NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman yang lebih Nyata

"Lauren, berhenti! Itu jebakan!" teriak Herza. Arwah remaja itu melayang cepat di sampingnya, wajahnya yang biasa tenang kini tampak tegang dan penuh kecemasan.

Lauren tidak mengindahkan peringatan itu. Rasa kemanusiaannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Ia melompat dari anak tangga terakhir dan berlari melintasi semen lapangan yang masih menyimpan sisa panas matahari. Saat ia mendekat, bau busuk yang sangat tajam menusuk hidungnya. Bau itu seperti daging yang dibiarkan membusuk di dalam air selokan.

"Lepaskan dia!" teriak Lauren. Ia mengayunkan tangannya, mencoba menghalau Ghoulish Parasite yang sedang berpesta itu.

Begitu jemari Lauren nyaris menyentuh makhluk itu, sebuah fenomena aneh terjadi. Makhluk lintah itu tiba-tiba melepaskan gigitannya dari leher sang siswa dan melenting ke udara. Ia berputar, memperlihatkan deretan gigi jarum yang melingkar di mulutnya yang menganga. Alih-alih melarikan diri, makhluk itu justru melesat lurus ke arah wajah Lauren.

"Mundur!" Herza melesat di depan Lauren. Ia merentangkan tangannya, melepaskan gelombang energi biru pucat yang menghantam makhluk itu hingga terpental ke belakang.

Siswa yang menjadi korban tadi terkulai lemas di lantai, napasnya tersengal namun kejangnya berhenti. Lauren baru saja hendak berlutut untuk menolongnya ketika hawa dingin yang luar biasa mendadak mengunci seluruh tubuhnya. Suhu udara di lapangan basket itu merosot drastis hingga Lauren bisa melihat uap dingin keluar dari mulutnya sendiri.

Dari balik bayangan tiang ring basket, sesosok jubah hitam yang compang-camping melangkah keluar. Itu adalah entitas yang sama dengan yang ada di gerbang sekolah tadi. Sosok itu tidak memiliki kaki yang menyentuh tanah, namun setiap gerakannya meninggalkan jejak es di atas semen.

"Dia tidak menginginkan siswa itu, Lauren. Dia menginginkanmu," bisik Herza. Ia berdiri di depan Lauren dengan posisi siaga, energinya berpendar lebih terang dari biasanya.

Entitas itu mengeluarkan suara tawa yang parau, terdengar seperti gesekan dua batu nisan. Tanpa aba-aba, ia bergerak maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Lengan bayangannya yang panjang dan penuh duri hitam terayun lurus ke arah Lauren.

Herza menangkis serangan itu dengan perisai energinya, namun benturan itu begitu kuat hingga Herza terlempar beberapa meter. Lauren berdiri tanpa pelindung. Sebelum ia sempat bereaksi, sebuah tangan dingin dan kasar mencengkeram lengan atasnya.

"Akh!" Lauren menjerit.

Rasa sakitnya bukan seperti cubitan biasa. Rasanya seperti ada ribuan jarum es yang ditusukkan sekaligus ke dalam dagingnya, menjalar hingga ke tulang. Lauren merasakan energinya tersedot keluar, kepalanya mendadak pening, dan penglihatannya mulai kabur. Ini adalah serangan fisik pertama yang benar-benar ia rasakan di dunia nyata dari makhluk gaib.

"Lepaskan dia, keparat!" Herza bangkit dan menerjang si jubah hitam itu. Ia menghantamkan tinjunya yang terbungkus cahaya biru tepat ke arah dada bayangan tersebut.

Entitas jubah hitam itu melengking marah, cengkeramannya pada lengan Lauren terlepas. Lauren terjatuh ke lututnya, memegangi lengannya yang kini terasa mati rasa. Ia melihat ke bawah dan terbelalak. Di balik kain seragamnya, muncul memar kehitaman yang menjalar cepat, membentuk pola jemari yang kurus dan panjang.

Herza dan si jubah hitam itu terlibat dalam perkelahian yang sengit. Cahaya biru dan kabut hitam beradu di tengah lapangan, menciptakan pusaran angin yang menerbangkan dedaunan kering. Herza tampak kewalahan. Setiap kali energinya bersentuhan dengan kabut hitam itu, wajah Herza meringis kesakitan, seolah-olah kabut itu meracuninya.

"Herza, cukup! Ayo pergi dari sini!" teriak Lauren. Ia berusaha bangkit meski kakinya terasa selemas jeli.

Herza melakukan satu ledakan energi terakhir, menciptakan dinding cahaya sementara untuk menghalau sosok itu. Ia segera melesat ke arah Lauren, menyambar bahunya, dan membimbing gadis itu berlari secepat mungkin menjauh dari lapangan. Mereka menerobos gerbang belakang sekolah dan terus berlari hingga mencapai area pemukiman yang lebih terang.

