“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shang Lun (2)
“Mengapa kau tidak menerima pendapatku, kawan? Pemimpin Aliansi itu sekarang terlalu sabar. Tidak ada perang ataupun kekacauan besar, dia hanya terus berusaha meredam semuanya tanpa benar-benar membereskan akar masalahnya. Dan kau malah menentangnya?” ucap Wang Zigang dengan nada menekan.
“Kau… kau hanya membual!” balas pemuda yang duduk di hadapannya.
Pemuda itu bertubuh proporsional, berwajah rupawan, dengan mata sejernih batu giok. Di Desa Giok Seribu Awan, ia dikenal sebagai salah satu primadona—Hyung bagi Fang Yi.
Perdebatan mereka mulai menarik perhatian beberapa tamu lain di penginapan.
“Hei, adik kecil Yi! Kemarilah! Hyungmu ingin memesan sebotol alkohol kualitas tinggi dan seporsi ayam bakar!” teriak Wang Zigang tanpa mengalihkan pandangannya dari lawan bicaranya.
“Tunggu sebentar, Hyung! Segera datang!” sahut Fang Yi dari balik meja kasir.
Ia berlari kecil menuju meja Wang Zigang.
“Apa yang tadi dipesan, Hyung?” tanyanya sopan.
“Alkohol kualitas tinggi dan seporsi ayam bakar. Oh ya, bawakan juga sebilah pisau dari dapur. Katakan pada Paman Ying aku akan meminjamnya sebentar,” ucap Wang Zigang santai.
Fang Yi mengangguk tanpa banyak bertanya. Ia segera menuju dapur, menyampaikan pesan itu pada Paman Ying, lalu kembali dengan membawa pisau kecil bermata tajam.
Ia meletakkan pisaunya di atas meja.
“Terima kasih, adik kecilku. Pergilah dari sini, dan maaf jika hyungmu ini merepotkanmu,” ujar Wang Zigang sambil tersenyum hangat pada Fang Yi.
Fang Yi membalas dengan anggukan kecil, lalu kembali ke pekerjaannya.
Begitu Fang Yi menjauh, senyum di wajah Wang Zigang perlahan berubah.
Ia menancapkan pisau itu keras-keras ke permukaan meja.
Tak.
Suara logam menghantam kayu membuat suasana di sekitarnya mendadak hening.
Wang Zigang tersenyum tipis—kali ini bukan senyum hangat.
“Ayo… kita lakukan tradisi ini. Supaya tidak ada lagi perbedaan pendapat di antara kita.”
Pemuda di depannya yang tak kalah berani ikut menggebrak meja.
Brak!
“Aku suka saranmu!” balasnya lantang, sorot matanya menantang.
Gebrakan itu membuat para tamu yang semula hanya mencuri dengar kini berdiri dan mengerumuni meja mereka. Suasana penginapan mendadak tegang. Beberapa orang berbisik, sebagian lain menahan napas, seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di sisi meja, Wang Zigang—yang telah kehilangan dua jarinya di tangan kiri akibat tradisi serupa di masa lalu—menunjukkan senyum tipis.
Set!
Dalam sekejap, tangan kanan mereka bergerak bersamaan, berlomba meraih pisau yang tertancap di meja.
Gerakan itu begitu cepat hingga mata biasa sulit mengikuti.
Wang Zigang lebih unggul.
Ia berhasil menggenggam gagang pisau lebih dulu dan tanpa ragu langsung menghunjamkannya ke arah jari pemuda di depannya.
“Ack!”
Pemuda itu menggertakkan gigi. Ia ingin menjerit, namun harga dirinya menahannya. Darah mengucur deras dari jarinya yang terputus, menetes ke lantai kayu penginapan.
Beberapa tamu tersentak mundur, sementara yang lain tetap menonton dengan wajah pucat.
Tradisi itu telah menentukan pemenangnya.
“Bagaimana? Ingin dilanjutkan?” ucap Wang Zigang dengan suara dingin, matanya masih menatap tajam lawannya.
Pemuda itu terdiam beberapa detik. Wajahnya pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dengan tangan yang masih gemetar dan darah yang terus menetes, ia akhirnya menggeleng pelan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar, hendak mencari tabib secepat mungkin.
Kerumunan yang tadi mengelilingi meja perlahan bubar. Para tamu kembali ke tempat duduk masing-masing, berusaha melanjutkan makan seolah tidak terjadi apa-apa. Suasana penginapan yang sempat tegang perlahan kembali sunyi, hanya menyisakan bisikan-bisikan kecil.
