Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJUJURAN YANG TELANJANG
Langkah kaki mereka bergema pelan di atas anak tangga menuju ke lantai atas. Keheningan di koridor itu terasa sangat kontras dengan badai emosi yang baru saja mereka tinggalkan di ruang tamu.
Arya berjalan di depan, punggungnya tegak dan kokoh, sementara Yasmin mengekor dengan napas yang masih sedikit memburu, mencoba menata kembali detak jantungnya yang berantakan.
Baru setelah mereka mencapai lantai dua, tepat di bawah temaram lampu gantung yang memberikan semburat cahaya hangat, langkah Arya melambat hingga akhirnya terhenti sepenuhnya.
Di titik itulah, seolah waktu membeku sejenak, keduanya tersadar akan satu hal yang sejak tadi menjadi sumber kekuatan sekaligus kegelisahan baru, jemari mereka yang masih bertaut rapat.
Selama di bawah tadi, genggaman itu adalah tameng. Namun di sini, di kesunyian lantai atas, genggaman itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih personal. Yasmin bisa merasakan panas yang menjalar dari telapak tangan Arya, kontras dengan jemarinya sendiri yang masih agak mendingin.
Ada jeda beberapa detik di mana tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba melepaskan. Seolah-olah, jika tautan itu terputus, ketenangan yang baru saja mereka raih akan ikut retak.
Yasmin menunduk, menatap bagaimana jemari panjang Arya mengunci jari-jemarinya dengan begitu kuat. Rasanya aneh—ada rasa aman yang membuncah, namun juga rasa sungkan yang mencekat di tenggorokan.
Di saat yang sama, Arya perlahan memutar tubuhnya menghadap Yasmin. Matanya yang tadi berkilat tajam saat menghadapi Maura, kini meredup, menyisakan tatapan lembut yang sulit diartikan. Ia menunduk, mengikuti arah pandang Yasmin ke arah tangan mereka yang masih bersatu.
Dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut merusak momen, Arya mulai melonggarkan genggamannya. Namun, sebelum benar-benar terlepas, ibu jarinya sempat mengusap punggung tangan Yasmin sekali—sebuah gestur penenang yang sangat halus, hampir tak kentara, namun mampu membuat desiran aneh di dada Yasmin.
"Maaf," suara Arya serak, rendah sekali hingga hampir menyerupai bisikan. "Tadi aku tidak bermaksud... aku hanya ingin membawamu pergi dari sana secepat mungkin."
Yasmin menarik tangannya perlahan, menyembunyikannya di balik punggung seolah mencoba menyimpan sisa kehangatan yang ditinggalkan Arya. "Terima kasih, Mas," sahutnya lirih, tanpa berani mengangkat wajah. "Tapi... dengan sikapmu seperti tadi, apa gak berlebihan? Keributan ini... mungkin karena aku."
Yasmin menunduk, sedetik berikutnya, ia kembali menatap wajah Arya. "Mas. sepertinya... aku harus pergi."
Deg.
Pergi.
Satu kata yang terucap lembut, namun mengapa rasanya begitu kuat menampar dada Arya. Ia merasa takut oleh pernyataan Yasmin.
Ia melangkah maju, mencoba mengikis jarak yang tiba-tiba terasa sejauh samudera. Ada ketakutan hebat yang menjalar di nadinya—ketakutan akan sunyi yang akan menetap jika punggung itu benar-benar menjauh. Baginya, Yasmin bukan sekadar kehadiran; perempuan itu adalah poros tempat dunianya berputar di mulai hari ini. Entah mengapa, kehilangan Yasmin berarti membiarkan seluruh hidupnya runtuh menjadi puing-puing tak bermakna, setelah kebersamaan yang terjalin di antara mereka meski baru sebentar saja.
"Aku harap kamu gak pergi, Yasmin."
Yasmin mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Aku tahu dunia di luar sedang mencariku, tapi disini... bukan tempat yang pantas untuk aku bersembunyi."
"Enggak, Yasmin. Kamu salah." Geleng Arya. "Hanya karena Ibu dan Kakakku yang memperlakukan kamu tak pantas di rumah ini, kamu ingin lari? Dengar, Yasmin... bukan kamu yang gak pantas, tapi mereka yang tidak pantas memperlakukan kamu seperti ini."
"Kenapa... kamu melakukan ini padaku, Mas?" Tanya Yasmin lagi. "Padahal, aku hanya sebatas meminta tolong untuk..."
"Membawa kamu lari dari kejaran orang-orang yang mengejarmu kemarin?" Potong Arya. "Tapi..."
