Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gedung kelulusan
Keesokan harinya aku menjalani hari-hariku seperti biasanya, tapi ada hal yang selalu terbawa ke dalam pikiranku, yaitu Schevenko.
Nama itu muncul tanpa izin.
Datang di sela-sela hafalan, di antara barisan huruf kitab, bahkan ketika aku menunduk saat berjalan di lorong pesantren. Aku tidak berusaha memikirkannya—aku justru berusaha mengusirnya. Namun semakin kuabaikan, semakin sering ia muncul, seperti bayangan yang menempel tanpa suara.
Hari-hariku berjalan normal. Terlalu normal.
Tidak ada kabar dari rumah. Tidak ada pesan dari ayah. Tidak ada tamu lanjutan. Dua pria itu seolah tak pernah datang, seolah pembicaraan tentang Schevenko hanya mimpi singkat yang terlalu nyata.
Dan justru itu yang membuatku bingung.
Jika mereka sungguh-sungguh, mengapa diam?
Jika ini hanya perkenalan, mengapa terasa begitu berat?
Aku mencoba kembali pada ritme hidupku. Bangun pagi, salat, sekolah, belajar, mengaji. Aku tertawa kecil bersama teman-teman ketika mereka membicarakan kelulusan—tentang kebaya, tentang foto keluarga, tentang masa depan. Aku mengangguk, ikut tersenyum, seolah pikiranku tidak sedang berputar di tempat lain.
Namun di malam hari, ketika semua sunyi, pikiranku kembali ke satu titik yang sama.
Schevenko.
Aku bahkan belum melihat wajahnya.
Belum mendengar suaranya.
Namun namanya terasa seperti beban yang perlahan mengendap.
Tiga hari berlalu seperti itu.
Dan pada hari ketiga, pagi datang dengan suasana yang berbeda.
Hari kelulusan.
Aku bersiap lebih lama dari biasanya. Seragam kelulusanku tergantung rapi, jilbabku kusetrika sendiri. Tanganku sedikit gemetar ketika merapikan lipatan-lipatan kecil yang seharusnya tidak terlihat. Aku tidak tahu kenapa, tapi ada perasaan asing yang menempel sejak bangun tidur—seperti firasat yang tidak bisa dijelaskan.
Ayah dan ibu menjemputku pagi itu. Ibu tersenyum hangat, matanya berbinar penuh haru. Ayah terlihat lebih diam dari biasanya, namun raut wajahnya tegang—bukan sedih, melainkan seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu.
Kami tiba di gedung kelulusan.
Aku berhenti melangkah sesaat.
Gedung itu… berbeda.
Sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Kursi-kursi tertata rapi, terbuat dari bahan yang terlihat mahal, dengan jarak yang sengaja dipisahkan. Panggung dihias sederhana tapi elegan. Pencahayaan tertata sempurna, tidak berlebihan, tapi jelas dipikirkan matang.
Aku menoleh ke ayah. “Yah… tahun-tahun sebelumnya tidak seperti ini.”
Ayah hanya mengangguk singkat. “Iya.”
Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di baliknya.
Orang-orang mulai berdatangan. Para wali murid, tamu undangan, guru-guru. Aku mendengar bisik-bisik kecil di sekelilingku—tentang betapa istimewanya acara tahun ini, tentang tamu-tamu penting yang katanya akan hadir.
Aku duduk di tempat yang telah ditentukan, di antara teman-temanku. Beberapa dari mereka tampak kagum, beberapa tampak bingung. Aku hanya diam, memperhatikan sekeliling dengan hati yang tidak tenang.
Acara pun dimulai.
Pembukaan berlangsung khidmat, seperti biasa. Sambutan awal berjalan lancar. Hingga seorang guru naik ke podium dan berdiri di sana sedikit lebih lama dari biasanya.
Ruangan menjadi hening.
“Pada hari yang istimewa ini,” ucapnya dengan suara tenang namun tegas, “kita tidak hanya merayakan kelulusan para santri dan siswa terbaik kita.”
Aku mengangkat kepala.
“Hari ini,” lanjutnya, “pesantren dan sekolah ini mendapat kehormatan besar.”
Beberapa orang mulai saling menoleh.
“Akan hadir banyak tamu dari berbagai negara.”
Suara itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang.
“Lebih dari empat puluh negara.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menahan napas.
Empat puluh negara?
Bisik-bisik langsung menyebar, tapi tak ada yang berani terlalu keras. Guru itu menunggu hingga suasana kembali tenang.
“Dan,” katanya lagi, suaranya kali ini lebih pelan, “akan hadir satu tamu yang paling penting.”
Jantungku berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.
“Usianya masih muda,” lanjutnya. “Sangat muda… untuk menjadi pilar kehidupan.”
Kata-kata itu membuat ruangan benar-benar terdiam.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.
Guru itu tersenyum tipis. “Seseorang ini… tidak boleh saya sebutkan namanya.”
Aku merasakan telapak tanganku dingin.
“Nanti,” katanya, “ia akan memperkenalkan dirinya sendiri.”
Acara dilanjutkan.
Namun pikiranku tertinggal di kalimat itu.
