NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:84.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

“Arsy... Kita pulang, ya,” ucap Syakil dengan lembut dan hampir berbisik. “Udah mau Maghrib, kamu juga harus istirahat.”

Arsy tidak menjawab. Ia hanya menatap nisan ayahnya sekali lagi dan membelainya dalam waktu yang cukup lama.

“Ayah…” gumam Arsy nyaris tak terdengar. “Arsy pulang dulu, doa arsy akan selalu buat ayah.”

Setelah mengucapkan salam perpisahan kepada ayahnya dan mulai pergi meninggalkan area pemakaman, tubuh Arsy tiba-tiba melemas.

“Arsy!”

Syakil dengan cepat memeluk tubuh istrinya itu sebelum jatuh ke tanah. Arsy ambruk sepenuhnya ke dalam pelukannya, wajahnya terlihat pucat, sementara matanya terpejam.

“Arsy! Arsy, sayang!” Syakil menepuk pipi Arsy pelan, terlihat panik tapi berusaha tetap tenang dan membuat Omar langsung mendekat.

"Tuan, apakah kita harus membawa nyonya Arsy ke rumah sakit?" Tanya Omar yang membuat Syakil menggeleng.

“Tidak perlu,” katanya tegas tapi tertahan. “Lebih baik kita bawa Arsy pulang ke kontrakannya.” pinta Syakil yang akhirnya mengangkat tubuh Arsy dengan hati-hati ke dalam gendongannya. Tubuh Arsy terasa ringan, terlalu ringan seperti tubuh seseorang yang sudah kehilangan separuh jiwanya.

Sepanjang perjalanan menuju kontrakan, Arsy tak kunjung sadar. Kepalanya bersandar di dada Syakil. Napasnya teratur, tapi wajahnya masih terlihat pucat pasi. Syakil menunduk dan menempelkan keningnya sebentar ke kepala Arsy.

"Kau harus bisa secepatnya pulih dari keadaan ini, Arsy. Aku benar benar tidak tahan melihatmu seperti ini." Bisik Syakil dengan lirih.

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Omar, Syakil dan Arsy akhirnya tiba di kontrakan. Kontrakan kecil itu menyambut mereka dengan kesunyian yang menyakitkan. Setelah menyerahkan kunci kontrakan itu pada Omar, Omar segera membuka pintu kontrakan Arsy dan membiarkan Syakil melangkah masuk sembari membawa Arsy ke kamarnya yang berada di sudut kontrakan.

Kamar sederhana yang terdapat anjang besi, lemari tua, dan foto lama Arsy bersama ayahnya di dinding. Ia membaringkan Arsy perlahan di atas ranjang. Mengatur posisi tubuhnya senyaman mungkin. Menarik selimut tipis hingga menutupi tubuh Arsy. Syakil berjongkok di samping ranjang dan menatap wajah istrinya itu cukup lama.

Wajah yang kini tampak jauh lebih muda, rapuh, dan sendirian. Ia mengangkat tangannya perlahan untuk mengusap kepala Arsy dengan pelan.

“Tidurlah,” bisiknya. “Aku di sini.”

Arsy tak bergerak. Tapi ada kerutan kecil di keningnya, seolah mimpinya pun penuh luka.

Syakil bangkit perlahan. Melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu kamar Arsy tanpa suara. Begitu berada di ruang tengah kontrakan, bahu Syakil langsung turun. Ia menghembuskan napas panjang, lalu menghampiri asistennya yang saat ini masih berdiri di teras. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.

“Omar.”

“Ya, Tuan.”

Syakil berdiri menghadap jendela kecil kontrakan. Matanya menerawang ke langit yang mulai gelap.

“Omar,” ucap Syakil dengan suara rendah tapi tegas. “Aku punya beberapa hal yang harus kamu urus.”

“Siap, Tuan.”

“Pertama,” Syakil menarik napas. “Atur tahlilan tujuh hari untuk almarhum Pak Rahman. Tolong urus semua keperluannya dan jangan

sampai ada yang kurang.”

“Baik, Tuan. Akan saya urus sekarang juga.”

“Kedua,” lanjut Syakil tanpa jeda. “Daftarkan pernikahanku dengan Arsy ke KUA. Semua dokumen, saksi, legalitas. Aku ingin semuanya sah secara negara dengan cepat, kalau perlu kau beri mereka uang lebih agar prosesnya semakin cepat.”

Di seberang sana, Omar terdiam sepersekian detik. Bukan karena terkejut, tapi karena paham betul makna di balik perintah itu.

“Siap, Tuan,” jawabnya akhirnya. “Saya pastikan semuanya selesai secepatnya.”

Syakil memejamkan matanya sejenak.

“Dan satu lagi, tolong pastikan Radit dihukum seberat-beratnya. Laki laki itu tidak boleh bebas dari penjara dengan mudah. Jangan lupa kau rekrut orang yang berkompeten untuk mengambil tugas Arsy sebagai pemilik rumah sakit. Setelah tahlilan tujuh hari selesai, aku akan membawa Arsy ke Kairo.”

Omar terdiam lebih lama kali ini.

“Kairo, Tuan?”

