Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE TIGA PULUH
“Aku mau ke rumah Bastian.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibi Siena.
Mendengar itu, Evan yang tadi masih terlihat santai langsung berhenti bergerak. Senyum nya perlahan memudar.
“Ke rumah siapa?” ujar Evan memastikan
“Bastian.” Jawab Siena mengulangi ucapannya.
Nama itu seperti memukul sesuatu di dalam diri Evan. Sejenak ,ia hanya menatap Siena.
Lalu ia tertawa pendek. Tidak lucu.
“Kamu serius?”
“Iya.”
“Buat apa?”
“Ada urusan.”
“Urusan apa sampai pagi-pagi kamu datang ke rumah laki-laki lain?”
Siena tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Evan beberapa detik, lalu memalingkan wajahnya menatap kearah lain.
“Dia terluka,” ucap Siena akhirnya
Dahi Evan berkerut. “Terluka bagaimana?”
“Semalam dia diserang.”
Hening.
Ekspresi Evan berubah. Bukan lagi sekadar kesal tapi lebih seperti sedang memikirkan sesuatu di kepalanya.
“Diserang? Waktu jaga kamu?” ujarnya bertanya
“Iya.” jawab Siena seraya mengangguk kecil lalu kembali menoleh menatap kekasihnya.
Rahang Evan mengeras. “Dan kamu baru bilang sekarang?”
“Kita juga baru ketemu sekarang.”
Jawaban itu tenang. Terlalu tenang.
Evan menghembuskan napas kasar. “Jadi kamu mau ke sana karena merasa bersalah?”
Siena menggeleng kecil. “Bukan.”
“Lalu?”
“Aku cuma mau lihat kondisinya.”
“Kenapa harus kamu?”
Siena tak langsung menjawab, ia tatap wajah tampan Evan lebih lama.
“Karena semalam aku ada di situ.”
Evan yang mendengar itu tertawa pendek lagi. Masih tidak lucu. “Itu karena pekerjaannya, sayang. Dia dibayar buat itu".
“Dibayar bukan berarti pantas diserang. Van”
Nada suara Siena sedikit berubah. Tidak tinggi. Tapi tidak lagi sepenuhnya datar.
Evan melangkah lebih dekat. “Aku tidak suka kamu ke rumahnya.”
“Itu bukan rumah asing.”
“Itu tetap rumah laki-laki lain.” sahut Evan cepat, nada bicaranya rendah tapi penuh penekanan.
Siena terdiam sepersekian detik, menghela nafas pelan.
“Aku hanya pergi sebentar.”
“Dengan atau tanpa izin aku?” tegas Evan
Pertanyaan itu menggantung diudara. Siena hanya diam menatap lurus.
“Aku tidak sedang minta izin, Van.” Ujarnya akhirnya
Evan menarik napas dalam, menahan sesuatu yang hampir meledak.
“Oke.” Suaranya lebih rendah sekarang. “Kalau begitu aku antar.”
Siena mengerutkan kening. “Tidak perlu.”
“Aku bilang aku antar.”
Nada itu tegas. Bukan teriak. Tapi jelas tidak memberi ruang bantahan.
Siena menatapnya sebentar, lalu mengangguk tipis.
“Baik.”
Tanpa basa-basi Evan langsung meraih tangan Siena, menggenggam nya erat mengajak perempuan itu menuju mobil nya yang terparkir diluar pintu gerbang.
"Nona Siena". Sapa Ethar, pria paruh baya penjaga di kediaman ayah Alex.
"Pak Ethar". Balas Siena seraya melempar senyum ramah.
Sementara Evan hanya melenggang begitu saja tanpa menyapa atau pun menoleh.
Baru saja mereka keluar dari rumah, dan Evan hendak membuka pintu mobilnya tiba-tiba ponsel miliknya yang ia simpan disaku celana jeans nya berdering.
Evan segera merogoh dan melihat siapa yang menelponnya. Ekspresi wajahnya seketika berubah. Ia mendongak menatap Siena sebentar.
Siena hanya memperhatikan, tapi tidak bertanya.
Evan mengangkat telepon itu didepan Siena. “Ya?”
Nada bicaranya langsung berbeda serius dan tegas.
“Apa? Sekarang?” pekik Evan
Hening beberapa detik.
Rahangnya kembali mengeras.
“Sial.” Umpatnya lalu menutup sambungan telepon dengan gerakan cepat.
Siena yang melihat perubahan raut wajah Evan mengangkat alis tipis. “Kenapa?”
“Ada urusan mendadak.” Jawab Evan
“Penting?”
“Iya.” Jawaban singkat
Hening.
Evan menghela nafas panjang, jelas tidak suka dengan situasi ini.
“Aku antar kamu dulu, habis itu—”
“Tidak usah,” potong Siena pelan.
Evan menatapnya tajam.
