NovelToon NovelToon
Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Status: tamat
Genre:Obsesi / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.

"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.

Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.

Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.

Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.

"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.

Gelap.

Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.

"Kevin Pratama... Karina Adelia..."

Senyumnya tajam. Berbahaya.

"Permainan baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 - EKSPANSI DAN PERTEMUAN TAK TERDUGA

ENAM BULAN KEMUDIAN - DOJO AKSELIA

Papan nama besar terpasang di depan bangunan dua lantai: "KINANTI DOJO - Pemberdayaan Melalui Bela Diri"

Akselia berdiri di depan dojo miliknya sendiri dengan perasaan bangga yang membuncah. Enam bulan sejak dia buka, murid sudah mencapai lima puluh orang, mayoritas perempuan dari berbagai latar belakang. Ada yang korban kekerasan domestik, ada yang sekadar ingin percaya diri, ada yang serius ingin jadi atlet.

"Kak Akselia!" panggil Rina murid pertamanya, perempuan yang dulu datang dengan mata memar. Sekarang dia sudah dapat sabuk kuning dan senyumnya kembali. "Kelas sore sudah penuh! Ada lima orang lagi di waiting list!"

Akselia tersenyum. "Bagus. Kasih tahu mereka akan ada kelas tambahan hari Sabtu."

"Siap!"

Di sudut dojo, ada ruang khusus untuk konseling. Kerja sama dengan psikolog relawan yang membantu murid-murid yang butuh dukungan mental selain fisik. Konsep holistik yang Akselia kembangkan, bukan cuma kuat secara fisik, tapi juga mental dan emosional.

Arjuna yang menjadi investor diam sesekali datang untuk melihat perkembangan. Dia tidak pernah ikut campur operasional, sepenuhnya percaya pada Akselia.

"Laporan keuangan bulan ini positif," kata Arjuna sambil melihat pembukuan. "Kamu sudah impas dan mulai untung. Lebih cepat dari proyeksi awal."

"Terima kasih untuk semua dukungannya, Pak."

"Jangan formal. Di luar kantor panggil Arjuna saja." Dia tersenyum. "Dan aku yang harus terima kasih. Investasi ini bukan cuma menguntungkan secara finansial tapi juga bikin aku bangga jadi bagian dari sesuatu yang bermakna."

***

SIANG HARI - KAFE DEKAT DOJO

Akselia bertemu Diana untuk makan siang, rutinitas bulanan mereka sejak hubungan membaik.

Diana terlihat berbeda lebih ringan, lebih damai. Dia sudah menutup bisnis fashionnya yang lama dan sekarang fokus ke yayasan untuk korban sabotase bisnis.

"Aku dapat kabar tentang Kevin," kata Diana sambil menyesap kopi.

Akselia menaikkan alis. "Apa?"

"Dia dapat pengurangan hukuman karena kelakuan baik. Dari delapan tahun jadi enam tahun. Dan dia sudah jalani setengahnya, artinya masih tiga tahun lagi."

Akselia mengangguk pelan. "Bagus untuk dia. Semoga dia benar-benar berubah."

Diana menatapnya penuh selidik. "Kamu benar-benar sudah tidak peduli lagi ya?"

"Tidak. Hidupku sekarang terlalu penuh dengan hal-hal baik untuk dipenuhi dengan pikiran tentang masa lalu." Akselia tersenyum. "Lagipula, Kevin bukan bagian dari hidupku lagi. Dia cuma kenangan... kenangan yang sudah aku terima dan lepaskan."

Diana tersenyum bangga. "Kamu jauh lebih bijak dari aku."

"Kamu juga sudah berubah, Diana. Yayasanmu membantu banyak orang."

"Terinspirasi dari dojomu." Diana mengangkat gelas kopi. "Untuk perempuan yang bangkit dari keterpurukan dan jadi lebih kuat."

"Untuk kita semua," sahut Akselia, mengangkat gelasnya juga.

***

SORE HARI - DOJO AKSELIA

Akselia sedang melatih kelas lanjutan ketika Rina datang terburu-buru. "Kak! Ada tamu mau ketemu! Katanya penting!"

"Siapa?"

"Dia tidak bilang namanya. Tapi dia bilang dari televisi. Mau bikin liputan tentang dojo ini."

Akselia menyerahkan kelas pada Sari yang sekarang jadi asisten instruktur, lalu menuju ruang tamu.

Di sana berdiri seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan dengan kamera crew. Wajahnya familiar, Akselia ingat, ini presenter terkenal dari program televisi pemberdayaan perempuan.

"Selamat sore, Nona Akselia Kinanti?" tanya perempuan itu dengan senyum ramah.

"Ya, benar. Ada yang bisa saya bantu?"

