Pertemuan Elina dengan Alex seorang mafia kejam yang dikenal dengan julukan "Raja Iblis" memiliki kekuasaan diberbagai wilayah, Alex yang memiliki masa lalu kelam dan telah melakukan banyak kekejaman dalam mencapai kekuasaannya, tetapi ia memiliki prinsip untuk melindungi yang lemah dan tidak berdaya.
Ketika seorang wanita muda bernama Elina dikejar oleh geng rival, ia berlari menuju klub malam mewah yang terkenal dan ternyata merupakan milik Alex, untuk menghindari kejaran geng rival dan mencari perlindungan Elina pun memasuki klub malam tersebut.
Di dalam klub tersebut Elina tak sengaja bertabrakan dengan Alex, Alex yang terkejut mencoba untuk mencerna apa yang terjadi pada wanita yang menabraknya. Elina yang tak tau siapa itu Alex, langsung meminta pertolongan padanya. Pertemuan ini pun menjadi awal dari cerita yang akan penuh dengan aksi, romansa dan intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MY QUEEN ATRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok yang Berbeda
Sosok Alex yang terus muncul dalam pikirannya, ada yang berbeda dari Alex menurut Elina. Cara dia berdiri, berbicara dan bagaimana ke dua pria berjas hitam itu langsung menunduk tanpa berani menatap dan membantah.
Baginya Alex bukanlah sekedar atasan mereka. Ia adalah orang yang jauh lebih berbahaya dari yang diduga Elina. Namun, ia bingung kenapa selama ini Alex selalu menolongnya?
"Sosoknya jadi asing bagiku" ucap Elina mengingat Alex pada malam itu.
Lagi-lagi Elina bertanya-tanta pada dirinya "siapa sebenarnya Alex?"
"Sekarang hutang ayah sudah berpindah tangan ke Alex" pikir Alena. Apakah mereka seorang rentenir. Tiba-tiba Alena teringat kejadian 2 hari yang lalu, dimana ia hampir saja diculik oleh penagih rentenir hutang ayahnya.
"Apakah Alex tahu bahwa aku hampir saja diculik dan itulah mengapa ia membeli hutang ayah" dugaan Elina.
Jantung Elina menjadi terasa berat memikirkannya. "Tapi kenapa dia menghentikan anak buahnya saat mereka menjalankan tugasnya? Kenapa tidak membiarkan mereka membawaku?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengganggu dan terlintas dipikirannya.
Keesokan harinya. Suasana hati Elina jadi kacau, ia merasa gelisah. Elina segera menelpon bosnya untuk meminta isin agar hari ini tidak masuk kantor dengan alasan ada urusan mendesak.
Elina duduk termenung. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan nomor tak dikenal. Ia merasa ragu sebelum mengangkatnya. "Halo?" Ucap anak buah Alex melalui telpon.
Elina menatap keluar jendela kamarnya "iya baiklah, saya mengerti" ucap Elina sembari menutup teleponnya.
"Aduhh..... bagaimana ini, dia memintaku untuk datang siang ini" ucap Elina sambil mondar mandir didekat tempat tidurnya
"Untuk apa bertemu langsung, kenapa harus bertemu di rumahnya"
Elina sudah bisa menebak. Ia sudah tahu bahwa ia harus bertemu dengan siapa.
Ia keluar dari rumahnya menaiki ojek menuju rumah Alex sesuai alamat yang diberikan tadi lewat telpon.
Lokasi rumah Alex ternyata berada di kota elit, jauh dari gang sempit tempat tinggal Elina.
Saat sampai, sebuah rumah yang begitu besar dan tinggi menjulang, tampak seperti mansion.
Namun penjaga pintu rumah itu terlihat berbeda, tatapannya begitu tajam dan sangat waspada dengan keadaan sekitar.
Elina menelan ludahnya. Ia dipangil dan dipersilahkan masuk, pintu lift terbuka. Ruangan yang begitu luas dengan interior gelap menyambut nya. Dinding kaca besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.
Di ujung ruangan, pria itu Alex duduk di kursi hitam besar. Tatapannya terarah lurus pada Elina, untuk pertama kalinya ia melihat aura Alex yang tenang tapi mengintimidasi.
Alex begitu tampan. Tapi bukan jenis tampan yang lembut lagi seperti sebelumnya, ia seperti badai yang tertahan.
"Duduklah" ucap Alex singkat.
Elina pun duduk dan berusaha agar tidak menatap langsung kearahnya. Namun, ia tetap bisa merasakan tatapan Alex terus mengarah padanya.
"Hutang anda sebesar seratus juta rupiah" Alex berbicara tanpa basa-basi, ia benar-benar berbeda, tak seperti Alex yang sebelumnya, dari nada dan caranya berbicara, semuanya terasa sangat berbeda.
