Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demonstrasi Pertarungan
Minggu ketiga dimulai dengan pengumuman yang membuat seluruh ruang makan Academy sejenak hening.
Kepala Sekolah Thorne—pria tua dengan rambut putih panjang dan aura yang terasa nyata—berdiri di podium utama, suaranya bergema melalui amplifikasi magis ke seluruh aula.
"Perhatian, mahasiswa Tahun Fondasi," katanya dengan nada formal yang entah bagaimana tetap terasa hangat. "Sesuai tradisi Academy yang sudah berlangsung selama berabad-abad, minggu ketiga menandai Pekan Demonstrasi Publik."
Bisik-bisik langsung pecah di antara meja-meja. Aku melirik ke arah kelompok belajar—semuanya tampak berada di antara antusias dan gugup.
"Apa itu Demonstrasi Publik?" aku berbisik ke Lysan.
Ia tidak langsung menjawab, ekspresinya penuh pertimbangan. Elara yang menjawab dari seberang meja.
"Pameran," ia menjelaskan pelan. "Academy mengadakan demonstrasi pertempuran publik untuk mahasiswa Tahun Fondasi. Tujuan resminya—memberikan pengalaman pertempuran nyata, mengevaluasi kemajuan, mempersiapkan mental untuk zona bahaya yang sesungguhnya."
"Dan tujuan tidak resminya?" tanyaku.
Cassia tersenyum tipis, sinis. "Politik. Keluarga bangsawan datang untuk menyaksikan 'investasi' mereka tampil. Pedagang menilai calon rekrutan untuk keamanan privat. Mata-mata guild memburu bakat. Dan Academy sendiri... mengevaluasi siapa yang layak mendapatkan sumber daya lebih."
Marcus mengangguk sambil mendorong kacamatanya ke atas. "Secara statistik, mahasiswa yang tampil baik dalam Demonstrasi Publik memiliki peluang 73% lebih tinggi untuk mendapatkan mentorship khusus, beasiswa lanjutan, atau tawaran kerja setelah lulus."
"Dan yang tampil buruk?" tanya Mira dengan nada khawatir.
"Diabaikan," Finn menjawab blak-blakan. "Atau lebih buruk—dikeluarkan dari program percepatan, kehilangan akses ke sumber daya lanjutan, pada dasarnya menjadi tidak terlihat."
Kepala Sekolah Thorne melanjutkan.
"Demonstrasi akan berlangsung Jumat ini di Arena Utama. Formatnya adalah Combat Brackets. Setiap mahasiswa Tahun Fondasi akan dipasangkan secara acak untuk sparring satu lawan satu. Bukan sampai mati, tentu saja—ward keselamatan akan aktif. Tapi ini adalah kesempatanmu untuk menunjukkan apa yang sudah kamu pelajari."
Ia berhenti, menyapu pandangan ke seluruh ruangan.
"Dan sebelum ada yang bertanya—partisipasi wajib. Tidak ada pengecualian. Ini adalah bagian dari kurikulum. Jika kamu tidak berpartisipasi tanpa alasan medis yang sah, itu adalah kegagalan otomatis untuk semester ini."
Sialan.
Azure Codex berdenyut dengan nada yang terasa seperti antisipasi. Pameran pertempuran. Kamu harus mengungkap sebagian kemampuanmu. Tidak bisa bersembunyi lagi.
"Tapi aku tidak ingin menarik perhatian," aku berbisik sangat pelan, hampir tanpa suara.
Sudah terlambat untuk itu. Kamu sudah menarik perhatian—Professor Drian, pelanggaran sistem perpustakaan kemarin meski tidak terdeteksi, Derek yang masih mengawasimu. Sekarang pertanyaannya bukan 'apakah kamu akan diperhatikan,' tapi 'seberapa banyak yang akan kamu ungkapkan.'
Benar.
Aku tidak bisa tampil terlalu buruk—itu akan membuatku rentan, sasaran yang mudah. Tapi aku juga tidak bisa tampil terlalu baik—itu akan mengundang pengawasan yang berbahaya.
Sebuah keseimbangan yang harus dijaga.
