pasar swalayan dengan AC dingin, memilih buah impor yang sudah dikemas rapi.
Sekarang, ia harus berdiri di sudut gang pasar yang becek, berharap ada orang yang menoleh pada dagangannya.
"Kue, Bu? Nasi jagungnya, Pak?" suara Hana tertelan kebisingan pasar.
Satu jam berlalu, belum ada satu pun kuenya yang terjual. Kakinya mulai membengkak karena berdiri terlalu lama. Perutnya mulai terasa berat, dan janinnya menendang-nendang seolah ikut protes dengan keadaan ini.
"Hey, Mbak baru ya? Jangan jualan di sini, ini lapak saya!" seorang wanita paruh baya bertubuh gempal membentak Hana sambil mengacungkan pisau pemotong sayur.
Hana tersentak mundur. "Maaf, Bu. Saya tidak tahu. Saya hanya cari sedikit uang untuk makan."
"Cari makan ya cari makan, tapi jangan ambil lahan orang! Pergi sana ke dekat parkiran!"
Hana mengangguk patuh, matanya berkaca-kaca. Ia menyeret langkahnya ke area parkiran yang lebih panas dan berdebu. Ia duduk di atas kursi plastik pecah yang ia temukan di tempat sampah. Rasa haus mencekik tenggorokannya, tapi ia menahan diri untuk tidak membeli minum demi menghemat uang.
"Kuenya satu, Mbak."
Hana mendongak. Seorang bapak tua tukang becak berdiri di depannya sambil menyodorkan uang logam ribuan. Hana dengan tangan gemetar membungkus kue talamnya.
"Terima kasih, Pak," ucap Hana tulus.
Bapak itu memperhatikan perut Hana yang buncit. "Lagi hamil toh, Mbak? Suaminya mana? Kok dibiarkan jualan panas-panas begini?"
Pertanyaan sederhana itu bagaikan sembilu. Hana memaksakan sebuah senyum kecil. "Suami saya... sudah di tempat yang jauh, Pak."
"Oh, sudah meninggal ya? Kasihan. Sabar ya, Mbak. Anak itu bawa rezeki sendiri," ucap bapak itu sembari berlalu.
Hana tertegun. Meninggal. Ya, bagi Hana, Bima memang sudah mati sejak talak itu terucap. Kalimat bapak tukang becak itu anehnya memberikan sedikit kekuatan. Hingga pasar mulai sepi pukul sepuluh pagi, Hana berhasil menjual setengah dari dagangannya.
Untungnya tidak banyak, mungkin hanya cukup untuk membeli telur dan sedikit beras, tapi bagi Hana, uang itu jauh lebih berharga daripada semua nafkah yang pernah Bima berikan dengan sombongnya.
~~
Sore harinya, saat Hana sedang merebahkan diri di rumah tua yang kini sudah bersih, ia menyalakan ponselnya sejenak. Ia melihat satu pesan dari dr. Adrian yang belum ia balas.
"Mbak Hana, jika Anda butuh bantuan medis atau sekadar teman bicara, jangan sungkan beritahu saya."
Hana mengetik balasan singkat. "Terima kasih, Dok. Saya sudah berada di tempat yang aman."
Setelah mengirim pesan itu, Hana segera mematikan ponselnya kembali. Ia tidak ingin terlacak. Ia tidak ingin Bima tahu ia sedang berjuang di sini.
Namun, di Jakarta, Bima mulai merasa ada yang aneh. Seharusnya, Hana sudah meneleponnya sekarang. Seharusnya, Hana sudah menangis di depan pintu apartemen karena kehabisan uang.
Bima duduk di meja makannya, menatap perhiasan yang masih teronggok di sana. Clarissa sedang sibuk mencoba kalung berlian milik Hana di depan cermin, mengeluh karena pengaitnya sedikit longgar.
"Bim, kenapa mukamu ditekuk terus? Katanya senang sudah bebas?" tanya Clarissa manja.
Bima tidak menjawab. Ia menatap cincin kawin Hana yang tempo hari ia lempar ke sudut ruangan. Ia baru saja menyadari sesuatu, Hana adalah wanita yang keras kepala. Jika sampai hari ketiga dia belum kembali, apakah itu artinya dia benar-benar tidak akan pernah kembali?
"Cuma masalah waktu, Clar. Dia itu wanita lemah yang sedang hamil. Tanpa kartu kreditku, dia tidak bisa beli apapun, bahkan sebotol air mineral sekalipun," gumam Bima, lebih kepada meyakinkan dirinya sendiri daripada menjawab Clarissa.
Bima tidak tahu bahwa saat itu, di sebuah desa terpencil, Hana sedang memakan sepiring nasi dengan garam dan telur dadar hasil keringatnya sendiri. Sederhana, namun terasa sangat nikmat karena tidak ada rasa hinaan di setiap suapannya.
Hana menatap perutnya yang menegang. "Lihat, Nak? Kita bisa. Tanpa ayahmu, kita tetap bisa makan."
Akankah usaha kue Hana berkembang, ataukah tantangan di desa akan lebih berat dari yang ia bayangkan? Dan kapan Bima akan mulai merasa kehilangan yang sesungguhnya?
Jangan lewatkan kelanjutannya!
...----------------...
**To Be Continue**....