Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiba-tiba membeli rumah
Hwang zin pergi ke restoran didekat gerbang,dia duduk dilantai atas sambil meminum teh hangat. Lalu dia melirik pada gerbang istana luar.
Lalu pada istana megah yg bisa dia lihat dari sini.
Dia dengar bahwa Kaisar saat ini berusia 60 tahun,dan memiliki 7 pangeran.
Pangeran ke 2 menjadi putra mahkota mengantikan pangeran pertama yg memilih hidup sederhana bersama istrinya Jauh dari istana.
Pangeran pertama dan Putra mahkota ini terlahir dari istri pertama Kaisar yg telah wafat, sisanya terlahir dari selir. Kaisar sendiri tak memilih Ratu saat ini.
Jadi posisi permaisuri kosong. Dia juga terlihat tak berniat mengangkat selirnya ke posisi istri sahnya untuk menjaga hal bagi ke dua putranya.
Hwang zin juga mendengar bahwa putra mahkota masih muda,itu berusia 18 tahun dan pangeran pertama 20 tahun. Sisanya masih berada diusia 15 tahun ke bawah.
Pangeran ke 7 bahakan masih berusia 2 tahun. Jadi tak ada begitu banyak konflik seperti di istana.
Hwang zin memanggil pelayan untuk membayar makanan nya. Lalu dia membeku,menoleh pada Pelayan kecil itu dengan tak percaya.".. kamu bilang teh dan kue kecil ini 30 koin?"
Alis Pelayan itu mengerutkan apa ini pelanggan yg tak akan membayar lagi."...Benar itu harganya,ayo cepat bayar aku sangat sibuk untuk menyambut tamu yg lainnya...."
Melihat sikapnya yg kasar seolah dia tak bisa membayarnya membuat suasana hati Hwang zin semakin memburuk.
Dia mengambil 1 tael perak dan mendorongnya ke tangan pelayan itu."Ambil saja kembali nya! Lain kali lebih sopan lah pada tamu...."
"Kamu!-" pelayan terdorong ke belakang melihatnya dengan marah. Hwang pergi dari sana tanpa menoleh kebelakang.
Para tamu yg ada didekat meja Hwang Zin yg mendengar sejak awal merasa pelayan di kedai ini terlalu melihat penampilan orang lain.
Jadi orang-orang yg duduk didekat meja Hwang zin langsung bangun dan pergi, melihat ini wajah Pelayan itu pucat."Tuan...tuan Kenapa anda pergi?"
Menger yg tak sengaja melihat tamu di meja-meja itu pergi segera menghampiri mereka dengan bingung.
"Tuan-tuan ada masalah apa? Apa ada yg salah' dengan tehnya?"tanyanya dengan senyum ramah.
Seorang pria tua melihatnya dengan wajah santai."Tidak teh mu enak,hanya saja pelayan perlu lebih banyak bimbingan...."
Mendengar ini , Manager langsung menoleh pada pelayan itu dengan nada tak sabar."Ada apa?"
"Tuan Bukan masalah besar...." pelayan itu tak tau harus mengatakannya dari mana.
Pemuda dengan wajah bulat mencibir." ....Ada pelanggan yg datang dan bertanya soal harga teh yg dia pesan, pelayan mu menjawab dengan nada merendahkannya....."
Senyum menger menjadi kaku,apa yg dilakukan anak ini,dia meliriknya dengan tajam.wajah Pelayan segera memucat.
".......Dia bahkan mengusirnya dengan berkata dia terlalu sibuk mengurus tamu lain, padahal kami tak melihat ada yg datang selain kami ....." Ucap pria tua sambil menggelengkan kepalanya.
"......Tapi dia sepertinya tak akan membayar jadi aku berkata seperti itu!" Bantah pelayan dengan keras kepala.
"Dia tak membayar!.. lalu apa dia saja pergi begitu saja?"Tanya Mengger dengan wajah marah. Melihat ini orang-orang semakin merasa jengkel.
Pantas saja kedai ini sepi, ternyata bos dan bawahan sama.
