Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN MASA LALU
Gema langkah kaki di lantai beton basement yang lembap itu terdengar seperti detak jantung yang memburu. Rangga berdiri mematung di samping SUV hitamnya, jemarinya mencengkeram erat foto lama yang baru saja ia tarik dari amplop cokelat. Bau oli bekas dan sisa asap knalpot yang terjebak di ruang bawah tanah itu terasa menyesakkan paru-parunya.
"Siapa di sana?!" teriakan Rangga memantul di antara pilar-pilar beton besar.
Hening sejenak. Hanya suara tetesan air dari pipa AC yang bocor di sudut plafon—tik... tik... tik...—menambah ketegangan yang merayap di tengkuknya. Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul dari balik pilar nomor 4-B. Seorang pria bertubuh kurus dengan jaket hoodie gelap melangkah keluar perlahan, tangannya terangkat ke udara seolah menunjukkan ia tidak membawa senjata.
"Sabar, Pak Rangga. Saya cuma kurir," suara pria itu serak, terdengar seperti gesekan amplas di kayu.
Rangga tidak bergeming. Rahangnya mengeras. Ia melangkah maju, sorot matanya yang dulu terasah di kerasnya pasar kini memancarkan aura mengancam yang nyata. "Kurir? Kurir nggak sembunyi di balik tiang parkiran malam-malam begini. Siapa yang nyuruh kamu?"
Pria itu mundur selangkah, tampak gentar melihat binar mata Rangga. "Saya cuma dibayar buat naruh amplop itu dan mastiin Bapak ngambil sendiri. Orangnya pakai topi, saya nggak tahu wajahnya. Dia bilang... ini soal utang lama yang harus dibayar."
"Utang apa?!" bentak Rangga.
Pria itu menggeleng cepat, lalu tanpa peringatan, ia berbalik dan lari sekencang mungkin menuju pintu keluar darurat. Rangga sempat hendak mengejar, namun langkahnya terhenti saat teringat Syakira dan Rinjani yang masih di atas. Ia menunduk, menatap kembali foto di tangannya di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip.
Di foto itu, Syakira tampak lebih muda, mungkin berusia awal dua puluhan. Wajahnya yang polos tampak anggun, berdiri di depan sebuah gerbang rumah joglo yang cukup megah untuk ukuran pedesaan. Di sampingnya berdiri seorang pria muda berpakaian necis dengan wajah angkuh yang tampak memegang lengan Syakira dengan paksa.
Ini bukan Pak Mansyur, batin Rangga. Ia mengenali rumah itu dari cerita-cerita lama di kampung Syakira. Itu rumah Pak Haji Sobirin, tuan tanah yang dulu hampir memaksa Syakira menikah demi melunasi sisa urusan keluarga jauh Syakira.
Rangga memasukkan foto itu kembali ke amplop, menyelipkannya ke balik jas. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di kepalanya sebelum kembali ke lobi. Ia harus menjadi Rangga sang pemenang di depan anak dan istrinya, meski di dalam sini, ia merasa ada badai dari masa lalu Syakira yang mulai mengejar mereka sampai ke Jakarta.
Saat lift berdenting di lantai lobi, pemandangan hangat menyambutnya. Syakira sedang menyelimuti Rinjani yang pulas di sofa panjang dengan selendangnya. Cahaya lampu lobi yang keemasan menyapu wajah Syakira, membuatnya tampak begitu tenang—sangat kontras dengan kekacauan yang baru saja Rangga temui di basement.
"Mas? Lama sekali," Syakira menoleh, tersenyum lembut. Namun, senyum itu perlahan memudar saat ia melihat wajah Rangga yang sedikit pucat. "Mas kenapa? Wajahnya kok tegang begitu?"
Rangga memaksakan senyum tipis, meski rasanya kaku. Ia mendekat, mengusap puncak kepala Rinjani yang tertidur lelap. "Nggak apa-apa, Dek. Cuma tadi ada sedikit urusan sama Galih di parkiran soal barang katering yang ketinggalan."
"Oh... kirain ada apa-apa," Syakira berdiri, mendekati Rangga dan merapikan kancing jas suaminya yang sedikit terbuka. "Ayo kita pulang ke hotel. Rinjani sudah pulas sekali."