"Perkenalkan, saya Tania Kusuma, dari acara 'Perempuan Berdaya' di televisi nasional." Tania mengulurkan tangan. "Kami dengar tentang dojo Anda yang fokus pada pemberdayaan perempuan. Kami tertarik membuat liputan khusus tentang Anda dan murid-murid di sini."

Akselia terkejut. "Liputan televisi? Serius?"

"Sangat serius. Cerita Anda inspiratif, mantan atlet yang bangkit dari keterpurukan dan sekarang membantu perempuan lain jadi kuat. Kami pikir ini cerita yang perlu dibagikan ke publik."

Akselia ragu. Eksposur media berarti kemungkinan Kevin atau orang-orang yang kenal masa lalunya akan tahu. Tapi apakah itu masih penting? Dia sudah tidak menyembunyikan apa-apa lagi.

"Boleh saya pikir dulu?" tanya Akselia.

"Tentu. Ini kartu nama saya. Hubungi kami kalau sudah putuskan." Tania tersenyum. "Tapi saya harap Anda mau. Banyak perempuan di luar sana yang butuh melihat bahwa mereka bisa bangkit seperti Anda."

Setelah Tania pergi, Akselia duduk di ruang kantornya, menatap kartu nama itu.

Pak Dharma masuk, duduk di hadapannya. "Aku dengar ada tawaran liputan televisi?"

"Ya, Pak. Tapi aku ragu..."

"Kenapa ragu?"

"Karena kalau aku muncul di televisi, semua orang akan tahu. Termasuk... termasuk orang-orang yang kenal masa laluku."

Pak Dharma tersenyum. "Dan kenapa itu masalah? Kamu sudah bukan Akselia yang dulu. Kamu sekarang Akselia yang lebih kuat. Yang sudah damai dengan masa lalunya. Kenapa malu menunjukkan itu?"

Akselia terdiam, memikirkan kata-kata mentornya.

"Justru dengan muncul di televisi, kamu bisa jadi inspirasi bagi perempuan yang masih terjebak di situasi seperti kamu dulu. Perempuan yang pikir mereka tidak bisa bangkit. Kamu bisa tunjukkan bahwa mereka bisa." Pak Dharma menepuk meja lembut. "Ini bukan soal kamu lagi, Akselia. Ini soal semua perempuan yang bisa kamu bantu."

Akselia menatap kartu nama Tania lagi. Lalu tersenyum... senyum penuh determinasi.

"Bapak benar. Aku akan terima tawaran ini."

***

DUA MINGGU KEMUDIAN - SYUTING TELEVISI

Crew televisi memenuhi dojo. Kamera, lampu, mikrofon... semuanya dipasang profesional. Murid-murid excited jadi bagian dari liputan.

Tania mewawancarai Akselia di ring, dengan murid-murid berlatih di latar belakang.

"Jadi, Nona Akselia, ceritakan apa yang mendorong Anda membuka dojo khusus pemberdayaan perempuan ini?"

Akselia menarik napas. Ini saatnya. Saatnya dia cerita tanpa malu, tanpa sembunyi.

"Saya dulu korban kekerasan emosional dan manipulasi dari pasangan. Saya kehilangan segalanya, pekerjaan, harga diri, bahkan sempat kehilangan diri saya sendiri." Suaranya tenang tapi kuat. "Tapi dengan bantuan orang-orang baik di sekitar saya, terutama mentor saya, Pak Dharma... saya belajar bangkit. Belajar bahwa kekuatan sejati bukan dari membalas dendam, tapi dari memaafkan dan melangkah maju."

Kamera zoom ke wajah Akselia yang tulus.

"Saya buka dojo ini karena saya tahu, ada banyak perempuan di luar sana yang mengalami hal serupa. Yang merasa tidak berdaya. Yang pikir mereka tidak bisa lepas dari situasi buruk. Saya mau tunjukkan pada mereka... mereka bisa. Mereka kuat. Mereka layak bahagia."

Tania tersenyum hangat. "Pesan apa yang ingin Anda sampaikan pada perempuan yang sedang berjuang keluar dari situasi sulit?"

Akselia menatap langsung ke kamera, seolah bicara langsung pada setiap perempuan yang menonton.

"Jangan menyerah. Saya tahu rasanya ketika semuanya terasa gelap. Tapi percayalah selalu ada jalan keluar. Selalu ada orang yang mau bantu. Dan yang paling penting, kamu lebih kuat dari yang kamu kira. Bangkit bukan berarti kamu tidak pernah jatuh. Bangkit berarti kamu punya keberanian untuk berdiri lagi, meski terluka."

***

MALAM HARI - RUANG NONTON PENJARA

Kevin duduk di antara tahanan lain, menonton televisi ruang bersama. Programnya berubah ke 'Perempuan Berdaya'.

Dia hampir tidak peduli sampai wajah familiar muncul di layar.