Wang Zigang menarik napas pendek, lalu mencabut pisau dari meja dan membersihkan noda darahnya dengan kain.
“Adik kecil Yi!” panggilnya.
Fang Yi yang sejak tadi menahan napas dari kejauhan segera menghampiri dengan membawa pesanannya.
“Ini pisaunya,” ujar Wang Zigang sambil menyerahkannya. Di tangan satunya, ia menyodorkan beberapa keping uang perak. “Ambil ini. Anggap saja sebagai tip untukmu.”
Fang Yi menerima pisau dan uang itu dengan sedikit ragu.
“Terima kasih, Hyung,” ucapnya sopan.
Wang Zigang tersenyum tipis, lalu kembali duduk untuk menikmati alkoholnya, seakan peristiwa barusan hanyalah hiburan singkat di tengah hari yang membosankan.
Fang Yi yang masih diliputi rasa penasaran akhirnya menghampiri Wang Zigang. Ia berdiri di samping meja, menatap hyungnya itu dengan mata penuh tanya.
“Hyung, bagaimana perasaanmu setelah melakukan hal itu? Tidakkah kamu merasa takut?” tanyanya ragu.
Wang Zigang mendengus pelan, lalu mengangkat cawan alkoholnya sebelum menjawab.
“Hm, adik kecil Yi, kehormatan seorang pria terletak pada kata-katanya. Jika aku kalah, maka aku bukan pria sejati.” Ia tersedak kecil karena alkohol, lalu tertawa pendek. “Hidup hanya sekali, jadi kamu harus menikmatinya.”
Mata Fang Yi berbinar.
“Kamu keren, Hyung. Apakah kamu sebenarnya pendekar yang hebat?” ucapnya dengan nada penuh kekaguman.
Wang Zigang menoleh dengan cepat, menatap Fang Yi beberapa saat lebih lama dari sebelumnya. Senyumnya memudar digantikan dengan ekspresi yang lebih tenang.
“Fang Yi kecil,” katanya pelan, “jangan mempelajari ilmu bela diri dengan sembarangan. Dunia murim itu kejam kalau kamu tahu seperti apa didalamnya. Setelah kamu menginjakkan kaki ke dunia itu, kamu akan mengalami banyak hal aneh—dikhianati, ditusuk dari belakang, memiliki banyak musuh…” Ia terkekeh pahit. “Hik, dan biasanya, umurmu juga tidak akan panjang.”
Ia kembali meneguk alkoholnya, lalu tersenyum lebar seolah mengusir suasana berat barusan.
“Tapi aku berbeda. Aku hanyalah pendekar pengembara yang bebas,” katanya sambil tertawa keras. “Hahaha.”
Situasi di penginapan milik Paman Ying berjalan seperti biasanya. Para tamu datang dan pergi dari penginapan, suara peralatan makan beradu, serta percakapan ringan memenuhi seluruh ruangan.
Namun jauh dari sana, di hamparan sawah yang mengelilingi Desa Puncak Teratai, sesosok pria berdiri sendirian.
“Hm… padi ini? Bukankah sudah waktunya panen?” ucapnya pelan.
Wajahnya penuh luka lama, bekas sayatan dan goresan yang tak lagi bisa dihitung. Ia mengenakan pakaian serba hitam—jubah dan baju yang telah robek di sana-sini. Sebuah topi jerami kecokelatan menutupi sebagian kepalanya, sementara satu matanya tertutup kain hitam. Penampilannya mampu membuat siapa pun yang melihatnya merasa ngeri.
Dialah Shang Lun—Si Badai Iblis.
Ia mulai mengibaskan jubahnya ke segala arah.
Dalam sekejap, batang-batang padi roboh dan beterbangan, tercabut dari akarnya seolah dihantam kekuatan tak kasatmata. Angin berputar mengelilinginya, makin lama makin kencang.
“Api yang terselimuti angin… akan selalu membesar,” gumamnya lirih.
Seolah menjawab ucapannya, pusaran angin mulai terbentuk. Bukan sekadar hembusan angin biasa, melainkan badai yang berputar dengan liar. Dari sela-selanya, percikan api mulai muncul, lalu membesar menjadi kobaran api yang menjalar mengikuti arus angin.
Dalam hitungan detik, badai berapi menyebar ke segala arah.
Langit yang sebelumnya cerah perlahan menggelap oleh asap. Padi yang siap panen untuk warga berubah menjadi lautan api.
Julukan yang diberikan padanya bukanlah sekadar nama kosong tanpa bukti. Shang Lun—Si Badai Iblis dan Shang Lun—Pembawa Kehancuran.