Rangga menatap mata Syakira dalam-dalam. Ia mencari tanda-tanda kebohongan. Selama ini ia mengenal Syakira sebagai anak Pak Mansyur, guru desa yang sederhana dan sangat baik yang sudah merestui mereka dengan tulus. Ia tidak pernah meragukan Syakira, tapi foto itu membuktikan bahwa ada luka lama yang sengaja disembunyikan istrinya agar tidak membebani Rangga.
"Ayo," ajak Rangga pendek. Ia menggendong Rinjani yang terasa semakin berat—tanda bahwa waktu memang sudah berlalu sangat jauh sejak masa-masa sulit mereka.
Selama perjalanan menuju hotel, suasana di dalam mobil terasa berbeda. Suara deru ban di atas aspal basah Jakarta dan irama wiper kaca depan yang menyapu gerimis menjadi satu-satunya melodi. Rangga diam seribu bahasa, pikirannya terbang ke saat-saat ia pertama kali bertemu Pak Mansyur di teras rumahnya yang teduh. Pak Mansyur adalah orang yang memberinya harapan saat semua orang mencacinya. Kenapa sekarang ada orang dari masa lalu Syakira yang berani mengusik mereka?
Setibanya di kamar hotel, Rangga segera membawa Rinjani ke tempat tidur tambahan. Setelah memastikan putrinya nyaman, ia melangkah ke balkon kamar presidential suite mereka. Jakarta di bawah sana tampak seperti hamparan perhiasan yang tumpah, berkilauan namun terasa dingin.
Rangga merogoh saku jasnya, mengeluarkan amplop itu lagi. Ia menyalakan lampu balkon yang remang, menatap foto itu sekali lagi. Pria necis di samping Syakira itu... Rangga sekarang ingat namanya. Anwar, putra tunggal Pak Haji Sobirin yang dulu terkenal sangat terobsesi pada Syakira.
"Mas..."
Suara Syakira terdengar dari ambang pintu balkon. Rangga tidak berbalik. Ia tetap menatap cakrawala Jakarta. Syakira melangkah mendekat, angin malam meniup rambutnya yang terurai. Ia berdiri di samping Rangga, ikut menatap ke bawah.
"Siapa yang kasih amplop itu?" tanya Syakira tenang, seolah dia sudah tahu ada sesuatu yang mengintai.
Rangga akhirnya menoleh. Ia menyerahkan amplop itu tanpa kata. Syakira menerimanya, mengeluarkan isinya, dan menarik napas panjang saat melihat fotonya sendiri bersama Anwar sepuluh tahun lalu. Wajah Syakira seketika berubah pasi, matanya berkaca-kaca menatap memori yang ingin ia kubur dalam-dalam.
"Ini Anwar, kan?" tanya Rangga dengan nada yang ia usahakan tetap santai. "Kenapa foto ini muncul lagi sekarang, Dek?"
Syakira menatap foto itu, jemarinya gemetar. "Aku pikir setelah Ayah Mansyur membereskan semua urusan dengan Pak Haji Sobirin dulu, mereka nggak akan pernah mengusik kita lagi. Tapi Anwar... dia selalu bilang kalau dia nggak akan pernah rela aku jadi istrimu, Mas."
"Tapi Ayahmu sudah restuin kita secara sah," tegas Rangga. "Mas nggak peduli sama anak tuan tanah itu. Yang Mas pedulikan, kenapa orang itu bisa tahu kita ada di Jakarta?"
"Pak Haji Sobirin punya banyak relasi bisnis di Jakarta, Mas," isak Syakira pecah. "Aku takut... aku takut kesuksesan Mas di sini malah bikin mereka punya alasan buat mempermalukan kita lagi. Mereka nggak suka lihat 'orang rendahan' seperti kita bisa punya bisnis sebesar ini."
Rangga mendekat, merangkul bahu Syakira erat. Ia merasa bersalah karena sempat meragukan istrinya. "Maafin Mas sudah bikin kamu sedih. Mas nggak akan biarkan siapa pun, mau itu Pak Haji, menyentuh kebahagiaan kita."