NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Duel di Hutan Belakang

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

Matahari belum sepenuhnya terbit saat Seol sudah berdiri di tepi hutan belakang. Kabut pagi masih menggantung di antara pepohonan, menyelimuti segala sesuatu dengan selubung putih tipis. Udara dingin menusuk kulit, tetapi Seol tidak menggigil. Qi-nya mengalir deras di dalam tubuhnya, memberi kehangatan yang cukup untuk menahan dingin.

Ia tidak tidur semalaman. Bukan karena gugup, tetapi karena Gu memaksanya berlatih hingga batas terakhir.

“Ingat,” kata Gu sebelum fajar. “Dia lebih kuat. Lebih cepat. Lebih berpengalaman. Tapi dia sombong. Sombong adalah kelemahan terbesarnya. Kau harus membuatnya lengah. Buat dia meremehkanmu. Dan saat dia lengah… bertahanlah.”

Seol mengangguk, meski Gu tidak bisa melihatnya.

Kaki-kaki mulai terdengar dari kejauhan. Bukan hanya satu orang—banyak. Seol menoleh dan melihat sekelompok kecil orang berjalan menuju hutan. Di depan, Ryu Cheonmyeong berjalan dengan langkah mantap, jubah hijau kebesarannya berkibar tertiup angin. Di belakangnya, beberapa murid klan dan dua orang tetua—Ryu Jong dan Ryu Myeong—ikut menyaksikan.

Tidak ada tetua tertua, Ryu Dohwan. Mungkin ia tidak menganggap duel ini penting. Atau mungkin ia sengaja tidak hadir karena tidak setuju.

Cheonmyeong berhenti sepuluh langkah di depan Seol. Matanya menyapu tubuh Seol dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencari tanda-tanda kelemahan.

“Kau datang,” katanya dengan senyum tipis. “Aku pikir kau akan kabur.”

“Aku tidak kabur,” jawab Seol datar.

“Bagus.” Cheonmyeong mengangguk ke arah tetua Ryu Jong. “Sabeom-nim, apakah arena sudah siap?”

Ryu Jong, seorang pria tua dengan jubah hijau tua dan wajah tanpa ekspresi, melangkah maju. Ia mengamati sekeliling, lalu mengangguk.

“Hutan ini cukup terbuka. Cukup untuk duel. Aturan sederhana: tidak ada serangan mematikan yang disengaja. Pertarungan berakhir jika salah satu tidak bisa melanjutkan atau menyerah.” Matanya beralih ke Seol. “Apakah kau siap?”

Seol mengangguk.

“Maka mulailah.”

---

Babak Pertama: Ujian

Cheonmyeong tidak bergerak.

Ia berdiri di tempatnya, tangan di belakang punggung, senyum tipis menghiasi bibirnya. Sikap itu sendiri adalah penghinaan—seolah ia tidak perlu bersusah payah untuk menghadapi lawan selemah Seol.

“Silakan,” katanya. “Tunjukkan apa yang kau pelajari dalam seminggu ini.”

Seol tidak terpancing. Ia tahu Cheonmyeong sedang menguji. Mencari tahu seberapa besar perubahan yang terjadi.

Ia mengambil langkah maju. Satu langkah. Dua langkah.

Cheonmyeong masih tidak bergerak.

Seol mengambil langkah ketiga—dan melesat.

Bukan kecepatan yang luar biasa. Tidak secepat yang Gu inginkan. Tapi cukup cepat untuk mengejutkan beberapa penonton yang mengira Seol masih sama seperti minggu lalu.

Tangannya terangkat. Tanpa pedang, ia menggunakan telapak tangannya sebagai pengganti—pukulan terbuka yang diarahkan ke dada Cheonmyeong.

Cheonmyeong menghindar dengan gerakan minimalis. Tubuhnya bergeser beberapa inci ke kanan, cukup untuk membuat pukulan Seol meleset. Pada saat yang sama, kakinya menyapu rendah, mencoba menjatuhkan Seol.

