NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Perempuan Yang Matanya Tidak Bisa Dibohongi

Tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

Bukan empat puluh delapan jam seperti yang tertulis di kontrak, bukan dua puluh empat jam seperti yang kuminta secara personal, bukan bahkan satu jam. Kenzo mengirim pesan pukul sepuluh pagi pada hari Minggu — Oma Suri akan berkunjung siang ini, sekitar pukul dua belas — dan pesan itu sampai ke ponselku pukul sepuluh lewat tujuh belas, yang artinya aku punya satu jam empat puluh tiga menit untuk mempersiapkan diri menghadapi nenek dari pria yang secara hukum sudah jadi suamiku selama dua minggu.

Aku keluar dari wing kiri dengan rambut yang belum sepenuhnya rapi dan niat untuk memprotes timing-nya ke Revano.

Dia sudah ada di ruang tamu, duduk di sofa dengan laptop terbuka, dan dari ekspresi wajahnya yang sedikit lebih tegang dari biasanya, aku menyimpulkan bahwa dia juga baru tahu tidak jauh sebelum aku.

"Oma Suri tidak memberitahu sebelumnya?" tanyaku.

"Tidak pernah." Dia menutup laptop. "Itu caranya."

"Itu caranya menguji?"

Revano menatapku sebentar. "Itu caranya hidup. Dia tidak percaya pada jadwal untuk hal-hal yang menurutnya seharusnya spontan."

"Kunjungan ke cucu termasuk kategori spontan?"

"Semua kunjungan ke orang yang dia sayangi termasuk kategori itu."

Aku memproses itu. Lalu kembali ke wing kiri untuk merapikan rambut dan mengganti kaos lusuh yang kupakai dengan sesuatu yang lebih layak untuk bertemu nenek dari keluarga Aldrich.

Oma Suri tiba pukul sebelas lima puluh delapan.

Lebih awal dari perkiraan Kenzo — yang mungkin memang sudah diantisipasi oleh semua orang yang mengenalnya karena pesan Kenzo berbunyi sekitar pukul dua belas bukan tepat pukul dua belas.

Dia masuk ke penthouse dengan cara yang membuat aku seketika memahami dari mana Revano mendapat sebagian besar pembawaan diamnya — tapi dalam versi yang jauh lebih hangat. Perempuan tujuh puluh tiga tahun dengan rambut putih yang disanggul rapi, kebaya biru muda yang bukan untuk acara formal tapi tetap terlihat seperti dipilih dengan sangat sengaja, dan sepasang mata yang — begitu menatapku — langsung terasa seperti membaca sesuatu di halaman yang tidak aku sadari sedang terbuka.

"Rey." Dia menepuk pipi Revano dengan tangan kecilnya. Revano membungkuk sedikit untuk memudahkan — gerakan yang sangat natural, sudah jadi otot, dan untuk sepersekian detik membuat wajahnya terlihat seperti orang yang berbeda dari CEO dua puluh sembilan tahun yang berjalan masuk meeting dengan laptop dan agenda.

Lalu Oma Suri berbalik ke arahku.

Matanya menyapuku dari atas ke bawah — bukan menilai penampilan, tapi seperti membaca sesuatu yang lebih dalam dari itu. Cepat, efisien, dengan cara yang mengingatkanku pada cara dokter memeriksa pasien sebelum memutuskan tes apa yang diperlukan.

"Jadi ini Ariana." Bukan pertanyaan.

"Selamat siang, Oma." Aku mengulurkan tangan.

Dia mengambil tanganku — tapi tidak berjabat tangan. Menggengggamnya dengan kedua tangannya sebentar, merasakan sesuatu yang tidak bisa kuidentifikasi, lalu melepaskannya.

"Duduk," katanya. "Aku mau bicara denganmu."

Revano diperintah ke dapur untuk membuat teh — dengan cara yang tidak memberi ruang untuk negosiasi, dan yang menarik adalah Revano pergi tanpa protes, yang memberitahuku bahwa Oma Suri adalah mungkin satu-satunya orang di muka bumi yang bisa mengirim Revano Aldrich ke dapur tanpa menghasilkan argumen.

