Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Fabian menelan salivanya karena tercengang melihat sosok Sarah yang berbeda dari biasanya. Ia menatap takjub 11 piring siomay yang sudah habis di meja
"Bang satu porsi lagi ya!"teriak Sarah lalu meletakkan piring ke-12 nya yang sudah habis dalam beberapa detik.
"Lu belum kenyang, Sar?"tanya Fabian dengan hati-hati. Entah kenapa sejak ia meninggalkan Sarah ke toilet, gadis itu terlihat kesal. Apakah gadis itu marah padanya karena meninggalkannya sendirian tadi?
"Belum,"jawab Sarah dengan singkat. Wajahnya memberanik dengan mulut yang masih mengunyah.
Penjual siomay itu kembali meletakkan seporsi siuman di depan Sarah." Mas maaf nih tolong bilangin ke pacarnya, nanti perutnya sakit kalau kebanyakan makan,"bisik penjual itu pada Fabian. Sebenarnya penjual itu merasa beruntung karena dengan begitu siomaynya akan cepat habis, tapi penjual itu juga tidak tega jika harus melihat pelanggannya sakit perut karena terlalu banyak makan.
Fabian berdahak mendengar kata pacar keluar dari mulut penjual siomay itu.
"Bang, satu lagi ya!" Teriak Sarah lagi.
"Nggak usah dibuatin Bang, ini uangnya. Kembaliannya buat Abang aja." Ujar Fabian kemudian bangkit dan menarik Sarah untuk pergi." Ayok, Sar."
"Gak mau! Gue masih mau makan." Sarah memberontak tapi kalian tetap membawanya pergi.
"Bian, lepas!" Bentak Sarah menepis tangan Fabian dengan kasar setelah mereka sudah cukup jauh dari keramaian.
Fabian menatap Sarah sejenak, ia lalu menghela nafas." Ada apa? Gua marah kayak gini pasti karena sesuatu, ada apa?"tanya Fabian.
Sarah hanya diam, gadis itu melipat tangannya di depan dada menunjukkan bahwa ia sedang tidak ingin ditanya.
Fabian memegang kedua kehendak Sarah lalu menggeser lebih dari situ supaya menghadap ke arahnya." Lo kenapa, hm? Gue ada salah sama lo?" Tanya Fabian lagi dengan lembut.
Sarah menatap kedua mata Fabian, di sana terlihat jika laki-laki di depannya ini sedang mengkhawatirkannya.
Cara Menggala nafasnya, ia lalu melepas kedua tangan Fabian dari pundaknya." Maaf ya, gue emang lagi marah tapi bukan sama lo, gue marah sama orang lain."
Fabian mengangguk paham, ia tidak akan menanyakan lebih lanjut. Terlihat dari sikap gadis itu bahwa ia tidak nyaman, jadi dia tidak ingin memaksa.
"Gimana kalau kita pulang aja?"
Sarah mendongak untuk melihat wajah Fabian, ia merasa bersalah telah merusak suasana. Tapi sejujurnya Sarah sudah sangat lelah, jadi pilihan yang terbaik untuk saat ini adalah pulang.
....
"Makasih ya Fabian, Maaf gue merusak suasana hari ini," ucap Saras adalah sampai di depan gerbang rumahnya.
Fabian tersenyum manis." Nggak masalah kok, justru gue seneng banget hari ini.
Sarah membalas senyuman itu, Fabian benar-benar laki-laki yang baik. Apakah dirinya tega menyakiti perasaan laki-laki itu?
Fabian turun dari motor, ia menghadap ke arah Sarah. Kedua tangannya kembali memegang kedua pundak gadis itu.
"Sar, lo tahu kan kalau gue selalu punya waktu buat lo?"
Sarah menatap lekat kedua manik mata Fabian yang terlihat tulus.
"Itu artinya gue selalu siap mendengar semua cerita Lo, jadi jangan pernah merasa sendiri ya."
Fabian menepuk kedua bahu Sarah. " Yaudah, gue balik dulu."
Sarah tersenyum, entahlah rasanya seperti ada sesuatu yang menggelitik perutnya dan menjalar ke wajahnya yang mulai terasa panas. Ia melambaikan tangannya pada Fabian yang sudah siap untuk pergi meninggalkan area rumahnya.
Sekali lagi Sarah tersenyum.
Setelah Fabian berlalu dari pada rumahnya, ketika dirinya hendak masuk ke dalam rumah. Pergerakannya terhenti ketika ia melihat mobil berwarna silver yang terparkir di halaman rumahnya, ia merasa segan untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri. Rasa bersalah mengalir ke dalam hatinya, ia tidak tega memandang wajah teduh ibunya yang tulus mencintai keluarga ini.
Apakah sebaiknya Sarah memberitahu ibunya?
Bagaimana reaksi ibunya ketika mengetahui suaminya berselingkuh hingga mempunyai anak?
