"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI SEBELUM KETENANGAN
Dua minggu setelah perjalanan ke Northvale, mansion Elsworth dipenuhi hiruk pikuk persiapan. Bukan persiapan pesta atau perayaan, melainkan persiapan untuk acara pembatalan pertunangan resmi antara Lady Catharina von Elsworth dan Duke Raphael Ascania von Nightshade.
Di ruang kerjanya, Catharina duduk dengan tenang sambil membaca surat resmi dari keluarga Nightshade. Martha berdiri di sampingnya dengan wajah khawatir yang sudah terlihat sejak surat itu datang pagi tadi.
"Yang Mulia, apakah Anda yakin dengan ini? Keluarga Nightshade meminta pertemuan resmi di hadapan para bangsawan. Ini akan menjadi acara besar." Suara Martha bergetar sedikit, jemarinya meremas ujung celemeknya, kebiasaan yang selalu muncul saat ia cemas.
Catharina meletakkan suratnya dengan santai, bahkan ada senyum tipis di bibirnya. "Tentu saja aku yakin, Martha. Lagipula, ini bagus. Dengan pengumuman resmi di depan umum, tidak akan ada rumor yang aneh-aneh. Semua jelas dan terang benderang. Tidak ada yang bisa memelintir fakta."
"Tapi Yang Mulia, masyarakat akan membicarakan Anda. Mereka akan bilang..."
"Mereka akan bilang aku wanita yang sombong, tidak tahu diri, atau apa pun yang mereka mau." Catharina tersenyum lebih lebar, matanya menatap Martha dengan penuh keyakinan. "Aku tidak peduli, Martha. Yang penting aku tahu keputusanku benar. Dan orang-orang yang benar-benar mengenalku juga akan tahu."
Martha menghela napas panjang. Sudah bertahun-tahun ia melayani Catharina, dan ia tahu kalau nona-nya sudah memantapkan keputusan, tidak ada yang bisa mengubahnya. Akhirnya, ia tersenyum tipis. "Hamba akan selalu mendukung Anda, Yang Mulia. Apa pun yang terjadi."
"Aku tahu, Martha." Catharina bangkit dan menepuk bahu Martha dengan lembut. "Dan aku berterima kasih untuk itu. Kau seperti ibu keduaku, kau tahu itu kan?"
Martha merasa sungkan. "Yang Mulia terlalu baik pada hamba."
"Bukan terlalu baik. Hanya memberikan apresiasi yang seharusnya."
Acara pembatalan pertunangan dijadwalkan tiga hari lagi. Akan diadakan di ruang perjamuan keluarga Nightshade, dengan dihadiri oleh para bangsawan tinggi, termasuk beberapa anggota keluarga kerajaan.
Catharina tahu ini akan jadi drama besar. Tapi ia sudah mempersiapkan mentalnya jauh-jauh hari. Tidak ada lagi Catharina yang lemah dan mudah ditindas. Yang ada sekarang adalah Catharina baru, yang tahu nilainya sendiri dan tidak takut mempertahankannya.
***
Malam sebelum acara, Catharina mendapat kunjungan tak terduga. Lucian datang dengan membawa sebuah kotak besar yang langsung menarik perhatian Martha.
"Aku punya hadiah untukmu," ujarnya sambil menyerahkan kotak itu dengan senyum misterius.
Catharina membuka kotak tersebut dan ternganga. Di dalamnya ada gaun paling cantik yang pernah ia lihat, yang bahkan di kehidupan lamanya sebagai penggemar drama romantis. Gaun berwarna midnight blue dengan sulaman perak yang berkilau seperti bintang. Potongannya elegan tapi modern, sangat berbeda dengan gaun-gaun kaku ala bangsawan biasanya yang membuatnya seperti boneka porselen.
"Lucian... ini terlalu..." Catharina kehilangan kata-kata. Jemarinya menyentuh kain gaun itu dengan hati-hati, takut merusaknya.
"Terlalu cantik? Aku tahu. Tapi tidak secantik yang akan memakainya." Lucian tersenyum, matanya berbinar melihat ekspresi Catharina. "Besok kau akan menghadapi banyak mata yang menghakimi. Aku ingin kau tampil dengan percaya diri penuh. Dan gaun ini akan membuatmu terlihat seperti ratu."
Catharina menatap Lucian dengan mata berkaca-kaca. Sudah lama sekali sejak ada seseorang yang memikirkannya sampai sedetail ini. "Terima kasih, Lucian. Ini... ini terlalu berharga."
"Kau yang berharga, Catharina. Gaun ini hanya pelengkap." Lucian melangkah lebih dekat, mengusap puncak kepala Catharina dengan gerakan yang sangat lembut. "Ingat itu baik-baik."
Martha yang menyaksikan dari sudut ruangan tak bisa menahan senyum. Akhirnya nona- nya menemukan seseorang yang layak.
Mereka duduk di taman belakang kediaman, di bawah cahaya bulan yang terang. Suasana sangat tenang, kontras dengan badai yang akan datang besok. Aroma mawar malam semerbak di udara, bercampur dengan aroma teh herbal yang disajikan Martha sebelum ia pamit undur diri.
"Kau gugup?" tanya Lucian sambil menyeruput tehnya.