Hening itu merambat, mengisi rongga di antara mereka dengan sesak yang kian tajam. Arya menggantung kalimatnya, membiarkan napas mereka saling beradu dalam perasaan yang sulit dijelaskan.
"Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata yang masuk akal. Mungkin ini terdengar konyol, tapi bersamamu..." Arya menjeda. Ia tersadar oleh kalimatnya, tapi ia tak bisa membiarkan kejujuran itu lenyap.
" ... meski di tengah kejaran orang-orang itu, aku merasa pulang." Sambung Arya. "Ada kenyamanan yang tidak pernah kutemukan bertahun-tahun, tiba-tiba hadir hanya dalam hitungan jam saat bersamamu."
"Ma-Mas Arya..." Yasmin terkesiap. Ia tak menduga pria dihadapannya akan mengatakan hal seberani itu.
Yasmin memalingkan wajah, tak sanggup membalas intensitas tatapan Arya yang begitu telanjang menunjukkan kejujuran. "Kita baru bertemu, Mas. Dunia kita berbeda. Bagaimana bisa Mas Arya merasa... merasa aku ini penting dalam hidup Mas?"
Arya tersenyum getir. Jika di taman tadi ia masih bisa berpura-pura, mengalihkan topik dengan basa-basi atau tawa hambar untuk menutupi gemuruh di dadanya, kali ini benteng itu telah runtuh sepenuhnya. "Di taman tadi, aku pengecut. Aku takut jika aku mengatakannya, kenyamanan ini akan menguap. Tapi melihatmu bersiap untuk pergi..." kalimatnya menggantung lagi.
Yasmin membisu, Ia melihat ada air mata yang menggenang di sudut mata Arya, sebuah pemandangan yang menghancurkan hatinya. Pria yang kemarin begitu tangguh melindunginya, kini berdiri rapuh hanya karena satu kata dari bibirnya.
Detik berikutnya, Arya menggeleng. "... aku sendiri tidak siap."
Yasmin tertegun. "Ma-Mas..."
"Kamu... adalah orang yang menyadarkan aku bahwa ketulusan dan kesederhanaan itu ternyata lebih berharga daripada sesuatu manapun." Ungkap Arya. "Selama ini... aku hanya berteman sepi dan menatap bahwa manusia hanyalah sketsa tanpa warna yang berlalu-lalang di hidupku. Aku melihat dunia seperti Maura yang dingin dan jauh, atau mungkin seperti ambisi-ambisi yang melelahkan layaknya Freya."
Arya menarik napas panjang, menatap lekat-lekat mata di hadapannya. "Dulu, aku pikir semua orang sama saja—datang hanya untuk menuntut, lalu pergi saat bosan. Tapi kamu beda."
Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak asing namun tulus di wajahnya. "Aku gak peduli kamu siapa, atau dari mana asalmu. Bagiku, kamu adalah satu-satunya kenyataan yang tidak ingin aku sangkal lagi."
Yasmin tertegun. Kalimat itu menghujam jantungnya, meruntuhkan dinding dingin yang selama ini ia bangun untuk melindungi diri. Sejak kepergian ayah dan ibunya, dunia bagi Yasmin hanyalah sebuah tempat singgah yang asing. Tak ada lagi tangan yang menyambutnya di ambang pintu, tak ada lagi doa yang ia dengar saat fajar menyapa.
Ia telah terbiasa menjadi pengembara dalam kesepiannya sendiri, mengira bahwa kata "pulang" telah terkubur bersama nisan orang tuanya. Namun, menatap manik mata Arya yang kini teduh bersama kejujurannya, ia merasakan sesuatu yang sudah lama hilang kembali berdenyut.
"Selama ini..." suara Yasmin nyaris berbisik, tercekat oleh haru yang membuncah. "Aku lupa bagaimana rasanya memiliki tempat untuk kembali. Aku hanya berlari, bersembunyi di balik bayang-bayang, takut jika dunia kembali mengambil apa yang tersisa dariku."
Ia menunduk, membiarkan satu tetes air mata jatuh, membasahi jemarinya yang gemetar.
"Tapi di hadapanmu, Mas Arya... untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa lelahku punya tujuan. Aku merasa... aku tidak perlu lagi berlari."
Melihat bahu Yasmin yang bergetar kecil, sebuah helaan napas panjang meluncur dari bibir Arya. Bukan napas sesak yang biasa ia rasakan, melainkan embusan napas yang sangat lega, seolah ia baru saja menemukan oksigen setelah sekian lama tenggelam dalam kesunyian.
Arya tidak segera mendekat secara agresif. Ia membiarkan keheningan itu menjadi saksi bahwa mereka tidak lagi sendirian. Perlahan, ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh jemari Yasmin lagi, kali ini dengan sangat lembut.