"....Tidak ,dia hanya memberiku satu sen..." Saat pelayan mengatakan hal ini dengan percaya diri. dia membuka tangannya yg dijejali oleh pria itu sebelum pergi.
Lalu mata Mengger dan pelayan itu menyusut.
Di tangannya terdapat 1 tael. Pelanggan itu bukan tak bisa membayar atau kabur,dia bahkan membayar lebih.
"..... Benar-benar tak tau malu! Pantas saja kedai ini tak laku!" Pemuda gemuk segera pergi dengan kakek tua itu sambil mencibir.
"Aku tak akan datang lagi kesini!" Tau lainya juga keluar tak tahan melihat sikap keduanya yg tak tau malu.
Kedai segera kosong. Wajah keduanya memucat.
"... Bajingan!kau ingin menghancurkan bisnis tuan muda!"maki Menger menoleh untuk menampar pelayan itu dengan keras."....Kau dipecat!"
Bang!- Pelayan itu jatuh ke samping, wajahnya segera bengkak,dia tak mengira kecerobohannya membuat kerugian sebesar ini.
Hari semakin Siang',Hwang berkeliling dan mendapati harga di ibu kota sangat mahal. Dia mencoba 3 restoran dengan membeli makan ringan itu harganya lebih dari 50/300 sen.
Dia jadi berfikir bagaimana jika dia berbisnis disini. Kondisi disinii nampaknya lebih baik digerbang kota. Tapi apa perlu dia menjual rumahnya.
Tapi rumah itu satu-satunya warisan dari ayah Hwang. Dia tak bisa menjualnya,jadi apa dia membeli saja rumah disini atau toko.
Hwang zin memutuskan untuk mencari dan bertanya-tanya pada para pedagang apa ada yg menjual rumah dekat-dekat sini.
Seorang bibi yg dia temui dijalan segera membantu untuk pergi kerumah kerabatnya yg berniat menjual rumahnya untuk keperluan pernikahan putranya.
Hwang zin mengikutinya sepanjang jalan dan memang benar rumah itu tak jauh dari alun-alun,dan dekat dengan Klinik dan sedikit masuk dalam kompleks.
".....Adik ipar apa kau dirumah!"teriak bibi itu dengan semangat mengendor pintu.
"Ya tunggu sebentar!" Pintu terbuka dari dalam dan pria baya dengan wajah lelah terlihat. Dia melihat istri kakaknya dengan heran." Kakak ipar ada apa?"
"...Hei ayo masuk dulu...." Dia meminta masuk,dan Hwang zin mengikutinya dibelakang.
Melihat orang lain bersama kakak iparnya membuat pria tua semakin bingung. Lalu dia diberi tau bahwa Pemuda ini sedang ingin membeli rumah.
Wajah pria itu menghela nafas lega,lalu menjelaskan apa saja yg ada dirumah, mereka memiliki 3 bangunan. 3 kamar terpisah ,lalu dapur terpisah dan ruang tamu terpisah.
Mereka juga sudah memiliki sumur dan Toilet sendiri.Lalu ketiganya pergi ke rumah yg dimaksud yg hanya berjarak 2 rumah dari rumah pemiliknya.
Hwang zin melihat semua ruangan dan bisa dibilang ini lebih besar dari rumah Hwang.
Ditambah dihalaman luas dan sisi kiri halaman masih tanah, pemilik rumah mengatakan dia biasa menanam sayuran disana.
Dan ada ruang belakang yg juga biasanya dipakai untuk menanam segala jenis sayuran.
Hwang zin puas dengan rumah ini walaupun banyak cat telah memudar dan beberapa atap bocor.
" Tuan bagaimana,rumah ini terlihat tua tapi cukup luas bukan...."ucap pemilik rumah dengan hati-hati padanya.
Hwang zin mengangguk."Berapa anda ingin menjualnya?apa surat-surat,lengkap?"
".....Lengkap -lengkap!"jawab bibi dengan cepat, seolah tak sabar menjual rumah adiknya.
"Ini...." Pemilik rumah menyebutkan angkanya, bagi Hwang zin itu mahal atau murah tapi masalahnya dia tak tau harga tanah di ibu kota.
