Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Jadilah kekasihku
Pagi itu cuaca di Desa Sukun sangat cerah. Mentari menyembul dari balik bukit memancarkan sinar keemasan. Beberapa warga mulai beraktivitas masing-masing, ada yang ke sawah, ke ladang, atau ke pabrik kecil yang ada di desa sebelah. Sebagian ibu-ibu pergi ke sendang sambil menggendong keranjang cucian.
Sementara anak-anak mulai memenuhi jalanan beraspal kasar pergi ke sekolah. Alvian duduk di kursi roda berada di teras rumah menatap teman-temannya yang berangkat ke sekolah dengan pandangan kosong. Di lubuk hatinya yang terdalam ada keinginan untuk melanjutkan sekolah meskipun harus mengulang.
Kring
Kring
Kring
Davin datang dengan sepeda baru, entah kapan dia membelinya, yang jelas dirinya bisa kapan saja mendapatkan apapun yang dia mau.
Alvian menoleh, tersenyum sumringah dengan mata berbinar menyambut kedatangan Davin.
"Assalamualaikum," sapa Davin dengan senyum pepsodent.
"Waalaikumsalam." Alvian menjawab.
"Pak Dokter bawa apa?" tanyanya, begitu melihat Davin turun dari sepeda, lalu mengambil plastik kresek ukuran sedang.
Davin tersenyum mengangkat plastik tersebut. "Ini saya beli nasi pecel untuk sarapan. Sepertinya enak," sahutnya,
Pemuda itu lalu berjalan ke belakang Alvian dan mendorong kursi roda. "Ayo, kita masuk dan sarapan."
Di dalam rumah, Melodi baru keluar dari kamarnya, setelah beberapa menit lalu selesai mandi. Ia mengenakan celana kulot dan kaos harian yang sudah memudar warnanya akibat sering cuci pakai, dan menutup kepalanya dengan hijab instan warna matcha pemberian Murni. Wajahnya cantik alami tanpa polesan atau riasan atau bahkan dempul berlapis untuk membuatnya tampil cantik.
Namun, di mata Davin hal itulah yang membuatnya terpesona. Tampilan sederhana dan apa adanya, tetapi tidak mengurangi kecantikannya yang alami.
"Loh, ada Pak Dokter? Kapan datang?" tanyanya sambil tersenyum manis.
Senyuman yang membuat hati Davin laksana diterpa angin ribut, meliuk-liuk dan menghempaskan kesadarannya. Membuatnya sulit berkonsentrasi atau mungkin kurang asupan nutrisi.
"Pak Dokter bawa apa?" tanya Melodi ulang, ia mendekat lalu mengibaskan tangannya di depan wajah Davin sembari mengerjapkan matanya.
"Astaghfirullah al'adzim..." Davin tersentak, wajahnya langsung memerah karena malu sekaligus grogi.
"Pak Dokter bawa nasi pecel untuk kita sarapan, Kak Mel." Alvian bantu menjawab dengan antusias.
Davin tersenyum kikuk lalu menyerahkan plastik itu pada Melodi. "Tadi...saya sengaja beli tiga bungkus untuk kita sarapan," ucapnya tulus.
Melodi menerimanya dengan senang hati. "Seharusnya Pak Dokter tidak perlu repot-repot," katanya, lalu pergi ke dapur.
"Padahal saya sudah masak loh, tadi."
"Saya nggak merasa direpotkan, justru saya senang melakukannya," sahut Davin.
Dia lalu menggeser kursi roda Alvian ke dekat meja, sedangkan dirinya duduk di kursi plastik.
"Lagian masakanmu bisa dimakan nanti siang lagi," sambungnya memberi solusi.
Melodi kemudian datang membawa piring serta sendok dan meletakkannya di atas meja. Ia membuka satu persatu nasi pecel yang terbungkus daun pisang tersebut ke atas piring masing-masing.
Davin memperhatikan setiap gerakan Melodi dalam diam. Dia membayangkan tiap hari dilayani oleh wanita yang dicintainya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
"Ini buat Pak Dokter dan ini buat Adik," ucapnya sembari meletakkan piring berisi nasi pecel di depan Davin dan Alvian.
"Terima kasih, Mbak Mel."
"Terima kasih, Kak Mel."
Mereka bertiga menikmati sarapan bersama. Sesekali diselingi celetukan ringan yang membuat suasana pagi itu terasa hangat dengan canda dan tawa kecil yang terdengar dari bibir mereka. Momen kecil itu menguatkan ikatan di antara mereka, membuat kebahagiaan sederhana terasa begitu berarti.
.
Di meja kerjanya Davin berusaha keras memusatkan perhatiannya pada tugasnya sebagai dokter yang membutuhkan konsetrasi tinggi, terutama pada saat mendiagnosis penyakit pasiennya. Namun, pikirannya tak bisa diajak kompromi. Momen, di mana Melodi mengibaskan tangannya tepat di depan wajahnya, terulang kembali dalam ingatan.
Betapa wajah Melodi saat itu begitu dekat. Matanya yang hitam jernih mengerjap polos, membuatnya bisa melihat lebih dekat keindahan yang tak mampu dia dustakan.