Seol sudah mengantisipasi itu. Ia melompat di atas sapuan kaki itu, tubuhnya berputar di udara, dan kaki kirinya meluncur ke arah kepala Cheonmyeong.

Untuk sesaat, mata Cheonmyeong melebar. Tidak karena tendangan itu berbahaya, tetapi karena ia tidak menduga Seol akan bergerak secepat itu.

Ia menangkis dengan lengan kirinya. Benturan itu menciptakan bunyi pak yang keras. Cheonmyeong mundur setengah langkah.

Hanya setengah langkah. Tapi itu cukup untuk membuat penonton bergumam.

Cheonmyeong tersenyum. Senyum yang tidak lagi ramah.

“Bagus,” katanya. “Jadi kau memang sudah berubah.”

Ia melangkah maju.

Dan dunia Seol berubah.

---

Kecepatan yang Berbeda

Cheonmyeong bergerak seperti kilat.

Seol tidak melihat pukulan itu datang. Ia hanya merasakan angin kencang di samping wajahnya, dan kemudian rasa sakit yang meledak di tulang rusuknya.

Ia terlempar ke belakang, tubuhnya berguling di atas tanah berlumut sebelum berhasil menghentikan momentumnya. Dadanya terasa seperti dihantam palu. Napasnya tersengal.

“Dia tidak main-main,” bisik Gu dalam benaknya. “Bangun. Cepat.”

Seol mendorong tubuhnya berdiri. Tangannya gemetar menahan sakit.

Cheonmyeong sudah berdiri di depannya lagi, tidak memberi waktu untuk bernapas. Kaki kanannya melayang dalam tendangan melingkar yang diarahkan ke kepala Seol.

Seol menghindar dengan menjatuhkan tubuh ke tanah, berguling ke samping. Tangan kirinya menyentuh tanah, memberi momentum untuk melompat kembali.

Tapi Cheonmyeong sudah membaca gerakannya. Sebelum Seol sempat berdiri, sebuah tendangan datang dari arah buta—langsung mengenai perutnya.

Seol terlipat seperti kertas basah. Dadanya terasa kosong. Udara di paru-parunya habis terhempas. Ia jatuh berlutut, air liur bercampur darah menetes dari mulutnya.

“Luar biasa,” kata Cheonmyeong sambil berdiri di depannya. “Kau bertahan lebih lama dari yang kukira. Tapi lihat dirimu. Berlutut di hadapanku. Seperti yang seharusnya.”

Ia meraih rambut Seol dan menariknya ke atas, memaksa Seol menatap wajahnya.

“Kau pikir dengan seminggu latihan rahasia, kau bisa menandingiku?” Cheonmyeong tertawa. “Aku sudah berlatih sejak usia enam tahun. Setiap hari. Setiap malam. Darah, keringat, air mata. Apa yang kau tahu tentang perjuangan?”

Seol menatap matanya. Di balik kemarahan dan kebencian, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Ketakutan.

Cheonmyeong takut. Bukan takut kalah—tapi takut bahwa Seol, sampah yang selama ini ia injak, mungkin suatu hari bisa menjadi ancaman. Dan rasa takut itu membuatnya ingin menghancurkan Seol sekarang juga.

Cheonmyeong melepaskan rambut Seol dan mundur selangkah.

“Aku bosan,” katanya. “Mari akhiri ini.”

Ia mengangkat tangan kanannya. Qi mulai berkumpul di telapak tangannya—bukan qi biasa, tetapi sesuatu yang lebih padat, lebih panas, seperti bola api yang terbentuk dari udara tipis.

Penonton bergumam. Teknik itu bukan bagian dari ajaran Klan Ryu. Itu adalah Gelombang Qi Terkonsentrasi—teknik tingkat lanjut yang biasanya hanya dikuasai oleh pendekar level Geumgang ke atas.