Kami duduk di sofa ruang tamu. Oma Suri di seberangku, punggungnya tegak dengan cara yang tidak terlihat dipaksakan, tangannya terlipat rapi di pangkuannya.

"Kamu menikahi cucuku karena apa?"

Langsung. Tidak ada basa-basi, tidak ada pertanyaan pemanasan, tidak ada percakapan tentang cuaca atau perjalanan dari rumahnya atau apapun yang biasanya mengisi awal percakapan antara dua orang yang baru bertemu.

Aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan seperti ini — versi yang sudah kami diskusikan, narasi yang masuk akal dan konsisten, yang tidak berbohong secara langsung tapi juga tidak mengungkapkan apapun yang tidak boleh terungkap.

Tapi ada sesuatu di matanya yang membuat semua kalimat yang sudah kusiapkan terasa seperti pakaian yang ukurannya tidak pas.

Yang keluar bukan versi yang sudah kusiapkan.

"Karena situasinya masuk akal untuk kami berdua," kataku. "Pada waktu yang tepat, dengan alasan yang keduanya mengerti."

Oma Suri tidak berkedip. "Itu jawaban yang sangat hati-hati."

"Pertanyaannya besar."

"Pertanyaannya sederhana. Jawabannya yang kamu persulit."

Aku menatapnya. Perempuan ini — dengan kebaya biru mudanya dan tangannya yang kecil — punya cara bicara yang mengingatkanku pada seseorang, dan butuh beberapa detik untuk menyadari siapa: Mama. Bukan dalam hal penampilan atau cara bicara yang persis sama, tapi dalam hal kualitas tertentu yang dimiliki perempuan-perempuan yang sudah hidup cukup lama untuk berhenti punya waktu bagi jawaban yang tidak jujur.

"Kami tidak bertemu dengan cara yang romantic," kataku akhirnya — masih hati-hati, tapi sedikit lebih jujur dari versi pertama. "Kami bertemu karena ada kebutuhan yang kebetulan saling melengkapi. Dan kami memutuskan untuk mencoba."

"Kebutuhan." Oma Suri mengulang kata itu dengan nada yang tidak bisa kubaca. "Rey selalu bicara dalam bahasa kebutuhan. Sejak kecil." Dia melirik ke arah dapur di mana suara peralatan teh terdengar samar. "Kamu juga?"

"Saya... lebih bicara dalam bahasa yang tersedia," jawabku. "Apapun yang cukup jujur untuk situasinya."

Oma Suri diam sebentar. Menatapku dengan cara yang membuat aku berasa sedang diperiksa oleh seseorang yang alat periksanya bukan stetoskop atau formulir tapi sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih akurat dari itu.

Lalu — sesuatu di wajahnya berubah. Tidak banyak. Tapi cukup.

"Kamu tidak mencintainya sekarang," katanya pelan. Bukan tuduhan — lebih seperti diagnosis yang disampaikan dengan sangat tenang.

Aku tidak menjawab. Yang juga merupakan jawaban.

"Tapi kamu jujur." Dia mengangguk sedikit, ke dirinya sendiri tampaknya. "Itu lebih baik dari yang kumiliki ekspektasi."

Revano kembali dengan nampan teh — tiga cangkir, dengan biskuit jahe yang entah dari mana dia temukan di dapur, disusun dengan cara yang terlalu rapi untuk orang yang mengaku tidak memasak.

Dia meletakkannya di meja dan duduk di sofa yang lain — sedikit di luar lingkaran percakapan kami, dengan cara yang mengisyaratkan bahwa dia sudah tahu bahwa bagian ini bukan untuknya.

Oma Suri mengambil cangkirnya. Aku mengambil milikku.

"Ceritakan tentang dirimu," kata Oma Suri. "Bukan tentang pernikahan. Tentang kamu."

Jadi aku cerita.