Akselia.

Kevin tersentak, mata terbelalak. Akselia di televisi, tersenyum penuh percaya diri, berbicara tentang perjalanannya bangkit dari keterpurukan.

"...saya dulu korban kekerasan emosional dan manipulasi dari pasangan..."

Kevin merasakan dadanya sesak. Dia tahu, dia yang dimaksud. Dia yang jadi "pasangan" itu.

Tapi Akselia tidak menyebut namanya. Tidak mengekspos Kevin. Dia cukup bijak untuk tetap jaga privasi, meski Kevin tidak layak dapat perlakuan itu.

Kevin menatap layar, melihat Akselia yang sekarang kuat, mandiri, bahagia. Sangat berbeda dari Akselia yang dulu dia kenal lembut, bergantung, mudah dipermainkan.

Dan untuk pertama kalinya Kevin benar-benar mengerti apa yang dia hilangkan.

Dia kehilangan perempuan luar biasa yang bisa jadi pendampingnya, kalau saja dia tidak bodoh dan serakah.

Air mata jatuh di pipinya.

Tahanan di sampingnya menoleh. "Bro, lu nangis? Gara-gara acara TV?"

Kevin menghapus air matanya cepat. "Tidak. Cuma... cuma kena debu."

Tapi tahanan itu tidak percaya. Dia cuma tersenyum dan kembali nonton.

Kevin menatap layar sampai program selesai, sampai wajah Akselia menghilang digantikan iklan.

Lalu dia berbisik pada kekosongan, "Aku bangga padamu, Akselia. Dan aku minta maaf untuk yang kesekian kalinya, meski kamu tidak akan pernah dengar."

***

SETELAH TAYANG - DOJO AKSELIA

Liputan televisi meledak, ratusan pesan dan telepon masuk. Perempuan dari berbagai kota minta informasi tentang dojo, tentang kelas online, tentang bagaimana memulai.

Akselia kewalahan tapi bahagia.

"Kak, kita harus buka cabang!" seru Rina excited. "Banyak yang minta dojo di kota mereka!"

Akselia tertawa. "Pelan-pelan. Kita masukan daftar rencana jangka panjang."

Tapi dia tahu... ini baru permulaan. Permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar dojo.

Ini gerakan.

Gerakan pemberdayaan perempuan yang dimulai dari satu orang yang pernah jatuh dan memilih bangkit.

1
N Wage
kok 5 tahun yg lalu sih Thor,umur Aksa sj 5 THN + masa hamil+menikah setelah 2 THN kejadian yg menyakitkan bagi akkselia itu.
jadi seharusnya kurang lebih 8 THN yg lalu bukan?
maaf kalau salah.
Asyatun 1
keren banget thoor
Lienaa Likethisyow
terimakasih atas ceritanya thor..goodjob👍👍👍..tetap semangat💪💪💪/Heart//Heart/
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Arin
/Heart/
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Nada She Embun
puas banget Thor... makasih atas cerita yg terbaik inii😍
Erchapram: Terima kasih.
total 1 replies
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Erchapram
Masih ada extra part, ditunggu ya... Terima kasih.
Nada She Embun
happy ending.. 😭.. makasih Thor... 😍
Nada She Embun: mantap thorr
total 2 replies
Nada She Embun
soo sweet.. 😍
Dew666
☀️☀️☀️☀️☀️
Nada She Embun
lebih baik d cintai.... kamu akan belajar menumbuhkan cinta juga... 💜
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
ealahhh, gak boleh rangga nyium tapi dia yg nyosor, 🤭🤭🤭
tipikal awal malu malu, tp akhirnya malu maluin, sok-sok'an masih takut membuka hati tp ternyata lebih agresif.... eeehhh....
🤭🤭🤭🏃🏃🏃
Erchapram: Wkwwkwk... malu malu meong 🤣🤣🤣
total 1 replies
mini
tapi Kevin ktemu akselia dalam keadaan yang tidak sehebat sekarang dr awal dia udah cinta, cuma emang Krn redfleg, tapi skrg kan dia udh sadar😁✌️
Dew666
💜💜💜💜
vj'z tri
pelan pelan sajaaaaaaaa 🎉🎉🎉
Lienaa Likethisyow
mosok karo rangga to thor???/Speechless//Speechless/
gk setuju aq/Drowsy//Drowsy/
Lienaa Likethisyow: wes manut njenengan ae thor🤭🤭🤣🤣
total 2 replies
N Wage
seru sekali...sampai nahan nafas😁
semangat❤️
Asyatun 1
lanjut
Lienaa Likethisyow
aq merasa ada diantara penonton yg bersorak bahagia dan menangis bahagia karenamu Akselia👍👍👍...selamat Akselia jadi juara dalam hidup dan ring..💪💪💪tetap semangat thor😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!