Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI AMBANG MAUT DAN PENEBUSAN BERDARAH
Aspal dingin Lembang menjadi saksi bisu yang beku saat tubuh Rangga terseret beberapa meter setelah motornya menghantam pembatas jalan. Suara gesekan logam dengan aspal menciptakan percikan api yang menerangi kegelapan sesaat, sebelum akhirnya sunyi yang mencekam kembali menyergap. Aroma bensin yang tumpah menyengat hidung, tajam dan memuakkan, bercampur dengan bau tanah basah pasca hujan dan bau karet ban yang terbakar. Rangga terkapar di sana, di pinggir jurang yang dalam, dengan telinganya yang berdenging hebat—suara denging yang seolah-olah mengisolasi dirinya dari seluruh dunia.
Di antara kesadarannya yang timbul tenggelam, ia merasa seolah dunia sedang berputar terbalik. Langit malam yang hitam tanpa bintang seakan runtuh menimpanya.
Syakira...
Nama itu muncul begitu saja di sela rasa sakit yang menghujam bahunya seolah-olah ada tulang yang patah. Tapi, ego yang masih tersisa di sudut hatinya yang gelap langsung menepisnya. Kebencian yang dipupuk oleh fitnah Anwar dan manipulasi Badru masih menyisakan racun. Tidak, dia membohongiku. Dia sama saja seperti Laras. Mereka semua hanya memuja harta dan mengkhianati pria miskin sepertiku.
Rangga mencoba bergerak. Tangannya yang lecet dan berdarah menghantam kerikil tajam. Ia mengerang kesakitan, sebuah suara parau yang lebih mirip erangan binatang terluka. Ia berusaha duduk sambil memegangi kepalanya yang berdenyut pusing, darah hangat mulai mengalir dari pelipisnya, menetes melewati alis dan masuk ke matanya. Di tengah kesunyian malam yang hanya diisi suara gesekan daun-daun pinus yang tertiup angin kencang, ponselnya yang terlempar tak jauh dari posisinya jatuh terus berkedip. Cahaya birunya tampak aneh di tengah kegelapan.
Rinjani Calling...
Layar yang retak seribu itu menampilkan wajah polos putrinya. Getaran ponsel itu di atas aspal terdengar seperti detak jantung yang panik, seperti sebuah peringatan dari alam bawah sadar. Rangga merangkak dengan payah, menyeret kakinya yang mati rasa, meraih benda itu dengan jari yang gemetar hebat.
"Ha... halo? Nak?" suara Rangga parau, tenggorokannya terasa kering dan kasar seperti baru saja menelan pasir gurun.
"Ayah! Ayah pulang! Mama... Mama tidur di lantai! Ada darah, Ayah! Rinjani takut! Mama nggak mau bangun!"
Suara tangisan histeris Rinjani menembus batin Rangga lebih tajam daripada luka di sekujur tubuhnya. Seketika, rasa dingin yang bukan berasal dari kabut Lembang menyergap semua sumsum tulangnya. Dingin yang mematikan.
Darah? Tidur di lantai?
"Rinjani, dengar Ayah... Mama kenapa, Nak? Coba bangunkan Mama!" Rangga berteriak sekuat tenaga, ia mencoba berdiri meski kakinya terasa lemas seperti jeli, gemetar di bawah beban rasa bersalah yang tiba-tiba datang menghantam.
"Mama nggak bangun, Ayah... tangan Mama dingin banget... Rinjani takut darahnya nggak berhenti... lantainya merah semua, Ayah! Takut!"
DUARRR!
Guntur menggelegar di langit Lembang, seolah alam semesta sedang memaki kebodohan dan kesombongan Rangga. Bayangan wajah Syakira yang pucat pasi saat ia bentak tadi terlintas kembali dengan kecepatan kilat. Ia teringat bagaimana Syakira memegangi perutnya yang membuncit, matanya yang berkaca-kaca memohon pengertian. Ia teringat bagaimana ia menuduh istrinya bersandiwara.
Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan? Aku telah menjadi monster yang lebih buruk dari Badru.
Rangga melempar ponselnya, mengabaikan motornya yang hancur tak berbentuk di pinggir jalan. Ia mulai berlari. Ia tidak peduli pada kakinya yang terkilir atau luka di wajahnya yang mulai meneteskan darah ke atas aspal. Ia berlari menembus kabut tebal yang menyelimuti Lembang. Ia ingin secepatnya kembali ke arah rumah yang baru saja ia tinggalkan dengan penuh rasa kesombongan dan caci maki.
