NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

“Saya pasti akan berusaha menyelamatkan nyawa ayah anda, tapi untuk sekarang, saya mohon anda semua keluar dulu,” kata dokter dengan nada yang tidak bisa dibantah. “Kami harus fokus menangani kondisi pasien.”

Arsy menggeleng keras. Tangannya mencengkeram selimut ayahnya.

“Enggak dok, jangan suruh saya keluar,” pinta Arsy dengan panik. “Saya mohon—”

“Arsy,” panggil Syakil dengan pelan tapi tegas. Ia sudah berdiri di belakang Arsy. Tangannya menyentuh bahu Arsy dengan lembut namun mantap. “Tolong dengarkan ucapan dokter.”

Arsy menoleh. Matanya merah, basah, dan penuh ketakutan.

“Tapi ayahku…” suaranya pecah.

“Kita keluar dulu,” lanjut Syakil pelan. “Biar mereka bisa menyelamatkan ayahmu.”

Dokter mengangguk cepat.

"Saya mohon tolong semuanya tunggu diluar, kami butuh ruang untuk memeriksa kondisi pasien. Percayalah pada kami.”

Dengan langkah yang berat, Arsy akhirnya berdiri. Ia menatap ayahnya sekali lagi. Pak Rahman membuka matanya sedikit, menatap putrinya dengan pandangan yang begitu lemah namun penuh cinta.

“Arsy…” suaranya nyaris tak terdengar.

“Ayah, Arsy di sini,” Arsy terisak. “Ayah yang kuat ya, tolong bertahanlah demi Arsy.”

Suster sudah mendorong Arsy perlahan ke arah pintu. Syakil langsung memeluk bahu Arsy dan membawanya keluar dari ruang IGD. Pintu kaca itu tertutup dengan bunyi yang terdengar terlalu keras di telinga Arsy. Dan sejak saat itu, dunia Arsy terasa seperti berhenti berputar. Di dalam ruang IGD, suasana berubah menjadi tegang. Monitor jantung berbunyi nyaring, garis di layar melonjak dan jatuh tidak beraturan.

“Siapkan defibrillator sekarang!” perintah dokter dengan cepat.

“Defibrillator siap!” jawab suster dengan sigap.

Tubuh Pak Rahman terbaring tak berdaya. Dadanya naik turun dengan susah payah. Dokter menempelkan alat kejut jantung ke dadanya.

“Satu, dua, kejut.”

Semua orang mundur. Tubuh Pak Rahman terangkat sedikit akibat sengatan listrik. Grafik di monitor melonjak sesaat, lalu kembali turun.

“Keadaan pasien masih belum stabil, suster.” gumam dokter. “Charge ulang defibrillator ke daya 200 joule.”

Di luar ruang IGD, Arsy terduduk di kursi lorong. Tangannya gemetar hebat. Ia menutup wajahnya, bahunya bergetar menahan tangis yang tak lagi bisa ia sembunyikan.

“Ya Allah…” isaknya lirih. “Tolong jangan ambil ayahku sekarang, aku mohon jangan.”

Syakil yang duduk di sampingnya, tanpa ragu langsung menarik Arsy ke dalam pelukannya. Ia membiarkan Arsy menangis di dadanya, membiarkan bahunya basah oleh air mata perempuan itu.

“Kuatkan diri kamu Arsy,” bisiknya berulang kali. “Aku di sini. Kamu nggak sendirian.”

Arsy mencengkeram kemeja Syakil seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan di dunia ini.

“Ini salahku…” katanya terisak. “Kalau Radit nggak datang, kalau aku bisa lebih cepat…”

“Ini bukan salah kamu, Arsy.” potong Syakil dengan tegas. “Dengarkan aku. Ini bukan salah kamu, Arsy. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri.”

Di balik pintu kaca, Arsy bisa melihat bayangan dokter dan suster yang bergerak cepat. Suara monitor jantung terdengar menembus dinding, menusuk telinga dan hatinya.

“Satu, dua, kejut."

Arsy menjerit pelan dan mencengkeram Syakil lebih kuat.

“Jangan tinggalin Arsy sekarang, ayah.” Isak Arsy dengan lirih dan membuat Syakil mengusap punggung Arsy dengan gerakan pelan sembari mencoba menenangkannya.

“Arsy kamu dengerin aku,” ucapnya lembut. “Kita harus percaya kalau pak Rahman akan bisa melewati semua ini dengan kuat, dia pasti bisa melewati ini semua.”

Arsy mencoba untuk yakin dengan perkataan Syakil, namun napasnya tersengal, dadanya terasa sesak.

“Aku takut Syakil," bisiknya. “Aku belum siap kehilangan ayah…”

Syakil menunduk sedikit, keningnya menyentuh pelipis Arsy.

“Kamu nggak akan sendirian,” katanya pelan. “Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada buat kamu.”

Di dalam ruang IGD, dokter kembali mengecek monitor jantung pak Rahman.

“Dokter, ada respon dari pasien,” ucap suster dengan cepat. “Denyut jantung pasien mulai kembali.”

Grafik di layar perlahan menunjukkan garis yang lebih stabil, meski masih lemah.