Kepala Sekolah Thorne menutup pengumuman.
"Waktu persiapan empat hari. Gunakan dengan bijak. Latihan ekstra tersedia di lapangan latihan setiap sore. Semoga berhasil untuk kalian semua."
Ia menghilang dalam kilatan cahaya—mantra teleportasi kasual yang membuat beberapa mahasiswa tahun pertama terpana.
Ruang makan langsung riuh kembali—percakapan yang bersemangat, perencanaan yang gugup, sesumbar dari para bangsawan yang percaya diri.
Derek Drimont, dari meja-meja utara, berdiri dengan gerakan teatrikal.
"Nah," katanya dengan suara cukup keras untuk terdengar di beberapa meja sekitarnya, "akhirnya ada kesempatan untuk membuktikan siapa yang benar-benar layak di sini. Bukan sekadar keberuntungan tes masuk—tapi kemampuan tempur yang sesungguhnya."
Ia melirik sekilas ke arah mejaku. Tidak langsung menatapku, tapi pesannya jelas.
Tantangan.
Finn mendengus. "Bajingan sombong. Seolah gelar bangsawan otomatis menjadikannya petarung yang baik."
"Tapi dia memang baik," Cassia berkata secara objektif. "Aku sudah mengamati sesi sparring. Derek punya pelatihan formal—mungkin tutor privat sejak kecil. Teknik yang solid, kontrol mana di atas rata-rata. Meremehkannya adalah kesalahan."
"Kael," Lysan berkata pelan, menatapku, "kamu punya pengalaman tempur nyata sebelum Academy, kan? Kakekmu melatihmu. Seberapa yakin kamu?"
Aku terdiam sejenak.
Kakek melatihku sejak kecil. Setiap hari. Pedang, taktik, bertahan hidup, berburu monster dasar.
Tapi itu semua di desa kecil. Lawan yang pernah kuhadapi adalah binatang buas level rendah, sesekali perampok, sparring dengan Kakek sendiri.
Aku belum pernah melawan penyihir terlatih dalam setting pertempuran formal.
"Cukup yakin untuk bertahan," aku akhirnya menjawab. "Tapi tidak sombong."
Empat hari sebelum Demonstrasi.
Lapangan latihan ramai—semua mahasiswa Tahun Fondasi berusaha memadatkan latihan sebanyak mungkin.
Kelompok belajar kami menguasai satu arena latihan untuk sesi privat—sparring bersama, umpan balik, peningkatan.
"Oke," Elara berdiri di tengah dengan clipboard—entah bagaimana ia sudah menjadi koordinator tidak resmi kami. "Kita rotasi partner setiap lima belas menit. Jangan menahan diri—tapi juga jangan sampai ada yang cedera serius. Identifikasi kelemahan, latih counter, bangun stamina."
Ronde pertama, aku versus Finn.
Dwarf itu tersenyum lebar, mengangkat warhammer latihan yang masif. "Siap, anak desa? Aku tidak akan berbaik hati."
"Memang tidak kuharapkan," aku menjawab, mencabut pedang latihan dari sarungnya.
Senjata latihan standar Academy—tumpul, dienchant dengan ward keselamatan untuk mencegah kerusakan fatal. Tapi tetap sakit jika kena.
Arena latihan memiliki lingkaran batas—melangkah keluar atau menyerah berarti kalah.
"Mulai!" Elara berseru.
Finn langsung menyerbu—mengejutkan cepatnya untuk ukurannya. Ayunan warhammer dari atas, mengincar untuk menghancurku.
Aku menyamping—memori otot dari latihan Kakek. Palu menghantam tanah, meretakkan batu.
Serangan balik—tebasan horizontal ke sisi Finn.
Ia memblok dengan gagang palu, berputar, serangan siku ke arahku.
Aku menunduk, berguling mundur, menciptakan jarak.
Oke. Dia kuat, cepat, berpengalaman.
Finn menekan keuntungannya—serangan kombinasi, ayunan palu dari berbagai sudut, tidak memberiku ruang bernapas.
Aku bertahan—sebagian besar reaktif.