“Cheonmyeong!” suara tetua Ryu Jong memperingatkan. “Jangan berlebihan!”

“Tenang, Sabeom-nim,” kata Cheonmyeong tanpa menoleh. “Aku hanya akan melumpuhkannya. Dia tidak akan mati.”

Bola qi itu melesat.

Seol tidak punya waktu untuk menghindar. Ia hanya bisa mengangkat kedua tangannya ke depan, mengalirkan seluruh qi yang ia miliki untuk menciptakan perisai tipis—tipis seperti kertas.

Bola qi itu menghantam.

Ledakan kecil terjadi. Tanah di sekitar Seol terangkat, debu dan lumut beterbangan. Tubuh Seol terpental ke belakang, membentur batang pohon tua dengan bunyi krak yang mengerikan.

Ia jatuh. Tidak bergerak.

Penonton terdiam.

Cheonmyeong menurunkan tangannya, napasnya sedikit terengah. Senyum puas menghiasi wajahnya.

“Sudah berakhir,” katanya.

---

Saat Semua Orang Mengira Sudah Berakhir

Tapi Seol tidak pingsan.

Rasa sakit yang meledak di sekujur tubuhnya justru membuat pikirannya jernih. Ia merasakan tulang rusuknya retak—setidaknya dua. Tangannya mati rasa. Tapi di dalam dadanya, pusaran qi-nya masih berputar.

Tidak. Bukan masih berputar. Berputar lebih cepat.

Seperti ada yang membuka kran. Qi yang selama ini ia kumpulkan, yang ia tekan, yang ia sembunyikan—tiba-tiba mengalir deras. Bukan karena ia memaksanya, tetapi karena tubuhnya, dalam bahaya maut, bereaksi dengan cara yang tidak pernah ia alami.

“Seol!” suara Gu panik. “Kendalikan pusarannya! Jika terlalu cepat—”

Tapi Seol tidak mendengar. Atau mungkin ia memilih untuk tidak mendengar.

Yang ia dengar adalah suara lain. Suara dari dalam dirinya sendiri.

“Bangun.”

Ia membuka mata.

Cheonmyeong sedang berbalik, mengira pertarungan sudah selesai. Para penonton mulai bergerak, beberapa mendekat untuk melihat kondisi Seol.

“Belum… selesai.”

Suara itu keluar parau, hampir tidak terdengar. Tapi Cheonmyeong mendengarnya.

Ia berbalik. Matanya melebar.

Seol berdiri.

Tubuhnya berlumuran debu dan darah. Satu tangan memegang batang pohon untuk bertumpu. Matanya—matanya bersinar dengan api yang belum pernah Cheonmyeong lihat sebelumnya.

“Apa…” Cheonmyeong tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Seol melepaskan tangannya dari pohon. Ia berdiri sendiri. Kaki kanannya sedikit gemetar, tetapi ia berdiri.

“Aku belum menyerah,” katanya.

Cheonmyeong tertawa. Tapi tawanya tidak lagi percaya diri. Ada nada gugup di dalamnya. “Kau bodoh. Tubuhmu sudah hancur. Satu pukulan lagi dan kau akan mati.”

“Maka pukul,” kata Seol.

Ia mengambil langkah maju.

Satu langkah. Dua langkah.

Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Tulang rusuknya menusuk paru-parunya. Darah mengalir dari sudut mulutnya. Tapi ia tidak berhenti.

Cheonmyeong mundur. Hanya selangkah, tapi semua orang melihatnya.

Ryu Cheonmyeong mundur.

“Kau… kau!” wajah Cheonmyeong memerah karena amarah dan malu. “Kau pikir ini heroik? Kau pikir dengan bertahan seperti ini kau akan menang?”

Ia mengangkat kedua tangannya. Qi berkumpul—lebih banyak dari sebelumnya. Jauh lebih banyak. Tapi kali ini, qi itu tidak bersih. Ada warna merah kecoklatan di dalamnya, seperti darah kering.

