Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Penjaga Tulang Berkarat
Udara di balik pintu perunggu raksasa itu sedingin es abadi.
Lorong di hadapan mereka terbuat dari batu hitam pekat yang menyerap cahaya. Tidak ada lumut bercahaya atau obor yang menyala. Kegelapan di sini sangat tebal, seolah memiliki wujud fisik yang menekan dada.
Lin Xuan memutar Qi di matanya, memfokuskan penglihatannya menembus kegelapan. Di belakangnya, Bai Qing'er mengeluarkan sebuah mutiara sebesar telur puyuh yang memancarkan cahaya putih pudar. Mutiara Malam (Night Pearl), benda lumrah bagi kultivator elit untuk penerangan.
"Simpan cahaya itu," perintah Lin Xuan datar, tanpa menoleh. "Di makam kuno, cahaya adalah undangan makan malam bagi makhluk yang sudah lama kelaparan."
Bai Qing'er terkekeh pelan, nafasnya menggelitik Lin Xuan. Namun, ia menurut. Mutiara itu dimasukkan kembali ke dalam kantungnya. "Insting bertahan hidupmu benar-benar tajam, Tuan Pembunuh. Aku jadi penasaran di neraka mana kau dibesarkan."
"Teruslah berjalan dan perhatikan langkahmu," jawab Lin Xuan.
Mereka menyusuri lorong itu selama setengah jam. Hanya suara langkah kaki mereka yang bergema pelan. Dinding lorong dipenuhi oleh ukiran kuno yang menceritakan pertempuran berdarah antara kultivator manusia melawan binatang-binatang buas raksasa.
Tiba-tiba, Gu Tianxie berbicara di dalam pikiran Lin Xuan.
"Berhenti. Ada yang salah dengan pola Qi di lantai depanmu. Itu Formasi Pembunuh tingkat menengah."
Hampir bersamaan dengan peringatan Gu, Bai Qing'er berbisik di belakang Lin Xuan. "Lantai tiga langkah di depanmu. Jangan diinjak. Itu Formasi Pemicu Darah."
Lin Xuan menghentikan langkahnya. Ia menatap lantai batu di depannya yang tampak sama persis dengan lantai lainnya.
"Berapa luas formasinya?" tanya Lin Xuan.
"Sepanjang lorong ini," Bai Qing'er melangkah maju, berdiri di samping Lin Xuan. Matanya yang berbentuk bulan sabit memindai lantai dengan serius. Dari balik lengan bajunya, ia mengeluarkan tiga buah jarum perak panjang yang bergetar memancarkan Qi Yin murni.
"Pembuat makam ini sangat teliti. Jika kau salah melangkah satu ubin saja, mekanisme Formasi akan bangkit," jelas Bai Qing'er. Ia menjentikkan jarum pertamanya ke salah satu ubin di sudut kiri.
Ting!
Begitu jarum perak itu menyentuh ubin, sebuah suara derit pelan terdengar dari dalam dinding batu.
Seketika, aura kematian yang sangat pekat meledak dari segala arah. Suara langkah kaki yang berat dan terseret mulai terdengar bergema dari ujung lorong di depan mereka, dan dari lorong di belakang mereka.
Bai Qing'er mendecakkan lidah. "Ah. Sepertinya formasi ini sudah dimodifikasi oleh waktu. Jalur amannya telah bergeser."
"Kau baru saja membangunkan penjaga makam," kata Lin Xuan dingin. Tangan kirinya mengepal, sementara tangan kanannya tetap rileks, menjaga meridiannya yang masih rentan.
"Setiap wanita pasti pernah melakukan kesalahan kecil," Bai Qing'er tersenyum tak berdosa di balik cadarnya. Ia menarik mundur posisinya, membiarkan Lin Xuan berdiri di garis depan. "Giliranmu menepati janji sebagai tameng, Mu Chen."
Dari dalam kegelapan lorong di depan mereka, puluhan siluet bermata merah menyala mulai bermunculan.
Itu bukanlah manusia hidup. Kulit mereka telah mengering dan menempel pada tulang kelabu. Memakai jubah zirah yang telah berkarat parah, tangan mereka menggenggam pedang bergerigi dan tombak patah. Di dada setiap mayat ini, tertanam sebuah kristal merah yang berdenyut redup sebagai inti tenaga.
"Boneka Mayat (Corpse Puppets)," gumam Gu Tianxie. "Mereka adalah kultivator Puncak Qi Condensation yang disiksa sampai mati, lalu mayatnya disempurnakan dengan Seni Pengendalian Mayat. Tubuh mereka sekeras besi berkualitas tinggi, dan mereka tidak kenal rasa sakit."