Azure Codex berdenyut. "Kamu sedang menganalisis. Bagus. Tapi jangan hanya bertahan. Dia punya pola—setiap tiga serangan, ada micro-pause untuk mengatur ulang kuda-kudanya. Manfaatkan itu."
Aku mengamati lebih cermat.
Ujung pedang latihan menyentuh dada Finn, masuk ke dalam pertahanannya.
"Poin!" Lysan berseru, bertindak sebagai wasit.
Finn berhenti, tersenyum. "Cerdik! Kamu membaca polaku. Adaptasi yang bagus."
"Kamu menciptakan pola," aku menjawab. "Ritme yang konsisten. Dalam pertempuran nyata, itu bisa dieksploitasi."
"Benar," ia mengakui. "Aku masih belajar membuang kebiasaan lama. Oke, ronde dua—aku akan lebih tidak terduga."
Kami mengatur ulang posisi.
Kali ini, Finn memvariasikan ritmenya—serangan tidak beraturan, gertakan, perubahan arah mendadak.
Lebih sulit. Jauh lebih sulit.
Aku terpaksa sepenuhnya defensif, nyaris tidak mampu mengikuti.
Finn akhirnya mendarat serangan telak—sapuan palu ke kakiku, menjatuhkanku.
"Poin! Pemenang, Finn," Lysan berseru.
Finn membantuku berdiri. "Pertarungan yang bagus. Fundamentalmu solid. Pertahanan bagus. Tapi kamu terlalu reaktif—menunggu lawanmu membuat kesalahan. Melawan petarung agresif, itu berisiko."
Kritik yang masuk akal.
"Terima kasih. Akan kuperbaiki."
Ronde berikutnya, aku versus Elara.
Tantangan yang sama sekali berbeda.
Elara adalah penyihir—pertempuran jarak jauh, pelemparan mantra.
Aturan arena memperbolehkan mantra, tapi hanya varian non-mematikan. Tidak ada api yang benar-benar membakar, tidak ada es yang menyebabkan radang beku, dan sebagainya.
Kerusakan disimulasikan melalui ward feedback.
"Siap?" ia bertanya dengan senyum tipis.
"Selalu."
"Mulai!"
Bombardemen segera—baut cahaya, dorongan gaya, lonjakan tanah minor.
Aku menghindar, berkelit, berusaha menutup jarak.
Pedang versus sihir—masalah klasik. Aku harus mendekat. Dia akan berusaha menjaga jarak.
Elara mundur, mempertahankan jangkauan, terus-menerus melemparkan mantra.
Ia bagus—multi-casting, menjaga tekanan.
Aku berhasil menghindari sebagian besar, tapi beberapa kena—ward feedback seperti pukulan, tidak merusak tapi pasti terasa.
Azure Codex, "prediksi lintasan? Jalur mantra bersifat fisik—vektor mana. Aku bisa menganalisimya."
"Lakukan," aku berbisik.
Lintasan mantra muncul dalam penglihatanku. Garis-garis samar, memprediksi jalur.
Mantra berikutnya yang Elara lemparkan—aku sudah tahu ke mana arahnya sebelum sepenuhnya terbentuk.
Menghindar. Membelokkan dengan pedangku—bilah latihan memiliki sifat konduktif mana yang minor.
Menutup jarak. Terlibat dalam jarak dekat.
Elara beralih taktik—membangkitkan penghalang mana.
Aku mengujinya—menebas. Penghalang bertahan.
Ia tersenyum. "Kutangkap kamu—"
Aku tidak menyerang penghalang.
Aku gertakan ke kiri, berguling ke kanan, mengitari penghalang, ujung bilah di punggungnya.
"Poin!"
Elara berkedip terkejut, lalu tertawa. "Oke, itu cerdas! Aku mengira kamu akan menerobos penghalang dengan paksa."
"Kenapa buang energi? Penghalang punya tepi. Putar saja."
"Oke noted. Ronde dua, aku akan—"
"Sebenarnya," Cassia menyela, "gantian. Aku yang melawan Kael berikutnya. Elara, kamu sparring dengan Marcus."
