NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Garis yang Tidak Boleh Dilangkahi

Pintu ruang kerja Bima tertutup rapat begitu Alya masuk.

Ia tidak duduk.

Tidak berputar-putar dengan basa-basi.

“Arsen menelepon saya.”

Kalimat itu jatuh tenang, tapi cukup membuat udara di ruangan berubah.

Bima yang sedang membaca laporan langsung mengangkat wajah. Tidak ada ekspresi terkejut. Hanya tatapan yang menajam sepersekian detik.

“Apa katanya?”

“Ia ingin bertemu.” Alya menatapnya lurus. “Dan dia bilang memiliki sesuatu tentang Anda.”

Hening.

Bima tidak langsung bertanya apa maksudnya. Tidak langsung membantah. Ia hanya menatap Alya lebih lama dari biasanya, seolah mengukur sesuatu.

“Kamu percaya padanya?” tanyanya akhirnya.

“Tidak.”

Jawabannya tegas.

“Lalu kenapa kamu datang ke sini dengan wajah seperti itu?”

Alya menarik napas pelan. “Karena dia bilang punya bukti bahwa Anda tidak sebersih yang saya kira.”

Kali ini, rahang Bima benar-benar mengeras.

Bukan karena takut.

Karena marah.

“Dan kamu ingin tahu apakah itu benar?” tanyanya rendah.

Alya tidak mundur.

“Saya ingin tahu apakah ada sesuatu di masa lalu Anda yang bisa digunakan untuk menjatuhkan perusahaan.”

Jawaban profesional.

Terlalu profesional.

Bima berdiri perlahan dari kursinya.

“Kamu menikah dengan saya atas kontrak,” ucapnya tenang, namun suaranya lebih dalam. “Bukan untuk menginterogasi saya.”

“Saya tidak menginterogasi.” Alya menahan emosinya. “Saya memastikan kita tidak berjalan dalam jebakan.”

Hening yang panjang.

Tatapan mereka saling menahan.

Ada batas yang selama ini tak pernah disentuh. Batas antara urusan bisnis dan kepercayaan pribadi.

Dan hari ini, batas itu retak.

Beberapa detik kemudian, Bima berjalan menuju jendela besar di belakang meja kerjanya.

“Ada satu proyek lama,” ucapnya akhirnya. “Lima tahun lalu. Akuisisi tambang di Kalimantan.”

Alya terdiam. Ia tahu proyek itu. Kontroversial. Banyak rumor. Namun tak pernah terbukti bermasalah.

“Apa yang terjadi?” tanyanya pelan.

“Mitigasi lingkungan yang seharusnya dilakukan oleh pihak ketiga… terlambat. Ada kerusakan kecil sebelum kami ambil alih.”

“Dan?”

“Saya menutup biaya pemulihan tanpa membawa itu ke publik.”

Alya memproses cepat.

“Itu bukan pelanggaran hukum.”

“Tidak.”

“Lalu kenapa Anda terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu?”

Bima berbalik.

“Karena salah satu direktur Surya saat itu adalah pihak ketiga yang bertanggung jawab atas proyek tersebut.”

Alya membeku sepersekian detik.

“Artinya…”

“Mereka gagal menjalankan kewajiban. Saya menyelamatkan proyek itu. Tapi jika Arsen memutar narasinya, saya bisa terlihat seperti pihak yang menutup-nutupi.”

Sunyi.

Bukan sunyi yang dingin.

Tapi sunyi yang berat.

Alya melangkah mendekat.

“Kenapa Anda tidak pernah bilang?”

“Karena itu sudah selesai.”

“Tidak,” Alya menggeleng pelan. “Itu belum selesai. Itu hanya ditunda.”

Tatapan Bima berubah.

Ia tidak marah. Tidak defensif.

Hanya… lelah.

“Alya, dunia bisnis tidak selalu hitam putih.”

“Saya tahu.” Suaranya melunak. “Tapi Anda tidak sendirian sekarang.”

Kalimat itu kembali.

Tidak sendirian.

Dan kali ini, Bima tidak membantahnya.

Sore itu, keputusan diambil.

Alya mengirim pesan singkat pada Arsen.

“Jika Anda ingin bertemu, lakukan secara terbuka. Datang ke kantor besok siang.”

Tidak ada permainan di belakang layar.

Jika Arsen ingin menekan, ia harus melakukannya di depan mereka berdua.

Balasan datang lima menit kemudian.

“Berani juga kamu.”

Alya menutup ponselnya tanpa menjawab lagi.

Keesokan harinya, suasana kantor terasa seperti sebelum badai.

