Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guntur-Wulung — Kereta Kencana Sang Pemecah Mega
Portal hitam yang dibuka Arkan membelah ruang hampa, membawa mereka keluar tepat di Gerbang Mega-Mendung, sebuah jembatan awan raksasa yang merupakan pintu masuk terluar menuju wilayah kekuasaan Kaisar Drak. Di sana, langit tidak berwarna biru, melainkan ungu gelap yang terus-menerus disambar petir emas.
Duar! Duar! Duar!
Suara terompet kerang raksasa bergema membelah sunyi. Dari balik kabut awan beracun, muncul sebuah pemandangan yang megah sekaligus mengerikan. Sebuah kereta kencana yang terbuat dari logam Astral-Gold meluncur cepat, ditarik oleh empat ekor kuda sembrani yang tubuhnya terdiri dari aliran listrik murni.
Di atas kereta itu, berdiri seorang pria raksasa dengan kulit berwarna tembaga. Dia mengenakan Praba (hiasan punggung) berbentuk sayap emas yang memancarkan aura Nirvana Realm Puncak. Di tangannya, ia menggenggam sebuah Gada raksasa bernama Gada Intan Samudra
"Bocah sombong!" suara pria itu menggelegar, membuat Liem-Banyu dan Srikandi harus mengaktifkan perlindungan Qi mereka. "Aku adalah Senopati 9: Guntur-Wulung. Beraninya kau membawa kepingan ketiadaan itu ke tanah suci Kaisar Drak!"
[Bagian 2: Kesombongan Sang Guntur]
Guntur-Wulung melompat dari kereta kencananya. Hantaman kakinya di jembatan awan menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan beberapa pilar batu di sekitarnya. Dia menatap Arkan dengan hina. Di matanya, Arkan hanyalah seorang pemuda berambut putih-hitam yang tampak ringkih.
"Kaisar berkata kau adalah ancaman. Tapi bagiku, kau hanyalah debu yang tersesat," Guntur-Wulung mengangkat gadanya. "Jurus Rahasia: Guruh Pralaya — Seribu Gada Langit!"
Seketika, langit di atas mereka dipenuhi oleh ribuan bayangan gada raksasa yang terbuat dari petir padat. Setiap gada itu membawa beban seberat satu gunung. Dengan satu ayunan, ribuan gada itu jatuh menghujam ke arah Arkan
ribuan gada petir itu hanya berjarak beberapa senti dari kepala Arkan. Partikel listrik meloncat-loncat, membakar udara hingga menjadi plasma.
[Bagian 3: Singularitas Menelan Petir]
Arkan tidak bergerak. Dia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk menangkis. Dia hanya menghela napas pendek, dan sebuah retakan hitam kecil muncul tepat di atas kepalanya—titik Singularitas Black Hole.
SLRUUUUP!
Suara itu tidak keras, namun sangat ganjil. Ribuan gada petir yang seharusnya menghancurkan seluruh gerbang itu tiba-tiba melengkung, tersedot ke dalam titik hitam kecil tersebut seperti air yang masuk ke lubang pembuangan. Tidak ada ledakan. Tidak ada debu. Hanya ketiadaan yang sunyi.
Guntur-Wulung terbelalak. "Apa?! Mana seranganku?!"
Arkan menatapnya dengan mata kosong. "Gadamu... mengandung energi yang lumayan. Tapi terlalu banyak kotoran. Biar aku murnikan sedikit."
Arkan menjentikkan jarinya. Zlap! Sebuah gelombang gravitasi transparan menghantam Guntur-Wulung, menyeret sang Senopati sejauh seratus meter hingga menabrak kereta kencananya sendiri.
[Bagian 4: Duet Maut — Teratai Api & Mata Prediksi]
"Tuan Arkan, biarkan kami yang mengurus pengawalnya," ucap Liem-Banyu. Matanya yang memiliki tiga pupil berputar cepat.
Sepasukan prajurit elit berkuda petir menyerbu maju. Namun, sebelum mereka sampai, Cici melangkah ke depan. Dia merentangkan tangannya, dan Teratai Merah Crimson mekar di bawah kakinya.
"Dao Api: Inferno Saptala!"
