Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Traces of the Past, Shadows of the Future
"Dia sangat cantik, ya?"
Damian terperanjat. Ia mendapati Freddie entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya, memecah fokus Damian yang sejak tadi terkunci pada satu objek.
Senyum di bibir tuanya yang mulai keriput itu tersungging jahil, sebuah ekspresi yang praktis membuat Damian mendadak salah tingkah, seperti seorang remaja yang tertangkap basah menyimpan rahasia besar.
"Kapan ya terakhir kali kamu terlihat sebahagia ini?" Freddie menggantung kalimatnya sejenak, menatap profil samping Damian dengan saksama. "Mungkin saat Mrs. Harding masih hidup."
Damian terhenyak. Ia tidak menjawab, lidahnya mendadak kelu karena nama itu disebut. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia mengamini pernyataan itu dalam diam.
Tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun dari sosok Fraya yang berada beberapa meter di depannya, gadis itu sedang asyik memberikan pakan kepada seekor sapi besar—Damian bergumam menyetujui, lebih kepada dirinya sendiri.
"Dia sungguh cantik, Freddie. Dia juga sering membuatku gila dengan sifatnya yang suka memberontak."
Pria tua di sebelahnya, yang tengah mengusap moncong Monica—sapi yang berdiri begitu tenang di sana—mengangguk-angguk samar. Tatapan Freddie yang teduh menyadari adanya perubahan paling signifikan yang pernah ia lihat selama ia menemani perjalanan hidup anak tuan tanahnya ini.
"Aku masih ingat, dulu waktu usiamu dua belas tahun, kamu sering bilang suatu saat nanti kamu akan membawa orang yang akan jadi jodohmu kelak ke sini," Freddie mengenang masa lalu dengan suara serak yang hangat, lalu melanjutkan, "Jadi aku akan berhenti menyuruhmu untuk dekat dengan anak keluarga Highmore. Tapi tidak kusangka kau akan membawanya lebih cepat dari yang ku perkirakan."
Damian terkekeh samar, sebuah tawa pendek yang terdengar getir sekaligus takjub. "Aku juga tidak menyangka, Freddie. Akan menemukannya secepat ini."
Freddie menatap binar kasmaran pada tuan muda di sampingnya ini. Ia memperhatikan setiap pergerakan bola mata Damian yang tajam pada setiap gerak gadis bernama Fraya didepan matanya.
Ini adalah Damian yang berbeda dari yang dulu dikenalnya. Damian yang sejak kecil menghabiskan waktu dengan menunggangi Monica menyusuri setiap jengkal padang rumput yang membentang luas ini.
"You look so much in love with that woman. Does she know your feelings?" tanya Freddie saat menyadari mata Damian tidak berhenti memancarkan cahaya setiap kali melihat Fraya tertawa gembira.
"She knows. I made my feelings for her perfectly clear, that i was hopelessly in love with her."
Namun, saat Damian menghela napas panjang, ada perubahan drastis yang terjadi pada sorot matanya. Binar yang tadi ada di sana mendadak redup, digantikan oleh sorot yang terlihat kosong dan muram.
"Tapi dia tidak mau aku jatuh cinta padanya."
"Kenapa?" Freddie mengerutkan kening.
Jemarinya masih setia mengelus moncong Monica yang sesekali mendengkur halus, seolah sedang meminta perhatian lebih dari pria tua itu.
"Karena..." Damian kembali menghela napas, lalu menghembuskannya dengan berat, seolah ada beban besar di dadanya yang ikut keluar bersama udara itu. "Karena aku memaksanya untuk mencintaiku, seperti aku yang tergila-gila mencintainya, Freddie."
Damian terdiam, termenung dengan ucapannya sendiri. Kalimat itu terasa sangat pahit di lidahnya. Kenyataan bahwa perasaannya bisa tumbuh sehebat ini justru bermula dari sesuatu yang salah, dari rencana Axel yang ingin membalaskan dendam kepada gadis itu.
Gadis yang ironisnya, sekarang justru menjadi satu-satunya alasan yang membuat Damian merasa bisa bernapas normal lagi.
"Dia tidak membalas perasaanmu?" Freddie kembali melempar pertanyaan sederhana, namun pertanyaan itu justru membuat Damian kembali terenyak di tempatnya berdiri.
"Aku tidak tahu, Freddie. Terkadang ada momen di mana kami sama-sama menikmati waktu sunyi yang terjadi di sekitar kami ketika kami sedang berduaan saja. Tapi, semakin lama aku menatapnya, semakin aku sadar bahwa perasaanku tumbuh seperti sebuah karma yang sudah menunggu untuk menghancurkan ku di ujung waktu nanti."
