NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Anak Pemilik Toko yang sederhana

Langit pagi Kota Sagara tampak kelabu, seolah ikut merasakan kehampaan yang menyelimuti keluarga Wijaya. Di depan bangunan besar yang kini terkunci rapat, papan nama BOBA yang dulu berkilau perlahan memudar. Debu menempel di kaca, menggantikan pantulan wajah-wajah ceria yang biasanya memadati pintu masuk.

Bima berdiri di seberang jalan, memandangi toko itu dalam diam.

Dua minggu telah berlalu sejak toko ditutup paksa. Dua minggu yang terasa seperti mimpi buruk tanpa akhir. Hidupnya berubah drastis—dari anak pemilik toko manisan terbesar di kota, menjadi remaja biasa yang harus menghitung setiap rupiah.

Ia menarik napas panjang, lalu melangkah pergi.

Kini, mereka tinggal di rumah kontrakan sederhana di pinggiran kota. Rumah itu kecil, berdinding tipis, dengan halaman sempit yang ditumbuhi rumput liar. Jauh berbeda dengan rumah luas di atas toko BOBA yang penuh cahaya dan tawa.

Di dalam, Ratna sibuk meracik jamu sederhana. Ayahnya terbaring lemah di kamar, tubuhnya semakin kurus. Penyakit maag akut yang dideritanya memburuk akibat tekanan mental.

“Bima, kamu mau berangkat?” tanya Ratna lembut.

“Iya, Bu,” jawab Bima sambil mengenakan jaket lusuh.

Sejak toko tutup, Bima bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi kecil. Gajinya tak seberapa, namun cukup membantu membeli obat dan kebutuhan sehari-hari.

Ia tak pernah mengeluh.

Di kedai kopi, Bima bekerja sebagai pelayan dan barista. Tangannya cekatan meracik minuman, meski pikirannya sering melayang pada masa lalu.

“Mas Bima, pesanan latte satu,” panggil pemilik kedai.

“Siap.”

Di sela kesibukan, ia memperhatikan pelanggan yang sibuk menatap layar ponsel. Beberapa membicarakan kasus BOBA dengan nada merendahkan.

“Katanya bahan berbahaya, ya?”

“Pantas aja bisa besar. Ternyata curang.”

Kata-kata itu menusuk, namun Bima memilih diam. Ia tahu, membantah tanpa bukti hanya akan memperparah keadaan.

Sepulang kerja, ia mampir ke perpustakaan kota. Di sanalah ia menghabiskan waktu, membaca berita, jurnal, dan laporan hukum. Ia ingin memahami bagaimana fitnah bisa dijadikan senjata yang begitu mematikan.

Di salah satu sudut ruangan, seorang gadis duduk dengan laptop terbuka dan tumpukan berkas di sekelilingnya. Rambutnya dikuncir asal, matanya tajam memindai layar. Wajahnya serius, nyaris tanpa ekspresi.

Beberapa kali, pandangan mereka bertemu. Gadis itu mengangguk singkat, lalu kembali mengetik.

Bima tak terlalu memikirkannya.

Sampai suatu sore, saat hujan deras mengguyur, gadis itu mendekat.

“Kamu Bima Wijaya, kan?” tanyanya pelan.

Bima terkejut. “Iya. Kamu siapa?”

“Asha. Wartawan lepas.”

Nama itu membuat jantung Bima berdegup lebih cepat. “Kamu mau apa?”

Asha duduk di kursi seberangnya. “Aku sedang menyelidiki kasus BOBA. Banyak kejanggalan.”

Bima menatapnya ragu. “Media sudah menghancurkan keluarga kami. Kenapa aku harus percaya padamu?”

Asha tersenyum tipis. “Karena aku tidak bekerja untuk mereka.”

Ia membuka laptop dan memperlihatkan beberapa dokumen. Grafik aliran dana, tangkapan layar pesan, dan jadwal inspeksi mendadak.

“Inspeksi ini dijadwalkan bahkan sebelum berita fitnah muncul. Artinya, skenario sudah disusun jauh hari,” jelasnya.

Bima tercekat. “Kamu dapat ini dari mana?”

“Aku punya sumber di dinas kesehatan. Tapi aku butuh bantuanmu untuk melengkapi puzzle ini.”