Bukan semua — tapi lebih dari yang biasanya kuceritakan ke orang yang baru kukenal dua puluh menit. Tentang pekerjaan desain yang dimulai dari iseng dan jadi serius lebih dari yang direncanakan. Tentang Mama di Depok yang tanamannya selalu tumbuh lebih banyak dari yang bisa diurus tapi tidak pernah berhenti menanam. Tentang Bapak yang sudah tidak ada tapi masih hadir dalam cara-cara kecil yang tidak selalu bisa dijelaskan.

Oma Suri mendengarkan dengan cara yang jarang dimiliki orang — tanpa mengisi jeda dengan komentarnya sendiri, tanpa menunggu gilirannya bicara, tapi benar-benar mendengarkan dengan seluruh perhatiannya.

"Bapakmu," katanya ketika aku selesai. "Kamu merindukannya."

"Setiap hari."

"Itu tidak hilang." Dia meletakkan cangkirnya. "Aku kehilangan suamiku dua puluh tahun lalu. Masih merindukannya setiap Selasa pagi karena hari Selasa selalu hari kami sarapan nasi kuning bersama." Satu jeda kecil. "Rindu tidak harus hilang untuk tidak lagi menyakiti. Itu perlu waktu untuk belajar bedanya."

Aku menatap cangkir tehku.

"Terima kasih, Oma."

Di sofa yang lain, Revano tidak bersuara. Tapi dari sudut mata, aku melihat dia menatap tehnya dengan cara yang lebih dalam dari sekadar menatap minuman.

Oma Suri tinggal sampai pukul dua lebih sedikit.

Sebelum pergi, dia berdiri di depan pintu dengan tas kecilnya di tangan dan menatap kami berdua bergantian — dulu ke Revano, lalu ke aku, lalu kembali ke Revano dengan ekspresi yang tidak bisa kudeskripsikan tapi terasa seperti seseorang yang sedang mencocokkan sesuatu di kepalanya.

"Rey," katanya.

"Oma."

"Kali ini jangan bodoh." Dikatakan dengan nada yang sama tenangnya dengan semua kalimat lain yang dia ucapkan sejak tiba — tidak menghakimi, tidak dramatis, hanya pernyataan yang diletakkan di udara dengan keyakinan bahwa yang mendengarnya tahu artinya.

Revano tidak menjawab. Tapi rahangnya bergerak sedikit.

Oma Suri menepuk tanganku sekali sebelum pergi. "Kamu anak yang baik, Ariana. Itu cukup untuk memulai."

Pintu menutup.

Penthouse terasa lebih sunyi dari biasanya setelah dia pergi — jenis sunyi yang ditinggalkan oleh kehadiran yang cukup besar untuk meninggalkan bekasnya bahkan setelah pergi.

Aku mengumpulkan cangkir-cangkir teh, membawanya ke dapur. Revano mengikuti dengan nampannya.

"Dia menyukaimu," katanya.

"Aku menjawab jujur tentang hal yang seharusnya tidak kujawab jujur," kataku. "Dan dia menyukaiku karena itu."

"Dia selalu tahu." Revano meletakkan nampan di counter. "Tidak ada gunanya menyiapkan jawaban untuk Oma Suri. Dia membaca yang di bawah jawaban, bukan jawabannya."

Aku menatapnya. "Kamu tahu itu tapi tidak memberitahuku sebelumnya."

"Kalau kubilang sebelumnya, kamu akan menyiapkan jawaban yang berbeda. Dan hasilnya tidak akan sama."

Aku membuka mulut untuk protes — lalu menutupnya lagi. Karena sekali lagi, secara teknis, dia tidak salah.

"Apa yang dia maksud dengan jangan bodoh?" tanyaku.

Revano mengambil cangkir dari tanganku dan meletakkannya di wastafel. Membalik keran.

"Sesuatu yang tidak relevan dengan sekarang," jawabnya.

Dan dari cara mengatakannya — terlalu cepat, terlalu rapi — aku tahu itu adalah satu-satunya jawaban yang akan kudapat untuk pertanyaan itu.

Untuk sekarang.

— Selesai Bab 12 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!