Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Gema Tulang dan Besi Hitam
Bulan menggantung di langit malam layaknya mata sabit dewa kematian yang mengawasi bumi. Cahaya peraknya menyapu kanopi Hutan Pinus Hitam, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas lautan salju.
Di bagian terdalam hutan yang jarang dijamah murid pelayan, Shen Yuan berdiri bertelanjang dada. Udara malam yang suhunya mampu membekukan air dalam hitungan tarikan napas, seolah tidak berani menyentuh kulitnya. Panas tubuhnya menguap ke udara, membentuk kabut tipis yang menyelimuti siluetnya.
Di depannya, berjarak tiga langkah, menjulang sebuah Batu Besi Hitam setinggi dua orang dewasa.
Batu ini bukanlah batu biasa. Ia terbentuk dari endapan mineral keras yang terkubur ratusan tahun di bawah gunung bersalju. Murid-murid luar yang menggunakan pedang baja tingkat menengah sekalipun, sering kali hanya mampu meninggalkan goresan putih setebal rambut di permukaannya. Batu ini adalah saksi bisu, sekaligus samsak uji coba paling sempurna yang bisa ditemukan oleh Shen Yuan di alam liar.
Shen Yuan menutup matanya. Ia mengosongkan pikirannya dari suara angin dan gemerisik daun pinus. Di dalam lautan kesadarannya, lembaran-lembaran perkamen berdebu yang ia baca siang tadi kembali terbuka lebar.
"Seni Tinju Runtuh Gunung. Jangan memukul dengan daging, memukullah dengan tulang. Padatkan Qi, kunci di dalam sumsum, dan biarkan musuh menelan ledakannya."
Ini adalah teori yang melawan akal sehat kultivasi ortodoks. Praktisi biasa akan menyalurkan energi ke luar tubuh untuk membentuk perisai atau tebasan proyektil. Namun teknik cacat ini memaksa penggunanya menarik energi ke dalam, mengubah lengan menjadi tong mesiu yang tertutup rapat, lalu meledakkannya tepat di titik benturan.
"Mari kita lihat seberapa cacat teknik ini," gumam Shen Yuan perlahan.
Ia membuka matanya. Tidak ada kuda-kuda bela diri yang rumit. Ia hanya menarik kaki kanannya setengah langkah ke belakang, membumikan pusat gravitasinya.
Benih hitam di Dantian-nya berputar perlahan, lalu berakselerasi dengan ganas. Energi emas gelap—Qi purba yang sangat padat dan mendominasi—mengalir deras keluar dari perutnya, merayap naik menuju meridian bahu kanannya.
Ssshhhh...
Suara desisan aneh terdengar dari dalam tubuh Shen Yuan. Itu adalah suara energi yang dipaksa masuk dan dimampatkan ke dalam ruang sempit di lengannya.
Rasa sakit yang luar biasa langsung meledak.
Urat-urat nadi di lengan kanan Shen Yuan menonjol keluar seperti cacing-cacing hitam yang meronta di bawah kulit. Otot-ototnya menegang hingga bergetar hebat. Ia merasa seolah ada cairan timah mendidih yang disuntikkan langsung ke dalam sumsum tulangnya.
Bagi murid biasa di Lapisan Kelima Kondensasi Qi, meridian mereka pasti sudah robek berkeping-keping di detik ini, dan tulang mereka akan retak dari dalam. Namun, tubuh Shen Yuan telah dicuci oleh lumpur hitam, diperkuat oleh racun dan esensi dari nyawa yang ia telan. Tulangnya mengerang, meridiannya menjerit, namun mereka bertahan.
"Kunci," desis Shen Yuan melalui gigi-giginya yang terkatup rapat. Darah segar mulai merembes dari sela-sela gusinya karena menahan sakit.
Energi emas gelap itu kini sepenuhnya terkurung di lengan kanannya, berpusar liar mencari jalan keluar. Lengan kanannya bahkan terlihat sedikit membengkak, memancarkan hawa panas yang melelehkan salju di bawah kakinya.
Tanpa menunggu sedetik pun lagi, Shen Yuan melangkah maju.
Langkah Penghancur Bayangan.
Ia meminjam momentum dorongan dari kakinya, melontarkan tubuhnya ke depan seperti peluru meriam. Tangan kanannya melesat dalam lintasan lurus yang sangat sederhana, tidak elegan, tidak indah, hanya sebuah pukulan lurus yang murni dan biadab.
Kepalan tangannya menghantam tepat di tengah permukaan Batu Besi Hitam.