Teknik terlarang.

Penonton mulai merasakan keanehan. Udara di sekitar Cheonmyeong menjadi berat, menyesakkan. Tetua Ryu Jong mengerutkan kening, matanya menyipit.

“Cheonmyeong! Teknik apa itu?” teriaknya.

Cheonmyeong tidak menjawab. Matanya hanya tertuju pada Seol—pemuda kurus yang berdiri di hadapannya dengan tubuh hancur namun tidak mau jatuh.

“Aku akan menghancurkanmu!” teriaknya.

Bola qi merah kecoklatan itu melesat. Lebih besar, lebih cepat, lebih dahsyat dari sebelumnya. Udara di jalurnya bergetar, dedaunan beterbangan, tanah terbelah.

Seol tidak bisa menghindar. Tidak bisa menangkis.

Tapi di saat terakhir, ketika bola qi itu hanya sejengkal dari wajahnya, ia merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti tubuhnya.

---

Pengorbanan Gu

Dunia berubah.

Qi merah itu berhenti. Tidak menghantam Seol. Tidak meledak. Ia berhenti di udara, seperti terperangkap dalam dinding tak terlihat.

Dan kemudian, perlahan, ia berbalik.

Cheonmyeong terpaku. “Apa… apa yang terjadi?”

Dari tubuh Seol, cahaya ungu mulai memancar. Bukan dari luar—dari dalam. Seperti ada matahari kecil yang terbangun di dadanya. Cahaya itu menyebar ke seluruh tubuhnya, membentuk lapisan tipis yang berdenyut pelan.

Dan suara Gu bergema. Bukan hanya di benak Seol, tetapi di udara, di seluruh hutan, di telinga semua orang yang hadir.

“Anak nakal ini,” suara Gu terdengar lelah, marah, tetapi juga bangga. “Dia masih belum bisa mengendalikan kekuatannya sendiri. Tapi aku tidak akan membiarkan dia mati di tangan pengecut seperti kau.”

Cahaya ungu meledak.

Gelombang kejut menyebar ke segala arah. Cheonmyeong terlempar ke belakang, tubuhnya membentur pohon besar hingga batangnya retak. Para penonton berlari menyelamatkan diri. Dua tetua mengangkat tangan menciptakan perisai qi untuk melindungi diri.

Dan di tengah pusaran cahaya ungu itu, Seol berdiri.

Matanya terbuka lebar, tetapi tidak melihat. Pupilnya bercahaya ungu, dan dari tubuhnya, sembilan ekor cahaya—samar, nyaris tidak terlihat—berkibar di belakangnya seperti bayangan rubah raksasa.

“Gu…” bisik Seol. Ia bisa merasakan Gu di dalam dirinya—bukan lagi sekadar suara di benaknya, tetapi kehadiran yang nyata, hangat, dan sangat lelah.

“Diam,” kata Gu, suaranya sekarang terdengar seperti bisikan lembut di telinganya. “Kau sudah melakukan bagianmu. Sekarang giliranku.”

Cahaya ungu itu mengecil, mengerucut menjadi satu titik di dada Seol, lalu meledak lagi—tapi kali terarah. Gelombang qi yang luar biasa besarnya menyapu seluruh area, memporak-porandakan pepohonan dalam radius lima puluh tombak.

Cheonmyeong, yang baru saja bangkit, kembali tersapu. Ia menjerit saat gelombang itu menghantamnya, tubuhnya terpental jauh ke dalam hutan, menghancurkan tiga pohon sebelum akhirnya berhenti.

Dan kemudian, semuanya berhenti.

Cahaya ungu padam. Ekor-ekor bayangan menghilang. Seol jatuh ke depan, wajahnya membentur tanah berlumut, tidak bergerak.

---

Setelah Badai

Keheningan yang mencekam menyelimuti hutan.