Mereka berhenti di bawah lampu jalan yang berpijar stabil. Lauren jatuh terduduk di trotoar, memegangi lengannya yang masih berdenyut sakit. Keringat dingin mengucur di dahinya.

"Kamu terluka?" tanya Herza. Ia berlutut di depan Lauren, wajah arwahnya tampak sangat pucat, hampir transparan karena kehabisan banyak energi.

Lauren menyingsingkan lengan seragamnya. Di sana, di atas kulitnya yang putih, memar hitam tadi menetap dengan jelas. Rasanya dingin, sedingin es balok yang ditempelkan paksa ke kulit. Kenapa ini terjadi, Herza? Bukannya mereka tidak bisa menyentuh fisikku secara langsung?

Herza menatap memar itu dengan tatapan getir.

"Biasanya memang tidak bisa, kecuali jika mereka memiliki kekuatan yang cukup besar dan kamu dalam keadaan lengah. Lauren, serangan tadi bukan sekadar gangguan. Itu adalah tanda."

"Tanda apa?"

"Tanda kepemilikan," jawab Herza pelan.

"Sosok jubah hitam itu adalah bawahan dari sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih kuat. Mereka tidak lagi hanya ingin mengintaimu. Mereka sudah mulai mencoba menandai sebagai wadah mereka."

Lauren merinding mendengar kata wadah. Ia merasa seolah dirinya bukan lagi seorang manusia, melainkan sepotong daging yang diperebutkan oleh serigala lapar. Rasa takut yang selama lima tahun ini ia coba jinakkan kini kembali meledak, lebih besar dan lebih nyata.

"Aku cuma mau menolong kakak kelas tadi," bisik Lauren, suaranya bergetar.

"Aku tidak tahu itu akan berakhir seperti ini."

"Itulah yang mereka manfaatkan, Lauren. Kebaikan hatimu adalah celah. Mereka tahu kamu tidak akan bisa diam melihat orang lain menderita, dan mereka menggunakan itu sebagai umpan," Herza menghela napas, tangannya yang transparan mencoba menyentuh luka Lauren namun tidak bisa memberikan kehangatan.

"Kamu harus mengerti satu hal sekarang. Di mata mereka, kamu adalah target paling berharga di seluruh kota ini. Kamu adalah satu-satunya jembatan yang paling murni."

Lauren menatap lampu jalan di atasnya. Cahaya itu biasanya memberikan rasa aman, namun malam ini, cahaya itu terasa begitu rapuh. Ia menyadari bahwa duniaya telah berubah total. Tidak ada lagi tempat tersembunyi. Tidak ada lagi hari-hari biasa.

"Apa mereka akan kembali?" tanya Lauren.

Herza tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah gedung sekolah yang kini tampak seperti siluet raksasa di kejauhan. Di sana, di antara kegelapan koridor, ia bisa merasakan ribuan pasang mata yang masih mengawasi, menunggu, dan merencanakan langkah selanjutnya.

"Mereka tidak akan berhenti, Lauren. Justru sebaliknya," kata Herza dengan nada yang sangat serius. Ia menatap Lauren dalam-dalam, memberikan peringatan yang membuat jantung Lauren berdegup kencang.

"Kenapa mereka begitu berani menyerang di area sekolah yang ramai?" Lauren bertanya lagi, mencoba mencari celah logika.

"Karena perisai batinmu sedang melemah akibat kelelahan mentalmu selama dua minggu ini," jelas Herza.

"Dan yang lebih mengerikan, Lauren... mereka sudah tidak peduli lagi dengan persembunyian."

Herza mendekatkan wajahnya ke arah Lauren, suaranya turun menjadi bisikan yang sangat tajam.

"Tadi itu hanya ujian untuk melihat seberapa jauh aku bisa melindungimu. Dan sekarang, mereka sudah tahu batasanku. Kamu harus mulai belajar membela dirimu sendiri, Lauren. Karena malam ini, dengan serangan fisik tadi, sebuah pesan telah dikirimkan ke seluruh alam bayangan."

"Pesan apa?"

Herza menatap memar hitam di lengan Lauren yang mulai berpendar tipis dalam spektrum warna yang tidak bisa dilihat manusia biasa.

"Bahwa mereka tahu siapa kamu sebenarnya, dan di mana kamu berada. Kamu tidak bisa lagi bersembunyi di balik lampu-lampu rumahmu, Lauren. Perang ini sudah sampai ke depan pintumu."

Lauren mematung. Kata-kata Herza terasa seperti lonceng kematian yang bergema di kepalanya. Ia menatap lengannya yang memar, menyadari bahwa mulai malam ini, ia bukan lagi hanya seorang gadis yang bisa melihat hantu. Ia adalah buronan di antara dua dunia.

1
`|aley|`
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!