"Sedikit," jawab Catharina jujur, memeluk cangkirnya untuk menghangatkan telapak tangan yang tiba-tiba terasa dingin. "Bukan karena aku ragu dengan keputusanku. Tapi karena aku tahu besok akan berat. Menghadapi semua tatapan menghakimi, bisikan-bisikan, dan mungkin juga hinaan yang diselimuti basa-basi."
Lucian meletakkan cangkirnya dan menggenggam tangan Catharina. Genggamannya hangat dan mantap. "Kau tidak sendiri. Aku akan ada di sana. Dan aku akan pastikan semua orang tahu bahwa keputusanmu ini adalah keputusan yang mulia dan berani. Bukan keputusan gegabah seperti yang akan mereka coba gambarkan."
Catharina tersenyum, merasakan kehangatan dari genggaman tangan Lucian yang menjalar sampai ke dadanya. Ada perasaan aman yang tidak pernah ia rasakan dengan Raphael.
"Kau tahu, Lucian..." Catharina menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian. "Aku mulai berpikir kalau aku jatuh cinta padamu."
Lucian tersentak, menatap Catharina dengan mata yang berbinar terang. Bahkan di bawah cahaya bulan, Catharina bisa melihat semburat merah di pipinya. "Kau... serius?"
"Aku tidak tahu apakah ini cinta atau bukan. Aku tidak pernah merasakan cinta yang sebenarnya, jadi aku tidak punya perbandingan." Catharina tertawa kecil, sedikit malu dengan pengakuannya sendiri. "Tapi aku tahu, setiap kali aku bersamamu, aku merasa aman. Nyaman. Dan bahagia. Hatiku terasa ringan, dan aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa takut dihakimi. Itu cukup, kan?"
Lucian menarik Catharina ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat dan melindungi, seperti benteng yang melindungi Catharina dari seluruh dunia yang kejam.
"Itu lebih dari cukup, Catharina." Suara Lucian terdengar serak, penuh dengan emosi yang ia tahan. "Itu lebih dari cukup."
Mereka berpelukan di bawah cahaya bulan, dengan hati yang penuh harap untuk masa depan. Di suatu tempat, seekor burung hantu berbunyi, dan angin malam berhembus lembut, membawa serta kelopak bunga mawar yang jatuh seperti salju.
Catharina menutup matanya, menghirup aroma khas Lucian, campuran kayu cendana dan mint yang menenangkan. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa benar-benar utuh.
***
Hari yang ditunggu-tunggu,atau ditakuti, tergantung perspektifnya akhirnya tiba. Ruang perjamuan kediaman Nightshade dipenuhi oleh ratusan bangsawan dari berbagai keluarga tinggi. Lampu kristal raksasa menerangi ruangan yang megah, dengan dekorasi serba mewah yang menunjukkan kekuatan dan kemegahan keluarga Nightshade.
Catharina tiba bersama ayahnya, Duke Henry. Ia mengenakan gaun pemberian Lucian, dengan rambut pirang panjangnya ditata setengah tergerai dengan mahkota kecil bertaburan berlian. Ia terlihat seperti putri dari dongeng, tapi dengan aura yang kuat dan mandiri, bukan putri yang menunggu pangeran menyelamatkannya, tapi putri yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Begitu ia masuk, semua mata tertuju padanya. Percakapan yang sebelumnya ramai langsung mereda. Bisikan-bisikan mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan.
"Itu Lady Catharina?"
"Dia terlihat berbeda. Ada apa dengannya?"
"Cantik sekali... gaun itu dari desainer mana?"
"Tapi berani-beraninya dia membatalkan tunangan dengan Duke Raphael. Apa dia tidak tahu posisinya?"
"Aku dengar dia yang memulai mengajukan pembatalan. Menggelikan."
Catharina berjalan dengan kepala tegak, punggungnya lurus sempurna, mengabaikan semua bisikan yang disengaja dibuat cukup keras agar ia mendengar. Martha mengikutinya dari belakang dengan wajah waspada, siap melindungi nyonya-nya dari serangan verbal apa pun. Sementara Duke Henry berjalan di sampingnya dengan wajah penuh kebanggaan, dagunya terangkat tinggi, menunjukkan bahwa ia sepenuhnya mendukung keputusan putrinya.
Di sudut ruangan, Catharina melihat Lucian yang tersenyum padanya. Pria itu berdiri dengan postur santai tapi elegan, mengenakan setelan gelap yang membuatnya terlihat seperti pangeran dari negeri dongeng. Ia mengangguk pelan, memberikan dukungan tanpa kata.
Catharina membalas dengan senyum kecil. Hanya dengan melihat Lucian, keberaniannya kembali menguat.
Di sisi lain ruangan, Duke Raphael berdiri dengan keluarganya. Pria itu mengenakan setelan formal serba hitam, terlihat tampan tapi dingin seperti biasa. Dia terlihat seperti patung es yang indah tapi tidak bisa disentuh. Tapi saat matanya bertemu dengan mata Catharina, ada kilatan sesuatu di sana. Penyesalan? Kehilangan? Kerinduan?
Catharina tidak bisa memastikannya, dan sejujurnya, ia tidak terlalu peduli.
****
BERSAMBUNG