Elina menunduk seraya berkata "Saya mohon keringanan waktu" Alex menatapnya begitu lama.
"Saya tidak tertarik pada alasan" ucap Alex membuat suasana menegang.
"Tapi saya tida menyukai kekacauan" lanjut Alex.
Elina mulai mengangkat wajahnya perlahan menatap Alex yang mulai berdiri dan melangkah ke Elina dengan pelan namun pasti.
Alex berhenti beberapa langkah darinya "kamu bukan target besar. Namun anak buah saya telah bertindak di luar batas". Ia melirik tajam ke aras salah satu anak buahnya yang berdiri di sudut ruangan.
Anak buahnya langsung menunduk. Elina merasa aneh, ada sisi disiplin dalam cara Alex memimpin. Ia kejam, tapi tidak seenaknya.
"Saya beri waktu satu bulan" ucap Alex pada Elina.
Elina terkejut "Sa....satu bulan?"
"Setelah itu, hutang mu lunas. Tidak ada alasan lagi" ucap Alex.
Harapan kecil muncul di benak Elina. Namun Alex belum selesai berbicara "Dan selama satu bulan itu" ucap Alex yang tatapannya terus tertuju lurus pada Elina. Jantung Elina berhenti sesaat.
"Anda berada dalam pengawasan" ucap Alex.
Suasana ruangan terasa semakin dingin "Apa maksud anda?" ucap Elina dengan suara gemetar.
Alex hanya menatap tanpa ekspresi " Keselamatan anda juga tanggungjawab saya. Anak buah saya sudah bertindah tidak pantas dan itu tidak akan terulang lagi".
Perlidungan atau pengawasan?
Elina tidak tahu mana yang lebih menakutkan. Saat Elina hendak pergi, Alex berkata pelan "Berhenti".
Tatapan Alex melembut sedikit "Jangan keluar sendirian di malam hari" ucap Alex, itu bukanlah saran, tapi seperti perintah dan Elina pun hanya mengangguk.
Dalam perjalanan pulang, pikiran Elina semakin kacau. Ia seharusnya membenci Alex, karena sekarang ia adalah sumber masalah. Ia pemimpin dunia gelap.
Namun entah kenapa, tatapannya tidak terlihat seperti ingin menyakiti Elina. Malah sebaliknya, ada sesuatu yang sulit dipahami.
Jauh di lantai atas gedung itu, Alex berdiri di depan jendela besar "Awasi gadis itu" perintahnya singkat
Aditya yang merupakan asisten sekaligus sahabatnya terdiam sesaat "Apa kamu tertarik?"
Alex tidak menjawab. Namun, tatapannya yang biasanya dingin di mata Aditya kini sedikit berubah.
"Pastikan tidak ada yang menyentuh gadis itu" ucap Alex dengan suara rendah dan tegas, seakan itu keputusan yang telah dibuat.
Takdir mereka bukan lagi sekedar pertemuan saja. Tapi ini merupakan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan Elina belum tahu, bahwa perlindungan yang diberikan oleh seorang mafia datang dengan harga yang tidak murah.
Hari sudah sore, Elina menuju mini market yang tidak jauh dari rumahnya. Ia membeli sebuah minuman dingin dan makanan, karena ia belum sempat sarapan pagi sebelum berangkat ke rumah Alex. Sembari duduk di teras mini market, ia bingung harus berbuat apa, waktu yang diberikan Alex untuk melunasi hutang ayahnya tidak banyak.
"Aku harus mengumpulkan uang sebanyak itu dari mana, waktu yang diberikannya hanya satu bulan. Sedangkan gaji ku sebulan hanya dua juta rupiah" ucap Elina
"Tidak bisakah ia memberiku waktu selama tiga bulan, itupun aku belum tentu bisa mengumpulkan uang sebanyak itu" lanjut Elina sambil menunduk lemas memikirkannya.
"Arghkkk..... apakah aku harus mencari kerja paruh waktu" ucap Elina berteriak frustasi
"Tapi bagaimana kalau dalam waktu satu bulan aku belum bisa mengumpulkan uang sebanyak seratus juta rupiah, apa yang akan ia lakukan padaku" ucap Elina
Elina terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, akankah Alex akan berbuat sesuatu pada dirinya, apa dia akan menjual Elina ataukah menjadikannya budaknya.
"Ya tuhan, bagaimana nasibku ke depannya, aku bingung harus bagaimana, uang yang terkumpul masih dua puluh lima juta rupiah, apakah Alex akan menjual ku ataukah dia akan menjadikan aku budaknya, jika aku tidak bisa melunasi hutang ayah dalam waktu satu bulan" ucap Elina sambil memukul pelan meja mini market.
Elina akhirnya pulang ke rumah karena hari mulai sore, ia pun beristirahat untuk memikirkan kedepannya bagaimana.
kak lanjut epsd 3 dong 🔥🔥