Lidah api berwarna merah tua menyambar seperti naga, membakar prajurit-prajurit itu menjadi abu dalam hitungan detik. Sementara itu, seorang letnan prajurit mencoba menyerang Liem-Banyu dari titik buta.
Liem-Banyu bahkan tidak menoleh. Berkat Mata Langit-nya, dia sudah melihat serangan itu satu detik yang lalu. Dia hanya memiringkan kepala sedikit, lalu menjentikkan jarinya yang dialiri petir sisa dari Arkan. Cring! Kepala prajurit itu meledak sebelum pedangnya sempat terayun
Srikandi-Tan bergerak seperti bayangan yang haus darah. Dia muncul di balik kereta kencana, memotong tali kekang kuda sembrani dengan belati yang dilapisi energi Tanah yang sangat padat. "Terlalu lambat untuk ukuran penjaga langit," bisiknya dingin.
[Bagian 5: Akhir Sang Senopati 9]
Guntur-Wulung bangkit dengan amarah yang meluap. Tubuhnya membengkak, pembuluh darahnya bersinar emas. "KAU AKAN MATI BERSAMAKU! PENGORBANAN INTI GUNTUR!"
Dia mencoba meledakkan diri, sebuah serangan bunuh diri tingkat Nirvana Puncak yang bisa menghancurkan satu benua. Namun, Arkan sudah berada di depannya dalam sekejap mata.
Arkan memegang dahi Guntur-Wulung dengan telapak tangan kanannya. Sebuah pusaran hitam muncul dari telapak tangannya, langsung menelan seluruh proses ledakan tersebut sebelum sempat terjadi.
"Masuklah ke dalam kegelapanku," bisik Arkan. "Di sana, kau bisa berteriak sepuasnya tanpa ada yang mendengar."
Tubuh raksasa Guntur-Wulung mulai terdistorsi, terserap masuk ke dalam telapak tangan Arkan seperti pasir yang masuk ke dalam jam pasir. Suara teriakan sang Senopati menghilang, tertelan oleh Black Hole internal Arkan.
Arkan menarik tangannya. Suasana kembali sunyi. Gerbang Mega-Mendung kini bersih dari musuh, hanya menyisakan kereta kencana yang hancur dan kuda-kuda yang ketakutan.
Arkan menatap ke arah pusat Istana Universal yang kini tampak lebih dekat. "Satu jatuh. Sisa delapan."
Arkan tidak membiarkan sedetik pun terbuang. Dia merasakan gejolak hebat di dalam Dantiannya—energi Nirvana Puncak milik Guntur-Wulung yang baru saja ditelannya sedang memberontak, mencoba meledak dari dalam. Arkan merentangkan tangannya, dan pusaran hitam di dadanya melebar secara sirkular, menciptakan kubah kegelapan yang menelan Cici, Liem-Banyu, dan Srikandi-Tan ke dalam Dimensi Singularitas.
Dunia luar membeku, namun di dalam Black Hole, waktu melengkung.
[Bagian 6: Perjamuan Energi Nirvana]
Di pusat kegelapan absolut itu, Arkan duduk melayang. Di depannya, sukma Guntur-Wulung yang telah terurai menjadi bola energi petir raksasa berputar liar. Dewi Qi Lin bermanifestasi dengan anggun, sayap cahayanya membentang luas untuk menstabilkan tekanan gravitasi.
"Arkan, energi ini terlalu kotor oleh amarah," bisik Dewi Qi Lin. "Murnikan dia dengan Kehampaanmu, lalu bagikan pada pilar-pilar pengikutmu. Mereka adalah pedangmu, jangan biarkan mereka tumpul."
Arkan mengangguk. Dengan satu gerakan tangan, dia membelah bola petir itu menjadi empat bagian.
"Liem-Banyu, terima Inti Kilat Jagat! Gunakan untuk membuka mata yang bisa menembus takdir!"
Arkan mengarahkan aliran listrik emas yang paling murni ke arah Liem-Banyu.
Liem-Banyu berteriak saat petir itu merambat masuk melalui saraf matanya. Mata Langit-nya berevolusi secara brutal. Pupil matanya yang tadinya tiga lingkaran, kini menyatu menjadi bentuk Mandala biru elektrik yang berpijar. Basisnya yang tadi di Qi Foundation rendah, kini memadat hingga ke titik Puncak, hanya satu tarikan napas menuju Core Formation.