"Ini ....aku tak membawa cukup uang sekarang..tapi lusa aku akan kembali ke kota,kita bisa bertemu untuk membahasnya lagi....."Jelasnya mencoba untuk melihat dulu berapa harga tanah di ibukota.
Dia tak mau ditipu.
"..... Itu tak masalah...." Jawab pemilik rumah dengan senyum senang . bini gemuk itu juga mengangguk dengan cepat.
Jadi Hwang zin memutuskan tak kembali ke desa gerbang kota dan menginap di ibu kota,jadi malam harinya dia duduk dilantai bawah penginapan berbicara dengan menger penginapan.
"......Harga rata-rata tanah disini adalah sekian...jika rumah yg kamu sebutkan mematok harga sekian itu termasuk murah.....tapi anda harus melihat surat tanah dengan jelas...."
Pria itu menasehatinya dengan jujur. pasalnya anak ini terlihat sangat muda ,dan dia baru pertama kali pindah ke ibu kota dan langsung membeli rumah menetap.
"Saya juga berfikir begitu,jika terlalu murah itu akan mencurigakan...."Hwang zin mengangguk. syukurlah dia tak langsung menyetujui pembelian.
"......Anda bisa pergi ke yamen untuk meminta petugas menjadi saksi pembelian dan membalikan atas nama sertifikat saat itu juga....."Sarannya lagi.
Hwang zin mengerti,jadi saat pagi datang dia tak menunda waktu lagi,dia pergi ke Yamen yg ternyata dekat dengan penginapan.
Dia pergi menemui penjaga gerbang,".. saudara bagaimana aku bisa bertemu petugas?"
"Ada urusan apa?" Tanyanya dengan ringan.
Hwang menjelaskan dengan tak terburu-buru."...Aku ingin membeli rumah dan butuh petugas untuk menjadi saksi dan juga untuk menganti nama pemilik...."
Mendengar ini,petugas meminta menunggu diluar dan kedalam untuk mencari petugas yamen. Dia mengunggu 10 menit sebelum penjaga kembali dengan pria tua dengan kertas di tangannya.
"Apa kamu yg akan membeli tanah?"dia melihat bahwa anak ini sepertinya sesuai anaknya.
"Benar' tuan...." Jawabannya. Pria itu mengangguk lalu bertanya lagi.".....Apa kamu membawa token identitas mu...?"
"Saya membawanya..."Melihat bahwa semua sudah lengkap. Pria tua itu segera meminta pergi ke rumah yg ingin dia beli."Kalau begitu ayo pergi..."
Pria tua itu memimpin jalan dan Hwang zin seger menyusulnya. Mereka berjalan cukup 15 menit sebelum sampai dirumah kemarin.
Pria itu berkeringat dan tak mengeluh lelah,namun Hwang Zin merasa tak enak. Jdi dia memutuskan untuk menyewa kereta agar pria ini tak perlu berjalan kaki saat kembali.
Pintu terbuka dan pria baya itu segera meminta mereka masuk, walaupun dia heran kenapa anak ini datang secepat ini.
Hwang zin hanya mengatakan dia meminta kerabatnya untuk mengambil uang dan mengirimnya ke sini.
Jadi pembelian bisa dilakukan hari ini,pria itu mengangguk lega.lalu dia melihat bahwa ini adalah petugas Lim jadi dengan hormat meminta istrinya membuat teh.
Ketiganya duduk dihalaman rumah, Petugas Lim melihat dan membaca dengan serius isi sertifikat sebelum mengangguk pada Hwang zin bahwa tak ada masalah.
Lalu Hwang zin membayar harga yg disepakati dan langsung membuat sertifikat baru dengan tanah atas namanya dan menandatangani akta jual beli tanah.
Lalu petugas Lim memberikan stempel kontrak jual beli,dan sertifikasi milik Hwang zin .
Hwang zin juga mengambil setempat atas namanya dan menyetempel semuanya begitu juga dengan pemilik tanah.
Sekarang rumah ini resmi menjadi milik Hwang zin.