Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 30
Anna melangkah ragu, kakinya yang telanjang tenggelam melangkah di lantai yang dingin, saat ia mendekat ke arah meja kerja Jay. Aura di ruangan itu terasa berat, sisa-sisa perbincangan gelap yang baru saja diucapkan Jay masih menggantung di udara, meski pria itu kini memasang topeng ketenangan yang sempurna.
Jay menarik kursinya mundur, Anna agar lebih dekat, lalu membimbing wanita itu untuk duduk di pangkuannya. Tangannya melingkar posesif di pinggang Anna, menghirup aroma sabun mandi yang segar dari lehernya—sebuah pelarian sejenak dari bau mesiu dan peperangan dengan keluarganya yang memenuhi pikirannya.
“Kenapa bangun sepagi ini? Kau harusnya istirahat lebih lama,” bisik Jay lembut, jemarinya merapikan anak rambut Anna yang berantakan.
“Tempat tidurnya terasa dingin saat kau tidak ada,” jawab Anna pelan, matanya menyapu sekilas dokumen di meja sebelum Jay dengan tenang menutupinya dengan map lain.
“Jay, aku mendengar suara Drew tadi. Apa ada masalah? Wajahmu... terlihat berbeda saat aku masuk tadi. Apakah ini tentang ayahmu?”
Jay terkekeh rendah, suara yang biasanya terdengar mengancam kini terdengar seperti melodi yang menenangkan
“Hanya masalah logistik di kantor pusat. Ayahku sedikit rewel soal pengiriman pekan ini. Tidak ada yang perlu kau pusingkan, Sayang.”
Anna menatap mata Jay, mencari kejujuran di balik netra gelap itu.
“Jangan berbohong padaku. Ini bukan hanya soal bisnis, kan? Ini soal kejadian semalam di apartemen. Orang-orang itu, mereka bukan penyerang biasa. Apa kau bertengkar dengan ayahmu semalam? Saat ayahmu memanggilmu? Atau penyerang semalam di apartmen adalah suruhan orang yang sama dengan orang yang menculikku?” Tanya Anna.
Jay tidak mungkin memberitahu Anna, bahwa hubungan mereka tidak di restui oleh sang ayah. Dan Jay harus memilih antara Anna dan kekuasaan yang ayah nya akan berikan padanya.
Rahang Jay mengeras sejenak, namun ia segera menguasai diri. Ia mengecup ujung hidung Anna.
“Apa penyerangan semalam ada kaitannya dengan ayahmu? Maaf, aku hanya asal mengambil kesimpulan dari sedikit cerita dari mu. Aku menafsirkan dari ceritamu, hubungan mu dengan ayah dan kakak mu kurang baik.”
“Mereka hanya kerikil kecil, Anna. Dan aku sudah menyingkirkannya. Di sini, di dalam mansion ini, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu. Aku sudah memastikan perimeter dijaga ketat.”
“Aku bisa mendengarkan apapun, jika kau mau bercerita.” sela Anna dengan nada getir. Tanannya melingkar di leher Jay.
“Aku ingin kau jujur padaku. Tentang apapun itu…” pinta Anna.
“Aku akan memberitahumu saat waktunya tepat. Tidak untuk saat ini karena,” balas Jay dingin namun tegas. Ia kemudian berdiri sambil tetap menggendong Anna dalam dekapannya, seolah wanita itu adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.
“Aku akan menggendongmu, kenapa kau ke sini tanpa memakai alas kaki. Apa tidak dingin? Ayo, pelayan sudah menyiapkan sarapan di balkon. Kau butuh asupan nutrisi, dan aku butuh melihatmu tersenyum.”
Saat mereka berjalan menuju balkon, Jay melirik sekilas ke arah jendela besar yang menghadap ke arah hutan. Di balik pepohonan yang rimbun itu, ia tahu tim sniper-nya sudah berada di posisi.
“Zavier, silakan melangkah masuk,” batin Jay dengan kilat predator di matanya. Aku akan menunjukkan padamu bahwa memburu singa di sarangnya adalah kesalahan terakhir yang akan kau lakukan.
Mereka sampai di balkon dengan meja yang penuh dengan makanan. Jay mendudukkan Anna di kursi dan ia sendiri duduk di samping Anna, jarak yang tak terlalu jauh cukup untuk bisa memeluk Anna.