"Ya Tuhan, aku bisa gila kalau terus-terusan begini," gumamnya pelan seraya menggelengkan kepala cepat.
"Fokus, Vin. Fokus...!" Davin menyandarkan kepalanya pada kursi sejenak, sambil memejamkan mata berusaha mengusir bayangan Melodi dari ingatannya.
Namun, hatinya tak bisa bohong. Ada sesuatu dalam diri Melodi yang membuatnya kian terpesona dan jatuh cinta pada kesederhanaan gadis itu.
.
Di sudut ruangan itu, dari jarak beberapa meter Dahlia memperhatikan Davin dengan tatapan bingung.
"Ada apa dengan Dokter Davin? Kelihatannya dia sedang galau," gumamnya lirih.
Sebenarnya hatinya masih kesal. Apalagi jika teringat kejadian kemarin sore, rasanya ingin sekali melampiaskan kekesalannya. Namun, ia sadar itu bisa menjatuhkan image-nya di depan Davin.
"Sebaiknya aku dekati dia, siapa tahu dia butuh bantuanku. Memijit kepala, lehernya atau punggungnya mungkin?" Dahlia tersenyum penuh arti.
Ia pun bergegas mendekati Davin. "Dokter Davin?" panggilnya dengan nada lembut mendayu.
Namun, reaksi Davin sungguh di luar ekspektasi. Dia membelalakkan matanya begitu melihat Dahlia dalam jarak dekat. "Aahhh...! Ada badut...!" serunya spontan, seperti orang yang ketakutan melihat hantu.
Muka Dahlia yang tadinya tersenyum semanis gula jawa seketika berubah masam se-asam rasa belimbing wuluh.
"Iiih...Kok Dokter Davin menyamakan saya sama badut, sih?" protesnya dengan wajah cemberut, tak terima.
"Maaf, soalnya wajah Bidan Dahlia sangat ramai, ada merah, biru, kuning. Apa namanya kalau bukan badut." Davin terkekeh kecil.
"Lain kali jangan suka mengagetkan saya, karena saya orangnya latah dan suka mengucap sesuatu yang spontan."
Dahlia melengos sambil menghentakkan kakinya, lalu pergi berlalu meninggalkan Davin yang menatap kepergiannya sambil mengendikkan bahunya cuek.
.
Sementara itu, di rumah Murni, Melodi tampak menyetrika baju pekerjaan terakhir setelah semua pekerjaan lainnya selesai.
"Mel, penampilan kamu kemarin bagus banget, bisa mukul telak lawan," komentar Murni seraya duduk di kursi ruang tengah.
Melodi hanya tersenyum. "Itu hanya kebetulan, Bu. Semua atas kerjasama tim yang apik."
"Sudah paham, kalau kamu itu selalu merendah, padahal bakatmu itu luar biasa, loh."
"Oh ya, kenapa kamu nggak mencoba ikut kejar paket C, Mel? Dengan begitu kamu bisa ikut dan punya ijazah persamaan SMA. Ya, siapa tahu kamu pengin kerja di pabrik nanti."
Malam hari Melodi termenung di teras rumahnya seorang diri. Alvian sudah tertidur sejak habis isya' tadi. Ia merenungkan kata-kata Murni tadi.
"Bu Murni benar. Sepertinya aku memang harus mengikuti kejar paket C dan ikut ujian biar nanti punya ijazah."
Melodi larut dalam pikirannya sampai-sampai tak menyadari kedatangan Davin.
"Assalamualaikum," ucap Davin. Dia turun dari sepedanya, membawa plastik kresek berisi martabak manis.
Namun, Davin mengernyit bingung kala Melodi tak menjawab salamnya.
"Halo, Mbak Mel." Davin mengibaskan tangannya di depan wajah Melodi membuat gadis itu tersentak.
"Eh, Pak Dokter. Waalaikumsalam." Melodi tersenyum canggung.
Davin duduk di ujung bangku, lalu meletakkan kotak berisi martabak di tengah bangku menjadi penyekat jarak di antara mereka. Dia menatap Melodi yang tampak murung.
"Mbak Mel ada masalah? Bisa cerita sama saya, siapa tahu saya bisa bantu."
Melodi menatap Davin sesaat lalu menunduk, kedua tangannya saling tertaut.
"Pak Dokter, bagaimana caranya bisa ikut kejar paket C?"
"Mbak Mel mau ikut ujian persamaan?" tanya Davin. "Sekarang usianya berapa?"
"Emmm... jalan dua puluh," jawab Melodi. "Kenapa...? Saya kelihatan tua, ya?"
"Oh, enggak, kok," sahut Davin cepat.
Tiba-tiba dia menemukan sebuah ide yang tepat dan membuatnya senyumnya merekah seketika.
Davin berdiri dari duduknya lantas berjongkok di depan Melodi. Meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.
"Melodi Putria, jadilah kekasihku. dan aku akan mewujudkan impianmu," ucap Davin, netranya menatap Melodi dengan penuh cinta.
Lalu bagaimana dengan Melodi?