BZZZTTT—BUMMMM!
Bukan suara benturan batu yang tercipta, melainkan suara dentuman sonik yang merobek telinga. Gelombang kejut tak kasat mata meledak dari titik benturan, menyapu salju dalam radius lima tombak hingga memperlihatkan tanah hitam di bawahnya. Dahan-dahan pinus di sekitar mereka patah dengan suara berderak histeris akibat tekanan udara.
Waktu seolah berhenti sesaat.
Kepalan tangan Shen Yuan masih menempel di batu raksasa itu. Di permukaan batu, hanya ada lekukan kecil seukuran kepalan tangan, dikelilingi oleh jaring-jaring retakan tipis. Tidak meledak berkeping-keping.
Shen Yuan menarik napas tersengal, menarik tangannya perlahan.
"Hanya... retak kecil?" Ia mengerutkan dahi, merasa ada yang salah. Apakah teknik ini benar-benar gagal?
Namun, tepat ketika ia menurunkan lengannya, sebuah suara gemuruh pelan terdengar dari dalam batu tersebut. Suaranya seperti gilingan gigi raksasa yang sedang mengunyah kerikil.
Kretek... Kretek... KRAAAAAK!
Batu Besi Hitam setinggi dua orang itu tiba-tiba bergetar. Dari retakan tipis di permukaannya, menyembur keluar debu batu yang sangat halus seperti tepung. Sedetik kemudian, seluruh bagian belakang batu raksasa itu hancur berhamburan.
Batu itu tidak pecah terbelah dua. Ia runtuh.
Bagian dalamnya telah sepenuhnya menjadi pasir halus akibat gelombang kejut yang masuk dan meledak di dalam intinya. Kekuatan tinju itu tidak merusak bagian luar, melainkan membusukkan target dari dalam, meremukkan struktur utamanya tanpa ampun.
Mata Shen Yuan terbelalak ngeri sekaligus takjub melihat bongkahan batu keras itu kini berubah menjadi tumpukan kerikil dan debu hitam.
"Ini... ini bukan Tinju Runtuh Gunung," bisik Shen Yuan, menatap kepalan tangannya sendiri. "Ini adalah Tinju Pemusnah Jantung. Jika pukulan ini mengenai dada manusia, kulit luar mereka mungkin utuh, tapi seluruh organ dalam mereka akan berubah menjadi bubur berdarah."
Tiba-tiba, rasa sakit yang menusuk tajam menyadarkannya dari euforia.
Tetes... Tetes...
Darah segar menetes dari buku-buku jarinya, mewarnai salju. Lengan kanannya mati rasa, gemetar tak terkendali. Kulit di sekitar pergelangan tangannya retak halus, memunculkan garis-garis merah akibat pembuluh darah kapiler yang pecah.
Shen Yuan segera duduk bersila, mengatur napasnya untuk menarik sisa energi liar di lengannya kembali ke Dantian.
Logikanya bekerja dengan cepat dan dingin. "Kekuatannya mutlak, tapi harganya sangat mahal. Lenganku tidak hancur berkat fondasi Kitab Penelan Surga, tapi otot dan meridian kecilku mengalami robekan mikro. Dalam kondisiku sekarang, aku maksimal hanya bisa menggunakan Tinju Runtuh Gunung dua kali dalam satu hari. Jika aku memaksa pukulan ketiga, tulang tanganku akan menjadi debu seperti batu itu."
Ia mengangguk puas. Sebuah senjata rahasia (Trump Card) tidak boleh digunakan sembarangan. Mengetahui batas kemampuannya sendiri adalah kunci bagi seorang kultivator untuk berumur panjang.
Srekk... Kraaak...
Telinga Shen Yuan yang tajam tiba-tiba menangkap suara ranting patah yang sangat pelan dari arah kegelapan di belakangnya. Suara itu bukan disebabkan oleh angin. Itu adalah suara pijakan kaki yang disengaja, mencoba meredam bunyi di atas salju.
Sesuatu sedang mengintainya.
Aroma amis darah dari buku jari Shen Yuan telah memanggil tamu tak diundang dari kedalaman hutan.
Shen Yuan tidak menoleh, tidak juga berdiri dengan panik. Ia tetap duduk bersila, namun benih hitam di dalam perutnya mulai berputar lambat, menutupi auranya dan berpura-pura menjadi mangsa yang terluka dan lemah.
Dari balik bayangan pohon pinus raksasa, sepasang mata merah menyala perlahan muncul. Disusul oleh dengusan napas panas yang mencairkan es di udara.