"Jangan lari," bisik Arya, suaranya kini terdengar jauh lebih tenang dan mantap. "Kalau dunia terasa terlalu luas dan asing untukmu, biarkan aku jadi sudut kecil yang kamu kenali. Kamu nggak perlu mencari pintu untuk pulang, Yasmin. Cukup lihat ke sini... aku ada. Karena aku pun merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan. Tapi aku sendiri telah lebih dulu menemukan pintu itu sendiri... yaitu kamu."
Yasmin terpaku, lidahnya kelu saat kata-kata Arya meresap jauh ke dalam sanubarinya. Kalimat itu bukan sekadar janji, melainkan sebuah uluran tangan yang menariknya keluar dari jurang kesendirian yang selama ini ia anggap sebagai rumah.
"Yasmin. Maukah kamu menetap bersamaku?"
Yasmin terkesiap. "Me-menetap..."
"Menikah." Tandas Arya penuh ketegasan.
Yasmin terkesiap, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Dunia di sekelilingnya mendadak senyap, hanya menyisakan gema kata "Menikah" yang diucapkan Arya dengan begitu mantap.
Pikirannya melayang. Inikah mimpi? Ataukah semesta sedang berbelas kasih padanya setelah sekian lama ia dibiarkan terlunta-lunta tanpa sandaran? Ia menatap mata Arya, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah sebuah kepastian yang kokoh layaknya karang.
"Tapi... kamu tidak akan menyesal, Mas, dengan apa yang akan terjadi nanti?" Suara Yasmin mulai bergetar, dibalut ketakutan yang nyata. "Aku takut... aku takut suatu saat kamu akan terbangun dan menyadari bahwa memilihku adalah sebuah kesalahan. Bahwa aku hanyalah beban yang tak seharusnya kamu pikul."
Yasmin menunduk, tak sanggup menatap cahaya di mata pria itu. Bayang-bayang masa lalunya yang kelam dan kesendiriannya yang panjang kembali membisikkan keraguan.
"Apa yang harus disesali, Yasmin?" Arya memotong, suaranya kini melunak namun tetap penuh penekanan.
Ia meraih kedua bahu Yasmin, memaksanya untuk kembali melihat dunia lewat matanya.
"Menyesal karena memilih ketulusan? Menyesal karena akhirnya aku menemukan alasan untuk berhenti mencari? Tidak ada bagian dari dirimu yang akan membuatku berpaling. Masa lalumu, ketakutanmu, bahkan luka-lukamu... aku ingin memeluk itu semua."
Arya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang seolah menjanjikan bahwa ia akan menjadi atap yang tidak akan pernah bocor diterjang badai. "Penyesalan terbesarku adalah jika aku membiarkanmu pergi hari ini tanpa tahu bahwa ada seseorang yang sangat ingin menjagamu selamanya, Yasmin."
Pertahanan Yasmin benar-benar runtuh. Kejujuran Arya yang begitu telanjang dan tulus menembus relung hatinya yang paling dalam, membasuh luka-luka lama yang selama ini ia biarkan mengering sendiri. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat oleh tangis yang tak lagi bisa dibendung.
"Mas..." suaranya hilang di balik isak, tersendat oleh rasa syukur yang luar biasa.
Inikah akhir dari perjalanannya yang melelahkan? Inikah jawaban dari doa-doa sunyi yang sering ia bisikkan pada langit malam? Selama ini, Yasmin selalu merasa dirinya adalah beban, sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan, atau sekadar bayangan yang tak terlihat. Namun di depan Arya, ia merasa... utuh.
Perlahan, ia menurunkan tangannya dan menatap Arya melalui kabut air mata yang menyelimuti pandangannya. Senyum Arya yang mantap adalah sauh yang menahannya agar tidak lagi hanyut dalam ketakutan.
"Aku... aku tidak pernah mengira ada seseorang yang mau memeluk luka-lukaku sedalam ini," bisik Yasmin dengan napas yang masih tersengal. "Jika kamu setulus itu, Mas... jika bagimu aku adalah tempat untuk berhenti mencari..."
Yasmin menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa. Ia membalas tatapan Arya, memberikan jawaban yang paling jujur dari jiwanya. "Maka aku tidak akan lari lagi. Aku mau... aku mau menetap bersamamu."
Seluruh ketegangan di tubuh Arya seolah luruh seketika. Senyumnya mengembang lebar—sebuah senyum yang tidak hanya terlukis di bibir, tapi juga memancarkan binar kelegaan yang luar biasa dari matanya. Tanpa ragu lagi, Arya menarik Yasmin ke dalam pelukannya.
****