Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Formalitas Saja
Lampu hias di sudut kamar Liana memancarkan cahaya kekuningan yang redup, membiarkan bayangan perabotan memanjang di atas lantai parket. Di luar, rintik hujan sisa badai tadi sore masih mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan irama yang monoton. Liana duduk bersila di atas ranjangnya, memeluk bantal erat-erat seolah benda empuk itu bisa meredam kekacauan yang berkecamuk di dalam dadanya.
Pikirannya melayang pada sosok Derby. Aku mencintainya, kan? bisik batinnya ragu. Derby adalah kebebasan, gairah, dan adrenalin yang selama ini ia cari untuk melawan otoritas kakaknya. Namun, ingatan tentang ciuman paksa Derby di kelas tadi pagi justru meninggalkan rasa hambar yang aneh, bahkan cenderung mual. Sebaliknya, bayangan tangan Morgan yang berdarah karena menghancurkan gelas kaca terus menghantuinya.
"Kenapa aku jadi begini?" Liana membenamkan wajahnya ke bantal, mengerang frustrasi. "Harusnya aku senang Morgan ditekan seperti itu. Harusnya aku mendukung Derby."
Namun, kenyataan bahwa ia lebih takut melihat Morgan kecewa daripada takut kehilangan Derby mulai menakutinya. Hatinya yang dulu lurus seperti garis linier kini berantakan, penuh dengan variabel-variabel perasaan yang tidak bisa ia hitung. Sejak sumpah di kapel itu diucapkan, Morgan bukan lagi sekadar 'dosen robot' di matanya. Pria itu adalah suaminya.
Liana bangkit dengan gerakan gelisah. Ia keluar dari kamar, berniat mencari air minum untuk mendinginkan kepalanya. Di ruang tengah, ia melihat Morgan sedang duduk di sofa, masih mengenakan kemeja kerjanya namun tanpa dasi. Pria itu duduk tegak dengan laptop di pangkuannya, namun matanya tidak menatap layar; ia menatap lurus ke arah jendela yang gelap dengan pandangan yang kosong.
Liana terdiam di ambang lorong. Suasana apartemen terasa begitu dingin dan asing, padahal mereka berada di bawah atap yang sama. Dengan langkah pelan, Liana menghampirinya.
"Belum tidur?" tanya Liana lirih, memecah kesunyian.
Morgan tersentak kecil, lalu perlahan menoleh. Ia menutup laptopnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah suara benturan kecil saja bisa menghancurkan sisa-sisa kesabarannya malam ini.
"Ada beberapa pekerjaan yang harus saya tinjau," jawab Morgan datar. Ia memperhatikan Liana yang berdiri canggung. "Duduklah, Liana. Kita perlu bicara."
Liana duduk di ujung sofa, memberikan jarak yang cukup lebar di antara mereka. Ia meremas ujung kaus tidurnya, sementara Morgan tetap mempertahankan postur tubuhnya yang sempurna, kaku seperti patung porselen.
"Tentang rumor di kampus ..." Morgan memulai, suaranya tenang namun berat. "Saya ingin kau mengerti bahwa instruksi saya sore tadi bukan bermaksud untuk menyakitimu. Saya hanya ingin memastikan kau aman. Derby adalah ancaman bagi stabilitasmu, Liana."
Liana menatap Morgan, mencoba mencari sedikit saja celah di balik mata cokelat gelap itu. "Hanya untuk stabilitasku? Atau untuk stabilitas kontrakmu dengan Kak Liam?"
Morgan terdiam sejenak. Ia membetulkan letak kacamatanya, sebuah gestur yang ia lakukan setiap kali ia mencoba menyembunyikan emosi yang merayap naik. "Keduanya adalah hal yang sama dalam perspektif saya. Jika kau jatuh, kontrak ini gagal. Jika kontrak gagal, aku mengecewakan kepercayaan Liam."
"Kepercayaan Liam ... selalu itu," Liana tertawa getir, matanya mulai memanas. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Morgan, mencari reaksi yang lebih manusiawi. "Apa kau pernah berpikir tentang kita, Morgan? Bukan sebagai dosen dan mahasiswa, bukan sebagai pihak dalam kontrak, tapi sebagai dua orang yang baru saja bersumpah di depan Tuhan?"
Morgan menatap Liana dengan intensitas yang membuat napas Liana tertahan. Untuk sesaat, Liana melihat ada kilatan kesedihan yang sangat dalam di mata pria itu—sebuah rintihan tersembunyi yang ingin meledak. Morgan membuka mulutnya, jemarinya yang terbalut perban gemetar halus di atas lututnya.
