Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Menu Buronan: Mi Instan Level Dewa
Perut gue bunyi nyaring banget, suaranya terdengar jelas di ruangan ini. Gue melirik Genta yang lagi duduk tegak di depan kompor gas satu tungku yang apinya udah merah nggak niat. Di tangannya ada sebuah panci kecil berkarat, dan di tangan satunya... dia megang jam tangan sambil ngerutin dahi.
"Genta, lo lagi masak mi atau lagi nungguin hasil pemilu? Buruan, gue laper!" rengek gue sambil rebahan di atas kasur macan tutul yang baunya apek.
Genta nggak menoleh. Dia malah menyesuaikan posisi pancinya biar pas di tengah-tengah api. "Sabar, Aruna. Untuk mendapatkan tekstur mi yang sempurna, air harus mencapai titik didih optimal. Secara termodinamika, tekanan udara di ruangan lembap begini memengaruhi kecepatan transfer panas ke inti mi."
Gue cuma bisa tepok jidat. "Itu cuma mi instan harga tiga ribu perak, Genta! Tinggal cemplungin, tunggu benyek, kelar!"
"Justru karena ini mi instan, kita harus mempertahankan integritas gizinya," balasnya sok serius. Dia mulai memasukkan bumbu ke dalam mangkuk dengan ketelitian yang bikin gue pengen nangis. Dia bahkan memotong bungkus bumbunya pakai gunting lipat biar garisnya lurus sempurna.
Sepuluh menit berlalu, dan apa yang gue dapat? Mi instan buatan Genta itu... keras. Setengah matang, airnya kebanyakan, dan rasanya hambar karena dia lupa ngaduk bumbunya.
"Ini... ini draf mi paling gagal yang pernah gue liat," gumam gue setelah nyoba sesendok.
Genta mencicipinya, lalu wajahnya langsung kaku. Dia naruh sendoknya dengan gerakan patah-patah. "Sepertinya kalkulasi saya soal suhu air tadi terhambat oleh panci berkarat ini."
Gue ketawa kecil, bukan ketawa ngeledek, tapi karena ngerasa lucu aja liat editor paling ditakuti se Jakarta ini kalah telak sama sebungkus mi. Gue bangkit, narik panci itu dari tangannya.
"Udah, minggir. Biar penulis yang beraksi. Gue bakal kasih lo plot twist rasa paling enak sedunia," kata gue.
Gue masak ulang, nambahin sisa cabe rawit yang gue temuin di pojok dapur dan telur yang tadi gue beli di warung depan sebelum kami bener-bener sembunyi. Wangi gurihnya langsung memenuhi kontrakan petak ini.
Gue bawa mangkuk satu-satunya itu ke hadapan Genta. Kami duduk lesehan di atas lantai, di bawah lampu bohlam kuning yang kedap-kedip kayak mau mati.
"Makan," suruh gue.
Genta nyoba satu suapan. Matanya melebar. Dia mulai makan dengan lahap, nggak peduli lagi soal estetika atau efisiensi gizi. Kami berakhir makan satu mangkuk berdua, rebutan satu-satunya sendok yang kami punya. Tangan kami sering nggak sengaja bersentuhan pas mau ngambil kuah, bikin suasana yang tadinya tegang gara-gara jadi buronan mendadak terasa... beda.
Genta berhenti makan sebentar, lalu menatap gue dalam-dalam. Cahaya lampu yang remang-remang itu bikin bayangan bulu matanya jatuh di pipi, bikin dia kelihatan jauh lebih lembut.
"Aruna," suaranya rendah, hampir tenggelam sama suara berisik tikus di atas plafon. "Saya janji. Setelah semua kekacauan ini selesai, saya bakal bawa kamu ke restoran paling mewah di Jakarta. Kita bakal makan steak yang dagingnya dipotong pakai standar internasional, bukan mi instan di bawah lampu rusak begini."
Gue tersenyum, lalu menyandarkan kepala gue di bahunya yang lebar. Bau mi instan pedas ini mendadak jadi jauh lebih harum dari parfum mahal mana pun.
"Nggak perlu, Genta," bisik gue. "Restoran mewah itu cuma soal tempat. Tapi makan mi instan di kontrakan pengap ini sambil bareng lo... itu udah kerasa jauh lebih mewah buat gue. Lo itu menu paling favorit yang pernah ada di hidup gue."
Genta nggak membalas pakai kata-kata puitis. Dia cuma merangkul bahu gue erat, seolah-olah dia lagi memproteksi naskah paling berharga miliknya agar nggak ada satu pun orang yang bisa nyuri atau ngerusak.
Malam itu, perut gue kenyang, dan hati gue... entah kenapa kerasa penuh banget. Padahal besok, kami masih nggak tahu harus lari ke mana lagi.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