Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Dunia seolah terbelah menjadi dua kutub yang sangat kontras. Di satu sisi, kemewahan dingin Jakarta menyembunyikan kebohongan besar, sementara di sisi lain, kesederhanaan desa menyimpan duka yang teramat dalam namun penuh doa.
Di sebuah ruangan VIP rumah sakit internasional yang paling bergengsi, tubuh Aditya terbaring kaku dikelilingi mesin-mesin canggih yang berbunyi ritmis. Kepalanya dibalut perban putih tebal. Tuan Pratama berdiri di samping ranjang, menatap putranya tanpa rasa bersalah.
"Pastikan saat dia bangun, tidak ada satu pun barang dari desa itu yang tersisa di ingatannya," perintah Tuan Pratama pada dokter pribadinya. "Hapus semua jejak kecelakaan itu dari catatan publik. Dia kecelakaan saat perjalanan bisnis, titik."
Aditya masih terlelap dalam kegelapan amnesianya. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, di sebuah tempat yang jauh, seorang malaikat kecil baru saja menghirup napas pertamanya tanpa kehadiran sang ayah.
__
Suasana duka masih menyelimuti kediaman almarhum ayah Nadine. Karena kondisi Ibu Nadine yang masih sangat lemah dan syok, pemakaman suaminya terpaksa dilakukan tanpa kehadirannya. Gus Azmi sendiri yang memimpin prosesi pemakaman hingga tanah makam itu basah oleh air mata para santri yang ikut mengantar.
Sore harinya, Gus Azmi mengunjungi Ibu Nadine di rumah sakit desa. Beliau membawa kabar tentang bayi mungil yang masih berada di dalam inkubator, satu-satunya alasan bagi Ibu Nadine untuk tetap bertahan hidup.
"Bu," panggil Gus Azmi lembut. "Bayi itu butuh identitas. Dia butuh nama yang akan menjadi pelindungnya di tengah badai ini."
Ibu Nadine yang wajahnya tampak sangat tua karena duka, hanya menoleh lemah. "Terserah Gus saja... Nadine masih tertidur, suaminya dibawa pergi... saya tidak tahu harus bagaimana."
Gus Azmi menghela napas panjang, lalu menatap bayi di balik kaca inkubator dengan tatapan penuh kasih. "Nadine adalah permata kami. Dan suaminya, Aditya, meski kita tidak tahu di mana dia sekarang, dia adalah ayah yang sah. Saya ingin memberinya nama, Muhammad Noah Aditya."
"Muhammad, agar dia memiliki akhlak seperti Rasulullah. Noah (Nuh), karena dia lahir di tengah badai besar, dan kami berharap dia menjadi penyelamat seperti kapal Nabi Nuh bagi keluarganya. Dan Aditya... agar dia tetap membawa nama ayahnya, ke mana pun takdir membawanya."
Ibu Nadine menitikkan air mata. "Noah... cucuku Noah. Nama yang bagus, Gus. Saya setuju."
Sejak hari itu, takdir seolah berhenti berputar bagi keluarga kecil ini,
Nadine terbaring dalam koma yang panjang. Tubuhnya hidup, namun jiwanya seolah terkunci di suatu tempat yang tak terjangkau.
Noah tumbuh di dalam inkubator, bayi kecil yang berjuang sendirian tanpa dekapan hangat ibunya dan perlindungan ayahnya.
Aditya di Jakarta mulai menunjukkan tanda-tanda sadar, namun matanya yang kosong tidak lagi mengenali siapa Nadine atau aroma roti sisir yang dulu menjadi dunianya.
Setiap sore, Ibu Nadine yang mulai pulih akan duduk di samping ranjang Nadine, sambil menggendong Noah yang akhirnya boleh dibawa pulang setelah beberapa minggu.
"Nadine... bangunlah, Nak. Lihat Noah. Dia punya mata yang persis suamimu," bisik sang Ibu sambil terisak.
Namun Nadine tetap diam. Di dadanya yang naik-turun dengan bantuan alat, masih tersimpan hafalan 30 juz yang ia jaga. Dan entah kapan, cahaya Al-Qur'an itu akan membangunkannya kembali untuk menjemput Noah dan mencari suaminya yang hilang.
____
Waktu terus merayap, meninggalkan luka yang mengering namun tak pernah benar-benar sembuh. Satu per satu, aset yang dibangun Aditya dengan peluh keringatnya, bengkel motor dan toko kue "Permata Nadine" terpaksa dijual untuk menutupi biaya rumah sakit yang mencekik.
Tabungan dari rekening rahasia Rian yang di cairkan sebelum insiden itu pun perlahan menipis. Meski Gus Azmi menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu, biaya alat penunjang hidup Nadine sangatlah besar
___.
Setelah berbulan-bulan di rumah sakit tanpa ada tanda-tanda kemajuan, Ibu Nadine membuat keputusan berat. Ia membawa Nadine pulang ke rumah kayu mereka yang sederhana.
"Gus, saya ingin Nadine ada di dekat saya. Biarlah dia mencium aroma dapur rumahnya sendiri, siapa tahu jiwanya rindu dan ingin pulang," ucap Ibu Nadine sambil mengusap air mata.
" terserah ibu saja, mungkin itu yang terbaik untuk Nadine" jawab gua Azmi lembut.
___
Nadine kini terbaring di kamar tengah, dikelilingi mesin oksigen yang berdesis pelan. Di samping ranjangnya, sebuah ayunan kain berisi Noah yang mulai belajar merangkak seringkali bergoyang.
Ibu Nadine duduk di tepi ranjang, memijat kaki putrinya yang mulai mengecil. "Nadine... lihat Noah, Nak. Dia sudah bisa memanggil Ibu, meski dia hanya memanggil fotomu yang kuselipkan di bawah bantal. Bangunlah... hartamu sudah habis, tapi anakmu adalah harta yang tak ternilai. Jangan biarkan dia tumbuh tanpa mengenal suaramu." ucap ibu Nadine dengan suara bergetar menahan tangis.
___
Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, Aditya Pratama berdiri menatap jendela besar kantor CEO-nya. Kepalanya masih sering berdenyut jika ia mencoba mengingat kejadian setahun terakhir yang kosong dalam memorinya.
Ayahnya, Tuan Pratama, masuk ke ruangan dengan wajah puas. "Aditya, lusa adalah peluncuran seri mobil listrik terbaru kita. Kamu harus tampil prima. Lupakan kecelakaan itu, dokter bilang itu hanya trauma perjalanan bisnis yang tidak penting."
Aditya menoleh, matanya tajam namun terasa hampa. "Pa... kenapa aku merasa ada yang hilang? Bukan cuma ingatan, tapi seperti ada bagian dari jantungku yang tertinggal di suatu tempat."
Tuan Pratama tertawa hambar. "Itu cuma efek benturan, Adit. Kamu dulu terlalu gila kerja. Mungkin yang hilang itu cuma ambisimu yang berlebihan. Sekarang, fokuslah pada masa depan."
Aditya terdiam. Ia meraba dadanya. "Tapi kenapa setiap kali aku melihat hujan, aku teringat aroma roti? Kenapa setiap kali mendengar suara mengaji dari masjid dekat kantor, aku merasa ingin menangis?"
"Itu hanya perasaanmu saja! Jangan biarkan hal-hal sentimental mengganggu bisnismu!" bentak Tuan Pratama, lalu keluar meninggalkan Aditya sendirian.
Aditya mengambil ponsel mewahnya. Ia mencari-cari sesuatu, namun semua log panggilan dan pesan dari setahun lalu telah dihapus bersih oleh tim ayahnya. Ia adalah Aditya Pratama yang lama, dingin, kaku, dan tidak tersentuh. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada jeritan sunyi yang memanggil sebuah nama yang tak sanggup ia ucapkan.
___
Tiga tahun berlalu. Noah kini berusia empat tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang sangat tampan, dengan alis tebal dan tatapan mata yang persis seperti Aditya, namun memiliki kelembutan tutur kata seperti Nadine.
Suatu sore, Noah duduk di samping ranjang ibunya, memegang mushaf kecil. Ia sudah mulai menghafal surat-surat pendek, diajari oleh neneknya setiap pagi.
"Nenek... kenapa Ibu tidurnya lama sekali?" tanya Noah dengan suara cadelnya yang menggemaskan.
Ibu Nadine tersenyum getir, mengelap peluh di dahi cucunya. "Ibu lagi istirahat, Sayang. Ibu lagi menjaga hafalan Qur'annya di dalam mimpi."
Noah mencium tangan ibunya yang dingin dan kaku. "Noah tadi sudah hafal Surah Ad-Duha, Nek. Gus Azmi bilang, kalau Noah pinter ngaji, nanti Allah bangunkan Ibu. Apa Noah kurang pinter ya, Nek? Makanya Ibu belum bangun?"
Hancur hati sang nenek mendengar kepolosan itu. Ia memeluk Noah erat. "Tidak, Sayang. Noah anak paling pinter. Allah cuma lagi kangen dengar Noah ngaji terus. Nanti kalau sudah waktunya, Ibu pasti bangun dan peluk Noah."
Noah menoleh ke arah foto ayahnya yang sudah kusam di atas meja. "Terus Ayah di mana, Nek? Apa Ayah juga lagi tidur di tempat lain?"
Ibu Nadine terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Baginya, Aditya mungkin sudah meninggal atau sengaja membuang mereka. "Ayah... Ayah lagi kerja jauh, Noah. Jauh sekali."
Noah menatap ibunya lagi, lalu membisikkan ayat pertama Ad-Duha ke telinga Nadine. "Wadh-dhuha... wal-laili idza saja..."
Tanpa ada yang menyadari, jari manis Nadine bergerak sedikit. Sangat tipis, namun itu adalah tanda bahwa di balik kegelapan komanya, jiwa sang Hafizhah sedang merespons panggilan malaikat kecilnya.