Untuk pertama kalinya sejak kehancuran itu, secercah harapan menyelinap ke hati Bima.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Aku butuh akses ke data internal toko, daftar karyawan lama, dan siapa pun yang pernah keluar dengan masalah.”

Nama Dian tiba-tiba terlintas di benak Bima. Karyawan baru yang gelisah.

“Ada satu orang,” gumamnya.

Malam itu, Bima pulang dengan langkah lebih ringan. Namun, sesampainya di rumah, ia mendapati ibunya menangis di depan pintu.

“Ayah pingsan, Bima.”

Jantungnya seakan berhenti.

Di rumah sakit kecil, Surya terbaring dengan selang infus terpasang. Dokter berkata kondisinya dipicu stres berat.

Bima menggenggam tangan ayahnya yang dingin.

“Maafkan aku, Yah,” bisiknya.

Dalam keheningan ruang rawat, tekad Bima mengeras.

Ia bukan lagi anak pemilik toko manisan.

Ia adalah anak yang keluarganya dihancurkan.

Dan mulai hari itu, ia bersumpah akan mengungkap siapa pun yang berada di balik fitnah ini dan ia tak peduli seberapa tinggi kekuasaan mereka.

Di sudut kota, seseorang menatap laporan di layar monitor.

“Bima mulai bergerak,” ucapnya dingin.

Senyum tipis mengembang di wajah itu.

“Biarkan dia. Semakin dalam dia menyelam, semakin sulit ia kembali.”

Dan tanpa Bima sadari, langkah kecilnya telah menyeretnya ke pusaran konspirasi yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Malam itu, hujan turun deras membasahi Kota Sagara. Bima duduk di tepi ranjang rumah sakit, memandangi ayahnya yang masih terlelap akibat obat penenang. Nafas Surya terdengar berat, tidak stabil. Sesekali keningnya berkerut, seolah sedang bergulat dengan mimpi buruk.

Bima menggenggam jemari ayahnya erat.

Ia teringat masa kecilnya, ketika Surya mengajarinya meracik sirup gula pertama. Saat itu, dapur kecil di belakang rumah dipenuhi tawa. Ayahnya selalu berkata, “Kejujuran adalah bahan utama dalam setiap rasa manis.”

Kini, kejujuran itu justru dijadikan senjata untuk menghancurkan mereka.

Ponsel Bima bergetar pelan.

Asha: Aku dapat info baru. Ini lebih besar dari yang kita kira. Hati-hati.

Bima membaca pesan itu berulang kali. Perasaannya semakin tak menentu. Ia membalas singkat, Aku siap.

Setelah memastikan ibunya tertidur di kursi ruang tunggu, Bima melangkah keluar. Udara malam terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Namun pikirannya jauh lebih beku.

Ia menyusuri lorong rumah sakit, menatap wajah-wajah lelah para pasien dan keluarga. Di titik terendah hidupnya, ia menyadari satu hal: penderitaan bukan hanya miliknya. Dan justru karena itulah, ia tidak boleh menyerah.

Keesokan harinya, Bima menemui Asha di sebuah warung kecil dekat stasiun. Tempat itu sederhana, jauh dari pusat kota, aman dari pengawasan media dan aparat.

Asha sudah menunggu, dengan laptop terbuka dan dua gelas teh hangat.

“Kamu kelihatan capek,” katanya.

“Semalaman di rumah sakit,” jawab Bima jujur.

Asha menatapnya sejenak, lalu menggeser laptop. “Aku menemukan aliran dana mencurigakan. Ada perusahaan cangkang yang mengalirkan uang ke beberapa oknum dinas dan media. Semuanya terhubung ke satu nama besar.”

“Siapa?” tanya Bima tegang.

Asha menarik napas. “Aditya Pranowo. Wakil wali kota.”

Nama itu menghantam kepala Bima. Aditya Pranowo dikenal sebagai tokoh bersih, ramah media, dan dekat dengan rakyat. Hampir setiap acara sosial selalu dihadirinya.

“Tidak mungkin…” bisik Bima.

“Justru itu,” balas Asha. “Orang yang terlihat paling bersih sering kali paling rapi menyembunyikan kotorannya.”

Bima menelan ludah. Jika benar, maka kasus ini bukan sekadar persaingan bisnis. Ini adalah permainan kekuasaan.

“Ada satu titik lemah,” lanjut Asha. “Seorang mantan karyawan BOBA yang keluar setahun lalu. Namanya Rangga Pradipta.”

Nama itu terasa familiar.

“Dia pemilik Permata Rasa,” ujar Bima pelan.

“Benar. Dia punya koneksi langsung ke salah satu staf kepercayaan Aditya.”

Bima mengepalkan tangan. Kepingan-kepingan mulai tersusun.

“Kenapa dia melakukan ini?”

“Uang. Iri. Dan dendam,” jawab Asha. “Usahanya hampir bangkrut. Tapi setelah kasus BOBA meledak, tiba-tiba tokonya dapat suntikan dana besar.”

Bima memejamkan mata. Hatinya terasa sesak.

“Kalau kita lanjut, hidupmu bisa dalam bahaya,” ucap Asha serius.

Bima menatapnya mantap. “Hidup keluargaku sudah hancur. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti.”

Asha terdiam sejenak, lalu mengangguk.

Hari-hari berikutnya, Bima menjalani kehidupan ganda. Di siang hari, ia tetap bekerja di kedai kopi, membantu ibunya, dan menjaga ayahnya. Di malam hari, ia menyusup ke dunia penyelidikan: mengumpulkan data, mewawancarai mantan karyawan, dan melacak transaksi mencurigakan.

Ia menemui beberapa mantan pegawai BOBA. Sebagian menolak bicara, sebagian lain tampak ketakutan.

“Saya cuma karyawan kecil, Mas,” ujar seorang pria setengah baya dengan wajah pucat. “Saya punya keluarga.”

Bima tidak memaksa. Ia mengerti ketakutan itu.

Namun suatu malam, sebuah pesan anonim masuk ke ponselnya.

Aku tahu siapa yang memulai semuanya. Kalau kamu ingin kebenaran, datang ke Gudang Tua Dermaga Timur jam 23.00. Datang sendiri.

Bima menatap layar lama. Nalurinya menjerit agar ia berhati-hati. Tapi hatinya mendorongnya untuk maju.

Ia memberi tahu Asha, meski gadis itu jelas menentang.

“Ini bisa jadi jebakan,” kata Asha tegas.

“Aku tahu,” jawab Bima. “Tapi aku tidak bisa mengabaikannya.”

Tepat pukul sebelas malam, Bima tiba di dermaga yang sepi. Gudang tua itu berdiri angker, lampunya remang-remang. Suara ombak menghantam kayu pelabuhan, menciptakan irama yang mencekam.

Langkah Bima menggema di lantai beton.

“Siapa pun kamu, aku datang,” ucapnya lantang.

Sesosok bayangan muncul dari balik tumpukan peti kayu.

Itu Dian.

Karyawan baru yang gelisah.

Wajahnya pucat, matanya cekung, seolah dihantui ketakutan.

“Kamu?” Bima terkejut.

“Aku tidak punya banyak waktu,” kata Dian tergesa. “Aku dipaksa. Mereka mengancam keluargaku.”

“Siapa mereka?”

“Rangga… dan orang-orangnya. Aku disuruh menaruh bahan kimia itu di gudang, lalu memotret. Semua sudah diatur.”

Bima membeku. “Jadi semua ini…”

“Fitnah. Rekayasa. Tapi aku tidak bisa bersaksi. Mereka akan membunuhku.”

Sebelum Bima sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.

Dian tersentak. “Mereka datang!”

Lampu sorot menyala tiba-tiba, menyilaukan mata. Beberapa pria berbadan besar muncul dari balik kegelapan.

“Lari!” teriak Dian.

Bima berbalik, berlari sekuat tenaga. Suara tembakan peringatan memecah malam.

Ia bersembunyi di balik peti, napasnya memburu. Dari celah sempit, ia melihat Dian terseret pergi.

“Maafkan aku, Mas Bima…” suara itu lenyap ditelan gelap.

Malam itu, Bima lolos dengan nyawa tersisa.

Namun satu hal menjadi jelas: ia telah melangkah terlalu jauh untuk mundur.

Dan kini, bukan hanya kebenaran yang dipertaruhkan.

Melainkan nyawanya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!