"Srikandi-Tan, ambil Kepadatan Gada Intan! Jadikan tubuhmu sebagai benteng yang tak tergoyahkan!"
Srikandi-Tan menerima gumpalan energi elemen Tanah yang sangat padat. Tubuhnya mengeluarkan suara tulang berderak—Krak! Krak! Kulit porselennya sesaat berubah menjadi warna perunggu metalik sebelum kembali normal, namun kini otot dan tulangnya telah dilapisi oleh struktur Astral-Gold. Dia mencapai Qi Foundation Puncak dengan kekuatan fisik yang sanggup menahan hantaman meteor.
[Bagian 7: Evolusi Teratai Api Cici]
Terakhir, Arkan menatap Cici. "Cici... sisa panas dari ledakan ini adalah milikmu. Bakar habis batas ranahmu!"
Cici menyerap hawa panas sisa Nirvana tersebut ke dalam Teratai Merah Crimson-nya. Api di sekelilingnya yang tadinya merah cerah, kini berubah menjadi Ungu Kegelapan—tanda bahwa Dao Api-nya telah terkontaminasi oleh energi Reruntuhan Arkan. Cici menarik napas dalam, dan aura Soul Realm (Awal) miliknya menjadi sangat stabil, kini dia siap menghadapi musuh yang levelnya jauh di atasnya.
[Bagian 8: Arkan Menelan Inti Nirvana]
Setelah membagikan jarahan, Arkan menarik sisa energi terbesar—jantung dari kekuatan Guntur-Wulung—ke dalam mulutnya.
BOOM!
Ledakan internal terjadi di dalam tubuh Arkan. Tubuhnya yang tadinya transparan kembali memadat. Dia tidak naik ke ranah Sovereign—itu terlalu berbahaya bagi fondasinya—tapi dia mengompres seluruh energi itu hingga Nirvana Realm-nya mencapai tahap Menengah. Arkan kini memiliki Petir Hitam yang terintegrasi dengan Black Hole-nya.
[Bagian 9: Visi Lautan Bintang]
Di tengah heningnya meditasi, Arkan mendapatkan kilasan memori dari sisa sukma Guntur-Wulung. Dia melihat sebuah wilayah yang tidak lagi berwujud awan, melainkan lautan air raksasa yang melayang di antara gugusan bintang. Di tengah lautan itu, seorang wanita cantik dengan gaun hijau zamrud dan mahkota mutiara hitam sedang duduk di atas naga air.
Nyi-Ratu Samudra.
"Dia sudah menunggu," gumam Arkan pelan. Matanya terbuka, memancarkan aura predator yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. "Dia pikir lautan bintangnya bisa menenggelamkan kegelapan. Dia salah."
Arkan berdiri. Jubahnya kini memiliki motif kilatan perak yang menari-nari di atas dasar hitam pekat. Timnya juga berdiri, merasakan kekuatan baru yang mengalir di nadi mereka.
"Liem, berapa lama kita di dalam sini?" tanya Arkan.
"Hanya dua jam waktu dunia luar, Tuan," jawab Liem sambil menyesuaikan kacamata energinya yang kini berpijar biru tajam.
"Bagus. Persiapkan diri kalian. Medan berikutnya adalah air... dan aku akan menunjukkan padanya bagaimana sebuah Black Hole meminum habis seluruh samudera."
Arkan menjentikkan jarinya, dan kubah kegelapan itu pecah, mengembalikan mereka ke jembatan Mega-Mendung yang kini terasa sangat kecil bagi kekuatan mereka yang baru. Mereka siap menuju Senopati berikutnya.
Arkan: Nirvana Realm (Menengah) - Dao Master (Reruntuhan & Petir Hitam).
Cici: Soul Realm (Awal-Stabil) - Dao Api Crimson-Purple.
Liem-Banyu: Qi Foundation Puncak - Sacred Heaven Eye (Mandala Form).
Srikandi-Tan: Qi Foundation Puncak - Astral-Gold Body.