Freddie sebenarnya semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Namun, untuk seseorang yang sudah ia temani sejak kecil, Freddie tahu akan lebih bijak jika ia tidak berkomentar lebih jauh. Ia memilih untuk diam, membiarkan keheningan mengambil alih, seperti yang selalu dilakukannya setiap kali Damian mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Freddie, aku seharusnya tidak mencintai Fraya."
Suara Damian terdengar begitu jauh saat mengucapkan sederet kalimat itu. Dingin dan hampa. Seolah dia sudah tahu bahwa perasaannya ini adalah jalan buntu, dan dia tidak punya siapa pun untuk menyelamatkannya dari sana, bahkan dirinya sendiri.
"Damian! Lihat ini!"
Suara nyaring nan riang itu membelah udara Port Meadow, seketika memutus benang-benang pikiran gelap yang baru saja membelit kepala Damian. Freddie dan Damian serentak menoleh.
Fraya berdiri dengan wajah yang memerah karena sinar matahari sore, tangannya melambai antusias sambil menunjuk ke arah seekor anak sapi yang baru saja mendekatinya.
"Dia mau makan dari tanganku, Damian! Cepat ke sini!" Fraya berseru lagi, matanya berbinar begitu tulus, seolah beban di Milford Hall kemarin benar-benar telah menguap dari ingatannya—setidaknya untuk saat ini.
Damian tertegun. Melihat senyum lepas itu, dadanya mendadak terasa sesak oleh jenis rasa sakit yang berbeda. Rasa sakit karena ia tahu, dialah alasan di balik tawa itu, tapi dia juga yang berpotensi menjadi alasan tawa itu hilang suatu saat nanti.
"Sana, hampiri dia," gumam Freddie lembut, jemarinya memberikan tepukan ringan di bahu Damian. "Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama. Gadis seperti itu tidak diciptakan untuk menunggu dalam ketidakpastian.".
Damian menarik napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa kegelapan di matanya sebelum ia melangkah mendekat. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, jenis senyum yang hanya ia berikan untuk Fraya.
"Iya, Ace, aku ke sana," sahut Damian pelan, suaranya kini kembali hangat.
"Lama sekali sih," gerutu Fraya saat Damian sudah berdiri di sampingnya. Ia tidak menyadari sisa-sisa pembicaraan berat yang baru saja terjadi. "Lihat, dia lucu sekali, kan? Namanya siapa?"
Damian menunduk, menatap anak sapi itu, lalu beralih menatap wajah Fraya yang hanya berjarak beberapa inci darinya.
"Belum ada namanya. Kamu mau beri nama apa?"
Fraya tampak berpikir keras, keningnya berkerut lucu yang membuat Damian ingin sekali menyentuhnya. "Hmm... Caramel? Karena warnanya cokelat manis seperti karamel."
"Caramel it is," jawab Damian pendek. Matanya terkunci pada manik mata Fraya.
Untuk sejenak, dunia di sekitar mereka seolah memudar menjadi latar belakang buram. Hanya ada Fraya dan aromanya yang menenangkan.
Kehadiran Fraya di depan matanya saat ini terasa seperti oase yang salah alamat. Dia begitu cerah, begitu kontras dengan awan mendung yang baru saja Damian tumpahkan pada Freddie.
Keheningan merayap di antara mereka, hanya diinterupsi oleh suara kunyahan lembut dan embusan angin sore. Damian menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang entah kenapa mendadak terasa tipis setiap kali berhadapan dengan gadis ini.
"Ace," panggilnya lirih.
Fraya menoleh, menangkap keseriusan yang tidak biasa dalam nada suara Damian. Senyum riangnya perlahan memudar, berganti dengan kerutan tipis di keningnya.
"Aku tahu yang kulakukan kemarin itu salah," lanjut Damian, suaranya kini lebih rendah, lebih dalam. "Tapi aku tidak bisa menarik kembali apa yang sudah terjadi, karena semua itu nyata, Ace. Perasaanku kepadamu itu nyata."
Fraya terdiam. Tangannya yang memegang pakan sapi membeku di udara. Kalimat Damian barusan seperti sebuah proyektil yang menghantam dinding pertahanan yang sudah susah payah ia bangun sejak pagi tadi.
Ia ingin membalas dengan kalimat ketus, ingin mengingatkan Damian betapa memalukannya kejadian di sekolah kemarin, tapi lidahnya mendadak kelu.