Setiap langkahnya terasa seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya. Paru-parunya terasa terbakar karena menghirup udara dingin terlalu cepat. Monolog batinnya meratap, sebuah pengakuan dosa yang terlambat: Dua tahun lalu aku kehilangan Laras dalam kemarahan yang membabi buta. Jangan biarkan aku kehilangan Syakira karena kesombonganku yang menjijikkan. Aku hanya seorang pecundang yang beruntung, tapi jangan ambil dia dariku, Ya Allah! Cabut saja nyawaku, jangan nyawanya!
Di Rumah Lembang, 02.15 WIB
Pintu depan yang tadi dibanting Rangga dengan penuh kebencian kini terbuka lebar, bergoyang pelan tertiup angin. Angin malam leluasa masuk, mengacak-acak gorden putih di ruang tamu, menciptakan suasana seperti rumah hantu. Rangga sampai di depan teras dengan napas yang putus-putus, dadanya sakit luar biasa. Matanya langsung tertuju pada lantai di dekat meja makan.
Dunia Rangga seolah runtuh, hancur berkeping-keping hingga tak bersisa.
Syakira tergeletak tak sadarkan diri di sana. Daster putihnya yang cantik kini ternoda warna merah pekat yang mengerikan di bagian bawahnya, menyebar di atas lantai seperti peta penderitaan. Rinjani duduk di samping Mamanya, memeluk leher Syakira yang sudah lemas sambil menangis sesenggukan hingga wajahnya sembab dan napasnya tersengal.
"Mama... Mama, Mama... Ayah sudah pulang... Bangun, Ma..." Rinjani merintih, suaranya nyaris hilang karena terlalu banyak menangis.
Rangga jatuh berlutut, membiarkan lututnya menghantam lantai dengan keras. Tangannya yang gemetar menyentuh pipi Syakira. Dingin. Benar kata Rinjani, kulit istrinya terasa seperti es yang baru keluar dari pembeku. Ia merengkuh tubuh Syakira ke dalam pelukannya, membiarkan darah yang masih hangat itu mengotori jaket kulit dan kemejanya.
"Dek... Syakira... bangun, Dek! Ini Mas! Mas minta maaf, Dek! Mas bodoh! Bangun!" Rangga meraung. Suaranya pecah di antara isak tangis yang tak tertahankan, sebuah suara yang penuh keputusasaan.
Ia mengangkat tubuh Syakira yang terasa sangat ringan—terlalu ringan untuk wanita yang sedang mengandung calon buah hati mereka. Di saat itulah, ia melihat sebuah kertas kecil yang tergenggam erat di tangan kiri Syakira, seolah ia ingin menunjukkan itu pada Rangga sebelum kesadarannya hilang. Rangga mengambilnya dengan jari yang berlumuran darah.
Itu adalah hasil tes laboratorium dari rumah sakit yang dikunjungi Syakira diam-diam kemarin. Di sana tertulis dengan huruf cetak yang kejam: Plasenta Previa – Risiko Tinggi Perdarahan Hebat. Pasien sangat disarankan bed rest total dan menghindari guncangan emosional serta stres fisik.
Rangga tertegun. Kepalanya terasa seperti dihantam godam raksasa. Pandangannya mengabur oleh air mata yang terus mengalir. Selama ini Syakira menderita sendirian. Syakira menyembunyikan sakitnya karena tidak ingin menambah beban Rangga yang sedang stres menghadapi teror persaingan bisnis angkringan dan trauma masa lalunya dari Jakarta. Dan apa yang ia berikan sebagai balasan atas cinta yang begitu besar? Makian, tuduhan keji bersandiwara, dan pengabaian yang membunuh.
"Aku pembunuh..." bisik Rangga pada dirinya sendiri, suaranya hilang ditelan angin malam yang masuk ke rumah. "Aku sudah membunuh jiwaku sendiri dengan mulutku yang penuh racun..."
"Ayah... Mama mati ya? Rinjani ikut Mama ya?" Rinjani menarik-narik ujung jaket Rangga, matanya yang polos menatap penuh dengan ketakutan yang murni.
"Nggak, Nak! Mama nggak boleh mati! Ayah nggak akan biarkan Mama pergi ninggalin kita! Ayah yang akan gantiin Mama kalau perlu!"
Rangga bangkit dengan sisa tenaga yang ada, seolah-olah kekuatan kuli lamanya kembali merasuki tubuhnya yang terluka. Ia menggendong Syakira dengan satu tangan yang kokoh, sementara tangan lainnya merangkul Rinjani ke dadanya. Ia berlari menuju mobil yang terparkir di garasi samping. Ia tidak peduli lagi pada semua harta yang ia kejar dua tahun ini. Ia tidak peduli lagi pada rasa sakit di bahunya. Fokusnya hanya satu: Menyelamatkan nyawa yang hampir ia cabut sendiri dengan egonya.
