Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Perjalanan Menuju Gunung Langit
Rombongan ekspedisi Sekte Pedang Suci meninggalkan Kota Angin Puyuh dalam formasi yang mengintimidasi. Empat kapal terbang raksasa—Bahtera Langit—melayang membelah awan dengan simbol pedang emas yang berkilauan di lambungnya. Lu Chen, bersama Yue Bing dan Gu Hai, ditempatkan di kapal utama, kapal yang sama dengan Han Xiao dan para elit sekte lainnya. Namun, kemewahan kabin kapal itu tidak bisa menutupi hawa dingin kecurigaan yang diarahkan kepada mereka.
Lu Chen berdiri di dek observasi, menatap pegunungan yang menjulang di kejauhan. Gunung Langit, tempat di mana Makam Naga Kuno berada, kini tampak seperti raksasa yang tertidur di balik kabut ungu.
"Lu Chen, kepompongku mulai terasa sesak," suara Ignis bergema di benak Lu Chen, lebih berat dan lebih berwibawa dari sebelumnya. "Energi dari prasasti hitam kemarin mempercepat proses peleburan Inti Kehidupan Kuno. Aku merasa... aku akan segera mendobrak batas dunia ini."
"Sabar, Ignis. Tunggu sampai kita berada di dalam area Makam. Jika kau menetas di sini, formasi pertahanan kapal ini akan langsung mengunci kita sebagai target," jawab Lu Chen lewat transmisi batin.
[Ding! Deteksi Aktivitas Mencurigakan di Kapal.]
[Target: Dua tetua Tahap Nascent Soul dan Han Xiao sedang mengadakan pertemuan tertutup.]
[Analisis: Mereka berencana menggunakan 'Satu Juta Pedang Penyegel' saat kau memasuki gerbang Makam.]
Lu Chen menyipitkan mata. Sistemnya tidak pernah salah. Sekte Pedang Suci memang tidak pernah berniat membagikan warisan naga itu kepada siapa pun, terutama kepada "Tuan Muda Lin" yang tidak jelas asal-usulnya.
Tiba-tiba, Yue Bing mendekat dengan wajah cemas. "Tuan Lu, aku merasakan sesuatu yang aneh. Sejak kita berangkat, para murid elit itu selalu menatap kita seolah-olah kita adalah hewan kurban. Dan Gu Hai... dia menghilang sejak satu jam yang lalu."
"Gu Hai adalah tikus yang pintar, dia tahu kapan harus bersembunyi," Lu Chen menenangkan Yue Bing. "Tetaplah di dekatku. Apapun yang terjadi, jangan pernah melepaskan pegangan pada pedangmu."
Baru saja Lu Chen menyelesaikan kalimatnya, kapal terbang itu bergetar hebat. Alarm spiritual berbunyi nyaring di seluruh dek.
BOOM!
Sebuah ledakan energi hitam menghantam lambung kapal dari arah bawah. Dari balik awan, muncul puluhan kultivator berjubah hitam dengan topeng perak. Mereka adalah Kultivator Bayangan, organisasi pembunuh bayaran yang paling ditakuti di Benua Tengah.
"Serangan musuh! Lindungi kapal!" teriak para murid Sekte Pedang Suci.
Namun, Lu Chen menyadari sesuatu yang janggal. Para pembunuh itu menyerang dengan pola yang terlalu rapi, dan mereka seolah-olah mengabaikan murid-murid sekte, langsung menerjang ke arah kabin Lu Chen dan Yue Bing.
"Ini bukan serangan musuh luar," gumam Lu Chen dingin. "Ini adalah 'pembersihan' internal yang disamarkan."
Tiga pembunuh Bayangan mendarat di dek, masing-masing berada di Tahap Inti Emas Puncak. Tanpa bicara, mereka menghunus belati yang dilapisi racun pemakan energi.
"Yue Bing, ini ujianmu. Hadapi mereka," perintah Lu Chen sambil melipat tangannya.
Yue Bing menarik napas dalam, pedang esnya memancarkan aura dingin yang membekukan lantai dek. "Teknik Salju Abadi: Badai Seribu Kristal!"
Pertempuran pecah di atas kapal yang melaju kencang. Yue Bing bertarung dengan lincah, menangkis serangan-serangan cepat para pembunuh. Sementara itu, Lu Chen tetap tenang, matanya menatap ke arah Han Xiao yang muncul dari kabin utama dengan pedang besarnya. Han Xiao tidak membantu, ia hanya berdiri di sana, menonton dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Kau tidak akan membantu muridmu sendiri, Han Xiao?" tanya Lu Chen datar.
"Mereka yang tidak bisa bertahan dari serangan mendadak seperti ini tidak layak masuk ke Makam Naga, Tuan Muda Lin," jawab Han Xiao dengan nada meremehkan. "Bagaimana denganmu? Apakah kau hanya akan bersembunyi di balik punggung seorang wanita?"
Tepat saat itu, salah satu pembunuh berhasil menembus pertahanan Yue Bing dan meluncurkan serangan fatal ke arah punggungnya. Lu Chen tidak bergerak, namun sebuah getaran kecil dari bahunya melepaskan gelombang kejut transparan.
KRETEK!
Belati pembunuh itu hancur berkeping-keping saat menyentuh "udara" di sekitar Lu Chen. Sang pembunuh terbelalak, jiwanya terguncang hebat sebelum tubuhnya meledak menjadi kabut darah hanya karena tekanan aura pasif Lu Chen.
Han Xiao tertegun. Matanya menyipit penuh rasa tidak percaya. "Tekanan aura tanpa gerakan tangan? Kau... siapa kau sebenarnya?"
Lu Chen melangkah maju, setiap langkahnya membuat dek logam kapal itu melengkung ke bawah. "Aku adalah orang yang seharusnya tidak kau pancing amarahnya, Han Xiao. Beritahu tetua-tetuamu... jika mereka ingin menggunakan pembunuh murahan ini untuk mengujiku, mereka hanya membuang-buang nyawa murid mereka sendiri."
Lu Chen menunjuk ke arah langit. Awan-awan di atas mereka mulai berputar, membentuk pusaran raksasa yang memancarkan petir biru. Itu adalah resonansi dari kepompong Ignis yang bereaksi terhadap niat membunuh Lu Chen.
"Kecelakaan" di atas kapal ini adalah awal dari keruntuhan rencana Sekte Pedang Suci. Lu Chen tidak lagi peduli pada penyamaran. Jika mereka menginginkan monster, maka dia akan memberikan monster yang akan menghantui mimpi buruk mereka selamanya.
[Ding! Niat Membunuh Inang Meningkat.]
[Proses Evolusi Ignis: 99%...]
[Target Berikutnya: Pintu Gerbang Gunung Langit.]
Kapal Bahtera Langit terus melaju menembus badai buatan Lu Chen, membawa bencana yang mereka undang sendiri menuju tempat peristirahatan naga yang sakral. Di kegelapan malam, mata Lu Chen bersinar emas murni, menandai bahwa perjalanan ini tidak akan berakhir dengan warisan, melainkan dengan pembersihan darah.