Ada kejujuran yang terlalu telanjang di mata kelabu Damian sore ini. Kejujuran yang membuat Fraya merasa seolah sedang berdiri di tepi tebing.
Keheningan kembali ter jeda. Cukup lama, sampai suara kepakan sayap burung di kejauhan terdengar begitu nyaring.
Damian melangkah satu titik lebih dekat, hingga aroma maskulinnya yang bercampur dengan bau padang rumput yang segar mengepung indra penciuman Fraya.
Lalu, dalam keheningan yang menyesakkan itu, Damian mencetuskan harapan yang sejak tadi mengganjal di kerongkongannya.
"Apa kamu mau jadi pacarku?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa embel-embel puitis, tanpa diksi yang bikin Fraya berbunga-bunga. Sebuah permintaan yang lugas, namun sarat akan keputusasaan yang tertahan.
Fraya merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan.
Ia menatap Damian, mencari-cari tanda bahwa pria ini sedang bercanda.
Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang menatapnya dengan intensitas yang sanggup meluluhkan logika paling kokoh dalam benak Fraya sekalipun.
"Bagaimana kalau kamu beri aku waktu untuk meyakinkan diri aku sendiri?"
Damian mengerjapkan mata, tidak mengerti, "Maksudnya bagaimana, Ace?"
Kini giliran Fraya yang terhenyak, walaupun hanya sesaat. Kedua manik mata yang dihiasi bulu mata lentiknya itu mengerjap, sebelum bibirnya kembali melayang kan jawaban,
"Hidupku di Inggris sangat aneh dan heboh sekali semenjak aku kenal kamu. Dan aku juga tidak tahu, yang kurasakan ini untuk kamu perasaan apa. Tapi yang jelas, se menyebalkan apapun dirimu, kamu seperti sudah jadi bagian dari hari-hariku di Milford. Namun, aku juga perlu meyakinkan diri aku sendiri kalau kamu orang yang tepat untuk aku. Aku belum pernah pacaran, dan aku tidak mau pengalaman pertamaku harus ku ambil secara terburu-buru."
Fraya menarik napas panjang, dan melanjutkan, "Jadi aku perlu waktu untuk tahu bahwa kamu juga pilihan yang tepat buat aku, Damian. Take it, or leave it."
Ucapan Fraya tegas, sarat akan pernyataan tak ingin dibantah.
Damian membiarkan seluruh fokus pandangnya hanya berpusat pada Fraya. Tanpa ekspresi, tanpa emosi.
Lalu Damian mendapati dirinya sendiri mengangguk, "Apapun, Ace. Apapun akan kulakukan, sekalipun harus memberi kamu waktu. Dan aku akan menunggu sampai kamu yakin dengan perasaanku."
°°°°°
Dir gehört mein Herz,
(My heart belongs to you,)
Für immer und ewig.
(forever and always.)
Bleib hier in meinen Armen,
(Stay here in my arms,)
Ich halte dich fest.
(I will hold you tight.)
Du bist nicht allein,
You are not alone,
Ich werde bei dir sein,
(I will be with you,)
Auch wenn die Welt uns trennt.
(even if the world tries to tear us apart.)
(Dir gehört mein Herz – Phil Collins)
...°°°°°...
Keesokan harinya, aroma antiseptik laboratorium biologi masih tertinggal samar di seragam Fraya saat ia melangkah keluar menuju koridor yang mulai ramai.
Di sampingnya, Florence berjalan dengan sisa-sisa kantuk yang mendadak hilang begitu Fraya mulai membuka mulut.
"Kemarin Damian datang lagi kerumahku. Tapi kali ini, dia membawaku ke Port Meadow." bisik Fraya, suaranya nyaris tenggelam di antara riuh rendah langkah kaki siswa Milford Hall.
Florence menghentikan langkahnya seketika, matanya membelalak. "Serius? Port Meadow? Kamu mau?"
Fraya mengangguk pelan, jemarinya meremas tali tasnya dengan canggung. "Bukan mau, tapi aku tidak punya pilihan. But, i must say, it was not so bad. I had my time and enjoy every moment of it. Sampai dia tiba-tiba 'menyatakan' sesuatu. Tapi beda dari yang di lapangan kemarin. Kali ini... aku bisa melihat sisi dia yang lain. Sisi yang diam-diam bikin aku, well, sedikit luluh."
Mendengar itu, Florence hampir saja memekik girang kalau saja ia tidak segera menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Gadis itu berjingkrak-jingkrak tertahan, kakinya mengetuk-ngetuk lantai marmer dengan antusiasme yang meledak-ledak. Wajahnya memerah karena menahan kegembiraan yang luar biasa.