“Iya,” jawab Syakil singkat. “Dia tidak bisa terus tinggal di sini. Terlalu banyak luka. Aku ingin membawanya pergi jauh. Memberinya ruang untuk bernapas. Untuk sembuh.”

“Baik, Tuan,” kata Omar mantap. “Saya akan menyiapkan semuanya.”

“Terima kasih, Omar.”

“Sama-sama, Tuan,” jawab Omar dengan hormat. “Izinkan saya berangkat sekarang untuk mengurus semuanya.”

“Pergilah.”

Malam turun perlahan di atas kontrakan kecil itu. Lampu-lampu di teras mulai menyala satu per satu. Kursi plastik disusun rapi di halaman sempit, sebagian dipinjam dari tetangga kanan-kiri. Karpet digelar seadanya. Di sudut ruang tamu, termos besar berisi air panas dan beberapa teko teh sudah siap dihidangkan ke para tamu. Piring-piring berisi kue sederhana tertata rapi di atas meja panjang yang biasanya jarang dipakai. Tahlilan malam pertama untuk Pak Rahman dimulai.

Suara doa mengalun pelan, bercampur dengan desahan napas dan isak yang ditahan. Tetangga-tetangga berdatangan, sebagian besar wajah-wajah yang sudah tak asing bagi Pak Rahman semasa hidupnya. Mereka duduk rapi, mengangkat tangan, melangitkan doa untuk seseorang yang hari ini telah kembali sepenuhnya kepada Sang Pemilik Hidup. Namun di antara semua itu, ada satu hal yang mencolok.

Arsy tidak ada di sana.

Ia masih terbaring lemah di kamar kecil di sudut kontrakan, belum juga membuka matanya sejak pingsan di pemakaman sore tadi. Tubuhnya terkulai di atas ranjang besi, napasnya teratur, tapi wajahnya pucat, seolah jiwanya masih tertinggal di tanah merah tempat ayahnya dikuburkan. Syakil keluar-masuk kontrakan dengan langkah yang tidak pernah benar-benar berhenti. Kadang ia ikut duduk bersama jamaah tahlilan, kadang ia berdiri di dapur kecil, memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya. Sesekali ia menoleh ke arah pintu kamar Arsy, sembari memastikan pintu itu tetap tertutup rapat dan tidak ada yang masuk mengganggu.

Omar sendiri bergerak tak kalah sigap. Asisten itu mengatur segalanya dengan tenang, seolah ini bukan pertama kalinya ia mengurus acara duka. Ia menyapa tetangga dengan sopan, membagikan air minum, memastikan ustaz yang memimpin doa mendapat tempat duduk yang layak, dan memastikan tak ada satu pun yang merasa terabaikan.

Namun setiap kali Omar menoleh ke arah Syakil, ia bisa melihat jelas kelelahan yang disembunyikan tuannya itu. Wajah Syakil tetap tenang. Bahunya tegap. Gesturnya terkendali. Tapi mata itu, mata tuanya itu terlalu dalam untuk disebut baik-baik saja.

Malam berjalan panjang. Doa demi doa dilantunkan. Nama Pak Rahman disebut berkali-kali, diiringi harapan agar segala dosanya diampuni dan amal baiknya diterima. Setiap kali nama itu terdengar, Syakil merasakan dadanya mengencang. Bukan karena ia kehilangan. Tapi karena Arsy telah kehilangan segalanya.

Setelah tahlilan selesai, satu per satu tetangga berpamitan. Beberapa di antara mereka sempat bertanya pelan tentang kondisi Arsy, dan Syakil hanya menjawab dengan senyum tipis.

“Dia masih belum sadar,” katanya singkat. “Mohon doanya.”

1
Yeni Wahyu Widiasih
bagus
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak🙏😍
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Dia lupa dimana ia pertama kali beli kolor, dan dimana dia dapat dukungan itu. Semoga keputusan yang kamu ambil, tidak buat kamu menyeseal di kemudian hari
Panda%Sya🐼
Radit lo butuh obat depresi? sini aku bagi dalam dosis tinggi /Skull/
Panda%Sya🐼
ohh otaknya buntung ternyata 😏
Panda%Sya🐼
Kawan makan kawan ini
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Aaaa/Scream/
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Ibu Syakil The best❤
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Jangankan Arsy, ak yg baca nya aja tiba" ngikut merah ni pipi🙏😂
-Thiea-
mama syakil tipe mertua idaman sekali. 🤭
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Aku tetiba menghalu jdi arsy ka😭😂🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
dokter kok gak mikirin orang yang sedang sakit. dokter gadungan kali ya
Nifatul Masruro Hikari Masaru
gak kebalik
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cinta yang tulus
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Arsy, kamu beruntung❤
Nifatul Masruro Hikari Masaru
tenang aja arsy baru batal nikah
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang sabar ya arsy
Nifatul Masruro Hikari Masaru
udah ketahuan baru ngomong gak cinta
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Idaman sekali🙏😌
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: ada kak tapi seribu satu, dan langka banget.
total 3 replies
-Thiea-
gimana perasaannya Arsy dicintai secara ugal-ugalan.🤭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: yang pasti bahagia dan beruntung banget kak🤭
total 1 replies
Riya Hairi
semangat Thor 💪
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak terima kasih dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!