Cassia melangkah masuk ke arena.
Elf ranger. Pengguna busur.
Oh tidak.
Ini akan sulit.
Cassia adalah veteran.
Bukan sekadar mahasiswa biasa—ia punya pengalaman tempur nyata dari dinas militer elf sebelum mendaftar ke Academy.
Dan itu langsung terlihat.
"Mulai!"
Sebuah anak panah—anak panah latihan berujung tumpul—langsung melesat ke arah wajahku.
Aku nyaris menghindar. Bagaimana ia menarik itu secepat—
Anak panah kedua. Ketiga. Keempat.
Bombardemen tanpa henti.
Aku terpaksa sepenuhnya defensif—membelokkan dengan pedang, menghindar, mencari perlindungan di balik rintangan arena.
Azure Codex, bantuan analisa.
"Ya!"
Garis-garis muncul—jalur anak panah diprediksi.
Membantu—tapi kecepatan tembak Cassia begitu tinggi sehingga bahkan dengan prediksi, aku nyaris tidak mampu mengikuti.
Ia juga bergerak—mengitari, tidak pernah diam, mempertahankan jangkauan optimal.
Aku tidak bisa menutup jarak. Setiap kali aku berusaha maju, ia berpindah posisi.
Menjengkelkan.
Lima menit—aku tidak mendarat satu pun serangan.
Cassia mendarat selusin.
Akhirnya, satu anak panah menghantam tepat di dadaku—cukup keras untuk membuatku kehabisan napas.
"Pertandingan! Pemenang, Cassia."
Aku ambruk, napas berat.
Ia menghampiri dan mengulurkan tangan membantu berdiri. "Usaha yang bagus. Kamu bertahan lebih lama dari yang diharapkan untuk seseorang yang bukan ranger."
"Aku dihancurkan total," aku terengah.
"Ya," ia setuju blak-blakan. "Tapi kamu beradaptasi. Anak panah awal, kamu lambat. Menjelang akhir, prediksimu lebih baik, hindaranmu lebih ketat. Pelajar yang cepat."
Ia jongkok ke sejajar mataku. "Saran untuk Demonstrasi—jika kamu menghadapi lawan jarak jauh, jangan coba bertarung dengan cara yang adil. Gunakan lingkungan. Taktik kotor. Tutup jarak dengan cara apa pun yang perlu. Kekalahan terhormat tetap kekalahan."
"Terima kasih."
Sesi latihan berlanjut—bergantian melalui semua anggota.
Di akhir, aku penuh memar dan kelelahan.
Tapi juga sudah belajar.
Setiap partner sparring mengungkap kelemahan yang tidak kutahu ada. Melawan Finn, aku terlalu reaktif. Melawan Elara, pola pendekatanku mudah ditebak. Melawan Cassia, kesadaranku akan lingkungan sangat buruk. Melawan Marcus—yang mengejutkan rumitnya dengan mantra ilusi—aku terlalu mudah jatuh untuk gertakan. Dan melawan si kembar Mira dan Kira, aku tidak bisa menangani serangan yang terkoordinasi.
Banyak yang harus diperbaiki dalam empat hari.
Tapi setidaknya kini aku tahu apa yang harus dikerjakan.
Malam itu, setelah makan malam, aku kembali ke lapangan latihan sendirian.
Arena-arena kosong—sebagian besar mahasiswa sudah kelelahan dari latihan sore.
Tapi aku butuh lebih.
Demonstrasi empat hari lagi. Aku akan diadu dengan lawan acak. Bisa siapa saja—dari mahasiswa terlemah hingga... Derek.
Aku harus siap.
"Oke," aku berbisik, mencabut pedang latihan. "Mari berlatih serius sekarang. Tanpa menahan diri. Bantuan Azure Codex secara penuh."
Batu di dadaku berdenyut dengan... kegembiraan?
"Akhirnya. Aku sudah menunggu untuk menunjukkan apa yang bisa kita lakukan bersama."
"Simulasikan seorang lawan," aku menginstruksikan. "Gunakan data dari sparring hari ini. Buat komposit. Seorang petarung yang menggabungkan semua ancaman."