“Makanlah. Kau butuh energi,” tambah Jay dengan nada yang sedikit menggoda, merujuk pada malam panjang yang telah mereka lalui.
“Terimakasih… Semua makanannya adalah kesukaanku… Ah, aku lupa. Kau menguntitku selama 4 tahun. Mana mungkin kau tidak tahu apa yang ku sukai.” Anna melahap makanannya.
“Menguntit kata-kata yang kasar sayang.” Kata Jay menarik dagu kecil Anna, dan mencium sudut bibir Anna menjilat sisa makanan di sana.
Namun, momen tenang itu pecah ketika Drew melangkah mendekat meski dengan ketenangan, aura lain yang tidak akan membohongi Jay, matanya terpaku pada tablet di tangannya. Drew sempat terhenti melihat posisi Anna yang sedang menikmati makanannya, namun urgensi informasi yang ia bawa membuatnya segera mengalihkan pandangan ke layar perangkatnya.
“Tuan, maaf mengganggu, tapi ini mendesak," suara Drew terdengar berat.
Jay melihat ke arah Anna yang sedang sibuk menikmati dan melahap makanannya.
“Sebentar.” Kata Jay tanpa melihat Drew.
“Tapi tuan…”
Jay langsung melirik dengan aura dingin.
Melihat itu Drew kemudian pergi dan menunggu di luar. Tidak ada bantahan apapun saat Jay sudah memberikan ulti.
“Tidak apa-apa aku bisa makan sendiri. Kau bisa berbicara dengan Drew.” Kata Anna.
Jay menggelengkan kepalanya dan tersenyum lalu menyuapkan salad ke dalam mulut kecil Anna.
“Makanlah. Aku temani.” Kata Jay.
Anna nampak ragu.
“Kau tidak makan?”
“Aku jarang sarapan.”
Anna kemudian mendorong piringnya.
“Kalau begitu aku juga tidak akan sarapan.”
Kedua mata Jay membulat.
“Kenapa?”
“Aku ini hidup dengan siapa? Kalau aku hanya sarapan sendiri apa bedanya ketika aku tidak hidup denganmu.”
Senyuman Jay getir, ia kembali mengingat dirinya yang dulu di masa usianya masih terlalu kecil, ia selalu sarapan sendiri di meja panjang yang gelap. Tak ada siapapun yang menemaninya. Hingga ia terbiasa tidak pernah sarapan.
Jay kemudian tersenyum.
“Hanya kau yang selalu menganggapku sebagai manusia.” Kata Jay kemudian mengambil salad dan melahapnya.
Anna tersenyum melihat Jay ikut sarapan.
Drew yang melihat dari kejauhan nampak lega, melihat perubahn Jay sedikit demi sedikit. Bukan lagi sosok pria yang kaku dan beku.
Setelah sarapan selesai, Anna kembali ke kamar, sedangkan Jay bersama Drew di taman belakang.
“Zavier sudah bergerak lebih jauh dari sekadar ancaman. Dia sedang bergerilya mendatangi para kepala faksi mafia secara langsung pagi ini. Informasi yang kami retas dari komunikasi internal mereka menunjukkan bahwa Zavier akan mengumpulkan mereka semua dalam satu pertemuan besar siang nanti tuan.” Kata Drew.
“Dia punya banyak energi.” Kata Jay tenang duduk di kursi besi.
“ Zavier, akan melakukan Deklarasi, Tuan, meskipun Tuan Jackman belum melakukan statemant apapun.” jawab Drew tegas.
“Zavier akan menyatakan dirinya secara resmi sebagai penerus tunggal Jackman. pesan itu dikirim menggunakan protokol enkripsi pribadi ayah Anda. Sepertinya meski Tuan Jackman diam, ia sudah memberikan restu penuh. Kursi itu di serahkan untuk Zavier.”
Jay menyeringai.
“Itu karena Jackman ragu. Jackman akan berbicara jika dia tidak ragu. Tapi jika dia ragu, maka ia tidak akan bergerak sedikitpun dan membiarkannya. Kemungkinan Jackman tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Zavier bertindak.” Kata Jay.
Bersambung
tpi bgitu la wanita 😅🤭
siapa ni yg nyulik anna, zavier kah atwa si penelepon misterius 🤔
gak kebyang semurka apa c jay skrg...
thor hayu up lagiii 😁