Pepohonan dalam radius luas rata dengan tanah. Debu beterbangan di udara, bercampur dengan kabut pagi yang mulai mencair. Para penonton yang selamat berdiri dengan wajah pucat, tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi.

Tetua Ryu Jong adalah orang pertama yang bergerak. Ia berlari ke arah Cheonmyeong, yang terbaring di antara puing-puing pohon. Tubuh pemuda itu penuh luka, pakaiannya robek, darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Tapi ia masih bernapas.

“Cheonmyeong! Cheonmyeong!” Ryu Jong memeriksa nadinya. Masih kuat. Ia selamat.

Tetua kedua, Ryu Myeong, mendekati Seol dengan hati-hati. Ia tidak tahu apakah pemuda itu masih hidup setelah mengeluarkan kekuatan sebesar itu.

Ia membalikkan tubuh Seol. Wajahnya pucat, napasnya sangat lemah—hampir tidak terasa. Tapi ia masih hidup.

“Bawa mereka berdua ke ruang penyembuhan,” perintah Ryu Jong dengan suara berat. “Sekarang.”

Dua murid berlari mendekat, mengangkat Cheonmyeong dengan hati-hati. Dua lainnya mengangkat Seol. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang tahu harus berkata apa.

Saat tandu Seol diangkat, sesuatu jatuh dari saku bajunya. Sebuah batu hitam kecil, tidak lebih besar dari telapak tangan, dengan permukaan halus dan gelap seperti langit malam tanpa bintang.

Ryu Myeong memungutnya. Batu itu dingin—sangat dingin, seperti es yang tidak pernah mencair. Ia menatapnya dengan kerutan di dahi.

“Batu apa ini?” gumamnya.

Batu itu tidak menjawab. Diam. Mati. Seperti tidak pernah memiliki kehidupan sama sekali.

---

Di Dalam Kesadaran Seol

Gelap.

Seol berdiri di tengah kegelapan tanpa ujung. Tidak ada tanah di bawah kakinya, tidak ada langit di atasnya. Hanya kegelapan yang pekat, hangat, dan sunyi.

“Gu?” suaranya menggema, lalu ditelan oleh kehampaan.

Tidak ada jawaban.

Ia berjalan—atau setidaknya ia berpikir ia berjalan. Tidak ada rasa gerak, tidak ada rasa lelah. Hanya kegelapan.

“Gu!” teriaknya.

Dan kemudian, di kejauhan, ia melihat sesuatu. Sebuah titik cahaya. Kecil, redup, seperti bintang yang sekarat.

Ia berlari mendekat. Semakin dekat, semakin terang cahaya itu. Dan di tengah cahaya itu, ia melihat sosok.

Seorang perempuan. Atau setidaknya, bentuk yang menyerupai perempuan. Rambut panjang seputih salju, sembilan ekor rubah yang terbentang di belakangnya seperti sayap cahaya, dan mata merah delima yang menatapnya dengan kelelahan luar biasa.

“Gu…” bisik Seol.

Sosok itu tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Lembut. Hangat. Tapi juga sangat sedih.

“Kau bertahan,” kata Gu, suaranya sekarang tidak lagi sinis, tidak lagi tajam. Lembut, seperti angin sore di musim semi. “Kau bertahan lebih lama dari yang kukira.”

“Gu, apa yang terjadi? Di mana kita?”

“Di dalam kesadaranmu. Aku membawamu ke sini untuk sementara. Tubuhmu… sedang beristirahat.” Gu menghela napas. “Aku memaksakan diri terlalu keras. Mengeluarkan terlalu banyak kekuatan.”

Seol merasakan dadanya sesak. “Kau… kau terluka?”

“Aku tidak punya tubuh untuk terluka, bocah.” Gu tertawa kecil. “Tapi kekuatanku… berkurang. Banyak. Aku akan tidur untuk beberapa waktu. Mungkin lama.”