"Sstt! Flo, don't make a fuss!" tegur Fraya cepat, wajahnya ikut memanas. "Jangan sampai ada yang dengar. Aku belum mau cerita ini jadi malah konsumsi publik."
"Oke, oke, aku diam!" Florence berusaha mengatur napasnya, meski senyum lebarnya tidak bisa disembunyikan. "Lalu? Apa lagi yang terjadi?"
Sambil berjalan pelan menyusuri lorong, Fraya mengeluarkan sebuah benda dari saku almamaternya—sebuah walkman tua pemberian Damian. Di dalamnya terselip sebuah kaset berwarna pink berisi lagu-lagu Jerman yang ritmenya masih terngiang di kepala Fraya.
Ia mulai bercerita tentang betapa hijaunya Port Meadow, tentang aroma rumput basah, dan tawa yang tidak sengaja lepas saat mereka berada di sana. Fraya tampak begitu larut dalam ceritanya, sebuah binar bahagia yang jarang ia tunjukkan untuk manusia menyebalkan bernama Damian Harsing yang kini terpancar jelas dari matanya.
Mereka begitu asyik mengobrol sampai sebuah hantaman keras di bahu kiri Fraya membuatnya terhuyung.
BRAK!
Walkman di tangan Fraya terlepas, jatuh menghantam lantai dengan bunyi yang cukup nyaring. Fraya tersentak, menoleh ke arah sosok yang baru saja menabraknya dengan sengaja.
Di hadapannya berdiri seorang perempuan dengan tampilan yang begitu memukau, nyaris seperti model yang baru turun dari panggung catwalk.
Gadis itu tidak meminta maaf. Ia hanya berdiri di sana, menatap Fraya dengan tatapan sinis yang seolah bisa menguliti siapa pun yang dipandangnya.
Fraya mengernyit, merasa aneh dengan sikap kasar orang asing ini, namun ia memilih untuk tidak ambil pusing. Ia menganggapnya hanya insiden kecil biasa di lorong yang padat.
Fraya membungkuk, memungut walkman-nya dengan hati-hati, memastikan tidak ada lecet pada benda berharga itu.
Sementara itu, di sampingnya, Florence mendadak membatu.
Wajahnya pucat pasi, napasnya tertahan, dan matanya menatap gadis memukau itu dengan kepanikan yang luar biasa dalam diam.
Florence tahu siapa dia. Seluruh jajaran sosialita Inggris tahu siapa dia. Gadis itu adalah Alana Highmore.
Alana, yang sejak kemarin sudah didera rasa penasaran yang membakar tentang sosok Fraya Alexandrea, kini mematung. Matanya menangkap benda yang baru saja dipungut Fraya. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Ia mengenali benda itu. Sangat mengenalnya.
Fraya, yang merasa suasana mendadak menjadi canggung, segera menarik tangan Florence.
"Come on, Flo. We're gonna be late for the next class,"
Tanpa menoleh lagi, Fraya berlalu begitu saja, meninggalkan Alana yang masih berdiri terpaku di tengah koridor.
Fraya sama sekali tidak menyadari bahwa di belakangnya, Alana Highmore mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
Alana merasa seperti baru saja ditampar di depan umum. Hatinya berdenyut perih, rasa sakitnya merambat hingga ke sesak napas.
Benda di tangan Fraya tadi—walkman itu—adalah milik laki-laki yang sudah mengunci hatinya sejak mereka masih kecil. Benda yang selama bertahun-tahun ia harap akan diberikan Nicholas kepadanya sebagai simbol bahwa Alana adalah pelabuhan terakhirnya.
Namun kenyataan pahit itu kini terpampang nyata. Benda itu justru jatuh ke tangan gadis asing yang bahkan tidak masuk dalam radar kalangan mereka.
Di detik itu, Alana sadar sepenuhnya.
Damian, Nicholas-nya, tidak sedang main-main.
Damian bersungguh-sungguh memilih Fraya sebagai tambatan hatinya, persis seperti janji yang pernah Damian ucapkan tentang mencari pilihannya sendiri di masa depan.
part yg bikin bad mood wkwkwk
tim Damian in action
terima kasihhhhh bagus ceritanya🥰
kalo udah dapat jgn disia2in
semangat nunggu ceritamu kak🥰
tapi lama2 mirip film horor euy serem bacanya🥰
bacanya sambil berharap terus nyambung g berhenti 😂 keren ceritanya
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