Di dalam mobil, selama perjalanan menuju rumah sakit terdekat di Bandung, Rangga terus menggenggam tangan Syakira yang terkulai dingin di atas persneling. Ia menciumi tangan itu berkali-kali sambil fokus menyetir menembus kabut dan hujan yang mulai turun, air matanya jatuh membasahi jemari istrinya.
"Jangan pergi, Dek... Mas mohon. Pukul Mas, maki Mas, serahkan Mas ke polisi, tapi jangan tinggalin Mas sama Rinjani. Mas butuh kamu... Mas nggak bisa sendirian lagi di dunia yang jahat ini..."
Syakira tidak menjawab. Wajahnya tetap tenang dalam pingsannya yang dalam, kulitnya semakin pucat di bawah lampu dasbor mobil. Ia seolah sudah terlalu lelah menghadapi badai yang diciptakan oleh suaminya sendiri, pria yang ia cintai namun juga pria yang memberinya luka paling dalam.
Unit Gawat Darurat, 03.00 WIB
Begitu sampai di unit gawat darurat, perawat dan dokter segera mengambil alih tubuh Syakira. Mereka bergerak cepat, suara roda brankar yang beradu dengan lantai rumah sakit terdengar seperti lonceng kematian di telinga Rangga. Rangga dilarang masuk ke ruang tindakan. Ia berdiri di depan pintu kaca yang tertutup rapat, menatap noda darah istrinya yang masih menempel di telapak tangan dan bajunya. Bau anyir darah itu seolah menjadi tato abadi di ingatannya akan dosanya malam ini.
Ia jatuh terduduk di kursi tunggu, menunduk dalam dengan tangan menutupi wajah. Rinjani tertidur karena kelelahan di kursi sebelah, masih dengan sisa air mata di pipinya.
Tiba-tiba, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar di lorong rumah sakit. Seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi namun wajah yang sangat tegang muncul. Pria itu menatap Rangga dengan tatapan yang penuh rasa kekecewaan dan amarah yang meledak.
Itu adalah Pak Mansyur, ayah Syakira. Mertua yang dulu memberikan restu pada Rangga karena percaya Rangga adalah pria bertanggung jawab.
"Jadi ini... ini yang kamu lakukan pada putriku setelah semua janjimu?" suara Pak Mansyur berat, bergetar karena emosi yang meluap.
Rangga menoleh, wajahnya hancur, bercampur darah dan air mata. "Bapak.. saya..."
BUGH!
Satu pukulan mentah mendarat telak di rahang Rangga, membuatnya tersungkur di lantai rumah sakit yang dingin. Pak Mansyur, orang yang dikenal paling santun dan sabar, hari ini kehilangan kendalinya. Ia menatap Rangga dengan penuh jijik, seolah melihat kotoran di sepatunya.
"Dua tahun lalu Laras mengusirmu karena dia tahu kamu adalah sampah yang tidak punya hati. Dan ternyata dia benar! Kamu memang sampah yang tidak pantas menjaga mutiara seperti Syakira!" teriak Pak Mansyur, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar.
Rangga terdiam di lantai. Ia tidak membalas. Ia merasa pukulan itu bahkan terlalu ringan dibanding apa yang ia lakukan pada Syakira.
"Aku membesarkan Syakira tanpa seorang ibu, Rangga! Aku menjaganya dengan penuh kasih sayang, memastikan tidak ada satu pun luka di tubuhnya! Dan malam ini, kamu... pria yang katanya mencintainya, hampir membunuhnya dan cucuku sekaligus!" Pak Mansyur mencengkeram kerah baju Rangga, menariknya paksa agar berdiri. "Kalau terjadi apa-apa pada Syakira atau bayinya... aku sendiri yang akan memastikan kamu membusuk di penjara!"
Rangga menatap mata Pak Mansyur yang memerah. Di dalam hatinya, ia sudah mati. Ia tidak ingin membela diri. Ia tidak ingin lagi mengucapkan kata "Talak" atau kata-kata kasar lainnya. Ia hanya ingin pintu UGD itu terbuka dan dokter mengatakan Syakira selamat.
Tiba-tiba, lampu di atas ruang operasi padam. Seorang dokter keluar dengan wajah yang sulit dibaca.
"Keluarga Ibu Syakira?"
Rangga dan Pak Mansyur langsung menyerbu dokter itu. Jantung Rangga seakan berhenti berdetak, menunggu vonis atas dosa yang ia lakukan. Di antara hidup dan mati, nasib Rangga kini berada di tangan takdir yang sedang ia tantang.