Sarah sungguh tidak tega, Tapi cepat atau lambat ibunya pasti akan tahu.
Ia menghela napas, ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah. Sebagai gantinya ia memilih untuk berjalan di lingkungan kompleks perumahannya menuju minimarket terdekat. Sesampainya di sana Sarah mengambil satu persatu barang yang ingin dibeli nya. Sebagian besar barang yang dia beli adalah makanan.
Setelah membayar semua belanjaannya, Sarah pun berjalan ke salah satu kursi yang tersedia di sana. Satu persatu makanan yang dibelinya telah terbuka, sembari memakan makanan yang dia beli, matanya menatap lurus ke arah depan, menatap orang-orang yang berlalu dalam di sana.
Pikiran salah jauh menerawang mengingat memori masa lalu. Sempat terpikirkan oleh Sarah bahwa kisah masa depannya hanyalah mimpi atau bahkan saat ini ia sedang bermimpi. Entah mana yang benar yang jelas syarat tidak suka keduanya.
Cerita hidupnya di masa lalu dan saat ini memang berbeda tapi keduanya sama-sama menyakitkan.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Apa yang salah?
Jika dipikir lagi, apakah Sarah benar-benar mati saat jatuh dari jembatan kala itu?
Jangan-jangan saat ini salah memang sedang bermimpi?
Tangan kirinya terangkat lalu menampar wajahnya sendiri, Ia melakukan hal itu berkali-kali. Orang-orang yang ada di sekitarnya mana tak aneh ke arah Sarah, ada pula yang menatapnya kasihan karena versi itu benar-benar terlihat seperti orang yang tertekan.
Sementara tangan Sarah masih terus menampar pipinya sendiri, hingga tiba-tiba seseorang menahan tangannya. Saraf tersadar kemudian menoleh ke arah orang tersebut.
"Udah lama nggak ketemu, ternyata lo jadi gila ya?"
Sarah menepis tangan itu dengan kasar, ia memicingkan matanya dan melempar tatapan tidak suka pada orang yang saat ini berdiri di sampingnya.
"Ngapain lu ada di sini?"tanya Sarah dengan ketus.
Orang itu terkekeh." Galak banget sih, tapi nggak apa-apa gue suka."
Sarah melempar tatapan jijik pada orang itu, ia lalu mengambil satu persatu makanan di atas meja dan memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik. Sarah pun beranjak dari tempatnya dan berniat ingin pergi. Namun, belum sempat kakinya melangkah tangannya dicekal oleh orang itu.
"Lepasin gue, Yogi!" Teriak Sarah dengan kesal, ia malas berurusan dengan manusia brengsek seperti Yogi.
Yogi melepas cakalangnya tapi senyumannya dari tadi ia tampilkan tidak hilang." Santai aja dong, gue cuma mau sapamlo.
Sarah mendengus, ia selalu berbalik hendak melangkah tapi ucapan yoghurt menghentikan langkahnya.
"Gue kangen sama Lo."
Cara berbaik dan melayangkan sumpah serapah, bagi siapapun yang mendengarnya pasti menganggap Sarah adalah gadis yang tidak tahu adab. Tapi hal itu malah membuat Yogi tertawa geli, ia sampai harus memegang perutnya.
Sarah meniup poninya yang panjang, seakan menahan kesal yang sebentar lagi akan meluap menjadi emosi yang meledak-ledak.
Gadis itu mendekat dan melayangkan tangannya yang sudah terkepal kuat ke arah Yogi. Namun dengan cekatan, Yogi menghindar dan malah menarik tangan itu hingga membuat gadis itu menabrak dadanya, laki-laki itu mengunci pergerakan Sarah.
"Lepasin gue!" Teriak Sarah hingga membuat orang-orang yang berada di sekitarnya menetap mereka dengan was-was.
"Ikut gue dengan tenang atau foto itu gue sebar," bisik Yogi tepat di telinga Sarah.
"Brengsek!" Cara memukul dada Yogi dengan tangan kirinya yang sudah dari tadi menenteng kantong plastik. Mau tidak mau jadi harus melepaskan gadis itu.
"Gue nggak peduli mau lo sabar atau apapun itu! Gue tahu kok waktu itu nggak bohong, jadi percuma kalau Lo ancam gue," salah berbalik lalu keluar dari minimarket, tapi Yogi masih saja mengikutinya.
"Gue juga tau kok kalau Lo udah tau kebohongan gue."
Sarah tidak mengindahkan lagi ucapan Yogi, ia terus berjalan mengabaikan laki-laki itu. Yogi memilih berhenti karena Sarah terus mengabaikannya.
"Jangan lupa balas pesan dari gue ya, sayang!" Teriak Yogi pada Sarah.
Sarah memutar bola matanya malas. " Dasar cowok gila!"