"Menarik. Oke—simulasi dimulai."
Tiba-tiba, dalam penglihatanku—overlay holografis muncul.
Bukan orang nyata. Tapi sebuah proyeksi. Konstruk mental yang ditenagai oleh Azure Codex, menggunakan data dari semua lawanku hari ini.
Petarung komposit, kekuatan Finn, variasi mantra Elara, presisi Cassia, tipu daya Marcus, koordinasi si kembar.
Lawan yang mustahil.
Latihan yang sempurna.
"Mulai."
Petarung holografis itu menerjang—ayunan warhammer bergaya Finn tapi langsung diikuti bombardemen mantra bergaya Elara.
Aku terpaksa bereaksi dengan insting murni—Azure Codex mengalirkan data lintasan, gerakan optimal, waktu serangan balik.
Luar biasa membanjiri.
Tapi juga menggembirakan.
Bukan hanya bereaksi. Aku sedang memahami.
Setiap gerakan yang lawan buat, Azure Codex langsung menganalisis ayunan palu—lintasan 47 derajat, titik impact bahu kanan. Counter optimal, belokkan 15 derajat ke kiri, pivot, serangan balik ke tulang rusuk.
Aku mengeksekusi sempurna.
Mantra masuk—baut api, kecepatan 43 meter per detik, target pusat tubuh. Respons optimal dengan menyamping 0,3 meter ke kanan, durasi 0,12 detik.
Aku bergerak. Mantra meleset beberapa sentimeter.
Serangan berikutnya diprediksi, gertakan ke kiri, serangan sebenarnya ke kanan. Probabilitas 87%.
Lawan itu menggertak—aku tidak terpancing. Memblok serangan yang sesungguhnya.
Rasanya seperti mengetahui masa depan. Bukan prekog yang sesungguhnya, tapi analisis yang begitu cepat dan akurat sehingga efeknya sama saja.
Kami sparring—aku versus konstruk mental itu—selama dua puluh menit tanpa henti.
Di akhir, aku bukan hanya bertahan.
Aku menang.
Simulasi terakhir, petarung komposit itu melepaskan kombo penuh—palu, mantra, anak panah simulasi, terkoordinasi.
Pedang latihanku "menusuk" dada holografis itu.
Konstruk itu buyar.
Kemenangan.
Aku ambruk, napas berat tapi tersenyum lebar.
"Itu luar biasa."
Azure Codex berdenyut, hampir bangga. Itulah kita pada sinkronisasi 30%. Bayangkan apa yang bisa kita lakukan pada potensi penuh.
"Tapi," aku terengah, "aku tidak bisa melakukan itu di Demonstrasi. Terlalu kentara. Orang-orang akan tahu ada sesuatu yang tidak beres."
Benar. Jadi kita kurangi. Gunakan bantuan secara halus—cukup untuk menang dengan meyakinkan tapi tidak dengan cara yang mustahil. Buat terlihat seperti kemampuan dan keberuntungan, bukan prekog.
"Persentase berapa yang harus aku tampilkan?"
Azure Codex berhenti, menghitung.
70%. Cukup untuk mengesankan, tidak cukup untuk memicu investigasi mendalam. Menangkan pertarunganmu, tapi tidak dengan sempurna. Biarkan beberapa serangan mengenaimu dengan sengaja. Tunjukkan perjuangan. Buat itu terlihat meyakinkan.
"Penampilan yang terkontrol."
Tepat sekali. Dalam pertempuran nyata, kita habis-habisan. Dalam Demonstrasi, kita berakting.
Masuk akal.
Aku memasukkan pedang dan berdiri.
Tiga hari lagi.
Aku akan berlatih—menyeimbangkan antara peningkatan yang tulus dan bantuan Azure Codex yang terkontrol.
Saat Demonstrasi tiba, aku akan siap.
Siap untuk menunjukkan cukup banyak.
Tapi tidak terlalu banyak.
Sebuah keseimbangan yang harus terus dijaga.
Selalu sebuah keseimbangan.