Namun, hanya dalam sekejap, dinding itu kembali tegak. Morgan membuang muka, kembali ke wajah datarnya yang menyebalkan.
"Kita berada di sini karena sebuah perjanjian, Liana. Jangan mencampuradukkan sumpah formalitas itu dengan kenyataan logis yang sedang kita jalani," ucap Morgan dengan nada yang begitu dingin hingga Liana merasa seperti disiram air es. "Tugas saya adalah menjagamu sampai usiamu dua puluh satu tahun. Setelah itu, kau bebas. Jangan membangun ekspektasi lebih dari itu."
Hati Liana yang tadi sempat melunak, seketika membeku kembali. Kata-kata Morgan barusan adalah penegasan paling menyakitkan yang pernah ia dengar. Formalitas? Jadi semua perhatiannya, caranya menyuapiku di perpustakaan, dan kemarahannya saat aku dicium Derby hanyalah bagian dari profesionalisme kerja?
Rasa kagum dan khawatir yang ia rasakan sepanjang malam berganti menjadi amarah yang meluap-luap. Liana berdiri dengan sentakan kasar, membuat bantal di sofa terjatuh ke lantai.
"Oh, jadi begitu?" suara Liana meninggi, penuh dengan sarkasme yang tajam. "Jadi sumpah di depan altar itu cuma akting brilian dari sang profesor hebat? Kau benar-benar luar biasa, Morgan! Kau melakukan semuanya dengan sangat rapi sampai aku hampir tertipu!"
Morgan mendongak, menatap Liana dengan kening berkerut. "Liana, kendalikan emosimu—"
"Jangan suruh aku mengendalikan apa pun!" potong Liana geram. Ia menunjuk tepat ke wajah Morgan dengan jari yang bergetar. "Kau tahu apa yang paling aku benci darimu? Kau bahkan tidak berani mengakui kalau kau punya hati! Kau lebih memilih menjadi robot demi kontrak konyol ini daripada menjadi manusia!"
Liana melangkah maju, menendang bantal yang ada di bawah kakinya dengan emosi yang meledak-ledak. "Tahu tidak? Kau benar. Ini hanya kontrak! Mulai besok, aku akan melakukan apa pun yang ingin kulakukan. Aku akan menutup rumor itu dengan caraku sendiri, dan jangan harap aku akan peduli lagi apakah kau marah atau tidak!"
Morgan ikut berdiri, mencoba meraih lengan Liana untuk menenangkannya. "Liana, dengar dulu—"
"Lepaskan!" Liana menyentakkan tangannya dengan kasar. Ia menatap Morgan dengan tatapan penuh kebencian yang ia paksakan muncul. "Kau ingin aku berpura-pura mencintai Derby di depan umum? Baiklah! Aku akan melakukannya dengan sangat baik sampai semua orang yakin kalau aku memang membencimu! Kau ingin aku menjadi 'debu statistik'? Maka itulah yang akan kau dapatkan!"
Liana berbalik dan berlari menuju kamarnya. Ia sengaja membanting pintu kamarnya dengan sangat keras hingga bunyinya menggema di seluruh apartemen. BRAKK!
Di dalam kamar, Liana melempar dirinya ke atas ranjang dan menangis tersedu-sedu. Amarahnya bukan karena benci, melainkan karena ia merasa sangat bodoh telah memberikan ruang untuk Morgan di dalam hatinya yang berantakan.
Di ruang tengah, Morgan masih berdiri mematung di posisi yang sama. Ia mengepalkan tangannya yang terluka hingga darah merembes sedikit melalui perban putihnya. Ia menatap pintu kamar Liana yang tertutup rapat dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
"Maafkan aku, Liana ..." bisiknya sangat lirih, hingga suaranya bahkan tidak mampu mencapai telinganya sendiri. "Aku harus tetap menjadi robot, karena jika aku membiarkan diriku menjadi manusia, aku tidak akan pernah bisa membiarkanmu pergi saat kontrak ini berakhir."
Malam itu, apartemen mewah itu kembali dikuasai oleh kesunyian yang mencekam. Di balik dua pintu yang terkunci, ada dua hati yang sedang berperang melawan ego dan luka, menyadari bahwa semakin mereka mencoba menjalani kontrak ini secara profesional, semakin dalam mereka tenggelam dalam perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.