Itu adalah Serigala Iblis Salju. Binatang buas tingkat menengah, setara dengan kultivator Puncak Lapisan Keempat. Bulunya seputih salju, bertindak sebagai kamuflase alami yang mematikan. Ukurannya sebesar anak sapi liar, dengan taring-taring yang meneteskan air liur asam.
Serigala ini terkenal licik. Ia mengamati Shen Yuan yang sedang duduk membelakanginya, menilai kelemahan mangsanya. Bau darah yang menguar dari tangan pemuda itu menandakan bahwa mangsanya sedang terluka.
Insting binatang buas itu tidak bisa menahan rasa laparnya. Dengan satu tolakan kuat dari kaki belakangnya, Serigala Iblis Salju melompat ke udara, membuka rahang besarnya untuk menggigit putus leher Shen Yuan dari belakang. Serangannya cepat, sunyi, dan tanpa peringatan.
Angin berdesir di belakang tengkuk Shen Yuan.
Bagi orang awam, ini adalah momen kematian. Namun bagi Shen Yuan, ini adalah pengantaran sumber daya gratis.
Tepat ketika taring serigala itu berjarak satu jengkal dari lehernya, Shen Yuan tidak berdiri atau menangkis. Ia hanya memutar pinggangnya seratus delapan puluh derajat saat masih dalam posisi duduk bersila. Tangan kirinya—tangan yang masih utuh dan tidak terluka—melesat ke atas, mencengkeram rahang bawah serigala itu dengan akurasi yang mustahil.
Grep!
Serigala yang sedang melayang di udara itu tertahan paksa. Matanya membelalak kaget. Gaya dorongnya yang setara dengan ratusan kati dihentikan hanya dengan satu tangan kiri seorang manusia.
"Energi manusia membuatku mual," bisik Shen Yuan, menatap langsung ke dalam mata merah serigala yang kini memancarkan kepanikan liar. "Tapi energimu... adalah obat yang sangat kubutuhkan malam ini."
Serigala itu mencoba memberontak, mengayunkan cakar depannya untuk mengoyak dada Shen Yuan. Namun, sebelum cakar itu menyentuh kulitnya, pusaran hisap yang mengerikan meledak dari telapak tangan kiri Shen Yuan.
Kitab Penelan Surga: Telan.
Auuuungg—khh!
Lolongan serigala itu tercekik di tenggorokan. Kabut putih dan energi liar berwarna perak dari dalam tubuh serigala itu tersedot keluar seperti air bah yang menemukan lubang pembuangan. Energi binatang buas ini jauh lebih murni, lebih liar, dan bebas dari karma kotor niat buruk manusia.
Energi perak itu mengalir masuk ke dalam lengan kiri Shen Yuan, menembus Dantian, dimurnikan oleh Benih Hitam menjadi untaian emas, lalu langsung dialirkan ke lengan kanan Shen Yuan yang sedang terluka.
Rasa sejuk yang menenangkan segera menyelimuti lengan kanannya. Pembuluh darah kapiler yang pecah perlahan menutup, dan otot-otot yang robek mulai merajut diri mereka kembali dengan kecepatan yang kasat mata.
Hanya butuh sepuluh tarikan napas.
Tubuh raksasa Serigala Iblis Salju itu mengering, menyusut, dan kehilangan seluruh kehidupan. Ketika Shen Yuan membuka cengkeramannya, yang jatuh ke atas salju hanyalah tumpukan kulit berbulu dan tulang belulang layu.
Shen Yuan menghela napas panjang, uap putih mengepul dari bibirnya. Ia melihat tangan kanannya. Rasa sakitnya telah hilang hampir tujuh puluh persen.
"Rantai makanan yang sempurna," gumamnya, tersenyum tipis di tengah dinginnya malam. "Aku merusak tubuhku untuk menciptakan kekuatan penghancur, lalu aku memakan makhluk yang lebih lemah untuk memperbaiki kerusakannya."
Ia bangkit berdiri, menendang sedikit sisa tulang serigala itu ke balik semak-semak, dan menatap jauh ke arah Puncak Pedang Patah yang tersembunyi di balik awan malam.
Persiapannya telah selesai. Kini, ia hanya perlu menanti dengan sabar di balik bayang-bayang, menyapu pelataran setiap pagi, dan menunggu waktu Ujian Evaluasi Sekte Luar tiba. Karena saat hari itu datang, seluruh aturan dan hierarki arogan di pelataran ini akan ia runtuhkan dengan satu pukulan tinju berkarat.