Dimas masih bekerja seperti biasa. Direksi masih menjalankan rutinitasnya. Tidak ada yang tahu bahwa di ruang CEO, pertemuan penting akan terjadi.

Pukul dua siang tepat, Arsen datang.

Setelan abu-abu muda. Senyum santai. Tatapan percaya diri yang hampir provokatif.

Ia tidak tampak seperti pria yang datang membawa ancaman.

Ia tampak seperti pria yang datang menikmati permainan.

Bima menyambutnya dengan sikap profesional.

Alya duduk di sisi meja, sejajar dengan Bima.

Arsen memperhatikan itu.

“Kalian terlihat kompak,” ucapnya ringan.

“Langsung saja ke inti,” ujar Bima datar.

Arsen duduk santai.

“Saya hanya ingin menawarkan kerja sama.”

“Dengan cara menyebar rumor?” balas Alya tenang.

Arsen tertawa kecil. “Rumor berkembang karena orang suka mendengarnya.”

“Berhenti berputar-putar,” kata Bima.

Arsen akhirnya meletakkan sebuah tablet di atas meja.

Di layar, terpampang dokumen lama proyek tambang itu. Lengkap dengan tanda tangan digital.

“Apa yang ingin kamu lakukan dengan ini?” tanya Bima.

“Tidak ada,” jawab Arsen ringan. “Selama kita bisa mencapai kesepakatan.”

“Kesepakatan apa?”

Arsen menatap Alya, bukan Bima.

“Proyek Timur. Surya Group ingin ikut masuk sebagai mitra.”

Itu bukan tawaran biasa.

Itu infiltrasi.

Jika mereka setuju, Surya bisa mengakses seluruh struktur finansial proyek.

Jika mereka menolak, dokumen lama itu bisa dipelintir menjadi skandal.

Alya menyilangkan tangan di atas meja.

“Anda pikir kami akan menyerahkan proyek miliaran hanya karena ancaman yang belum tentu sah?”

Arsen menatapnya dengan senyum tipis.

“Saya pikir kamu cukup cerdas untuk tahu kapan harus kompromi.”

Bima berdiri.

“Pertemuan selesai.”

Arsen tetap duduk beberapa detik sebelum akhirnya berdiri perlahan.

“Pikirkan baik-baik,” ucapnya santai. “Dunia tidak selalu berpihak pada yang merasa benar.”

Ia berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, ia berhenti.

“Dan Alya,” katanya tanpa menoleh, “kamu selalu suka bermain bersih. Tapi terkadang, orang yang bermain bersih justru paling mudah dijatuhkan.”

Pintu tertutup.

Sunyi.

Alya mengembuskan napas panjang.

Bima menatapnya.

“Kita tidak akan menyerah.”

Alya mengangguk.

“Tidak.”

“Jika dia merilis dokumen itu, harga saham bisa terguncang.”

“Lalu kita rilis lebih dulu.”

Bima terdiam.

Alya menatapnya mantap.

“Kita umumkan proyek tambang itu secara transparan. Lengkap dengan bukti bahwa kita yang memulihkan kerusakan.”

“Itu berisiko.”

“Lebih berisiko jika kita menunggu.”

Hening beberapa detik.

Lalu Bima mengangguk perlahan.

“Baik. Kita main terbuka.”

Alya merasakan sesuatu yang berbeda saat itu.

Bukan lagi sekadar kerja sama.

Bukan lagi sekadar kontrak.

Mereka berdiri di garis yang sama.

Melawan pihak luar.

Bersama.

Namun jauh di dalam hati Alya, ada satu hal yang belum selesai.

Arsen tidak terlihat seperti pria yang baru saja gagal.

Ia terlihat seperti pria yang sudah menyiapkan langkah berikutnya.

Dan jika ancaman dokumen lama bukan kartu terakhirnya—

Maka perang ini baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya.

Bukan karena ancaman dokumen lama itu.

Bukan juga karena kemungkinan harga saham terguncang.

Tapi karena untuk pertama kalinya, lawan mereka tahu di mana harus menusuk.

Di titik yang tidak tertulis dalam kontrak.

Kepercayaan.

Sore itu juga, Bima memanggil tim hukum dan PR ke ruang rapat tertutup. Tidak ada sekretaris. Tidak ada notulen resmi. Hanya orang-orang inti yang benar-benar bisa dipercaya.

Alya duduk di sisi kanan Bima. Bukan sebagai pelengkap. Bukan sebagai simbol.

Sebagai pengambil keputusan.

“Kita akan rilis pernyataan resmi mengenai proyek tambang Kalimantan lima tahun lalu,” ujar Bima tenang. “Lengkap dengan audit pemulihan lingkungan.”