Boneka Mayat terdepan menerjang ke arah Lin Xuan, mengayunkan pedang bergeriginya dengan kecepatan yang menembus angin. Serangannya kasar, tapi dipenuhi tenaga fisik yang brutal.
Lin Xuan tidak mundur. Ia mengambil posisi kuda-kuda rendah. Sembilan pilar di Dantian-nya berputar cepat.
"Hancur," desis Lin Xuan.
Tangan kirinya yang dilapisi Qi murni memukul ke depan, menghantam tepat di tengah-tengah bilah pedang karatan itu.
PRANG!
Pedang besi kuno itu hancur berkeping-keping. Tinju Lin Xuan tidak berhenti, terus meluncur ke depan dan menghantam dada Boneka Mayat tersebut, tepat di mana kristal merahnya tertanam.
BOOM!
Tulang dada Boneka Mayat itu remuk. Kristal merahnya retak dan meledak menjadi debu. Mayat itu langsung kehilangan tenaga dan ambruk ke lantai, terurai menjadi tumpukan tulang kering.
Namun, di belakang mayat pertama, puluhan lainnya terus merangsek maju seperti gelombang pasang. Ruang lorong yang sempit membuat Lin Xuan tidak bisa menggunakan Langkah Hantu secara maksimal untuk berpindah. Ia terpaksa bertarung adu fisik dari jarak dekat.
BUAGH! KRAK!
Lin Xuan memutar tubuhnya, menggunakan siku kirinya untuk menghancurkan rahang Boneka Mayat kedua, lalu mengirimkan tendangan menyapu yang mematahkan kaki tiga Boneka Mayat sekaligus. Pertarungannya tidak indah. Tidak ada cahaya teknik yang menyilaukan. Hanya ada suara tulang patah, daging kering yang robek, dan efisiensi pembunuhan yang presisi.
Di tengah pertarungan yang brutal itu, Cincin Samsara Darah di jari kanannya bereaksi diam-diam. Setiap kali Lin Xuan menghancurkan kristal merah di dada Boneka Mayat, cincin itu menyedot sisa-sisa Energi Kematian dan Blood Qi murni yang tersimpan di dalamnya ribuan tahun lalu, mengalirkannya langsung ke sembilan pilar Dantian Lin Xuan.
"Jangan gegabah! Di belakang kita juga ada!" teriak Bai Qing'er.
Dari lorong tempat mereka masuk, sekitar lima belas Boneka Mayat telah menutup jalan keluar.
Bai Qing'er tidak tinggal diam. Ia melangkah maju dengan gemulai bagai menari. Tangan lentiknya terus menjentikkan jarum-jarum perak yang bersinar kebiruan karena Qi Yin yang sangat dingin.
"Seni Jarum Pembeku Jiwa!"
Sring! Sring! Sring!
Jarum-jarum perak itu melesat cepat, menancap akurat di sendi-sendi lutut dan leher Boneka-Boneka Mayat di garis belakang. Qi Yin yang membekukan langsung menyebar, membuat gerakan mayat-mayat itu melambat secara drastis, seolah terjebak di dalam lumpur es.
Setelah membekukan pergerakan mereka, Bai Qing'er melemparkan dua Bendera Formasi kecil berwarna hitam. Bendera itu menancap di dinding kiri dan kanan.
"Formasi Jaring Besi!"
Untaian Qi murni berwarna perak melesat keluar dari kedua bendera tersebut, saling menyilang membentuk jaring jaring energi yang sangat tajam. Boneka Mayat yang terus memaksa maju menabrak jaring energi tersebut, dan seketika terpotong menjadi beberapa bagian layaknya daging yang diiris benang kawat.
Lin Xuan melirik dari sudut matanya. Ia mengagumi betapa efisiennya kontrol medan pertempuran milik wanita itu. Jika ia harus melawan Bai Qing'er dalam jarak jauh, formasi dan jarumnya akan sangat merepotkan.
"Fokus ke depanmu!" peringatan Bai Qing'er membuyarkan lamunannya.
Sesosok Boneka Mayat yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari yang lain baru saja melangkah keluar dari kegelapan. Ia mengenakan zirah tembaga yang masih utuh. Matanya memancarkan cahaya merah yang sangat terang.
"Penjaga Kapten," bisik Gu Tianxie. "Dia memiliki kekuatan Foundation Establishment pilar pertama."
