Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.Aroma Tanah di Jantung Metropolis
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar gelap; langitnya berwarna jingga kusam karena pantulan lampu jalanan dan polusi yang menggantung. Setelah konfrontasi yang menguras mental di Balai Sidang, Ren tidak langsung mengajak Hana dan Yuki kembali ke markas Jenggala. Ia justru menghentikan sebuah taksi dan memberikan alamat yang membuat supirnya mengernyitkan dahi.
"Pasar Induk Glodok, Pak. Bagian belakang, yang dekat gang sempit itu," ucap Ren tenang.
Hana bersandar di kursi taksi yang pengap, menatap gedung-gedung tinggi yang berlalu dengan cepat di balik jendela. "Ren, kenapa kita ke pasar jam segini? Bukannya kita harus istirahat untuk penyisihan besok?"
Ren menatap tangannya sendiri, jemarinya bergerak-gerak kecil seolah sedang memegang pisau yang tak kasat mata. "Kenjiro punya data dari laboratorium terbaik di negara ini, Hana. Tapi laboratorium tidak punya 'jiwa' tanah. Aku butuh satu elemen yang tidak bisa dia hitung dengan kacamatanya."
Yuki, yang sedang memeriksa tabletnya, mendongak. "Maksudmu... bumbu liar? Tapi panitia hanya mengizinkan bahan yang terdaftar resmi, kan?"
"Panitia mengizinkan bumbu tambahan selama itu berasal dari hasil bumi lokal," balas Ren. "Asuka Group memesan semua bahan organik dari pemasok premium. Segalanya terlalu bersih, terlalu steril. Masakan mereka akan kekurangan 'benturan' rasa yang nyata."
Taksi berhenti di sebuah area yang sangat kontras dengan kemewahan Balai Sidang. Di sini, bau menyengat dari limbah pasar, aroma rempah yang tajam, dan suara riuh rendah para kuli panggul menciptakan simfoni kehidupan yang kasar. Mereka berjalan menyusuri gang-gang sempit yang hanya diterangi lampu bohlam kuning yang berkedip.
Hana mencengkeram lengan jaket Ren erat-erat saat mereka melewati kerumunan orang yang sedang bongkar muat sayuran. "Tempat ini... berisik sekali, tapi aromanya sangat kuat."
Ren berhenti di depan sebuah kios kecil yang hampir tertutup tumpukan karung goni. Seorang kakek tua dengan punggung bungkuk sedang memilah-milah rimpang jahe yang masih penuh tanah.
"Mbah, apa stok 'Jahe Merah Hutan' dari kaki Gunung Salak sudah datang?" tanya Ren sambil berjongkok di depan kakek itu.
Kakek itu mendongak, matanya yang rabun menatap Ren dengan teliti. "Jarang ada anak muda mencari jahe itu. Pedasnya tidak sopan, kulitnya kasar. Orang kota lebih suka jahe gajah yang mulus."
"Saya tidak butuh yang mulus, Mbah," ucap Ren dengan nada yang sangat rendah hati, jauh dari sifat angkuhnya saat menghadapi Ryuji. "Saya butuh pedas yang bisa membakar ingatan."
Kakek itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang jarang. Ia merogoh ke bawah tumpukan karung dan mengeluarkan sebuah wadah kayu kecil berisi jahe merah yang ukurannya kecil namun warnanya merah pekat, hampir seperti bara api. Begitu wadah itu dibuka, aroma pedas yang sangat getir namun menyegarkan menusuk hidung mereka.
Hana menutup hidungnya sejenak, namun matanya berbinar. "Ini... aromanya seperti tanah yang baru tersiram hujan, tapi ada sedikit aroma bunga."
Ren mengambil satu rimpang, merasakannya di telapak tangan. "Inilah yang tidak dimiliki Kenjiro. Ketidakteraturan. Keaslian."
Setelah mendapatkan jahe tersebut, mereka bertiga berjalan menuju sebuah kedai kopi pinggir jalan untuk beristirahat sejenak. Suasananya sangat manusiawi; hanya ada meja kayu tua dan suara radio usang yang memutar lagu lawas.
"Ren," panggil Yuki sambil menyeruput kopinya yang pahit. "Tadi di Balai Sidang, saat Kenjiro bilang tingkat ancamanmu minimal... apa kamu benar-benar tidak marah?"
Ren menatap cangkir kopinya, pantulan wajahnya yang lelah terlihat di sana. "Marah hanya akan membuat tanganku gemetar besok, Yuki. Tapi dia benar dalam satu hal. Aku memang tidak stabil. Karena aku memasak dengan perasaan, dan perasaan manusia bisa berubah setiap detik."
Ren menoleh ke arah Hana yang sedang asyik memperhatikan seorang anak kecil penjual koran di seberang jalan. "Tapi itulah kekuatan kita. Kenjiro akan memasak hal yang sama setiap kali dia menyalakan kompor. Tapi kita... kita akan memasak sesuatu yang hanya bisa tercipta sekali seumur hidup, khusus untuk besok."
Hana tersenyum, ia mengulurkan tangannya dan menepuk punggung tangan Ren yang berada di atas meja. Kemistri di antara mereka di bawah lampu redup kedai kopi itu terasa sangat hangat dan tulus.
"Kamu tahu, Ren? Saat kita di pasar tadi, aku menyadari sesuatu," ucap Hana lembut. "Mungkin Jakarta memang besar dan menakutkan, tapi selama kita punya jahe merah ini—dan selama kita punya satu sama lain—kita tidak akan pernah tersesat."
Yuki ikut meletakkan tangannya di atas tangan mereka. "Karakter, emosi, dan kerja keras. Itulah bumbu rahasia kita."
Ren mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di ibu kota, ia merasa benar-benar siap. Bukan siap karena pisaunya tajam, tapi karena hatinya sudah kembali penuh.
"Ayo pulang," ajak Ren. "Besok pagi, kita akan menunjukkan pada nasional bahwa angka-angka Kenjiro tidak akan pernah bisa memenangkan hati orang-orang yang lapar akan kejujuran."
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang sombong, tiga anak dari Karasu itu berjalan pulang dengan langkah yang lebih mantap. Di dalam tas Ren, jahe merah hutan itu seolah berdenyut, siap untuk dilepaskan di tengah arena penyisihan besok pagi sebagai senjata rahasia yang tidak akan pernah bisa diprediksi oleh algoritma manapun.