Tamu penting.
Masih muda.
Tidak disebutkan namanya.
Aku menoleh ke arah pintu masuk gedung, tanpa sadar. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada rombongan asing. Tidak ada tanda-tanda kehadiran tamu besar.
Acara berjalan. Pembacaan nama lulusan dimulai. Satu per satu teman-temanku dipanggil. Tepuk tangan menggema. Senyum dan air mata bercampur di wajah-wajah sekitar.
Namun kursi-kursi depan—yang terlihat lebih istimewa—masih kosong.
Aku melirik ayah.
Beliau duduk tegak, pandangannya lurus ke depan, seolah sedang menunggu waktu yang tepat.
Dan entah kenapa…
dadaku semakin tidak tenang.
Aku menelan ludah pelan. Ada sesuatu dalam sikap ayah hari ini yang berbeda. Ia tidak tersenyum, tidak menoleh, bahkan tidak mengangguk seperti biasanya ketika aku mencari isyarat. Ayah terlihat seperti seseorang yang menyimpan rahasia besar—rahasia yang belum saatnya dibuka.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa lebih berat dari suara apa pun.
Lalu pintu gedung itu kembali terbuka.
Bukan satu orang.
Bukan dua.
Melainkan rombongan besar.
Langkah-langkah mereka serempak, tertata, dan penuh wibawa. Suara sepatu mereka menggema di lantai gedung, memecah kesunyian dengan cara yang membuat semua orang refleks berdiri dari kursinya.
Aku ikut berdiri, jantungku berdetak tak beraturan.
Mataku melebar.
Yang masuk… bukan tamu biasa.
Para pemimpin negara.
Aku melihat wajah-wajah yang selama ini hanya kulihat di layar berita—tokoh-tokoh besar dengan pengawalan ketat, pakaian resmi, dan raut wajah yang tak bisa ditebak. Bahkan… presiden negaraku sendiri ada di sana, berjalan di barisan depan dengan sikap tenang dan penuh wibawa.
Ruangan berubah total.
Udara terasa berat.
Semua bisikan lenyap.
Semua mata tertuju ke satu arah.
Aku hampir tidak bernapas.
Apa yang mereka lakukan di sini?
Di kelulusanku?
Di pesantren yang selama ini terasa sederhana?
Namun di tengah kekagetan itu, ada satu hal yang terus kucari.
Sosok muda itu.
Orang yang disebutkan guru tadi.
Yang katanya sangat muda.
Yang katanya tidak akan disebutkan namanya.
Aku menyapu ruangan dengan pandangan cepat—ke belakang rombongan, ke sisi kiri dan kanan, ke kursi-kursi depan.
Tidak ada.
Yang datang semuanya terlihat dewasa. Berwibawa. Terlalu matang untuk disebut “sangat muda”.
Perasaanku semakin kacau.
Lalu semua orang berdiri lebih tegak. Kepala-kepala menunduk penuh hormat. Suasana menjadi sangat formal, hampir terasa seperti upacara kenegaraan.
Para tamu itu berjalan menuju kursi khusus yang sejak tadi kosong. Mereka duduk dengan teratur, tanpa suara berlebihan, tanpa ekspresi yang bisa dibaca.
Aku baru sadar…
kursi-kursi istimewa itu kini terisi hampir penuh.
Hampir.
Masih ada satu kursi kosong.
Satu.
Letaknya sedikit di tengah.
Dan entah kenapa, jantungku berdegup lebih kencang saat menyadarinya.
Acara kembali dilanjutkan.
Pembawa acara berbicara dengan suara yang sedikit bergetar—jelas ia pun merasakan tekanan suasana. Kata-kata sambutan terdengar formal, penuh kehati-hatian. Tidak ada yang berani bersikap santai.
Namun pikiranku tidak lagi sepenuhnya berada di panggung.
Aku kembali melirik ayah.
Kali ini, sudut bibirnya sedikit menegang. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, jarinya saling mengunci. Ia tidak menatap para pemimpin negara itu, tidak pula menoleh ke arahku.
Seolah ia hanya menunggu…
satu momen.
Namaku belum dipanggil.
Nama-nama lain terus bergema satu per satu.
Aku duduk kembali, tapi kakiku terasa lemas. Telapak tanganku dingin. Setiap kali nama dipanggil, setiap kali seseorang berdiri dan berjalan ke panggung, aku merasa waktuku semakin dekat—dan rasa tidak tenang itu semakin kuat.
Aku kembali mencari kursi kosong itu.
Masih kosong.
Kenapa orang itu belum datang?
Atau…
apakah ia sudah ada di sini tanpa kusadari?
Aku memejamkan mata sesaat, mencoba menenangkan diri. Ini hanya kelulusan, kataku dalam hati. Ini hanya acara formal. Tidak ada hubungannya denganku secara pribadi.
Namun hatiku menolak percaya.
Karena sejak rombongan itu masuk…
segala sesuatu terasa terlalu terarah.
Terlalu terencana.
Terlalu… tepat waktunya.
Pembawa acara kembali memanggil beberapa nama.
Dan kemudian—
“Az Zahra.”
...Bersambung...................... ...