Kapten Boneka itu memegang sebuah tombak berat. Ia tidak menerjang membabi buta, melainkan mengambil ancang-ancang dan melemparkan tombaknya lurus ke arah dada Lin Xuan.
Tombak itu melesat membelah udara dengan suara siulan tajam, dipenuhi Niat Membunuh yang sangat pekat.
Di lorong sempit, menghindari tombak berkecepatan tinggi itu hampir mustahil tanpa mengorbankan Bai Qing'er yang berdiri tepat di belakangnya.
Mata Lin Xuan menyipit.
Ia tidak menghindar. Ia tidak pula mencabut pedangnya.
Lin Xuan memusatkan seluruh Qi Dantian-nya ke lengan kirinya. Otot-ototnya menegang ekstrem, Tulang Besi Hitam-nya berderit menahan kekuatan penuh. Saat ujung tombak itu berjarak satu inci dari dadanya, tangan kiri Lin Xuan melesat ke depan, menyambar batang tombak itu dengan telapak tangan terbukanya.
BAAAM!
Suara benturan logam bergema hebat. Kaki Lin Xuan terseret mundur sejauh setengah meter, menggores lantai batu hingga mengeluarkan percikan api.
Namun, tombak itu berhenti. Tercengkeram kuat di tangan kiri Lin Xuan. Darah segar menetes dari telapak tangannya yang robek menahan gaya gesek, namun Tulang Asura-nya tidak patah.
Bai Qing'er menatap punggung lebar di depannya dengan napas tertahan. Menangkap tombak lemparan level Foundation Establishment dengan tangan kosong? Monster macam apa pemuda ini sebenarnya?
Lin Xuan mendongak. Niat Membunuhnya meledak.
"Kembalikan," desis Lin Xuan.
Ia memutar pinggangnya dan melemparkan kembali tombak berat itu ke arah Kapten Boneka dengan kekuatan yang jauh lebih buas, meminjam momentum dari putaran tubuhnya.
WUUUSH!
Tombak itu melesat kembali, menghantam dada Kapten Boneka dengan sangat keras hingga menembus zirah tembaganya, memecahkan kristal merah raksasa di dadanya, dan akhirnya memaku mayat raksasa itu ke dinding batu di belakangnya.
Kapten Boneka itu kejang sesaat, sebelum akhirnya tertunduk lemas, mati untuk kedua kalinya.
Tanpa pemimpin, sisa-sisa Boneka Mayat lainnya dengan mudah dihabisi oleh kerja sama maut antara tinju Lin Xuan dan jarum-jarum pembeku Bai Qing'er.
Sepuluh menit kemudian, lorong itu kembali sunyi. Hanya menyisakan tumpukan tulang berkarat dan debu kristal merah di lantai.
Lin Xuan terengah-engah pelan. Ia mengibaskan tangan kirinya untuk membuang sisa darah dari telapak tangannya. Lukanya langsung mulai menutup dengan sendirinya akibat efek pemulihan Tulang Asura dan sisa Qi yang diserap Cincin.
Bai Qing'er berjalan mendekat, melangkah anggun melewati tumpukan tulang. Ia menatap telapak tangan kiri Lin Xuan yang sudah nyaris sembuh, matanya menyipit penuh selidik.
"Kemampuan penyembuhanmu tidak normal untuk seorang manusia," kata Bai Qing'er pelan. "Tubuh fisik yang sekeras besi, dan daya regenerasi seperti monster. Apakah Tuan Mu Chen ini sebenarnya adalah siluman yang menyamar?"
Lin Xuan menoleh, menatap tajam ke mata wanita itu.
"Hanya kultivator biasa yang berusaha keras untuk tidak mati," jawab Lin Xuan datar. Ia menendang salah satu tengkorak mayat ke samping. "Kita sudah melewati penjaga luar. Seberapa jauh lagi Kolam Sumsum Darah itu?"
Bai Qing'er tersenyum tipis, memutuskan untuk tidak mendesak rahasia Lin Xuan lebih jauh. Setidaknya untuk saat ini.
Ia menunjuk ke ujung lorong yang kini mulai memancarkan cahaya merah redup.
"Tidak jauh. Melewati gerbang batu di ujung sana adalah Aula Inti. Tempat di mana Patriark Seribu Tulang menyimpan hartanya. Dan tempat di mana kita akan melihat... apakah kau bisa bertahan hidup dari apa yang ada di dalamnya."
Lin Xuan berjalan mendahului. "Pastikan saja kau tidak memperlambat langkahku."