“Aku bisa sendiri.” Kata Siena
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi entah kenapa terasa seperti jarak.
“Aku tidak suka kamu sendiri ke sana,” ujar Evan
“Aku baik-baik saja.”
“Bersama dia?”
Siena menghela napas pelan. “Bukan begitu maksudku.”
Evan mengusap wajahnya kasar. Jelas kesal tapi bukan cuma karena Bastian. Karena ia kehilangan kontrol.
“Aku jemput setelah selesai,” ucap Evan
"Aku bisa pulang sendiri, kalau kamu ingin pergi. Pergilah". Sahut Siena lalu berbalik badan kembali melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
Evan hendak menyusul tapi ponsel nya terus saja berdering. Ia menggeram frustasi dan tak tanpa menunggu lama, Evan segera masuk kedalam mobil nya dan bergegas menancap gas melajukan kendaraan roda empat itu pergi dari kediaman ayah Alex.
Siena yang melihat kepergian Evan hanya menghela nafas panjang. Ia merasa akhir-akhir ini sikap Evan padanya berubah.
"Kamu seperti menyembunyikan sesuatu dari ku, Van". Lirih Siena berucap
Tanpa pikir panjang, Siena segera masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobil tersebut menuju rumah Bastian.
.
Sementara itu di mansion Bastian, pria itu baru saja selesai mandi.
Rambutnya masih sedikit basah. Kemeja hitam sudah melekat rapi di tubuhnya. Luka di lengannya masih terasa nyeri, tapi ia tidak menunjukkannya.
Ia sedang memasang jam tangan ketika ponsel yang ada diatas nakas berdering.
Nama Darian muncul di layar. Bastian segera menggeser tombol hijau dan menyalakan pengeras suara.
“Katakan". Ucap Bastian tanpa basa-basi
“Nona Siena menuju ke sana, Tuan.” Ucap Darian dari seberang sana.
Gerakan tangan Bastian berhenti.
“Ke sini?” ujar nya memastikan
“Iya tuan, katanya ingin menjenguk.”
Hening sebentar.
Bastian menoleh ke arah jendela. Mansion besar itu terlalu sunyi pagi ini.
Sial.
Bastian menghembuskan napas pelan.
“Berapa lama lagi sampai?” tanya Bastian
“Sekitar dua puluh menit.” Jawab Darian
Bastian terdiam beberapa detik.
“Tunda pertemuan dengan Cyber Tech”. Titahnya tegas. “Dan cari apartemen yang biasa saja.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Sambungan telepon terputus. Bastian berdiri diam sebentar.
Sejujurnya, ia tidak masalah kalau Siena datang. Yang jadi masalah adalah tempat ini.
Mansion ini tidak cocok untuk seorang yang hanya bekerja sebagai bodyguard. Dan ia belum siap menjelaskan apa pun.
Dengan gerakan cepat, Bastian kembali meraih ponsel nya dan mencari kontak telepon yang di beri nama "My Sie".
Tanpa menunggu lama, Bastian langsung mendialnya.
Panggilan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya terangkat.
“Halo?” suara Siena terdengar dari seberang.
Bastian terdiam sepersekian detik, lalu mengatur nada suaranya seperti biasa. Datar. Profesional.
“Maaf, Nona.”
Siena mengernyit tipis mendengar sapaan formal itu.
"Sepertinya hari ini saya tidak bisa bekerja, Nona.”
Hening sebentar.
“Aku tidak menyuruhmu bekerja,” jawab Siena tenang. “Aku akan ke rumahmu. Sebentar lagi sampai.”
“Anda akan ke sini, Nona?” tanyanya memastikan.
“Iya.”
“Bagaimana Nona—”
“Rumahmu ada di Perumahan Green Arthera, blok C, bukan?”
Sunyi.
Tatapan Bastian langsung berubah tipis.
“Dari mana Nona tahu?”
“Bukan hal sulit mencarinya.” Sahut Siena singkat
Rahangnya Bastian mengeras, matanya mengedar sekeliling tapi dengan cepat ia segera menyahut
“Tapi, saya sudah tidak tinggal di sana nona”
Siena mengernyit. “Maksudmu?”
“Saya pindah ke apartemen.”
“Sejak kapan?”
“Beberapa hari lalu.”
Jawaban itu terdengar terlalu cepat. Memang itu yang Bastian rencanakan.
Siena terdiam beberapa detik.
“Kalau begitu kirim alamat barunya,” ucapnya akhirnya.
Bastian menutup mata sejenak, menahan napas pelan.
“Baik, Nona.”
Sambungan terputus.
Beberapa detik berlalu dan Bastian masih berdiri diam di tengah kamar yang terlalu besar untuk sekadar seorang bodyguard.
Dan untuk pertama kalinya, Bastian sadar bahwa tak selama nya ia akan terus membohongi Siena seperti ini.
.
.
.
Bersambung....
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut