Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Tekanan Terbuka
Ruang pertemuan firma hukum Zhao Haoran lebih formal dibanding ruang kerjanya. Meja panjang kayu gelap berada di tengah, dengan kursi-kursi berlapis kulit hitam tersusun simetris. Dindingnya polos, hanya satu lukisan kaligrafi hukum tergantung tanpa bingkai mencolok.
Gu Yanqing duduk di sisi kanan meja.
Zhao Haoran berada di ujung, posisi tuan rumah.
Pukul sepuluh tepat, pintu terbuka.
Sun Deqiao masuk dengan langkah stabil.
Setelan jasnya rapi tanpa cela. Dasi gelap, sepatu mengilap, rambut tersisir presisi. Wajahnya tidak keras, justru tenang dan profesional.
Ia tersenyum tipis.
“Pengacara Zhao. Saudara Gu.”
Nada suaranya bersih, tidak tinggi, tidak rendah.
Zhao berdiri, berjabat tangan singkat.
Gu Yanqing ikut berdiri, menyambut tanpa ekspresi tambahan.
Mereka duduk kembali.
Sun tidak membawa banyak dokumen. Hanya satu map tipis berwarna abu-abu.
Pertemuan ini bukan tentang bukti.
Ini tentang posisi.
“Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu,” kata Sun Deqiao.
Zhao menjawab formal, “Kami selalu terbuka untuk komunikasi.”
Sun mengangguk pelan, lalu menatap langsung ke arah Gu Yanqing.
“Kasus ini berkembang cukup cepat. Terus terang, kami merasa situasinya mulai mengarah pada ketegangan yang tidak perlu.”
Tidak ada pengakuan kesalahan.
Tidak ada kata “tanggung jawab”.
Hanya frasa “ketegangan yang tidak perlu”.
Gu Yanqing tidak menyela.
Sun melanjutkan, “Dongkou Port Group adalah perusahaan dengan ribuan pekerja. Reputasi kami bukan hanya milik manajemen, tetapi juga milik keluarga besar di dalamnya.”
Ia berhenti sebentar.
“Gugatan ini berpotensi menciptakan persepsi yang… kurang seimbang.”
Pilihan kata yang hati-hati.
Bukan “merusak reputasi”.
Bukan “fitnah”.
Hanya “kurang seimbang”.
Gu Yanqing menjawab tenang, “Fakta akan menentukan keseimbangan.”
Sun tersenyum tipis.
“Tentu. Kami percaya pada proses hukum.”
Jeda pendek.
“Namun proses hukum bukan satu-satunya cara menyelesaikan persoalan.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Zhao Haoran bersandar sedikit, memberi ruang bagi kliennya.
Sun membuka map tipis itu.
“Perusahaan bersedia menunjukkan itikad baik.”
Ia tidak langsung menyebut angka.
Tidak menyebut kompensasi.
Hanya “itikad baik”.
“Dalam bentuk apa,” tanya Gu Yanqing.
“Dukungan finansial kepada keluarga almarhum. Tanpa perlu memperpanjang proses yang melelahkan semua pihak.”
Bahasa netral.
Tanpa istilah “ganti rugi”.
Tanpa istilah “penyelesaian”.
Namun maknanya jelas.
Tawaran penyelesaian di luar pengadilan.
Sun melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya.
“Jumlahnya akan lebih dari cukup untuk menjamin stabilitas jangka panjang.”
Lebih dari cukup.
Standar siapa?
Gu Yanqing menatap Sun tanpa perubahan ekspresi.
“Apakah ini pengakuan tanggung jawab,” tanyanya.
Sun menggeleng pelan.
“Ini bentuk kepedulian korporasi.”
Jawaban yang disiapkan.
Tidak ada celah hukum.
Zhao Haoran mencatat sesuatu di kertasnya.
Sun kemudian menautkan kedua tangannya di atas meja.
“Saudara Gu masih muda. Masa depan Anda panjang. Proses hukum yang berlarut bisa memengaruhi banyak aspek.”
Ia tidak menyebut ancaman.
Tidak menyebut tekanan.
Hanya “memengaruhi banyak aspek”.
Gu Yanqing menganalisis struktur kalimat itu.
Subjek: masa depan.
Objek implisit: karier, reputasi, stabilitas.
Sun melanjutkan, “Kami khawatir konflik ini akan berkembang ke arah yang tidak konstruktif.”
Kata “khawatir” terdengar hampir sopan.
Namun di baliknya ada pesan lain:
Jika tidak berhenti, konsekuensi akan muncul.
“Dan jika gugatan dilanjutkan?” tanya Gu.
Sun tidak langsung menjawab.
Ia menatap meja sejenak, seolah mempertimbangkan pilihan kata.
“Kami tentu akan mempertahankan posisi perusahaan sepenuhnya.”
Nada suara tetap datar.
“Sepenuhnya” diucapkan sedikit lebih tegas.
Gu Yanqing memahami.
Pertahanan penuh berarti sumber daya penuh.
Tim hukum besar.
Tekanan administratif.
Narasi publik.
Sun menambahkan, “Proses ini bisa menjadi panjang. Melelahkan. Tidak semua pihak memiliki daya tahan yang sama.”
Kalimat itu tidak ditujukan secara umum.
Itu diarahkan.
Penilaian psikologis.
Sun sedang mengukur.
Mengasumsikan bahwa individu tunggal akan runtuh menghadapi struktur besar.
Gu Yanqing tidak bereaksi.
Ia bertanya dengan nada sama rata, “Apakah perusahaan merasa posisi hukumnya lemah.”
Sun tersenyum tipis lagi.
“Kami tidak merasa lemah. Kami hanya memilih jalan yang lebih efisien.”
Efisien bagi siapa?
Hening beberapa detik.
Sistem Peningkatan Kekayaan
Interaksi Strategis Terdeteksi. Data komunikasi direkam untuk analisis pola kekuasaan.
Panel itu muncul sekilas di sudut pandang Gu, lalu memudar tanpa suara.
Sun menyandarkan punggungnya.
“Saudara Gu, saya menghargai keteguhan Anda. Namun dunia korporasi tidak selalu bergerak berdasarkan idealisme individu.”
Itu bukan penghinaan langsung.
Namun jelas meremehkan daya tahan jangka panjangnya.
Gu Yanqing menjawab singkat, “Saya tidak bergerak berdasarkan idealisme.”
Sun menatapnya, mencoba membaca sesuatu di wajahnya.
Tidak ada yang bisa dibaca.
Zhao Haoran akhirnya berbicara.
“Apakah ini tawaran final.”
Sun mengangguk pelan.
“Jika tidak diterima, perusahaan akan menganggap penyelesaian di luar pengadilan tidak memungkinkan.”
Artinya negosiasi selesai.
Dan setelah ini, jalur resmi akan digunakan sepenuhnya.
Gu Yanqing bersandar sedikit.
“Terima kasih atas kunjungannya.”
Kalimat itu sederhana.
Tidak ada penerimaan.
Tidak ada penolakan eksplisit.
Namun maknanya jelas.
Sun memahami.
Ia menutup map abu-abu itu tanpa tergesa.
Berdiri dengan tenang.
“Saya harap Saudara Gu mempertimbangkan masa depan dengan rasional.”
Ia mengulurkan tangan.
Gu Yanqing berdiri dan menjabatnya.
Genggaman Sun stabil. Percaya diri.
Seolah ia yakin waktu berada di pihaknya.
Ketika pintu ruang pertemuan tertutup kembali, ruangan menjadi sunyi.
Tawaran telah diajukan.
Dan di bawah permukaan kata-kata sopan itu, tekanan telah dinyatakan secara terbuka.
...
Langkah kaki Sun Deqiao menjauh di koridor tanpa tergesa. Punggungnya lurus, ritme jalannya stabil—seperti seseorang yang yakin pembicaraan barusan sudah selesai sesuai kehendaknya.
Pintu lift tertutup.
Zhao Haoran tidak langsung berbicara. Ia menunggu beberapa detik, memastikan tak ada orang di luar yang masih mendengar. Baru setelah itu ia menoleh ke arah Gu Yanqing.
“Dia menganggapmu akan kelelahan,” katanya datar.
Gu Yanqing mengangguk pelan. “Itu memang tujuan kedatangannya.”
Ia duduk kembali, membuka map tipis berisi ringkasan perkara. Tatapannya tidak berubah. Tidak ada bekas ketegangan, tidak ada sisa emosi.
Sun Deqiao tidak datang untuk bernegosiasi secara setara. Ia datang untuk menanamkan asumsi.
Asumsi bahwa tekanan jangka panjang akan mematahkan individu.
Asumsi bahwa rasa takut pada konsekuensi akan mengalahkan keteguhan.
Gu Yanqing menilai ulang setiap kalimat Sun.
Tidak ada ancaman langsung, tapi ada kerangka pesan yang jelas:
jika jalur lunak ditolak, jalur keras akan dibuka.
Zhao Haoran berkata, “Tawaran itu bukan kecil.”
“Justru karena itu berbahaya,” jawab Gu tenang. “Jika diterima, narasi berhenti di situ. Tidak ada putusan. Tidak ada preseden.”
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada tanggung jawab hukum.
Hanya uang dan keheningan.
Zhao menghela napas pendek. “Begitu kita menolak, mereka akan bermain di wilayah terbuka.”
“Dan mereka siap,” lanjut Gu. “Itu terlihat dari cara dia berbicara. Dia sudah menyiapkan jalur berikutnya.”
Gu Yanqing tidak merasa terintimidasi oleh kepercayaan diri Sun.
Ia memahaminya.
Kepercayaan diri itu lahir dari struktur—bukan dari kebenaran.
Ia berdiri, menatap keluar jendela kantor. Jalanan di bawah tampak biasa saja. Orang-orang berjalan seperti hari lain.
Tidak ada yang tahu bahwa garis resmi baru saja ditarik.
“Mulai sekarang,” kata Gu, “setiap langkah mereka akan terdokumentasi.”
Zhao menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Baik. Kita percepat jalur formal.”
Gu Yanqing mengangguk sekali.
Tidak ada kompromi.
Tidak ada penyesuaian.
Ia sudah memilih sejak awal—dan pertemuan barusan hanya memperjelas posisi masing-masing.
Beberapa jam kemudian, notifikasi resmi masuk ke sistem administrasi hukum.
Panel Sistem Peningkatan Kekayaan
Pembaruan Eksternal: Sidang awal gugatan terhadap Dongkou Port Group telah dijadwalkan. Status perkara: Aktif — proses persidangan dimulai.
Panel itu tidak memberi pujian.
Tidak ada peringatan tambahan.
Hanya konfirmasi dingin.
Gu Yanqing menutup layar ponselnya.
Ruang tertutup telah ditinggalkan.
Mulai sekarang, konflik ini akan berjalan di ruang publik pengadilan.