“Alhamdulillah,” gumam dokter. Namun dokter belum terlihat lega. Ia tetap fokus, memasang masker oksigen dan memeriksa tekanan darah pak Rahman.

“Kondisi pasien masih kritis, suster.” katanya tegas. “Kita harus memantau kondisinya secara intensif. Jangan lengah.”

Pak Rahman membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur. Napasnya berat. Dadanya terasa nyeri, seolah setiap tarikan napas adalah perjuangan. Ia menoleh sedikit, seolah mencari sesuatu.

“Dokter…” suaranya lirih, nyaris hanya hembusan napas dan membuat dokter langsung mendekat.

“Pak Rahman, kami di sini. Bapak tenang dulu, ya.”

Pak Rahman menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca.

“Tolong…” katanya lemah. “Panggil… anak saya…”

Dokter terdiam sejenak.

“Dan…” Pak Rahman menelan ludah dengan susah payah. “Panggil… Syakil kemari…”

Suster menatap dokter dengan ragu.

“Dokter?” bisiknya.

Dokter menarik napas panjang. Ia tahu kondisi pasien ini belum aman, tapi juga tahu ada hal-hal yang lebih besar dari prosedur medis.

“Panggil mereka,” katanya akhirnya. “Cepat.”

Suster mengangguk dan segera berlari keluar ruang IGD. Pintu kaca terbuka. Arsy yang masih terisak di pelukan Syakil langsung berdiri begitu melihat suster keluar dengan wajah serius.

“Suster?” suaranya gemetar. “Ayah saya gimana?”

Suster itu menatap Arsy dengan lembut namun terburu-buru.

“Mbak Arsy,” katanya pelan tapi jelas. “Dokter meminta mbak Arsy dan Pak Syakil masuk sekarang. Ayah mbak ingin bertemu.”

Arsy membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

“Sekarang sus?” tanyanya lirih dan membuat suster mengangguk.

Syakil langsung berdiri dan menggenggam tangan Arsy dengan erat.

“Ayo,” ucapnya pelan. “Aku temani.”

Langkah Arsy terasa goyah saat ia kembali masuk ke ruang IGD. Tangannya masih menggenggam tangan Syakil dengan erat, seolah kalau ia melepas sedikit saja, dunia akan runtuh di tempatnya berdiri. Bau antiseptik kembali menyergap indra penciumannya. Suara monitor jantung yang kini berdetak pelan namun tidak stabil terdengar seperti pengingat bahwa waktu sedang berpacu dengan sesuatu yang tak bisa ia hentikan.

Pak Rahman terbaring lemah di atas ranjang. Masker oksigen terpasang di hidungnya. Dadanya naik turun dengan susah payah. Wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari sebelumnya, tapi begitu matanya menangkap sosok Arsy, ada kilat kecil yang muncul di sana. Kilat cinta seorang ayah yang tidak pernah padam, bahkan ketika tubuhnya nyaris menyerah.

“Arsy…” panggilnya lirih.

Arsy segera mendekat. Ia berlutut di samping ranjang ayahnya dan menggenggam tangan ayahnya itu dengan kedua tangannya. Tangan ayahnya terasa dingin di tangannya.

“Iya, Yah… Arsy di sini,” suaranya bergetar hebat. “Arsy di sini.”

Syakil berdiri di sisi lain ranjang. Ia tidak bicara. Matanya mengamati Pak Rahman dengan perasaan campur aduk antara takut, hormat, dan sebuah kesadaran pahit bahwa lelaki di hadapannya sedang berdiri di ambang yang tidak semua orang diberi kesempatan untuk ucapkan selamat tinggal.

1
Greta Ela🦋🌺
Ada ya laki2 gila kayak gini
Greta Ela🦋🌺
Itulah karma
Greta Ela🦋🌺
Dari pada kau udah buat bapak orang kena serangan jantung
Greta Ela🦋🌺
Si Radit stres
Greta Ela🦋🌺
Syukurlah sang ayah gak kenapa napa
Nonà_syaa.
Jdi ke inget nnek ku yg sdh ga ada ,
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Greta Ela🦋🌺
Hayo looo minta maaf pun tak akan bisa menghapus rasa sakit itu
Greta Ela🦋🌺
Udahlah Radit terima lah kenyataan itu
Greta Ela🦋🌺
Karma kau ini Radit
Greta Ela🦋🌺
Nah Radittt mampusss loee
Greta Ela🦋🌺
Ada apakah ini?
Greta Ela🦋🌺
Iya wajar sih Arsy takut begini
Nabila Bilqis
lagi tegang²nya💪😍
Nabila Bilqis
lanjut thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak siap terima kasih udah mampir ya kak😍🙏
total 2 replies
Nonà_syaa.
Up lgi kk😍
vita
bagus
Greta Ela🦋🌺
Nah kan langsung direstuin
Greta Ela🦋🌺
Pak tolongggg jangan pergii
Lihat anakmu pak😭
Greta Ela🦋🌺
Kamu nyalahin diri sendiri mulu lah Arsy
Kami lah nyalahin si Radit
Greta Ela🦋🌺
Ayahnya kapan bangun sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!