“Tidak!” Seol melangkah maju, meraih tangan Gu. Tapi tangannya hanya melewati cahaya itu, seperti mencoba menangkap kabut. “Kau tidak boleh… aku belum membebaskanmu. Aku belum membayar utangku.”

Gu menatapnya dengan mata merah delima itu. Ada sesuatu di matanya yang belum pernah Seol lihat—sesuatu yang mungkin tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun selama ribuan tahun hidupnya.

Air mata.

“Kau sudah membayarnya, bocah,” bisiknya. “Kau membuat makhluk tua seperti aku percaya bahwa manusia tidak semuanya serakah. Bahwa ada yang layak diperjuangkan.”

Cahayanya mulai meredup. Sosok Gu mulai memudar.

“Gu!” Seol berteriak. “Jangan pergi! Aku masih butuh kau! Aku masih… aku masih belum bisa…”

“Kau bisa.” Suara Gu sekarang hanya bisikan, seperti angin yang menjauh. “Kau lebih kuat dari yang kau tahu, Ryu Seol. Ingat itu. Dan ingat janjimu. Suatu hari… bebaskan aku…”

Cahaya itu padam.

Kegelapan kembali menyelimuti.

Dan Seol berdiri sendirian di tengah kehampaan, dengan air mata yang tidak bisa ia tumpahkan, karena di sini, di dalam kesadarannya sendiri, tidak ada air mata yang bisa jatuh.

---

Di Ruang Penyembuhan – Dua Hari Kemudian

Seol membuka matanya.

Langit-langit kayu yang asing. Bau ramuan menyengat di hidungnya. Tubuhnya terasa seperti balok batu—tidak bisa bergerak, tidak bisa merasakan apa pun.

“Dia sadar!” suara seorang perempuan di sampingnya. “Tetua! Dia sadar!”

Wajah-wajah muncul di atasnya. Tetua Ryu Myeong. Seorang tabib tua. Dan di belakang mereka, wajah Yeon yang basah oleh air mata.

“Seol! Seol, kau bisa mendengarku?” Yeon memegang tangannya erat-erat.

Seol mencoba menjawab, tetapi tenggorokannya kering. Ia hanya bisa mengangguk kecil.

“Kau sudah tidak sadar selama dua hari,” kata tetua Ryu Myeong. “Tubuhmu hancur. Tulang rusuk retak, meridianmu… kacau. Tapi kau selamat.”

Seol memejamkan mata. Ia mencoba mencari Gu. Di dalam dadanya, qi-nya masih ada—masih mengalir pelan, seperti sungai kecil di musim kemarau. Tapi kehadiran Gu, suara sinis yang selalu ada di benaknya… tidak ada.

Kosong.

“Gu…” pikirnya. “Aku akan membebaskanmu. Aku berjanji.”

Tidak ada jawaban. Tapi di dalam dadanya, pusaran qi itu berputar sedikit lebih cepat. Seperti ada yang mendengar.

“Cheonmyeong?” tanya Seol, suaranya serak.

Tetua Ryu Myeong dan Yeon bertukar pandang.

“Dia juga selamat,” kata tetua akhirnya. “Tapi luka-lukanya… aneh. Ada kekuatan gelap di dalam tubuhnya yang tidak bisa kami sembuhkan. Tetua Ryu Dohwan sedang menyelidiki.”

Seol tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit kayu di atasnya.

Duel itu berakhir tanpa pemenang. Tapi semua orang yang menyaksikan tahu: pemuda yang selama ini disebut sampah telah berdiri di hadapan jenius klan, menerima pukulan terkuatnya, dan bertahan.

Tidak ada yang akan memanggilnya sampah lagi.

Tapi Seol tahu, ini baru awal.

Di dalam dadanya, pusaran qi berputar pelan, menunggu.

Menunggu hari ketika ia cukup kuat untuk menepati janjinya.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!