Beberapa wajah terlihat terkejut.

“Bukankah itu akan membuka ruang pertanyaan baru, Pak?” tanya kepala PR.

“Ya,” jawab Alya sebelum Bima sempat berbicara. “Tapi kita yang mengendalikan narasinya.”

Ia menatap layar proyektor.

“Jika Surya mencoba memutarbalikkan fakta, kita sudah lebih dulu berdiri di depan.”

Hening sejenak.

Lalu satu per satu kepala mengangguk.

Rapat berakhir dengan keputusan bulat.

Transparansi penuh.

Langkah berani.

Langkah yang tidak bisa ditarik kembali.

Malamnya, berita itu resmi dirilis.

Wijaya Group mengumumkan laporan lengkap proyek tambang, termasuk biaya pemulihan yang mereka tanggung secara sukarela demi menjaga lingkungan.

Alih-alih terlihat bersalah, perusahaan justru mendapat sorotan positif.

Media bisnis menyebutnya sebagai contoh tanggung jawab korporasi.

Harga saham sempat turun tipis… lalu stabil.

Alya membaca perkembangan itu dari ruang kerja rumah.

Bima berdiri di belakangnya, menatap layar yang sama.

“Kita selamat,” gumamnya.

“Belum,” jawab Alya pelan.

Karena ia tahu satu hal.

Arsen bukan tipe pria yang menaruh semua kartunya di meja sekaligus.

Jika ancaman pertama gagal—

Maka ia pasti sudah menyiapkan yang kedua.

Ponsel Bima berdering.

Nomor tidak dikenal.

Ia menjawab tanpa ragu.

“Halo.”

Suara di seberang sana membuat wajahnya berubah sepersekian detik.

Sangat halus.

Namun Alya melihatnya.

“Ya,” jawab Bima singkat.

Hening beberapa detik.

“Jangan pernah hubungi nomor ini lagi.”

Ia memutus sambungan.

Alya berdiri.

“Arsen?”

Bima tidak langsung menjawab.

“Apa yang dia katakan?” desak Alya.

Bima menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ada sesuatu di matanya yang bukan sekadar kemarahan atau ketegasan.

Itu kekhawatiran.

“Dia tidak akan menyerang perusahaan lagi.”

“Lalu?”

“Dia akan menyerang kita.”

Satu kata itu terasa lebih berat dari semua ancaman bisnis.

Alya merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Apa maksudnya?”

Bima berjalan mendekat.

“Dia bilang… jika citra perusahaan tidak bisa dijatuhkan, maka citra pernikahan kita yang akan dihancurkan.”

Udara terasa menipis.

Alya terdiam beberapa detik.

Lalu ia tersenyum tipis.

“Dia pikir kita rapuh?”

Bima tidak tersenyum balik.

“Dia pikir ini hanya kontrak.”

Kalimat itu menggantung.

Kontrak.

Kata yang dulu terdengar netral.

Sekarang terasa seperti celah.

Alya melangkah lebih dekat hingga jarak di antara mereka hanya sejengkal.

“Kalau begitu, kita pastikan dia salah.”

Tatapan Bima mengunci wajahnya.

“Alya… ini bisa menjadi sangat pribadi.”

“Saya tidak pernah lari dari hal pribadi.”

Hening.

Detik terasa lambat.

Di luar, lampu-lampu kota menyala seperti biasa. Dunia tetap berjalan. Tapi di dalam rumah itu, keputusan besar sedang terbentuk.

Bima mengangkat tangan, hampir menyentuh wajah Alya… lalu berhenti.

“Jika suatu hari nanti tekanan ini membuatmu ingin keluar dari kontrak ini, katakan.”

Alya menatapnya tanpa ragu.

“Saya tidak mundur di tengah perang.”

Bima menarik napas pelan.

“Baik.”

Dan pada saat itu, sesuatu berubah.

Bukan di atas kertas.

Bukan di dalam kontrak.

Tapi di antara mereka.

Karena kini, yang mereka pertahankan bukan lagi hanya perusahaan.

Bukan lagi hanya reputasi.

Tapi juga sesuatu yang perlahan tumbuh tanpa izin—

Ikatan yang tidak bisa dijelaskan sebagai kewajiban.

Di luar sana, Arsen mungkin sedang menyusun strategi berikutnya.

Namun ia belum tahu satu hal penting.

Semakin ia mencoba memecah mereka—

Semakin kuat mereka berdiri di sisi yang sama.

Dan jika perang ini benar-benar memasuki babak yang lebih berbahaya,

Maka kali ini bukan hanya strategi yang akan diuji.

Melainkan hati.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!